; Amerika Serikat; Ini Bukan Masalah Negaranya, tapi Sistemnya - Muslimah News

Amerika Serikat; Ini Bukan Masalah Negaranya, tapi Sistemnya

Oleh: Fatima Musab

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL — Resesi tahun 2008, kejadian 9/11, terpilihnya Trump sebagai presiden Amerika Serikat (AS) beserta keputusannya menarik diri dari perjanjian internasional, dan juga kebangkitan Cina; semua kejadian ini telah dikelilingi dengan berbagai diskusi mengenai apakah AS masih memiliki cengkeraman hegemoni adidaya ataukah tengah mengalami kemunduran?

Hal ini tidaklah mengejutkan lagi, mengingat diskusi mengenai kebangkitan serta kejatuhan negara adidaya bukanlah hal yang baru. Bahkan sebenarnya, jika kita melihat kembali pada sejarah kekuatan hegemoni hal seperti ini sudah dapat dipastikan.

Namun hal ini membuat khawatir Dunia Barat, karena ini berarti akan mengganti sistem mereka sehingga akan menyebabkan keinginan untuk terjadinya perubahan pada tatanan Internasional dan menyebabkan kekacauan pada negara-negara terkait.

Masalahnya adalah: Diskusi mengenai kemunduran AS merupakan sesuatu yang kompleks dan bergantung pada kebangkitan sistem alternatif lainnya.

Hal ini dikarenakan kenyataan bahwa AS tidak hanya berjalan sebagai sebuah Negara, melainkan juga sebagai pemimpin pada sistem yang muncul pada tahun 1900-an ini.

Apakah pada saat ini sistem alternatif tersebut telah ada ataupun tidak, itu bukanlah masalah utama. Artikel ini tidak membahas tentang bahwa tidak mungkin ada sistem lainnya, melainkan membahas tentang kekuatan yang tengah bangkit itu tidak akan mungkin dibawa oleh Cina, Rusia, ataupun India.

Konteks

Sistem internasional saat ini tengah dilanda kekacauan yang amat parah, hingga para pakar ekonomi memprediksi akan terjadi resesi kembali pada 2020 diikuti dengan sejumlah krisis politik di seluruh dunia.

Di tengah-tengah terjadinya kekacauan ini, dibarengi keputusan Trump dalam mengejar kebijakan mengasingkan diri dari dunia, terdapat perdebatan mengenai status dari AS saat ini: Apakah hegemoni mereka masih bertahan? Ataukah terdapat negara lain yang tengah bangkit yang akan menggantikan posisi AS saat ini?

Sistem internasional saat ini dibangun di atas dasar demokrasi-liberal. Kenyataan ini tengah terancam lantaran para pemikir Barat mulai menamai era ini sebagai “kebangkitan iliberalisme”, yaitu meningkatnya ketidakpercayaan terhadap prinsip liberal atau tampaknya mulai meninggalkan apa yang dikatakan sebagai hak asasi.

Negara-negara demokrasi-liberal tengah berjuang keras untuk mempertahankan kekuasaannya. Rakyat mereka, yaitu rakyat yang sama dengan yang dibutuhkan para politisi untuk mendapatkan kekuasaan mereka, sekarang tengah gelisah atas meningkatnya ketidaksetaraan yang terjadi.

Para politisi ini kesulitan dalam mempertahankan dukungan dan masih menggunakan nasionalisme untuk mempertahankan dukungan dari rakyat mereka—contohnya pada kasus India dan Pakistan.

Indian Nationalism, nasionalisme yang ditanamkan India pada rakyatnya.

Pertanyaannya, mengapa diskusi kontekstual merupakan pembahasan penting dalam diskusi tentang kemunduran AS? Hal ini karena AS merupakan pusat dari semua permasalahan.

AS sebagai negara pemimpin/hegemon, dilihat sebagai negara yang memiliki sumber daya, ide, serta kekuatan untuk membantu menyangga sistem yang ada sekarang. Jika negara ini kemudian mengalami kemunduran, maka seluruh sistem pasti akan terancam bahaya.

AS Mengalami Kemunduran

Poin tajam yang menjadi argumen tentang kemunduran AS adalah negara ini tengah mengalami krisis ekonomi. AS diyakini telah kehilangan arena bertarungnya dan memiliki masalah karena mengemban beban sebagai sebuah negara adidaya—sebuah hegemoni yang daya kontrolnya terbentang hingga seberang dunia. Beban ini menghasilkan berbagai masalah dalam negeri yang harus segera diselesaikan; seperti masalah sosial, politik, dan ekonomi.

Melihat keadaan AS hari ini, kita dapat melihat bahwa AS tengah kesulitan secara politik. “Looking at the USA today, you can see that the USA is struggling politically”.

Baca: https://www.muslimahnews.com/2019/09/20/the-sick-man-of-usa/

Seluruh pandangan “Amerikalah yang utama” yang diadopsi oleh Trump didesain untuk meyakinkan seluruh elite politik dalam mempertahankan dukungan dari para pendukung kunci mereka, sehingga tetap mampu untuk melanjutkan kontrolnya dalam wilayah kebijakan luar negeri yang sangat berperan penting dalam dominasinya pada sistem ini.

Tetapi ini hanyalah sekadar persepsi, dan persepsi pasti akan berubah. Apa pun itu, persepsi ini mungkin saja berupa keyakinan AS masihlah menjadi kekuatan dominan dalam sistem internasional.

Pada 2003, belum ada kekuatan biasa di dunia yang mampu melawan Amerika dalam peperangan yang sukses terhadap Amerika, yang memiliki 38% dari seluruh pengeluaran militer dunia.

Ketika berbicara tentang ekonomi, maka ceritanya akan berbeda tergantung periode waktu dan topik diskusi. Para pendukung teori kemunduran AS fokus terhadap fakta bahwa perdagangan AS yang mengalami defisit membawa pada kelanjutan kemunduran AS dalam sektor kekuatan ekonomi global dan masalah internal sistem; AS bergeser posisi dari kepala kreditor menjadi kepala debitor.

Namun, berdasarkan Washington Post:

“Hari ini, AS hanya memiliki bagian kecil dari kue yang sangat sangat besar. Produk bruto domestik mereka pada saat akhir Perang Dunia II mencapai hingga $250 miliar per tahun, kini mencapai lebih dari $21 miliar.

Menyesuaikan dengan inflasi, itu menunjukkan peningkatan hingga tujuh kali lipat. Namun, pertumbuhan dari baja Jerman dan pembuat alat dari Jepang dan automobile dari Korea Selatan -dan pembuat mesin elektronik- dari Cina memiliki produk dengan harga rendah yang berkualitas sebagai bukti AS telah kalah dari segi ekonominya.

Setelah 75 tahun, celah antara kenyataan kekuatan ekonomi AS dengan figur yang ingin dibangun oleh AS semakin membesar. Namun, Amerika terus menunjukkan kekuatannya sebagai negara dengan ekonomi terbesar dunia, diikuti oleh Cina dan Jepang di urutan kedua dan ketiga secara berurutan.

Deloitte memprediksi bahwa Amerika akan menggantikan Cina di posisi teratas pada Global Manufacturing Competitiveness Index di tahun depan. Sejak 2003 silam, Amerika telah menambah sebanyak lebih dari $3 triliun pada perekonomiannya dibandingkan apa yang mampu dilakukan oleh Perserikatan Eropa.” [Washington Post]

Ilustrasi perang dagang AS-Cina.

Hal ini menunjukkan bahwa Amerika tidaklah selemah yang digambarkan dalam teori yang ditawarkan oleh para pendukung kemunduran Amerika. Namun masalahnya bukanlah pada sisi ekonomi, melainkan pada peningkatan ketidakmerataan ekonomi dalam negaranya.

Hal ini memang tidak dapat memengaruhi kekuatan perekonomian negara, namun mampu memengaruhi politik internal, yang mana inilah alasan mengapa Amerika mengadopsi kebijakan nasionalis untuk memuaskan kelas pemungutan suara.


Isu kunci ketika membicarakan kemunduran Amerika hanya dengan melihatnya sebagai sebuah negara tidaklah cukup. Seperti yang dikatakan oleh Huntington, kelemahan dari pernyataan para pendukung teori kemunduran adalah mereka telah memprediksi kemunduran ini sejak tahun 1950-an namun sistem kapitalisme ini belum juga tumbang.

Pemusatan permasalahan hanya pada tatanan negara inilah yang menyebabkan mereka tidak mampu untuk melihat gambaran secara menyeluruh.

Hal penting yang patut diingat adalah bahwa AS bukan sekadar bekerja sendiri, namun ia adalah pemimpin yang didukung oleh berbagai negara yang bekerja untuk sistem ini.

Sebagai negara hegemon, AS membuat serta mempertahankan sebuah sistem dengan berbagai institusi dan juga organisasi yang membantunya untuk menjaga dan meningkatkan pengaruhnya.

Hal ini telah menciptakan situasi di mana negara-negara bekerja sesuai dengan sistem yang telah dibuat dan dijaga oleh AS sehingga hal ini memberikan stabilitas dan legitimasi.

Amerika telah berhasil mempertahankan legitimasinya dengan memberikan suara pada negara lemah, mengurangi ketidakjelasan kekuatan yang lebih besar dan juga meredakan dilema keamanan.

Amerika memiliki keterbatasan dalam kekuatan, namun hal itu tidak menjadikannya berhenti untuk memenuhi agendanya serta memimpin sistem.

Hal ini dapat dijelaskan melalui fakta bahwa negara-negara lain, bahkan Cina sekalipun, mengikuti AS dan akan menjadi sangat gempar bila Cina menarik diri sepenuhnya- Cina membiarkan fondasinya mengikuti tatanan dunia.

Ini membuktikan bahwa hegemoni Amerika bukan hanya sekadar berdasarkan kekuatannya sebagai sebuah negara, melainkan juga integrasi serta kepemimpinannya dalam sistem ini.

PBB adalah contohnya. Singkat cerita, semua negara yang ada saat ini- baik itu Cina dan Rusia yang dianggap musuh oleh AS maupun Britania Raya yang dianggap sebagai sekutu.

Penerimaan terhadap adanya PBB sebagai forum diskusi serta alat untuk menolong “menyelesaikan” berbagai permasalahan negara lainnya ini membantu menguatkan kekuatan AS serta legitimasi di dalam sistem yang mereka buat ini.

Maka, ketika Palestina setuju untuk bekerja sama dengan PBB, hal ini memberikan kekuatan pada Amerika.


Intinya adalah: sebuah hegemoni dipimpin oleh sebuah ide. Ide inilah yang akan menjadi salah satu landasan dalam kepemimpinan politik untuk menuntun arah kepemimpinannya, dijaga melalui difusi dan polarisasi dari pandangan dunia terhadap tatanan dunia. Sistem ini dipertahankan melalui paksaan serta persetujuan yang mana keduanya merupakan aspek kekuatan dari hegemoni.

Hal ini berarti AS adalah penyokong demokrasi-liberal, yang mengembannya ke luar negeri melewati batasan negerinya. Tetapi, agar demokrasi ini dapat bekerja di suatu negara, maka sistem tidak boleh dipaksakan, melainkan harus diterima secara terbuka untuk memastikan terjadinya perubahan secara bertahap bukannya instabilitas.

AS memerlukan dukungan dan penerimaan dari negara-negara lainnya untuk melanjutkan pengaruhnya. Serta negara lainnya bergantung pada AS di mana mereka menerima untuk bekerja sama di dalam sistem yang ditawarkan Amerika dan tertarik untuk mempertahankannya untuk keuntungan mereka sendiri.

Inilah mengapa meningkatnya iliberalisme, ancaman terjadinya resesi, serta kebijakan isolasi diri dari Trump menjadi isu bagi para politisi dan pemikir. Mereka memberikan sinyal penolakan terhadap sistem ini, sebuah sistem kapitalis liberal terbuka yang diminati oleh negara -besar maupun kecil- untuk dilindungi.

Kemungkinan terjadinya penolakan (kemunduran) terhadap sistem dari Amerika ini telah menuntun pada diskusi tentang sistem alternatif lainnya.

Pembahasan saat ini mengenai kemungkinan negara seperti Cina ataupun Rusia untuk mengambil posisi hegemoni Amerika telah gagal. Permasalahan tentang isu ini adalah mereka lupa atau mengabaikan satu elemen yang sangat penting. Mereka telah menerima sistem kapitalisme, sebuah sistem yang Amerika buat pascaperang dunia II (dengan bantuan para sekutunya).

Cina, Rusia, India: semua kekuatan ini bangkit dalam sistem kapitalis sehingga mereka memiliki kepentingan untuk mempertahankannya. Hasilnya, mereka akan selalu memberikan otoritas terhadap Amerika dan tidak akan menghalanginya jika itu berarti akan membuat Amerika jatuh.

Ketiga negara tadi adalah kekuatan yang tengah bangkit, namun kebangkitan mereka tetaplah pada sistem kapitalis yang tengah berlangsung, sehingga mereka bukanlah pilihan alternatif untuk sebuah sistem yang akan menuntun pada keruntuhan sistem dari Amerika.

Agar situasi ini berubah, diperlukan usaha untuk menghentikan seluruh sistem internasional ini—mengubah landasannya serta membongkar seluruh sistem dari Amerika ini.

Hal ini bukanlah kemustahilan—ini telah terjadi sebelumnya; sebagai contoh ialah keruntuhan sistem kolonialisme Eropa pada masa pascaperang dunia.


Mengganti sistem ini hingga ke akarnya, tidak cukup hanya dengan mengubah salah satu aspek dalam sistemnya; kita tidak akan mampu menantang Amerika beserta sekutunya dengan mengambil jalan iliberal seperti yang dilakukan oleh Turki. Tidak pula dengan jalan meningkatkan pengaruh politik melalui kebijakan ekonomi seperti yang dilakukan oleh Cina.

Tujuan akhir haruslah untuk mengubah seluruh basis—The aim needs to be to change the entire basi—membongkar seluruh aturan yang dilandaskan oleh akal manusia yang lemah dan menggantinya dengan sebuah sistem yang dapat menerapkan seluruh aturan sempurna yang telah diturunkan Allah Swt., Sang Pencipta kepada kita semua.

Hanya Khilafah, satu-satunya sistem berdasarkan minhaj kenabian yang mampu mewujudkannya. Sebuah sistem alternatif untuk menggantikan sistem dari Barat; sistem yang di dalamnya kaum Muslim tidak akan melakukan kompromi hanya untuk mempertahankan kekuasaan seperti yang dilakukan oleh negara-negara yang mengklaim dirinya sebagai “Negara Islami”.

Tidak akan pula kaum muslim menerima kepemimpinan dari kekuatan negara-negara. Fokus utamanya adalah selamanya menerapkan aturan yang diturunkan oleh Allah Swt. melalui hukum syariat Islam; yang akan melindungi seluruh saudara-saudara muslim serta memastikan kita semua akan sukses dalam kehidupan dunia maupun akhirat nanti.

‎الْيَوْمَ أَكْمَلْتُ لَكُمْ دِينَكُمْ وَأَتْمَمْتُ عَلَيْكُمْ نِعْمَتِي وَرَضِيتُ لَكُمُ الإِسْلاَمَ دِينًا

“Pada hari ini telah Kusempurnakan agamamu untukmu, dan telah Kucukupkan nikmat-Ku bagimu dan telah Aku ridai Islam sebagai agamamu.” (5:3). [MNews]


Diterjemahkan dari http://www.khilafah.com/usa-its-not-the-state-its-the-system/


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *