Kampus dan Intelektual Tersandera Kooptasi Peradaban Sekuler

“Adalah penting untuk menetapkan perubahan kurikulum di Timur Tengah dan kawasan lainnya yang memperlihatkan suburnya pemikiran ekstremis melalui rasionalitas dan kesadaran”. (UNESCO Conference for the Prevention of Violent Extremist through Education, September, 2016)


Oleh: Nida Saadah

MuslimahNews.com, FOKUS — Pendidikan telah dilibatkan dalam agenda Barat mempertahankan hegemoninya atas dunia Islam. Perubahan kurikulum di negeri-negeri Islam menargetkan sekularisasi kurikulum pendidikan dan memutuskan hubungan dengan akidah Islam dalam wacana perang melawan radikalisme.    

Tuntutan perubahan yang dikenakan oleh negara-negara besar adalah akibat dari peristiwa politik yang berubah di berbagai negara dan berkaitan erat dengan sikap dunia internasional terhadap Islam. Akibatnya, setiap kali kesadaran politik Islam meningkat dalam tubuh umat, pembatasan yang diterapkan pada kurikulum pendidikan meningkat, juga propaganda dari rekomendasi internasional bahwa perlu untuk mengubah kurikulum meluas.

Propaganda yang menyatakan bahwa mereka tidak harus memusuhi Barat, tidak mengajak jihad, menyerukan perdamaian, berdamai dengan entitas Yahudi, membudayakan toleransi, menerima orang lain, dan ramah. Semua hal tersebut ditujukan untuk proyek “memerangi terorisme dan ekstremisme”.

Dampak lanjutannya adalah agama Islam dipelajari di sekolah-sekolah Islam sebatas materi spiritual dan etika seperti Barat memahami agamanya. Islam hanya dipelajari satu aspek saja, jauh dari kehidupan dan hakikat kehidupan. Inilah sekularisme.

Diputuslah mata rantai kenabian dan risalahnya. Bahkan Sirah Rasul/Nabi diposisikan seperti mempelajari sejarah kehidupan Napoleon atau Otto Van Bismark. Sejarah Islam pun didistorsi, diajarkan hanya dengan menonjolkan sisi-sisi aibnya yang sengaja direkayasa.

Selaras dengan hal itu, agenda yang sama juga berjalan di dunia pendidikan tinggi.

Pada perkembangan terkini, seiring dengan menguatnya kesadaran umat Islam untuk mengembalikan Peradaban Islam dalam pentas dunia, menimbulkan kewaspadaan tingkat tinggi pada negara-negara sekuler.

Narasi permusuhan terhadap Islam oleh Peradaban Sekuler Barat juga telah menyeret dunia kampus. Topik radikalisme dan terorisme telah menjadi objek penelitian tersendiri di berbagai kampus.

Baca juga:  Sekularisasi Pendidikan dan Invasi Pemikiran Korosif

Diadakanlah riset mengenai bagaimana mengukur dan mengidentifikasi militan ekstremisne, bagaimana metode penanganan yang humanis, bagaimana metode penanganannya secara umum melalui metode disengagement, bagaimana metode penanganannya secara lanjut melalui perspektif integrative soft approach, dan masih banyak lagi riset seputar itu.

Apakah riset semacam ini bermanfaat bagi umat? Sama sekali tidak. Umat sejatinya membutuhkan gagasan pemikiran para intelektual tentang bagaimana untuk bisa lepas dari penjajahan Barat, bagaimana untuk bisa menyelesaikan kemiskinan sistemis, bagaimana untuk bisa lepas dari kepemimpinan rezim tirani dan zalim di negeri-negeri mereka, bagaimana untuk bisa melindungi anak-anak generasi dari jerat pornografi, free sex, narkoba, dan semacamnya.

Umat membutuhkan gagasan pemikiran intelektual bagaimana caranya melindungi aset kekayaan alam di negeri mereka dari jarahan asing, bagaimana melindungi nyawa anak-anak mereka dari serbuan militer asing, bagaimana melindungi kehormatan perempuan mereka dari penistaan musuh-musuh Islam dan seterusnya. Itu yang dibutuhkan umat saat ini.


Sejatinya memang pendidikan tinggi di negeri-negeri kaum muslimin hari ini telah dimanipulasi oleh agenda-agenda Barat. Pendidikan tinggi di dunia Islam telah menjadi pintu masuk penjajahan akademis, hegemoni riset, dan propaganda sekuler.

Pendidikan tinggi telah menjadi alat penjajahan untuk tujuan kebijakan Barat asing. Pendidikan tinggi di dunia Islam pasca hilangnya Khilafah, tidak ditujukan untuk menciptakan generasi emas dan peradaban emas. Rezim pemerintah di negeri-negeri kaum muslimin memfasilitasi semua hal itu.

Pendidikan tinggi yang seharusnya mencetak SDM (sumber daya manusia) yang mampu memenuhi kebutuhan umat, menghasilkan penemuan dan karya yang mampu dinikmati secara luas oleh masyarakat, justru semakin difokuskan pada memenuhi kebutuhan dunia industri atau pasar. Sementara dunia pasar adalah dunia bisnis alias dunia untung-rugi bukan dunia pelayanan dan pengabdian.

Hal ini juga menunjukkan desain pendidikan pragmatis yang hanya menjadikan dunia pendidikan untuk mencetak SDM pekerja alias buruh. Padahal pendidikan sejatinya untuk mencetak generasi unggul berperadaban mulia, bukan hanya terampil dalam profesinya saja.

Perkembangan riset dunia pendidikan tinggi juga dicengkeram korporasi asing. Dinyatakan dalam Permendikbud No 92 Tahun 2014 tentang Syarat Menjadi Profesor, di antaranya wajib menulis di jurnal internasional bereputasi yang terindeks oleh Web of Science, Scopus, Microsoft Academic Search, atau lainnya sesuai pertimbangan Ditjen Dikti.

Baca juga:  [Editorial] Ketika Pendidikan Kian Sesat Arah

Kapitalisme pengetahuan menjadi kekuatan bisnis global yang telah mengendalikan administrasi ketenagaan akademik di Indonesia. Padahal semestinya ukuran kemanfaatan ilmu tentu harus untuk transformasi masyarakat setempat dan kemajuan bangsa, bukan semata dimuat di jurnal elite bergengsi sementara mayoritas masyarakat akademik kita tidak membacanya karena akses terbatas, soal bahasa, materi terlalu spesifik, atau tulisannya yang sangat abstrak-teoretik.

Demikianlah, pendidikan tinggi di dunia Islam hari ini tidak mengarah pada kemajuan dan keuntungan bagi negeri-negeri muslim. Karena tidak diorganisir dan didanai untuk menyelesaikan persoalan-persoalan vital, kepentingan-kepentingan, dan kebutuhan-kebutuhan negeri kaum muslimin dan kaum muslimin sendiri.

Mata kuliah di pendidikan tinggi tidak diajarkan untuk mencapai tujuan men-support pembangunan negeri-negeri Islam, tetapi lebih mengarah pada kepentingan individualistik yang terpisah dari kepentingan umat.

Maka simaklah keresahan Tom Hodgkinson dalam pernyataannya berikut:

“Pendidikan itu sendiri adalah penangguhan, penundaan. Kita dinasihati agar bekerja keras supaya mendapatkan nilai bagus. Kenapa? Supaya kita bisa mendapatkan pekerjaan bagus. Apa itu pekerjaan yang bagus? Pekerjaan yang bergaji tinggi. Oh, itu saja? Semua penderitaan ini, hanya agar kita mendapatkan banyak uang, yang bahkan jika kita berhasil mendapatkannya pun tidak akan menyelesaikan masalah kita, bukan? Ini adalah ide sempit yang tragis tentang untuk apa hidup ini sesungguhnya.

Potensi intelektual hari ini pada akhirnya memang terbuang sia-sia untuk hal-hal yang tidak bermanfaat bagi umat. Dalam Peradaban Islam saja potensi berharga para intelektual itu menemukan salurannya.

Baca juga:  Deislamisasi Pelajaran Agama, Upaya Lawan Radikalisme

Hanya Khilafah sajalah negara yang akan menjadikan pengetahuan memenuhi tujuan sebenarnya bagi umat manusia, seperti hujan yang menguntungkan bumi ini dan segala sesuatu di dalamnya.

“Perumpamaan apa yang Allah mengutusku dengannya, yakni petunjuk dan ilmu, adalah seperti hujan lebat yang mengenai tanah. Diantara tanah itu ada yang subur yang dapat menerima air, lalu menumbuhkan rumput dan tumbuh-tumbuhan yang banyak. Dan diantaranya ada pula tanah yang keras dan dapat menahan air (tetapi tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan), maka dengannya Allah memberi kemanfaatan kepada manusia. Mereka bisa minum, memberi minum ternak, dan bertani. Dan air hujan itu mengenai pula tanah yang lain, yaitu tanah keras dan licin, tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan tumbuh-tumbuhan. Demikian itulah perumpamaan orang yang pandai tentang agama Allah dan bermanfaat baginya apa yang dengannya Allah mengutusku, ia mengetahui dan mengajarkan (kepada orang lain), dan perumpamaan orang yang tidak mengangkat kepadanya, dan perumpamaan orang yang tidak mau menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya (ia seperti tanah yang tandus)”.

(HR Bukhari-Muslim, dari Abu Musa ra.)

Makin kencang permusuhan terhadap Islam, makin nyata pula perbedaan mana yang haq dan yang batil. Intelektual dengan tanggung jawab ilmu dan intelektualitas pada dirinya, semestinya berada di garda depan dalam menyuarakan kebenaran. Bukan malah larut dalam kooptasi Peradaban Sekuler.

Sehingga Pernyataan Lord Curzon Menteri Luar Negeri Inggris bahwa “Kita telah menghancurkan Turki dan Turki tidak mungkin akan kembali bangkit. Sebab kita telah menghancurkan dua kekuatannya yakni Islam dan Khilafah”, suatu hari kalimat ini hanya akan menjadi catatan sejarah.

Karena senyatanya cita-cita itu kembali menghantui Barat setelah kaum Muslim kembali menyatukan tekad untuk mengembalikan Khilafah ke atas pentas negara. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

2 tanggapan untuk “Kampus dan Intelektual Tersandera Kooptasi Peradaban Sekuler

  • 8 Desember 2019 pada 19:17
    Permalink

    Subhanallah bagaimana islam membangun keadilan

    Balas
  • 8 Desember 2019 pada 19:11
    Permalink

    Memang betul potensi intelektual terbuang sia-sia. Sangat jauh berbeda dengan peradaban Islam.
    Hanya Khilafah sajalah yang akan mensejahterakan manusia termasuk para Intelektual.

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *