; [Editorial] Khilafah Tegak di Atas Hujjah dan Urgensinya Tak Terbantah - Muslimah News

[Editorial] Khilafah Tegak di Atas Hujjah dan Urgensinya Tak Terbantah

Serangan terhadap ide khilafah makin masif saja di era kepemimpinan rezim kedua Jokowi ini. Bahkan rezim pemerintah nampak siap melakukan berbagai cara, termasuk pasang badan untuk menentang dan melawan setiap narasi dan pergerakan yang mengusung soal khilafah.


MuslimahNews.com, EDITORIAL — Tak bosan-bosan. Jargon “melawan radikalisme” yang sejatinya ditujukan untuk melawan ide khilafah terus dipropagandakan sekaligus disematkan dalam setiap kebijakan yang diambilnya. Rupa-rupanya, rezim penguasa sekuler neolib ini telah mantap berjalan bersama Barat Penjajah untuk menghalangi kebangkitan Islam yang akan menjadi lonceng kematian bagi hegemoni kapitalisme global.

Bahkan saking takutnya, pembersihan pun dilakukan di semua lini, melibatkan berbagai kementerian dan lembaga yang mewujud dalam bentuk SKB tangkal radikal. Maka mulai hari ini ke depan, para pegawai negara yang berstatus PNS dan calon PNS akan terus diawasi dan di-screening.

Begitu pun dengan pegawai BUMN, unsur TNI dan Polri, bahkan hingga sekolah di semua level termasuk PAUD, pesantren, dan perguruan tinggi; semua tak akan luput dari upaya pembersihan. Targetnya memastikan seluruh lembaga pemerintah dan lembaga pendidikan terbebas dari bibit-bibit prokhilafah.

Bak bahaya laten komunis, ide khilafah bahkan sama sekali tak boleh diberi jalan untuk masuk ke benak umat. Sampai-sampai pihak Kemenag sepakat merombak ratusan buku pelajaran agama yang selama ini ditengarai telah terpapar ide radikal dan khilafah.

Selain itu, para ustaz dan ulama pun akan disertifikasi dengan dalih untuk standarisasi kompetensi. Padahal tak dipungkiri, di balik proyek ini ada target deradikalisasi. Bahkan munculnya gagasan sertifikasi pranikah, semuanya dipastikan mengarah pada target yang sama. Deradikalisasi!


Sungguh, situasi ini betul-betul mengingatkan kita pada era Orba yang pemerintahannya juga dikenal sangat represif dan–di fase tertentu–cenderung anti-Islam. Saat itu kelompok Islamis dipandang tak hanya sebagai oposan, tapi juga sebagai musuh negara. Sehingga berbagai alat kekuasaan dan narasi pun digunakan untuk membungkam suara kritis, termasuk dengan pemberlakuan litsus, pembungkaman, penangkapan, bahkan hingga upaya-upaya penghilangan nyawa.

Yang menjadi pertanyaan, seberapa berbahayakah ide khilafah hingga rezim dan para pendukungnya sedemikian paranoid bahkan nampak mengidap fobia akut, hingga sebagian dari mereka ada yang berani menantang ayat-ayat Allah Swt.?

Ya, mereka tak henti menarasikan khilafah dan pendukungnya dengan narasi busuk tanpa hujjah. Seolah-olah khilafah dan para pengusungnya adalah musuh nyata yang bertanggung jawab terhadap segala persoalan yang dihadapi bangsa dan negara bernama Indonesia.

Seolah, kisruh politik, karut marut kondisi ekonomi, krisis sosial dan moral generasi, hingga problem pertahanan dan keamanan, termasuk separatisme yang terus mengancam negeri, semuanya salah khilafah!

Mereka bahkan berani mencerabut khilafah dari akar keislaman dan sejarahnya. Dengan menyebut bahwa khilafah adalah konsep yang mengada-ngada, tak ada dalilnya dalam Alquran dan Sunah. Kalaupun mereka tak mampu menolak khilafah sebagai ajaran Islam dan warisan Nabi, mereka sebut khilafah sebagai konsep basi, tak layak diterapkan di era kini.

Mereka pun menakut-nakuti umat dengan terus memonsterisasi khilafah. Menghubung-hubungkannya dengan ISIS yang ternyata buatan Amerika. Menyebut khilafah sebagai penghancur negara dan pemecah belah bangsa. Dan menuding para pengusungnya akan men-Suriah-kan Indonesia.

Mereka juga menyebut para pengusung khilafah adalah para pengkhianat bangsa. Atau pengkhianat para ulama yang telah menggagas negara Indonesia menjadi negara kesepakatan berdasarkan Pancasila.

Nyatanya, Pancasila dan konsep negara bangsa ini pun terus dijadikan alat pukul untuk mengalienasi para pengusung khilafah dari umatnya. Tak peduli bahwa sejarah kemerdekaan Indonesia penuh dengan sejarah pengkhianatan. Tak peduli bahwa–seperti kata Sujiwo Tejo–Pancasila tak nyata adanya. Tak peduli jika mereka yang paling kencang teriak “Saya Pancasila” justru rata-rata terbukti berkhianat pada bangsa dan negaranya.

Namun, bagaimana pun kerasnya upaya mereka menolak khilafah, mereka tak akan pernah mampu mengubah fakta bahwa khilafah adalah keniscayaan sejarah.

Khilafah, nyata pernah ada, bahkan belasan abad pernah memimpin peradaban dunia. Menyatukan bangsa, budaya, dan agama yang beragam, di bawah ayoman satu kepemimpinan politik yang berwibawa.

Tanda-tanda kembalinya pun kian tak terbantah. Kerinduan umat akan kehadiran khilafah rasyidah kedua yang dijanjikan kian bergema di mana-mana. Terlebih kepemimpinan sistem sekuler telah dirasakan kerusakannya. Alih-alih mampu mewujudkan kesejahteraan, sistem sekuler ini kian menghilangkan fitrah kemanusiaan bahkan menjadi jalan melanggengkan penjajahan.

Khilafah sebagai ajaran Islam tak mungkin disembunyikan meski ulama-ulama liberal mereka terus berupaya keras menyembunyikan kebenaran dan membangun argumentasi ilmiah untuk menolak khilafah.

Rupanya mereka lupa, bahwa yang sedang mereka tentang adalah perintah Allah Azza wa Jalla, Zat Yang Maha Menggenggam segala urusan termasuk menggenggam nyawa-nyawa mereka.

Sungguh wajibnya khilafah telah tegak di atas hujjah yang kuat. Sekuat perintah Allah agar setiap mukmin mengambil dan menaati seluruh syariat sebagai bukti iman.

Allah Swt. berfirman,

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Artinya, “Wahai orang yang beriman, masuklah kamu semua ke dalam Islam. janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh, setan itu musuh yang nyata bagi kalian.” (QS Al-Baqarah ayat 208).

Allah Swt. pun memerintahkan kita hanya berhukum pada hukum-hukum-Nya, tak boleh memilih dan memilah, apalagi mencampuradukkannya dengan aturan batil buatan manusia :

أَفَتُؤْمِنُونَ بِبَعْضِ الْكِتَابِ وَتَكْفُرُونَ بِبَعْضٍ فَمَا جَزَاءُ
مَنْ يَفْعَلُ ذَلِكَ مِنْكُمْ إِلا خِزْيٌ فِي الْحَيَاةِ الدُّنْيَا وَيَوْمَ الْقِيَامَةِ يُرَدُّونَ إِلَى أَشَدِّ الْعَذَابِ وَمَا اللَّهُ بِغَافِلٍ عَمَّا تَعْمَلُونَ

“Apakah kamu beriman kepada sebagian Al Kitab (Taurat) dan ingkar terhadap sebagian yang lain? Tiadalah balasan bagi orang yang berbuat demikian dari padamu, melainkan kenistaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada siksa yang sangat berat. Allah tidak lengah dari apa yang kamu perbuat.” (QS Al-Baqarah: 85)

Lalu baginda Nabi saw. pun mewariskan institusi penegak syariat kaffah itu dengan sebuah sistem bernama khilafah.

عن أبي هريرة -رضي الله عنه- قال: قال رسول الله -صلى الله عليه وسلم-: «كانت بنو إسرائيل تَسُوسُهُمُ، الأنبياء، كلما هلك نبي خَلَفَهُ نبي، وإنه لا نبي بعدي، وسيكون بعدي خلفاء فيكثرون»، قالوا: يا رسول الله، فما تأمرنا؟ قال: «أوفوا ببيعة الأول فالأول، ثم أعطوهم حقهم، واسألوا الله الذي لكم، فإنَّ الله سائلهم عما اسْتَرْعَاهُم».
[صحيح.] – [متفق عليه.]

Dari Abu Hurairah -raḍiyallāhu ‘anhu- “Dahulu Bani Isra’il dipimpin oleh para nabi. Setiap kali seorang nabi meninggal, ia akan digantikan oleh nabi (lain). Namun sungguh tidak ada nabi lagi sesudahku, dan sepeninggalku akan ada para khalifah lalu jumlah mereka akan banyak.” (Para sahabat) bertanya, “Wahai Rasulullah, lalu apa yang engkau perintahkan untuk kami?” Beliau menjawab, “Tunaikanlah baiat kepada (khalifah) yang pertama kemudian kepada yang berikutnya, lalu penuhilah hak mereka, dan mintalah kepada Allah apa yang menjadi hak kalian, karena sesungguhnya Allah akan menanyai mereka tentang apa yang mereka pimpin.”

Maka, sistem khilafah inilah yang diterapkan oleh para shahabat sepeninggal Rasul saw.. Mereka konsisten menerapkan sistem ini serta mewariskannya dari generasi ke generasi, hingga kepemimpinan khilafah mencakup 2/3 belahan dunia. Karena eksistensi khilafah ini pulalah, bangsa-bangsa di nusantara ini menemukan kemuliaan menjadi hamba Allah yang beriman dan bertakwa.


Betul bahwa penerapan syariat oleh khilafah mengalami pasang dan surut. Namun sejarah takkan bisa menolak bahwa kedudukan syariat dalam sistem khilafah benar-benar berdaulat. Justru kedaulatan syariat inilah yang akhirnya mampu menjaga manusia dari kehancuran dan kezaliman. Karena syariat Islam memang memberi jaminan penuh atas pemeliharaan akal, nyawa, darah, harta, kehormatan, dan yang lainnya.

Tak pernah ada satu peradaban pun yang tercatat dalam sejarah mampu mewujudkan kebahagiaan hidup sebagaimana diimpikan oleh manusia selain peradaban khilafah. Kondisi ini memang sudah dijanjikan oleh Allah sebagai pemilik syariat dalam firman-Nya :

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya” (QS Al-A’raf: 96)

Dengan demikian, mendudukkan khilafah sebagai gagasan berbahaya dan kriminal jelas merupakan keberanian dari seonggok makhluk hidup di hadapan Sang Khaliknya. Tak terbayang bagaimana urusan dan nasib mereka kelak di hadapan pengadilan Allah yang mahadahsyat.

Mendudukkan ide khilafah dan pengusungnya sebagai musuh justru kian menjerumuskan mereka dalam skenario penjajahan, melanggengkan berbagai krisis, dan di saat sama, kian menjauhkan umat dari obat yang dibutuhkan untuk bisa kembali bangkit menjadi negara yang kuat dan menjadi bangsa penebar rahmat.

Kenapa demikian? Karena faktanya, semua krisis yang terjadi justru muncul akibat penerapan sistem sekuler demokrasi kapitalisme neoliberal yang dipaksakan penerapannya oleh penjajah dan meniadakan peran Allah Swt., bukan karena sistem khilafah atau karena penerapan syariat Islam oleh khilafah.

Terlebih lagi, sudah sejak lama umat Islam hidup tanpa khilafah dan syariat; yakni sejak institusi khilafah terakhir di Turki diruntuhkan pada tahun 1924 oleh antek Inggris berdarah Yahudi bernama Mustafa Kemal Laknatullaahu ‘alayh.

Jadi bagaimana bisa keduanya–yakni syariat dan khilafah–terus dituding sebagai biang masalah?!

Justru syariat Islam yang akan diterapkan dalam institusi khilafah inilah yang nanti akan menjadi solusi hakiki bagi setiap persoalan yang terjadi.

Sistem ekonomi Islam akan mengembalikan kepemilikan sumber daya alam yang hari ini dikuasai kapitalis kepada pemiliknya yakni umat; menghapus sistem riba yang menjadi jalan penjajahan dan memiskinkan; serta meratakan keadilan dan kesejahteraan.

Sistem politik Islam akan mengembalikan kedaulatan kepada pemiliknya yang sejati, yakni Al-Khaliq al-Mudabbir, bukan pada akal manusia yang terbatas dalam sistem perwakilan yang membuka celah kecurangan.

Begitu pun sistem sosial, hankam, dan sanksi Islam, akan menjaga kebersihan masyarakat dan daulat negara. Tak seperti sistem pergaulan, hankam, dan sanksi ala sekularisme yang justru mengukuhkan kerusakan dan menyebabkan negara hilang kewibawaan.

Oleh karenanya, sudah semestinyalah mereka segera bertobat dan menghentikan setiap makar yang mereka buat untuk menyakiti umat hanya demi meraih keridaan para kapitalis Barat.

Justru mereka seharusnya berada di garda terdepan perjuangan membela agama Allah, di tengah penghinaan yang dilakukan negara-negara kafir Barat dengan proyek-proyek penjajahan di negeri-negeri mereka.

Sungguh, kedudukan mereka sebagai para pemimpin umat justru akan jadi sesalan terbesar manakala mereka terus menggunakannya untuk menista Islam. Karena sejatinya kepemimpinan diberikan justru untuk menjaga umat dan menjaga kemuliaan agama melalui penerapan Islam. Bukan yang lain! [MNews | SNA]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *