; Stafsus Milenial, Upaya Memoles Wajah Bopeng Rezim Menjadi "Glowing" - Muslimah News

Stafsus Milenial, Upaya Memoles Wajah Bopeng Rezim Menjadi “Glowing”

Alih-alih membersihkan dan menyembuhkan bopengnya dengan solusi yang mujarab, rezim justru sibuk mengoleskan “krim” pencitraan dengan dalih menggandeng milenial.


Oleh: Umi Aisyah, S.E.

MuslimahNews.com, OPINI — Saat dunia bergerak menuju efisiensi, Presiden Joko Widodo justru membuat struktur pemerintahan yang gemuk. Setelah membentuk kabinet yang gemuk lengkap dengan sederet wakil menterinya, kini Jokowi menunjuk 12 staf khusus untuk mendampinginya. Tujuh di antara mereka merupakan generasi milenial: usianya 20 hingga 30-an tahun.

Ketujuh milenial ini diharapkan Jokowi memberikan gagasan-gagasan segar yang inovatif untuk mengejar kemajuan negara. Mereka juga diminta untuk menjadi jembatan antara Jokowi dengan anak-anak muda, para santri muda, dan para diaspora yang tersebar di berbagai tempat.

Banyak pihak menilai staf khusus milenial ini tidak akan berpengaruh pada kebijakan yang diambil Jokowi. Peneliti Forum Masyarakat Peduli Parlemen (Formappi) Lucius Karus menilai, melalui tujuh staf khusus milenial Jokowi berupaya menutupi lingkaran oligarki dalam pemerintahannya.

Menurut Lucius, dengan memilih staf khusus milenial Jokowi sedang membuat citra bahwa dirinya adalah sosok yang dekat dengan milenial. Padahal, kalau mendukung milenial berinovasi, maka tugas Jokowi seharusnya menyiapkan lapangan pekerjaan dengan segala kondisinya agar membuka ruang bagi anak-anak muda memiliki pemikiran yang inovatif (diolah dari tirto.id, 23/11/2019).


Menutupi Masalah Bangsa yang Sebenarnya

Indonesia diliputi oleh berbagai persoalan pelik. Berdasarkan survei Indo Barometer, perekonomian rakyat dianggap oleh 16 persen masyarakat sebagai masalah utama di Tanah Air. Disusul harga kebutuhan barang pokok dengan 14,6 persen (katadata, 24/3/2019).

Pada kalangan milenial, masalah utama yang mereka rasakan adalah persoalan ekonomi. Berdasarkan survei CSIS terhadap generasi milenial tentang kesulitan yang dirasakan saat ini,  menunjukkan tiga teratas persoalan saat ini adalah masalah ekonomi.

Urutan pertama adalah terbatasnya lapangan pekerjaan sebesar 25,5 persen. Kedua, tingginya harga sembako 21,5 persen. Ketiga, tingginya angka kemiskinan 14,3 persen (detiknews, 3/11/2017).

Jika Pemerintah memang peduli pada persoalan yang dihadapi milenial, hal yang paling utama dilakukan adalah menciptakan lapangan kerja dan iklim usaha yang kondusif. Bukan sekadar mengangkat orang-orang muda untuk menjadi simbol milenial. Ini adalah kebijakan yang tidak menyentuh inti persoalan, padahal para milenial ini tengah menghadapi masalah pengangguran.

Revolusi industri 4.0 akan menghapus banyak jenis pekerjaan, sementara rezim justru menempatkan Indonesia sebagai pasar, bukan produsen. Alhasil pengangguran merajalela.

Padahal Indonesia dianugerahi bonus demografi yang akan segera “meledak”. Jumlah milenial akan membludak. Sementara, saat ini saja, tingkat pengangguran Indonesia menjadi yang tertinggi se-ASEAN (cnbcindonesia, 17/3/2019). Jika ditambah dengan bonus demografi (tanpa upaya efektif untuk membuka lapangan kerja), pengangguran akan makin merajalela.

Kegagalan menyelesaikan masalah pengangguran adalah bopeng di muka rezim saat ini. Masih ada bopeng lainnya yakni perlambatan ekonomi, pemutusan hubungan kerja (PHK) massal, kisruh upah minimum, hingga banjir produk impor.

Alih-alih membersihkan dan menyembuhkan bopengnya dengan solusi yang mujarab, rezim justru sibuk mengoleskan “krim” pencitraan dengan dalih menggandeng milenial.

Rezim mungkin lupa, kaum milenial adalah aktivis medsos di mana jejak digital rezim terekam jelas. Setiap pengingkaran terhadap janji politik akan siap viral di media sosial sehingga membentuk citra negatif di benak milenial. Saat itulah “krim” pencitraan akan leleh dan tak bekerja lagi. Wajah asli rezim akan terekspos secara sempurna.


Khilafah, Sistem Long-lasting Tak Butuh Pencitraan

Milenial di era saat ini adalah orang-orang yang terkategori mukalaf dalam Islam. Mereka sudah mendapat taklif untuk menanggung kebutuhannya sendiri dan juga anak-istri. Khilafah akan menerapkan politik ekonomi Islam yang menjamin setiap laki-laki dewasa (balig) mendapat pekerjaan untuk sumber penghidupannya.

Mekanisme yang dilakukan oleh khilafah dalam mengatasi pengangguran adalah:

1. Mekanisme individu.

Khalifah secara langsung memberikan pemahaman kepada individu, terutama melalui sistem pendidikan, tentang wajibnya bekerja dan kedudukan orang-orang yang bekerja di hadapan Allah Swt. serta memberikan keterampilan dan modal bagi mereka yang membutuhkan.  

2. Mekanisme sosial ekonomi.

Mekanisme ini dilakukan oleh Khalifah melalui sistem dan kebijakan. Dalam bidang ekonomi, Khalifah meningkatkan dan mendatangkan investasi yang halal untuk dikembangkan di sektor riil.

Di sektor pertanian, di samping intensifikasi juga dilakukan ekstensifikasi. Dalam sektor industri Khalifah akan mengembangkan industri alat-alat (penghasil mesin) sehingga akan mendorong tumbuhnya industri-industri lain.

Negara tidak membolehkan adanya sektor nonriil karena haram, menyebabkan beredarnya uang hanya di antara orang kaya saja serta tidak berhubungan dengan penyediaan lapangan kerja.

Dalam iklim usaha, khilafah akan menciptakan iklim yang merangsang untuk membuka usaha melalui birokrasi yang sederhana dan penghapusan pajak.

Demikianlah khilafah menyelesaikan problem kaum milenial. Solusi ini sudah pernah teraplikasi dan mewujudkan kesejahteraan level dunia selama jangka waktu belasan abad.

Jika diaplikasikan saat ini, solusi khilafah akan mampu menyejahterakan kaum milenial dan seluruh dunia. Inilah sistem sahih yang tahan lama dan teruji efektivitasnya. Inilah solusi yang dijamin ori dari Ilahi Rabbi.

Tak hanya menyejahterakan, Khilafah akan mendayagunakan kaum muda untuk menempati berbagai posisi strategis dalam pemerintahan, bukan cuma sebagai staf.

Sepanjang masa khilafah, banyak khalifah yang menjabat di usia muda, contohnya Mehmed V (Al-Fatih). Rasulullah Saw juga pernah mengangkat Usamah bin Zaid yang masih belasan tahun menjadi komandan pasukan jihad.

Imam Syafi’i bisa menjadi contoh ulama yang masih sangat belia dan didengarkan nasihatnya oleh khalifah. Banyak lagi contoh yang menggambarkan bahwa kaum muda dalam khilafah benar-benar terjun membangun negara, bukan cuma sebagai corong pencitraan. Wallâhu a‘lam. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *