; Solusi Hakiki Konflik Palestina Hanyalah Jihad dan Khilafah - Muslimah News

Solusi Hakiki Konflik Palestina Hanyalah Jihad dan Khilafah

Di mana para pemimpin negeri-negeri Muslim? Mengapa hanya kecaman tanpa tindakan nyata yang mereka bisa lakukan? Sudah hilangkah muruah agama ini? Sudah hilangkah rasa kemanusiaan umat manusia dunia?


Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI — Seolah dipelihara, konflik Palestina tak berkesudahan. Gaza kembali membara. Tak terhitung nyawa telah menjadi korban kebiadaban Israel dan negara-negara penyokongnya. Amukan rudal Israel telah menewaskan masyarakat sipil yang tak berdosa.

Serangan udara yang dilakukan Israel ke jalur Gaza menyebabkan puluhan penduduk sipil tewas dan ratusan luka-luka. Kali ini, serangan Israel terjadi atas respons terhadap demonstrasi yang dilakukan penduduk Palestina di Perbatasan. Respons berlebihan Israel terhadap demonstrasi warga Palestina hingga kini tidak terbendung. Israel kerap menggunakan kekuatan militer saat menghadapi para demonstran Gaza.

Bertepatan dengan peringatan 102 tahun disepakatinya Deklarasi Balfour, rakyat Palestina di perbatasan melakukan unjuk rasa dengan pidato dan pertunjukan cerita rakyat. Deklarasi Balfour dibuat oleh mantan Sekretaris Luar Negeri Inggris Arthur Balfour yang menyatakan Palestina sebagai rumah nasional orang-orang Yahudi. (News.act.id, 2/11/2019)

Sejak 1967 silam, Israel membangun ribuan rumah untuk orang Yahudi di kawasan Yerusalem Timur dan Tepi Barat. Di atas lahan milik bangsa Palestina, lebih dari 600 ribu warga Israel bermukim di sana. Sementara, bangsa Palestina yang merupakan penduduk setempat diusir. Hal demikian jelas telah melanggar HAM. Namun seperti biasa, berkat dukungan AS, pelanggaran ini dianggap biasa.

Mengapa seolah-olah konflik Palestina dipelihara? Lantas apakah yang menjadi akar permasalahannya? Mengapa Negeri-negeri Muslim hanya mampu mengecam tanpa bertindak nyata? Mampukah mahkamah internasional menyelesaikan masalah Palestina?


Sejarah Pendudukan Israel atas Palestina

Palestina adalah bagian selatan dari negeri Syam. Penaklukan pertama kali dilakukan pada masa Khilafah Umar bin Khaththab pada tahun 15 Hijriah. Setelah Palestina jatuh ke tangan tentara Salib, Salahudin Al Ayubi merebut kembali tanah Palestina. Pascakekalahan Daulah Khilafah Utsmani dalam Perang Dunia I, Daulah Khilafah bak kue bolu, dipotong-potong oleh negara Eropa khususnya Inggris dan Prancis.

Pada 1916, menteri luar negeri Inggris dan Prancis yaitu Sykes dan Picot menyepakati perjanjian pembagian wilayah timur tengah bagi kedua negara. Perjanjian ini dikenal sebagai perjanjian Sykes-Picot di mana Palestina ditetapkan sebagai perbatasan kedua wilayah. Oleh karena itu mereka menjadikan Palestina sebagai wilayah Internasional.

Dari sinilah mereka mengupayakan penyerahan Palestina kepada Yahudi yang disahkan dalam perjanjian Balfour tanggal 2 November 1917, yaitu sebuah kesepakatan penyerahan Palestina ke komunitas Yahudi dan mendirikan “Negara” Israel bagi Yahudi di Palestina.

Inggris dan Prancis memberikan semua kebutuhan untuk terlahirnya “Negara” Israel. Kedua negara tersebut memberikan dana dan senjata besar-besaran demi terwujudnya “Negara” Israel.

Dalam perkembangannya, untuk mengamankan terjaminnya kepentingan AS di timur tengah, AS ikut memberi saham yang bahkan jumlahnya jauh lebih besar dari pendahulunya.

Dengan kata lain, Prancis dan Inggrislah yang membidani lahirnya “Negara” Israel, sedangkan yang mengasuh dan membesarkannya adalah Amerika Serikat.

Pascaperang Dunia II, Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) memutuskan pembagian (daerah Palestina) melalui resolusi yang dikeluarkan oleh Majelis Umum pada 29 Oktober 1947. Keputusan tersebut membagi Palestina menjadi dua. Sebagian besar wilayah Palestina diserahkan pada Yahudi. Selanjutnya Yahudi mendeklarasikan sebuah “Negara” Israel di tahun 1948.

Kini, di bawah kepemimpinan Donald Trump, AS semakin menunjukkan wajah aslinya. Pada Perang Enam Hari pada tahun 1967 telah disepakati oleh Konsensus Internasional bahwa permukiman Yahudi di wilayah Palestina–seperti di tepi Barat dan Yerusalem Timur–merupakan pelanggaran HAM.

Saat itu Amerika Serikat bagian dari yang menyetujui konsensus internasional tersebut. Namun sikap itu berubah pada Senin, 18 November 2019. Di tangan Donald Tramp, AS tidak lagi menganggap permukiman Yahudi sebagai tindakan ilegal. AS mendukung permukiman Israel di tanah Palestina dengan terang-terangan.

“Menyebut pendirian permukiman warga sipil tidak konsisten dengan hukum internasional, tidak berhasil. Hal itu tidak memajukan upaya perdamaian,” ujar Menteri Luar Negeri AS, Mike Pompeo. (BBC.com, 21/11/2019)


Barat Tak Ingin Khilafah Tegak Kembali

Setelah melihat sejarah kependudukan Israel atas tanah Palestina, kita bisa menyimpulkan bahwa sesungguhnya penyebab utama terjadinya konflik di Palestina adalah dirampasnya tanah milik Palestina oleh Israel. Selanjutnya, Zionis Israel meminta tanah Palestina dibagi menjadi dua wilayah, yaitu Negara Israel (Perampas) dan Palestina (Tuan Rumah).

Bagai seiya-sekata, negara-negara Barat memberikan dukungannya terhadap kedaulatan Israel. Saat itu yang terang-terangan dan mengakui keberadaan Negara Israel adalah Amerika Serikat, Inggris, Prancis, dan Rusia.

Tak masuk logika, perampok dibela sedangkan tuan rumah dipaksa berdamai untuk membagi harta dan kuasanya.

Pertanyaannya kini, mengapa negara-negara adidaya saat itu rela memberikan “investasi” besar-besaran kepada Israel? Benefit apa yang tengah mereka incar?

Layaknya khas Negara Adidaya, agar bisa menguasai dunia mereka harus lebih dahulu menaklukkan Negara Adidaya sebelumnya. Tak peduli berapa banyaknya nyawa dan harta yang dikorbankan, semua demi tergulingnya kedigdayaan.

Maka setelah sekian lama mereka menginginkan Daulah Khilafah Islam hancur, dalam konspirasi global perang Dunia pertama akhirnya Khilafah Utsmaniyah kalah melawan sekutu. Saat itulah Negara Adidaya (Khilafah) resmi terpecah belah.

Negara-negara Barat telah mengerahkan daya dan upayanya untuk meruntuhkan Negara Islam, sehingga upaya pelemahan potensi bangkitnya negara adidaya tersebut masif dilakukan.

Inilah alasan mendasar pendirian “Negara” Israel oleh Inggris, lalu dibesarkan oleh AS. Ini semata untuk menjamin kepentingan mereka di Timur tengah ‘kepentingan ekonomi dan ideologinya’. Sedangkan kepentingan terbesar mereka adalah menghalangi tegaknya kembali Khilafah Islam yang telah terbukti keperkasaannya itu.

وَلَنْ تَرْضَىٰ عَنْكَ الْيَهُودُ وَلَا النَّصَارَىٰ حَتَّىٰ تَتَّبِعَ مِلَّتَهُمْ ۗ قُلْ إِنَّ هُدَى اللَّهِ هُوَ الْهُدَىٰ ۗ وَلَئِنِ اتَّبَعْتَ أَهْوَاءَهُمْ بَعْدَ الَّذِي جَاءَكَ مِنَ الْعِلْمِ ۙ مَا لَكَ مِنَ اللَّهِ مِنْ وَلِيٍّ وَلَا نَصِيرٍ

“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah: “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”. Dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu.” (TQS Al Baqarah: 120)


Solusinya Hanya Jihad dan Khilafah

Oleh karena itu, kebutuhan mendasar Palestina saat ini adalah bantun militer untuk mengusir tentara Israel dari bumi Palestina. Jika kita analogikan, ada seorang perampok yang membunuh tuan rumah dan memaksa membagi dua rumahnya. Bantuan apa yang logis agar permasalahannya selesai?

Tentu kita harus membantu tuan rumah untuk mengusir perampok tersebut. Pemberian obat-obatan dan makanan sesungguhnya tidaklah mampu menyelesaikan masalah Palestina.

Namun kenyataannya, pemimpin kaum muslim diam tak bergerak. Dari 50 negeri Muslim, tak ada satu pun yang mengirimkan tentaranya. Mereka hanya mampu mengecam tindakan Israel atas Palestina, yang sama sekali tak membuat takut Israel.

Mengapa para pemimpin umat Muslim bungkam? Bahkan negeri yang wilayahnya berbatasan langsung dengan Palestina justru manut pada AS.

Jawabannya adalah, mayoritas pemimpin negeri muslim adalah antek Barat. Atas nama kepentingan nasionalnya mereka rela melihat saudaranya teraniaya. Buktinya, walaupun sudah jelas terang-terangan AS menyuplai senjata pada Israel dan mendukung penuh kependudukan, namun tak ada satu pun negeri muslim yang membantu mengusir tentara Israel.


Seharusnya tak ada alasan bagi umat muslim untuk takut kepada AS, apalagi Israel. Meskipun saat ini industri militer dunia Islam dalam keadaan mundur, namun secara kuantitas potensi militer dunia Islam sungguh sangat besar. Satu persen saja dari semiliar penduduk dunia Islam, akan ada 10 juta tentara muslim yang siap membela kaum muslimin.

Akan tetapi, penggabungan potensi militer ini tak akan mungkin bisa dilakukan saat ini akibat nasionalisme yang mengakar kuat dalam benak umat muslim. Nation state telah menyekat negeri-negeri muslim dan menghilangkan ukhuwah atas nama keamanan dalam negeri.

Oleh karena itu, urgen untuk mencabut sekat-sekat kenegaraan karena itulah yang dicontohkan Rasulullah saw., para Khulafa Rasyidin, dan dilanjutkan para Khalifah selanjutnya, telah menghimpun seluruh wilayah muslim dalam satu kepemimpinan, Khilafah Islamiyah.

Saat itulah seruan jihad dalam satu komando akan terwujud. Puluhan juta tentara muslim dari seluruh wilayah di bawah naungan Khilafah akan mampu mengusir tentara Israel. Bahkan, induk yang memberinya makan saat ini (AS) akan dengan mudah terkalahkan.

Sungguh, hal demikian tidaklah mustahil. Allah Swt. berjanji bahwa Islam akan kembali memimpin dunia. Problematik akut yang melanda seluruh negeri, terkhusus negeri-negeri Muslim adalah akibat peradaban Barat yang memimpin dunia–sebuah peradaban busuk yang tak mengenal fitrah manusia. Jika terus sistem ini dipaksakan menjadi rujukan negeri-negeri muslim dunia, maka tunggulah kehancurannya.

Wahai Kaum Muslimin, tentu kita ingin masalah Palestina menemui akhirnya. Begitu pun permasalahan muslim Uighur di Cina, Pattani di Thailand, Rohingya di Myanmar, dan seluruh permasalahan kaum muslimin lainnya di dunia selesai.

Maka, upaya untuk mengembalikan kekuatan umat di bawah bendera Ar-Rayah dan Al-Liwa’ adalah perkara yang mendesak.

Insya Allah kepemimpinan umat yang satu dalam bingkai Daulah Khilafah Islamiyah akan mampu menjadi perisai umat, serta akan membawa peradaban dunia menuju titik terangnya. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *