Fenomena Penista Agama, Lahir dari Sekularisasi

Sukmawati berulah kembali. Dengan jumawa, penghina Nabi Muhammad ﷺ ini bersikukuh menganggap dirinya tidak menghina Rasul, namun hanya membandingkan. Bahkan dirinya malah menuntut si penyebar video dengan aduan mengedit video dan menyebarkannya dengan niat mengadu domba. Akankah kasus Ahok dan Buni Yani terulang kembali?


Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI — Dalam sebuah forum program deradikalisasi, Ketua Partai Nasional Indonesia (PNI) Marhaenisme ini membandingkan Rasulullah Muhammad ﷺ dengan Soekarno. Sukmawati mempertanyakan peran Muhammad dalam kemerdekaan Indonesia.

Video yang mempertontonkan dengan detail pidato Sukmawati itu telah memereteli dengan jelas bahwa Sukmawati bukan hanya membandingkan Nabi Muhammad ﷺ dengan Soekarno saja. Dirinya bahkan membandingkan Pancasila dengan Alquran, serta mempertanyakan di mana Bendera Hitam (yang dimaksud jelas Bendera Tauhid, ed.) saat kemerdekaan.

Siapa pun akan bisa menangkap maksud di balik ucapan Sukmawati. Seolah-olah ia ingin mengatakan bahwa Soekarnolah yang berjasa terhadap kemerdekaan, bukan Islam. Statement Sukmawati ini sebenarnya sedang mengonfirmasi kejahiliahannya karena membandingkan sesuatu yang tak sepadan sungguh tidak proporsional.

Rasulullah ﷺ adalah tokoh yang hidup di abad ke-6, Soekarno abad ke-20. Soekarno merupakan tokoh Indonesia, sedangkan Rasul tokoh Dunia. Rasulullah ﷺ sosok yang maksum, Soekarno manusia biasa. Membandingkan keduanya tidaklah apple to apple.

Masih ingatkah dengan cerita Komunis yang tersohor saat membandingkan Tuhan dengan PKI? Mereka menanamkan pemahaman anti-Tuhan dengan cara bertanya pada anak-anak. “Siapa yang memberi permen? Tuhan atau PKI? Coba Perem, minta permen sama Tuhan, dikasih gak? Kalo sama PKI mintanya, pasti dikasih.” Membandingkan Tuhan dengan PKI sungguh tidak proporsional. Lebih dari itu, ini adalah upaya pendangkalan akidah, pelecehan berat terhadap Sang Pencipta.

Begitupun yang dilakukan Sukmawati, jelas pelecehan yang tak boleh dimaafkan. Apalagi ini bukan kali pertama Sukmawati melecehkan Islam. Tahun lalu, Sukmawati membacakan puisi yang mengandung penghinaan terhadap cadar dan suara azan.

Semakin menguatkan bahwa Sukmawati adalah penista agama ketika pidato yang mengandung unsur penistaan tersebut disampaikan dalam forum bertajuk “Bangkitkan Nasionalisme. Bersama Kita Tangkal Radikalisme dan Berantas Terorisme’’.

Secara tidak langsung forum tersebut menunjuk umat Islam sebagai pemecah belah NKRI, mengingat selama ini yang dilabeli Radikal dan Teroris adalah Islam. Tentu ini pun merupakan pelecehan terhadap ajaran Islam.

Maka ketika dalam forum tersebut Rasul dibandingkan dengan Soekarno dan Alquran dengan Pancasila, sesungguhnya hal demikian sedang menunjuk Rasulullah ﷺ sebagai tokoh radikal dan penyebar teror.

Baca juga:  Sekularisme Singkirkan Islam dari Negara

Peran Nabi Muhammad dalam Kemerdekaan Indonesia

Dalam buku karya Michael Heart yang berjudul The 100: a Ranking of Most Influential Persons in Histories, penulis menjadikan Nabi Muhammad ﷺ sebagai tokoh yang paling berpengaruh dalam perubahan peradaban. Posisi Nabi Muhammad ﷺ di urutan pertama semakin meyakinkan kita bahwa Rasulullah ﷺ adalah suri teladan bagi umat manusia. Bagaimana dengan Indonesia? Apakah sampai pengaruhnya?

Rasulullah hidup di abad 6-7 masehi. Berbekal wahyu dari Allah Swt., Rasulullah berdakwah menyampaikan Islam ke tengah-tengah umat. Menebarkan rahmat, menyampaikan bahwa Islam adalah rahmatan lil ‘alamin, agama yang menjadi rahmat bagi seluruh alam.

Walaupun Rasulullah wafat di abad ke-7, namun pengaruhnya masih terasa hingga kini, tak terkecuali pada masa perlawanan rakyat Indonesia terhadap Kolonial Belanda.

Kala itu, pekikan takbir “Allahu Akbar” yang dikomandoi Bung Tomo menjadi pemantik semangat mengusir penjajah. Apalagi kalo bukan semangat jihad? Bahwa Allah akan memberikan surga tertinggi pada para pejuang yang syahid dalam melawan penjajahan.

Ruh jihad hadir di tengah-tengah para pejuang kemerdekaan lantaran mereka memahami ajaran Islam, mengikuti apa yang diajarkan Nabi Muhammad ﷺ.

Sehingga, Nabi Muhammad ﷺ adalah manusia yang paling berjasa dalam membangun kemerdekaan Indonesia karena Rasulullahlah yang menjadi panutan setiap langkah dan strategi para pahlawan Indonesia.


Penista Agama Harus Dihukum

Bila diperhatikan, Sukmawati bisa berani seperti sekarang ini lantaran tahun lalu kasusnya yang sama dibiarkan begitu saja. Sukmawati bisa terbebas dari jerat hukum hanya dengan linangan air mata dan permohonan maaf pada umat Islam.

Andai saja tahun dulu Sukmawati dikenakan sanksi, kasus penghinaan terhadap Rasulullah dari mulut penganut ajaran marhaenisme ini mungkin tidak akan terjadi lagi. Wajar demonstrasi menuntut penjarakan Sukmawati terus bergulir, agar Sukmawati Jera.

Baca juga:  Perpanjangan Tangan Rezim di Negeri Muslim Bekerja untuk Merusak dan Menyekularisasi Keluarga!

Bagaimana dengan penista-penista lainnya? Seperti kasus youtuber nomor 1 di Indonesia, Atta Halilintar yang mempermainkan ibadah salat; juga pembuat Game Remi yang menghina Nabi Muhammad ﷺ?

Ditambah fakta miris, Ahok, seorang mantan narapidana penista agama, setelah dijeruji malah diangkat menjadi komisaris BUMN. Sungguh menyakitkan hati umat muslim Indonesia. Seolah semakin subur, terus-menerus negeri ini memproduksi penista agama.

Sebenarnya, sanksi terhadap penista agama di negeri ini sudah ada. Yaitu KUHP Pasal 156(a) yang isinya menyasar setiap orang yang dengan sengaja di muka umum mengeluarkan perasaan atau melakukan perbuatan yang bersifat permusuhan, penyalahgunaan, atau penodaan terhadap suatu agama yang dianut di Indonesia atau dengan maksud supaya orang tidak menganut agama apa pun.

Pelanggaran Pasal 156(a) dipidana penjara selama-lamanya lima tahun. Namun, apakah dengan sanksi lima tahun itu cukup? Terjaminkah sanksi yang dijatuhkan tak akan melahirkan para penista agama lagi? Nyatanya, UU yang dibuat seolah tebang pilih dan tak mampu melindungi agama.


Landasan UU adalah Sekularisme dan Kapitalisme

UU yang diterapkan dalam negeri ini tak bisa berdiri sendiri. Ada sebuah ideologi yang menaungi seluruh UU yang tercipta, yaitu ideologi sekularisme dan kapitalisme. Sehingga negara tidak menempatkan agama dalam posisi yang mulia.

Dalam kacamata sekuler, agama hanya diposisikan sebagai salah satu dari sekian nilai/norma yang menjadi rujukan dalam pembuatan UU. Keberadaan agama bukanlah satu-satunya rujukan dalam mengatur kehidupan manusia.

Wajar akhirnya agama dapat dinistakan. Padahal, seharusnya agama menjadi satu-satunya sumber konstitusi dan perundang-undangan, dan agama harus menjadi arah pandang kehidupan umat manusia.

Jika Islam tidak diposisikan sebagai landasan konstitusi dan arah pandang manusia, namun hanya sebatas salah satu nilai yang ada di masyarakat, jangan pernah berharap pelecehan terhadap agama berhenti.

Begitupun ideologi kapitalisme yang sadar tidak sadar diadopsi negeri ini. Telah mendorong manusia untuk mendapatkan materi dengan segala cara, tak peduli halal atau tidak, termasuk menghina agama.

Baca juga:  Sekularisme Musuh Bersama Kita

Oleh karena itu, sudah bisa dipastikan, penghinaan terhadap Rasul ﷺ dan ajaran Islam akan tetap ada jika sistem sekuler dan kapitalisme masih bercokol di negeri ini. Di mana agama hanya dijadikan pelengkap semata tanpa jadi pijakan seutuhnya.


Hukum Mati bagi Penghina Islam

Ibnu Taimiyah dalam bukunya As-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul (Pedang Terhunus untuk Penghujat Rasul), menjelaskan batasan tindakan orang yang menghujat Nabi Muhammad ﷺ:

Kata-kata yang bertujuan meremehkan dan merendahkan martabatnya, sebagaimana dipahami kebanyakan orang, terlepas perbedaan akidah mereka, termasuk melaknat dan menjelek-jelekkan.” (Lihat Ibnu Taimiyyah, as-Sharim al-Maslul ala Syatimi ar-Rasul, I/563).

Maka, dari Ibnu Taimiyyah, pernyataan Sukmawati termasuk tindakan menghujat Nabi. Bagi umat muslim, menghina atau menghujat Nabi hukumnya haram. Sanksi bagi pelakunya adalah hukuman mati.

أَنَّ يَهُودِيَّةً كَانَتْ تَشْتُمُ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَتَقَعُ فِيهِ ، فَخَنَقَهَا رَجُلٌ حَتَّى مَاتَتْ ، فَأَبْطَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ دَمَهَا

“Ada seorang wanita Yahudi yang menghina Nabi ﷺ, dan mencela beliau. Kemudian orang ini dicekik oleh seorang sahabat sampai mati. Namun, Nabi ﷺ menggugurkan hukuman apa pun darinya [sahabat itu].” (HR. Abu Daud 4362 dan dinilai Jayid oleh Syaikhul Islam)

Hadis di atas jelas menyampaikan pada kita bahwa penghina Rasul ﷺ hukumannya adalah mati. Begitu pun yang pernah ditunjukkan oleh Khalifah Abdul Hamid II terhadap Prancis dan Inggris yang hendak mementaskan drama karya Voltaire yang menghina Nabi Muhammad ﷺ.

Pertanyaannya sekarang, apakah pengadilan hari ini mampu menghukum mati Sukmawati dan para penghina Nabi lainnya? Nyatanya, jangankan menghukum mati, justru pemimpin hari ini seolah alergi dengan syariat Allah Swt.. Mereka terus bernarasi bahwa Islam adalah radikal dan teroris.

Oleh karena itu, jika Indonesia masih berlandaskan pada ideologi sekuler-kapitalis, hanya menempatkan agama sebagai pelengkap bukan sebagai pijakan, maka akan tumbuh Sukmawati-Sukmawati selanjutnya.

Namun jika Indonesia mau menjadikan Islam sebagai satu-satunya sumber konstitusi dan perundang-undangan, menerapkan syariat Islam dengan kafah–termasuk memberikan hukum mati pada penghina Nabi–, niscaya agama ini akan terlindungi, muruah Rasulullah ﷺ akan terjaga. Semoga Indonesia menjadi negeri yang berkah dan terbebas dari para penista agama. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *