; [Editorial] Menakar Ukhuwah Kita di Gaza – Muslimah News

[Editorial] Menakar Ukhuwah Kita di Gaza

MuslimahNews.com, EDITORIAL — Sudah bertahun-tahun, musim panen zaitun dan almond yang begitu dinanti penduduk Palestina di wilayah Gaza selalu berakhir menyedihkan. Termasuk di musim tanam tahun ini. Dengan brutal, tentara Israel lagi-lagi membakari dan merusak kebun-kebun mereka, seraya memaksa para petaninya keluar dari lahan-lahan mereka.

Pihak Israel selalu beralasan posisi kebun-kebun itu terlalu dekat dengan zona militer. Padahal tidak jauh dari ladang tersebut berdiri juga pemukiman ilegal warga Israel. Para pemukimnya tak jarang turut serta meneror para pemilik ladang dengan menembak, membakar, dan merusak kebun-kebun sebagai salah satu cara menyingkirkan penduduk Palestina dari tanah air milik mereka.

Kebrutalan tentara Israel dan para pemukim Yahudi khususnya di jalur Gaza memang kian meningkat akhir-akhir ini. Terutama pasca Netanyahu–yang untuk kelima kalinya terpilih lagi sebagai perdana menteri Israel– menyampaikan tekadnya secara terbuka untuk merebut wilayah Tepi Barat dan Gaza.

Meski menuai begitu banyak kecaman, kenekatan Netanyahu makin menjadi-jadi saat misinya mendapat dukungan penuh dari Donald Trump yang merepresentasikan pemerintahan negara adidaya Amerika.

Bahkan sepanjang bulan November ini pembantaian masif terjadi. Salah satunya saat Israel membombardir Gaza hingga menewaskan pemimpin Jihad Islam yang dituding bertanggung jawab terhadap serangan-serangan roket ke wilayah perbatasan Gaza-Israel.

Dengan dalih balas dendam serta untuk melindungi diri inilah, Israel terus menghujani Gaza dengan roket hingga menewaskan ratusan penduduk sipil, sekaligus menghancurkan berbagai fasilitas umum yang kian menambah penderitaan mereka.

Meskipun sejak pertempuran Gaza tahun 2006 wilayah ini diakui mutlak berada di bawah kendali Pemerintahan Hamas, namun bukan berarti pihak Israel betul-betul menarik kontrol atas wilayah tersebut. Terbukti, Netanyahu terus melakukan upaya mendukung pembangunan pemukiman dan menempatkan kontrol militer yang lebih ketat di wilayah tersebut.

Itulah yang membuat situasi di Gaza terus membara. Setidaknya sejak Maret tahun lalu, setiap hari Jumat ratusan orang Palestina melancarkan protes di dekat pagar keamanan Jalur Gaza-Israel. Mereka menuntut blokade Israel yang sudah berjalan belasan tahun dan membuat kehidupan mereka demikian sulit diakhiri. Mirisnya, aksi protes ini sering direspons dengan kekerasan.

Bagaimanapun, blokade Israel memang betul-betul telah menghancurkan ekonomi rakyat di daerah kantung pantai tersebut, sekaligus melucuti dua juta warganya dari banyak fasilitas dasar.

Namun protes tinggal protes. Sejak upaya aksi ini berlangsung, setidaknya lebih dari 270 warga telah gugur dan ribuan lagi cedera akibat tindak kekerasan oleh tentara Israel yang dikerahkan ke dekat zona penyangga Jalur Gaza.


Apa yang terjadi di Gaza ini, sebetulnya terjadi pula di wilayah-wilayah lainnya di Palestina. Sejak sebagian wilayah Palestina direbut dari umat Islam tahun 1948 atas dukungan Barat yang berkonspirasi dengan para penguasa Arab, Israel memang tak pernah berhenti berusaha untuk menguasai tanah Palestina jengkal demi jengkal.

Kalaupun ada banyak perjanjian soal pembagian wilayah atas inisiasi Barat dan dukungan para pemimpin Arab, nyatanya Israel tak pernah serius menepati apa yang disepakati. Termasuk kesepakatan yang diinisiasi oleh lembaga internasional setaraf PBB sekalipun!

Kebrutalan Israel atas penduduk Palestina akan terus berlangsung mulus di hadapan masyarakat dunia Internasional, termasuk di depan hidung para pemimpin-pemimpin Arab dan pemimpin Muslim lainnya. Hingga pun ketika akhirnya penduduk Palestina betul-betul terlokalisir di wilayah-wilayah yang terus menyempit, serta hidup di bawah pengawasan tentara-tentara Yahudi yang tak kenal belas kasihan.

Lantas, mengapa pengaruh Israel dengan entitas Yahudinya yang hanya berjumlah 8,7 juta di tahun 2017 itu nampak begitu kuat hingga membuat para pemimpin muslim dan miliaran rakyatnya tak mampu berbuat apa-apa?

Mereka justru masuk dalam jebakan skenario negara adidaya khususnya Amerika untuk menerima solusi dua negara. Padahal menerima solusi dua negara berarti menerima pendudukan Israel sebagai sebuah tindakan yang harus diterima, alias legal!

Nyatanya, hingga hari ini para pemimpin dan kaum muslim di berbagai negara hanya mampu menyampaikan seruan dan kecaman agar agresi dihentikan. Tapi tak ada satu pun di antara para pemimpin muslim ini yang berani berinisiatif menghimpun kekuatan, termasuk memobilisasi kalangan militer, lalu menyerukan atau bahkan secara riil memimpin jihad bersama kalangan militer tadi untuk benar-benar membebaskan Palestina.

Kalaupun ada sedikit keberanian, mereka hanya bisa menyerukan gerakan boikot produk Israel sebagaimana yang dilakukan pemerintah Indonesia di Forum KTT OKI tahun 2016 lalu.

Tapi lagi-lagi, itu pun tak lebih dari sekadar lip service dan pencitraan. Karena nyatanya seruan boikot itu tak pernah sungguh-sungguh direalisasikan. Malah para pemimpin muslim itu tak sedikit yang di belakang layar berjabatan tangan dengan Israel karena berbagai kepentingan.

Di luar itu, Amerika melalui PBB bahkan mampu mengarahkan opini dan membelokkan perasaan umat dengan cita-cita memerdekakan Palestina sebagai sebuah negara bangsa di samping negara Israel merdeka.

Peringatan Hari Solidaritas Palestina Internasional (International Day of Solidarity with Palestinian People) yang ditetapkan tiap tanggal 29 November nampak menjadi salah satu alat kanalisasi spirit umat untuk membela Palestina.

Padahal sejatinya, peringatan-peringatan semacam ini hanya akan menjauhkan umat dari solusi hakiki bagi persoalan Palestina.

Buktinya, saat ini umat di level grass root rata-rata nampak merasa cukup menunjukkan pembelaannya terhadap nasib saudara muslim mereka di Palestina hanya dengan melakukan aksi pragmatis. Seperti aksi massa, mengumpulkan donasi, mengeluarkan pernyataan sikap, menggunakan simbol-simbol berbau Palestina semisal bendera, kaos, kafiyeh, kerudung beruansa bendera dan yang sejenisnya.

Meskipun demikian, tentu saja upaya-upaya tersebut patut diapresiasi. Terlebih upaya-upaya seperti itu memang menjadi ikhtiar paling mudah untuk dilakukan di tengah dominasi sistem negara bangsa yang membuat mereka tak bisa menolong sepenuhnya dengan jiwa raga.

Para pemimpin muslimnya pun tak bisa menegakkan hukum jihad sebebasnya. Bahkan bisa jadi, hukum jihad dengan mengerahkan tentara dan kaum muslim dari kalangan sipil ini tak pernah terpikir menjadi opsi utama untuk penyelesaian masalah Palestina.

Padahal masalahnya, apa yang dilakukan kaum muslimin hari ini dalam upaya membantu saudara seiman mereka di Palestina, tak akan pernah bisa membantu membebaskan mereka, melainkan hanya sedikit mengurangi penderitaan mereka. Mengapa? Karena penyebab utama persoalan Palestina, yakni keberadaan entitas Yahudi dan “negara” Israel yang mencaplok tanah air mereka tak pernah serius diselesaikan.

Jadi kondisinya ibarat ada perampok yang menjarah dan menista, bahkan membunuhi penghuni rumah seseorang, namun para tetangga hanya berusaha menolong dengan melempar obat dan makanan, atau ramai-ramai berunjuk rasa di jalanan. Bukan bersama-sama berusaha mengusir perampok itu dan menghukumnya.

Inilah yang sedang terjadi. Bahkan tak sedikit kaum muslim yang berharap agar urusan ini selesai melalui lembaga-lembaga internasional. Padahal permintaan tolong mereka kepada PBB dan Mahkamah Internasional untuk memerdekakan Palestina dan menghukum kejahatan Israel hanya akan berujung kekecewaan.


Sejatinya, keberadaan lembaga-lembaga internasional itulah yang justru mengukuhkan agenda penjajahan negara adidaya yang berada di belakang pendirian negara Israel untuk pertama kalinya.

Sejak entitas Zionis Israel –atas dukungan sekutu-sekutu Barat dan Arab– menduduki Palestina pada 1948 sampai hari ini, bangsa Palestina akhirnya memang harus sendirian melakukan upaya perlawanan.

Dari generasi ke generasi, spirit itu tak pernah padam, bahkan terus diwariskan. Hingga kisah-kisah heroisme senantiasa muncul di tengah segala keterbatasan, termasuk gerakan intifada yang fenomenal.

Namun apalah daya. Yang dihadapi bangsa Palestina bukanlah kekuatan biasa-biasa, melainkan pasukan Ahzab, yang sejak lama ingin menanam duri di jantung dunia Islam, demi dan hanya demi alasan penguasaan sumber daya minyak Arab dan target memegang kendali atas dunia.

Sementara di sisi lain, potensi kekuatan yang ada pada umat benar-benar nyaris tenggelam bersama kian longgarnya keterikatan mereka kepada Islam, serta seiring dengan hilangnya kepemimpinan politik Islam (Khilafah), tergantikan oleh kepemimpinan politik sekuler yang penuh kemunafikan dan justru menjadi pemuas kerakusan para penguasa akan dunia.

Sungguh, apa yang terjadi hari ini atas kaum Muslim Palestina telah benar-benar menjadi alat takar bagi kualitas iman dan ukhuwah kaum muslimin di dunia. Betapa masih jauh iman dan ukhuwah kita dari apa yang diminta baginda Nabi Shallallahu ‘alaihi wa sallam.

Beliau saw. bersabda dalam hadis yang dibawakan oleh an-Nu’mân bin Basyîr Radhiyallahu anhu,

مَثَلُ الْمُؤْمِنِيْنَ فِى تَوَادِّهِمْ وَتَرَاحُمِهِمْ وَتَعَاطُفِهِمْ مَثَلُ الْجَسَدِ، إِذَا اشْتَكَى مِنْهُ عُضْوٌ، تَدَاعَى لَهُ سَائِرُ الْجَسَدِ بِالسَّهْرِ وَالْحُمَّى. أَخْرَجَهُ الْبُخَارِي وَمُسْلِمٌ (وَاللَّفْظُ لِمُسْلِمٍ).

“Perumpamaan kaum mukminin satu dengan yang lainnya dalam hal saling mencintai, saling menyayangi, dan saling berlemah-lembut di antara mereka adalah seperti satu tubuh. Apabila salah satu anggota badan sakit, maka semua anggota badannya juga merasa demam dan tidak bisa tidur. [HR Bukhari-Muslim]

Nampak hari ini, belum seluruh tubuh kita betul-betul merasakan demam dan gelisah, saat muslim Palestina, khususnya Gaza terus di bantai entitas Israel laknatullah ‘alayh. Ukhuwah kita baru ukhuwah seadanya. Yang serba artifisial, timbul tenggelam, dan benar-benar terbelenggu oleh konsep negara bangsa.

Ya, konsep negara bangsa inilah yang nyata telah menjadi penghalang terbesar untuk mewujudkan ukhuwah sebenarnya. Yakni ukhuwah yang melahirkan aksi riil bagi pembebasan Palestina, hingga penjajah Israel benar-benar hilang kembali dari peta dunia.

Dan ukhuwah sebenarnya itu hanya mungkin mewujud di bawah kekuatan politik Islam bernama Khilafah. Yakni kepemimpinan politik yang menaungi umat sedunia, yang akan menyatukan seluruh potensi kekuatan mereka di bawah satu komando seorang Khalifah yang selain berperan sebagai raa’in alias pengurus umat, juga sebagai junnah alias pelindung umat.

Sungguh, dari sejarah kita belajar, betapa kepemimpinan Islam telah melahirkan sosok para Khalifah yang bertindak sebagai junnah. Yang siap mendobrak belenggu negara bangsa dan mengembalikan kemuliaan umat di bawah naungan syariat. Yang tak takut pada kekuatan apa pun kecuali Allah Swt. Zat Yang Mahaperkasa.

Sungguh kita rindu sosok para khalifah sebagaimana Khalifah Rasyidah dan khalifah-khalifah setelahnya, yang begitu mencintai rakyatnya melebihi kecintaan mereka kepada diri dan keluarganya. Hingga seluruh jiwa raga mereka siap digunakan untuk membela agama dan rakyatnya. Salah satunya dengan serius membela Palestina dan melakukan aktivitas perang untuk membebaskan Palestina.


Adalah Sultan Abdul Hamid II, Khalifah terakhir  dari Turki Utsmani yang pembelaannya terhadap Palestina demikian fenomenal. Di saat posisinya sangat lemah akibat konspirasi Inggris dengan Mustafa Kemal dan di saat negaranya terjebak utang, beliau dengan tegas menolak sejumlah besar uang yang disodorkan utusan Hertzl (seorang pendiri Zionis) sebagai kompensasi jika Sultan mau menyerahkan Tanah Palestina kepadanya.

Saat itu, Sultan Abdul Hamid II sangat marah dan menjawab dengan sangat tegas, dengan ketegasan yang dicatat tinta emas sejarah.

“Saya tidak akan mungkin melepaskan sejengkal pun Tanah Palestina, meskipun itu hanya sejengkal. Palestina bukan milikku, namun milik umat Islam. Umat Islam telah banyak mengorbankan nyawa dalam mempertahankan Palestina. Sebaiknya kalian simpan uang tersebut. Jika suatu saat kekhalifahan Turki Utsmani runtuh, kemungkinan besar mereka akan mampu menguasai Palestina hanya dengan cuma-cuma”.

Bahkan akhirnya, Sultan Abdul Hamid II diketahui mengeluarkan keputusan yang melarang orang-orang Yahudi untuk melakukan imigrasi ke Palestina, meskipun pada akhirnya kekuasaannya runtuh dan Turki berubah menjadi negara sekuler di bawah tangan kotor Mustafa Kemal. Sementara Inggris mendapati jalan mulus menjadikan Palestina sebagai “negara” bagi bangsa Israel.

Semoga dalam waktu dekat, Allah menangkan umat ini dengan hadirnya Khilafah Rasyidah yang dijanjikan. Dan Palestina pun akan kembali dibebaskan.

 …..ثُمَّ تَكُوْنُ خِلآفَةً عَلَى مِنْهَاجِ النُّبُوَّةِ ….

” …. Setelah itu akan terulang kembali periode Khilafah yang tegak di atas metode kenabian….” (HR Ahmad; Sahih). [Editorial MNews | SNA]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *