; Demonisasi Khilafah - Muslimah News

Demonisasi Khilafah

“Sudah jelas bahaya di balik demonisasi khilafah, yakni agar umat menjauhi khilafah dan tidak terlibat dalam perjuangan penegakannya.”


Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, ANALISIS –Mencermati perbincangan seputar khilafah nampaknya ide ini kian hari semakin menarik untuk dibahas. Melihat realitas ini tidak salah jika dikatakan bahwa ide khilafah mulai menjadi opini di masyarakat. Ini juga bisa menjadi bukti bahwa aktivitas dakwah untuk menyebarkan ide ini sudah menunjukkan tanda-tanda keberhasilan.

Sebagian umat telah memiliki pemahaman yang sahih tentang khilafah. Mereka meyakini bahwa ide ini bukanlah pemikiran yang asing dalam ajaran Islam, namun merupakan salah satu ajaran Islam. Tuntutan untuk menegakkannya bukan sekadar seruan biasa, namun sebuah kewajiban yang menempati posisi tinggi sebagai taj-al furudl, mahkota kewajiban.

Tidak akan sempurna pelaksanaan berbagai kewajiban tanpa kehadiran khilafah. Karena khilafahlah satu-satunya institusi Negara yang akan melaksanakan syari’ah Islam secara kaffah.

Namun di tengah kerinduan umat akan tegaknya khilafah, ada juga pihak yang tidak suka sistem pemerintahan yang Allah SWT janjikan kembalinya itu. Bahkan mereka berusaha untuk menghalang-halanginya. Berbagai cara telah mereka lakukan demi untuk menghentikan laju dakwah khilafah.

Pernyataan busuk dan tuduhan keji terkait khilafah terus diluncurkan. Kalimat dan redaksi yang digunakan tidaklah sama. Namun maksud dan tujuannya tidak berbeda, ingin menciptakan opini buruk terkait Khilafah.

Di balik perkataan yang dilontarkan ada target untuk membangun citra negatif di tengah masyarakat. Bahkan sampai kadar penyesatan supaya umat mempunyai persepsi jelek tetang khilafah.

Ujungnya umat diharapkan akan membenci, menjauhi, dan memusuhi khilafah. Begitu bencinya mereka pada khilafah. Meminjam istilah yang didefinisikan Noam Choamsky, maka yang mereka lakukan sudah menjurus pada demonisasi, yakni perekayasaan sistematis untuk menempatkan sesuatu agar ia dipandang sebagai ancaman yang sangat menakutkan, dan karenanya ia harus dimusuhi, dijauhi, dan bahkan dibasmi.[1]

Demonisasi Khilafah Rencana Global

Dengan penelaahan mendalam bisa dipahami maraknya demonisasi khilafah berkaitan dengan tindak lanjut rilis laporan yang dibuat oleh Dewan Intelijen Nasional Amerika Serikat (National Inteligent Council/NIC) pada Desember 2004 dalam bentuk dokumen yang berjudul Mapping The Global Future.

Kebangkitan kembali Khilafah Islam, yakni Pemerintahan Global Islam yang bakal mampu melawan dan menjadi tantangan nilai-nilai Barat. [Maping The Global Future: Report of the National Intelligence Council’s 2020 Project].

Mereka sangat yakin bahwa khilafah akan kembali tegak dan akan menghadang segala bentuk kezaliman dan penjajahan yang dilakukan Barat di negeri-negeri muslim.

Karena itu Barat terus menghadang tegaknya khilafah dengan berbagai cara. Diantara cara yang harus dilakukan adalah monsterisasi atau demonologi Khilafah dengan memberikan label ajaran berbahaya.

Beberapa demonisasi yang mereka tujukan pada khilafah adalah:

Tuduhan bahwa khilafah anti kebhinekaan dan pemecah-belah persatuan. Jika khilafah tegak di negeri ini maka disebutkan akan merusak tatanan keberagaman yang sudah dibangun selama ini. Menurut mereka pluralitas adalah keniscayaan. Mustahil menyamakan sesuatu yang hakikatnya berbeda.

Khilafah dianggap akan memaksakan segala sesuatu dan menolak terjadinya perbedaan di tengah masyarakat. Ujungnya konflik horizontal dianggap sesuatu yang sulit dihindari. Dan yang yang lebih kejam lagi sering dituduhkan bahwa khilafah akan menzalimi minoritas. Bahkan akan mengusir warga Negara yang tidak beragama Islam.

Tuduhan ini pasti menyeramkan dan melahirkan ketakutan pada mereka yang merasa akan menjadi korban. Akibatnya, mereka akan menjauhi ide khilfah dan mejauhkannya dari benak umat.

Berikutnya adalah tuduhan bahwa khilafah tidak ada dasarnya baik dari Alquran maupun hadis Rasulullah saw..

Seperti pernyataan Mahfud MD: “Jadi jangan berpikir mau mengganti sistem yang radikal karena tidak ada di dalam Alquran dan hadis sistem yang betul-betul menurut Islam seperti apa? Tidak ada. Arab Saudi yang dikatakan negara Islam di sana banyak korupsi juga sehingga sekarang terjadi pemecatan-pemecatan di kalangan elite, katanya islam itu khilafah. Mau niru Brunei? Di Brunei mau disebut sebagai contoh kita nggak suka, di sana nggak ada parlemen. Mau niru Malaysia? Mau niru Pakistan? Jadi semua buat sendiri-sendiri,”[2]

Pernyataan ini memiliki pengaruh berarti. Ketika Khilafah dikatakan tidak bersumber dari Alquran dan Hadis, berarti dari sisi kekuatan hukum tidak mempunyai dalil yang rajih. Karenanya mereka menganggap sah-sah saja jika kemudian dibuat sistem pemerintahan berdasarkan persepsi masing-masing bangsa. Bisa kerajaan, boleh republik, tidak salah juga jika memilih sistem parlementer.

Khilafah dikatakan ideologi terlarang, bahkan dilarang oleh 20 negara seperti dikatakan oleh Wiranto ketika masih menjabat sebagai Menteri Koordinator Bidang Politik, Hukum, dan Keamanan: “Ideologi khilafah ini tidak hanya dilarang di Indonesia, tetapi juga telah dilarang di 20 negara lain di antaranya Malaysia dan Yordania,”.

Bukan tanpa maksud Wiranto menyebut sudah terjadi pelarangan ide khilafah. Seolah ingin menegaskan bahwa khilafah menjadi musuh banyak Negara. Artinya siapapun yang berada di pihak khilafah harus siap berhadapan dengan Negara-negara di dunia.

Bahkan, lanjutnya, paham tersebut juga ditolak oleh negara-negara yang penduduknya mayoritas diketahui beragama Islam yakni Arab Saudi, Mesir, Turki, dan Pakistan. “Alasannya kembali lagi karena mengancam keamanan negara dan dapat menimbulkan konflik horizontal yang sangat luas,” katanya.

Sebelumnya Ansyaad Mbay pada 1 Maret 2018 lalu menyatakan khilafah paham yang sangat berbahaya dan terkait erat dengan terorisme. “Terorisme adalah anak kandung radikalisme,” katanya. Bahkan dia menegaskan bahwa radikalisme lebih berbahaya dari terorisme.

Berikutnya wakil presiden yang belum lama dilantik, Ma’ruf Amin mengatakan, “Khilafah di Indonesia tidak dapat masuk karena menyalahi kesepakatan nasional.” Dia mengatakan khilafah juga akan tertolak ketika dibawa lagi ke Saudi Arabia.[3]

Tidak ketinggalan mantan Menhan kabinet kerja, Ryamizard berpesan kepada penggantinya, Prabowo supaya melanjutkan pekerjaan rumah di Kemenhan untuk memberantas paham khilafah dan kelompok ISIS yang kini menjalar di Indonesia. Dengan tegas dia mengatakan: “Khilafah tuh, ISIS harus dihancurin,” tegasnya.[4]

Menggandengkan khilafah dengan ISIS memiliki tujuan untuk membangun ketakutan dan kebencian pada khilafah. Dikarenakan banyaknya informasi yang selama ini sampai kepada umat terkait kekejaman ISIS. Ini juga yang menjadi alasan munculnya seruan “jangan Suriahkan Indonesia”.

Siapa yang ingin negaranya menjadi hancur porak-poranda? Rakyatnya menjadi korban perang saudara, bahkan terusir dari negerinya sendiri dan harus hidup terlunta-lunta menjadi pengungsi yang tidak jelas nasibnya.

Demonisasi Khilafah, Upaya Memadamkan Cahaya Allah

Sunnatullah bahwa kebenaran akan berhadapan dengan kebatilan dan para pengusungnya. Mereka tidak akan rela jika kebenaran ajaran Islam menyebar ke tengah-tengah umat dan berjaya sebagai pengatur kehidupan. Mereka pun melakukan pembunuhan karakter khilafah dan melabelinya dengan julukan-julukan yang memiliki persepsi buruk di benak umat.

Allah SWT telah mengabarkan kepada kita tentang sepak terjang para penentang kebenaran ini, salah satunya dalam firman-Nya:

Dan siapakah yang lebih zalim daripada orang yang mengada-adakan dusta terhadap Allah, sedangkan dia diajak kepada agama Islam ? Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada orang-orang yang zalim. Mereka ingin hendak memadamkan cahaya (agama) Allah dengan mulut (ucapan-ucapan) mereka, dan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir benci. Dialah yang mengutus Rasul-Nya dengan membawa petunjuk dan agama yang benar agar Dia memenangkannya di atas segala agama, meskipun orang-orang musyrik benci.” (TQS Ash Shaff [61]: 7-8).

Menurut Imam Ibnu Katsir dalam tafsirnya, maksud ayat tersebut adalah mereka berupaya menolak perkara yang hak dengan perkara yang batil. Perumpamaan mereka dalam hal ini sama dengan seseorang yang ingin memadamkan sinar mentari dengan mulutnya.

Maka sebagaimana hal ini mustahil, begitu pula memadamkan cahaya (agama) Allah merupakan hal yang mustahil pula. Dalam ayat tersebut Allah menyampaikan bahwa senjata untuk melawan serangan mereka adalah dengan istikamah menyebarkan risalah Islam yang akan dimenangkan Allah atas semua agama.

Mereka akan terus mencitraburukkan Islam dan menghalang-halangi umat dari Islam sekalipun mereka harus menafkahkan hartanya. (Lihat QS Al Anfal [8]: 36).

وَلا يَزَالُونَ يُقَاتِلُونَكُمْ حَتَّى يَرُدُّوكُمْ عَنْ دِينِكُمْ إِنِ اسْتَطَاعُوا

Mereka tidak henti-hentinya memerangi kamu sampai mereka (dapat) mengembalikan kamu dari agamamu (kepada kekafiran), seandainya mereka sanggup.” (QS Al Baqarah: 217)

Namun sebesar apa pun upaya yang mereka curahkan, mereka tidak akan pernah membuahkan hasil. Makarnya akan berbalik menghancurkan mereka. (Lihat QS Al Anfaal [8]: 30)

Melawan Demonisasi

Khilafah adalah ajaran Islam. Melakukan penentangan terhadap ajaran Islam, apalagi berupaya menjelek-jelekkannya bisa diartikan melawan risalah Allah Swt.. Demonisasi tidak boleh dibiarkan. Umat harus disadarkan bahwa ada upaya sistematis, masif, dan terstruktur yang dilakukan oleh musuh-musuh Islam untuk menjegal kembalinya syariat kafah dalam tataran paktis.

Apa yang mereka lakukan sejatinya adalah kedustaan besar dan menghinakan ajaran Islam. Pernyataan mereka juga harus dibongkar sehingga nampak racun-racun yang siap menyerang pemahaman umat serta melumpuhkan keriduan akan hadirnya institusi yang akan melanjutkan kehidupan Islam.

Benarkah tidak ada khilafah/khalifah di dalam Alquran dan Hadis Nabi saw.?

Sungguh pernyataan tersebut kedustaan yang nyata. Tidak sedikit hadis Rasulullah yang menyuruh umatnya menaati khalifah, salah satunya adalah sabda Beliau:

فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِى وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِينَ الْمَهْدِيِّينَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ

“Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap ajaranku dan ajaran al-khulafa’ a al-rasyidin al-mahdiyyin (para khalifa yang lurus dan mendapatkan petunjuk). Gigitlah (genggamlah dengan kuat) dengan geraham.” (HR Ibnu Majah dan al-Tirmidzi yang berkata, “Hadis Hasan sahih.”)

Menurut Imam Ibnu Hajar al-Haitami kewajiban mengangkat khalifah sesudah wafatnya Nabi saw. ditegaskan juga oleh perilaku para sahabat sesaat setelah wafatnya Nabi saw..

اعلم أيضا أن الصحابة رضوان الله تعالى عليهم أجمعين أجمعوا على أن نصب الإمام بعد انقراض زمن النبوة واجب بل جعلوه أهم الواجبات حيث اشتغلوا به عن دفن رسول الله واختلافهم في التعيين لا يقدح في الإجماع المذكور

Ketahuilah juga bahwa para Sahabat ra. seluruhnya telah berijmak bahwa mengangkat seorang imam (khalifah) setelah berakhirnya masa kenabian adalah wajib. Bahkan mereka telah menjadikan kewajiban ini sebagai kewajiban yang paling penting. Buktinya, para Sahabat lebih menyibukkan diri dengan perkara ini dibandingkan dengan mengurusi jenazah Rasulullah saw. Perselisihan mereka dalam hal penentuan (siapa yang berhak menjadi imam) tidaklah merusak ijmak yang telah disebutkan itu.” (Imam Ibnu Hajar al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, 1/25).

Imam al-Qurthubi menegaskan,

“Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) di kalangan umat dan para imam mazhab; kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli terhadap syariat) dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.” (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264).

Pendapat para ulama terdahulu di atas juga dilanjutkan oleh para ulama kontemporer.[5]


Masalah kebinekaan dan kekhawatiran warga negara nonmuslim tidak bisa menjadi alasan untuk menolak khilafah. Fakta sejarah justru mengungkap khilafah mampu menyatukan berbagai suku dan agama dalam satu wadah negara Khilafah Islam. Semua rakyat mendapatkan hak kewarganegaraannya secara sempurna. Mereka hidup damai berdampingan dalam ri’ayah Negara.

Negara Islam pertama yang didirikan Rasulullah saw. di Madinah berpenduduk sangat heterogen: terdiri dari berbagai kabilah, suku, termasuk terdapat komunitas Yahudi.

Tatkala wilayah kekhilafahan meluas sampai ke Mesir, Irak, Iran, Syiria, dan Spanyol, keanekaragaman warga negara pun kian bertambah; terdapat komunitas Kristen, Yahudi, pemeluk keyakinan Zoroaster, dan lainnya.

Bukti sejarah ini tidak terbantahkan bahwa khilafah Islam melindungi perbedaan dan memberikan perlakuan yang adil kepada mereka. Rakyat Negara khilafah bukan hanya muslim. Ada orang kafir (ahlu dzimmah) yang menjadi warga Negara dan siap tunduk patuh pada aturan yang ditetapkan Negara.

Perlakuan adil terhadap nonmuslim tidak hanya diungkapkan oleh orang Islam, bahkan seorang sejarahwan Kristen, Thomas Walker Arnold, menuliskan:

“Perlakuan terhadap warga Kristen oleh Pemerintahan Khilafah Turki Utsmani—selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani—telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.” (The Preaching of Islam: A History of Propagation Of The Muslim Faith, 134).

Pengakuan Nasrani Syam pada tahun 13 H menjadi bukti berikutnya, mereka menulis surat kepada Abu ‘Ubaidah bin al-Jarrah yang isinya:

“Wahai kaum Muslim, kalian lebih kami cintai daripada Romawi, mereka seagama dengan kami. Kalian lebih menepati janji kepada kami, lebih lembut kepada kami dan tidak menzalimi kami. Kalian lebih baik dalam mengurusi kami. Romawi hanya ingin mendominasi segala urusan kami dan menguasai rumah-rumah kami.” (Al-Baladzuri, Futûh al-Buldân, 139).

Apakah Khilafah Mengancam?

Ancaman adalah apa pun yang bisa menghilangkan eksistensi dan kedaulatan serta mengambil hak-hak yang harusnya ditunaikan. Keberadaan khilafah sesungguhnya untuk melaksanakan tanggung jawabnya yakni memenuhi kebutuhan rakyatnya, merealisasikan kemaslahatannya serta melindungi mereka dari hal-hal yang membahayakan eksistensinya sebagai hamba Allah Swt. yang memiliki amanah kehidupan taat total pada syariat-Nya.

Kesaksian Abdullah Ibn al-Mubarak (w. 181 H), seorang imam besar dari kalangan tâbi’ut tâbi’în, sebagaimana dinukil oleh Imam Ibn ‘Abdil Barr (w. 463 H) menjadi salah satu buktinya.

Beliau menyatakan, “Jika bukan karena Khilafah, niscaya jalanan tidak akan menjadi aman; niscaya yang lemah di antara kita akan menjadi mangsa bagi yang kuat.” (At-Tamhîd li-mâ fî al-Muwaththa’ min al-Ma’ânî wa al-Asânîd, 21/275).

Sebaliknya, ketika khilafah tidak hadir di tengah umat justru ancaman itu nyata di hadapan. Kekayaan umat telah dieksploitasi dan dirampas oleh kapitalisme. Eksistensinya sebagai hamba Allah telah dirusak oleh sekularisme dan liberalisme. Ketaatan pada aturan Pencipta menjadi perkara haram yang harus dijauhkan karena dianggap bertentangan dengan kebebasan yang mereka tuhankan.

Akibatnya umat hidup dalam himpitan krisis dan penderitaan, dekadensi moral, serta dikelilingi berbagai kemaksiatan. Jadi, semestinya yang dilawan dan disingkirkan adalah sekularisme, kapitalisme, dan liberalisme.

Radikalisme dan terorisme hanyalah isu yang sengaja dimunculkan untuk menjauhkan umat dari pemahaman yang benar tentang khilafah. Tuduhan radikal dan kekerasan sungguh bertentangan dengan realitas sesungguhnya.

Sementara tentang kesepakatan yang diklaim telah dibuat para pendiri bangsa ini sebenarnya tidak bernilai apa-apa jika menyelisihi ketetapan syariat yang sudah diwariskan baginda Rasulullah saw..

Sebagaimana firman Allah Swt.,

Dan barang siapa yang menentang Rasul sesudah jelas kebenaran baginya, dan mengikuti jalan yang bukan jalan orang-orang mukmin, Kami biarkan ia leluasa terhadap kesesatan yang telah dikuasainya itu dan Kami masukkan ia ke dalam Jahannam, dan Jahannam itu seburuk-buruk tempat kembali.” (TQS An Nisa’: 115).

Bagi orang yang meyakini khilafah adalah bentuk pemerintahan yang dicontohkan Nabi saw. dan dilanjutkan oleh para sahabat serta para khalifah setelahnya, tentu tidak akan berpaling kepada sistem lain sekalipun dikatakan hasil kesepakatan bersama.

Sudah jelas bahaya di balik demonisasi khilafah, yakni agar umat menjauhi khilafah dan tidak terlibat dalam perjuangan penegakannya. Berbagai tujuan keji ini tidak akan pernah berhasil menjegal terbitnya cahaya kebenaran Islam.

Allah Swt., pemilik risalah ini, akan memenangkan agama-Nya dengan memunculkan para pembela Islam yang mukhlis dan istikamah menapaki jalan perjuangan yang telah dicontohkan Baginda Rasulullah saw.. Wallahu A’lam. [MNews]


[1] https://mediaumat.news/the-amazing-of-khilafah-antara-tuduhan-ilusi-dan-fakta-solusi/

[2] https://news.detik.com/berita/d-3759708/mahfud-md-khilafah-bukan-dari-alquran-khilafah-ciptaan-ulama

[3] https://news.detik.com/berita/d-4776648/maruf-amin-khilafah-itu-islami-tapi-tidak-berarti-islami-adalah-khilafah

[4] https://www.suara.com/news/2019/10/24/180540/pesan-ryamizard-ke-prabowo-khilafah-dan-isis-harus-dihancurkan

[5] Lihat, misalnya: Syaikh Abu Zahrah, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyah, hlm. 88; Dr. Dhiyauddin ar-Rais, Al-Islâm wa al-Khilâfah, hlm. 99; Abdul Qadir Audah, Al-Islâm wa Awdha’unâ as-Siyâsiyah, hlm. 124; Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/15; Dr. Mahmud al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 248


Bagaimana menurut Anda?

Satu tanggapan untuk “Demonisasi Khilafah

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *