Hanya Islam Rahmat bagi Seluruh Alam

Oleh: Arini Retnaningsih

MuslimahNews.com, FOKUS — Kontroversi kembali terjadi terkait pernyataan Menteri Agama Jenderal TNI (Purnawirawan) Fachrul Razi. Dalam pernyataannya di CNN Indonesia Menag Fachrul Razi menyebut semua agama adalah rahmat bagi alam semesta. “Semua agama adalah rahmat bagi alam semesta ini, kalau di Islam menyebutnya dengan rahmatan lil ‘alamin,” kata Menag Fachrul Razi. (Portal Islam, (29/10/2019)

Pernyataan Sang Jenderal ini tidak lepas dari arus sekularisasi yang terasa menguar semakin tajam sejak pelantikan kabinet baru Indonesia Maju. Boleh jadi para menteri memang ditugasi untuk melawan radikalisme, sehingga saat ini mereka sedang giat-giatnya membuktikan bahwa mereka layak menduduki kursinya dengan sekulernya pikiran mereka.

Pernyataan bahwa seluruh agama adalah rahmat bagi alam semesta, merupakan salah satu klaim dari pluralisme, suatu pemikiran yang menganggap bahwa semua agama benar. Pemikiran inilah yang sedang digencarkan untuk melemahkan keyakinan umat bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar.

Makna Rahmatan lil ’Alamin

Pernyataan bahwa Islam adalah agamanya yang rahmatan lil ‘alamin sebenarnya adalah kesimpulan dari firman Allah Ta’ala,

وَما أَرْسَلْناكَ إِلاَّ رَحْمَةً لِلْعالَمِينَ

Kami tidak mengutus engkau, Wahai Muhammad, melainkan sebagai rahmat bagi seluruh manusia.” (QS Al Anbiya: 107)

Kata rahmatan lil ’alamin ini digunakan untuk menggambarkan sifat agama Islam yang ramah dan penuh kasih sayang, mengayomi dan melindungi seluruh alam, baik manusia maupun makhluk lainnya.

Namun, kata ini mengalami distorsi makna ketika digunakan sebagai dalil toleransi dan pluralisme. Rahmatan lil ’alamin digambarkan dengan ikut serta merayakan hari raya agama lain, mengantarkan tumpeng ke gereja, menerima kepemimpinan nonmuslim, melakukan doa bersama dan sejenisnya.

Pada akhirnya rahmatan lil ’alamin digunakan sebagai legitimasi bagi terbukanya Islam untuk mengakui kebenaran agama-agama yang lain, alias legitimasi bagi pluralisme. Penyimpangannya semakin jauh ketika dikatakan bahwa semua agama juga rahmatan lil ’alamin.

Untuk mendapatkan pengertian rahmatan lil ’alamin yang benar, seharusnya kita kembali pada kaidah penafsiran yang benar. Ibnu Abbas ketika menafsirkan ayat ini mengatakan,

Bahwa Allah mengutus Rasulullah sebagai rahmat bagi seluruh alam baik itu yang beriman ataupun mereka yang kafir. Kepada mereka yang beriman, Allah berikan hidayah, dan bagi golongan kafir, Allah tunda azab bagi mereka sebagaimana yang terjadi pada umat-umat terdahulu.” (Jami’u al-Bayan fi Ta’wili al-Qur’an, 18/552). Imam al-Qurtubi dan Ibnu Katsir juga mengiyakan pendapat tersebut. (al-Jami’ li Ahkami Al-Qur’an, 11/350 dan Tafsir Al-Qur’an al-‘Adzim, 5/85).

Hamka dalam Tafsir Al Azhar juz 17 menafsirkan ayat ini dengan mengambil apa yang ditulis Sayyid Quthub: “ Sistem ajaran yang dibawa oleh Muhammad saw. adalah sistem yang membawa bahagia bagi manusia seluruhnya, dan memimpinnya kepada kesempurnaan yang telah dijangkakan baginya dalam hidup ini.”

Ulama nusantara yang mendunia, Syaikh Nawawi al-Bantani (w. 1316 H) menafsirkan ayat ini sebagai berikut:

“Dan tidaklah Kami mengutus engkau wahai sebaik-baiknya makhluk dengan membawa ajaran-ajaran syariat-Nya, kecuali sebagai rahmat bagi semesta alam, yakni untuk menjadi rahmat Kami bagi alam semesta seluruhnya bagi agama ini dan kehidupan dunia.” (Muhammad bin ‘Umar Nawawi, Murâh Labîd li Kasyf Ma’nâ al-Qur’ân al-Majîd, Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Cet. I, 1417 H, (II/62))

Dari sisi bahasa, kata al-rahmah adalah mashdar dari kata kerja rahima, dan ia berkedudukan sebagai tujuan pengutusannya (maf’ûl li ajlihi) atau sebagai keterangan (hâl) bahwa Muhammad -shallaLlâhu ‘alayhi wa sallam- adalah al-rahmah.

Kata kerja arsalna (Kami mengutus engkau (Muhammad), menunjukkan bahwa sifat rahmat dalam ayat ini berkaitan erat dengan risalah Islam yang diemban oleh Rasulullah saw, mencakup akidah dan syariat Islam.

Poin ini meniscayakan pemahaman baku bahwa kerahmatan bagi alam semesta terwujud dengan menegakkan apa yang diemban oleh Rasulullah saw., yakni akidah dan syariat Islam dalam kehidupan.

Kata “rahmat[an]” diungkapkan dalam bentuk kata benda nakirah (tanpa alif lam) yang berfaidah ta’mim, yakni umum dengan cakupan yang luas, di dunia dan akhirat dengan segala bentuk kebaikan hakiki dalam pandangan Allah ‘Azza wa Jalla (lihat QS Al-Baqarah [2]: 216).

Hal ini sejalan dengan informasi bahwa Allah menjanjikan turunnya keberkahan dari langit dan bumi, ketika tegaknya Din Islam dalam kehidupan diwujudkan oleh penduduk negeri yang beriman dan bertakwa.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا ‏يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS Al-A’râf [7]: 96)

Dengan demikian rahmat bisa diartikan jalbul mashalih wa dar’ ul mafasid, menghasilkan kemashlahatan dan menolak kerusakan, yaitu terpenuhinya semua yang menjadi kemashlahatan umat seluruhnya, muslim ataupun nonmuslim, serta menjauhkan mereka dari segala kemudaratan.

Islam adalah Rahmatan lil ’Alamin

Islam mampu menjadi rahmatan lil ‘alamin karena memiliki hukum yang mengatur seluruh aspek kehidupan. Islam bukan sekadar agama ritual, namun Islam juga mengatur politik, ekonomi, sosial budaya, sistem sanksi, dan pemerintahan.

Dalam politik Islam menjadikan negara merupakan pemegang pengaturan urusan umat. Negara bukan semata fasilitator dan organisator tetapi negara berfungsi sebagai pelayan yang menyediakan apa yang merupakan kemaslahatan umat dan menjauhkan mereka dari segala bentuk mafsadah (kerusakan).

Dalam ekonomi Islam memisahkan antara kepemilikan umum, kepemilikan negara dan kepemilikan individu. Sarana umum, hutan, pertambangan, dan semua yang menjadi hajat hidup orang banyak dijadikan sebagai milik umum. Negara mengelola dan mengembalikan hasilnya untuk kesejahteraan umat.

Dengan demikian negara memiliki sumber pendapatan yang cukup untuk menjamin kemaslahatan umat, baik kebutuhan hidup, pendidikan, kesehatan maupun keamanan. Negara tidak perlu menarik pajak dengan besaran yang mencekik, dan tidak perlu menggalang dana jaminan sosial.

Dalam sistem sosial, negara mengatur interaksi laki-laki dan perempuan ke arah kerja sama yang produktif di antara mereka, serta menjauhkan bentuk-bentuk interaksi yang menimbulkan fitnah dan memunculkan syahwat yang akan menimbulkan kerusakan akhlak dan moral.

Dalam sistem sanksi, negara menerapkan hukum-hukum persaksian, pembuktian dan sanksi yang menimbulkan efek jera. Sebagian adalah hukum-hukum yang Allah telah menetapkannya (hudud dan jinayah), dan sebagian lagi Allah berikan hak kepada hakim untuk memutuskan sesuai dengan prinsip-prinsip yang ditetapkan Islam (takzir).

Sedangkan dalam sistem pemerintahan, Islam menetapkan khalifah atau imam sebagai pemimpin umat yang bertanggung jawab atas semua urusan mereka. Islam menetapkan serangkaian hukum tentang pengangkatannya, tugas dan tanggungjawabnya serta mekanisme koreksi dan pengawasannya. Begitu juga Islam mengatur peradilan, pembuatan aturan perundang-undangan, dan struktur pemerintahan.

Dengan pengaturan yang menyeluruh, Islam membuka peluang bagi terwujudnya kesejahteraan umat di dunia untuk muslim dan nonmuslim. Namun pengaturan secara menyeluruh ini hanya dapat dilakukan oleh sistem Islam, yang direpresentasikan oleh khilafah.

Sejarah membuktikan ketika Islam diterapkan secara utuh, rahmatan lil ’alamin tampak nyata. Pada masa Khalifah bin Abdul Aziz, bukan hanya manusia yang merasakan rahmat, bahkan binatang, sampai serigala tidak mau memakan domba yang digembalakan. Begitu pun hubungan antaragama, berjalan harmonis di bawah naungan Islam.

Maria Rosa Menocal, penulis Barat yang bukan muslim sampai menjuluki Andalusia sebagai surga karena tiga agama besar–Islam, Nasrani, dan Yahudi–hidup berdampingan dengan damai di sana saat masa kekhilafahan Dinasti Umayyah. (Menocal, M.R, 2015, Surga di Andalusia, Noura Books Publishing).

Agama Lain Rahmatan lil’ Alamin?

Apa yang ada dalam Islam, yaitu sistem yang utuh dan menyeluruh, tidak dimiliki oleh agama-agama yang lain. Agama lain sifatnya terbatas pada aspek ritual semata, tidak mengatur aspek-aspek seperti ekonomi, politik dan pemerintahan negara. Kita bisa lihat bagaimana pengaturan ekonomi dunia saat ini berasal dari kapitalisme, sedangkan politik dan pemerintahannya demokrasi.

Dengan penguasaan kapitalisme atas dunia, kita bisa melihat dunia yang kacau dan jauh dari kedamaian. Berbagai konflik terjadi di seluruh dunia. Kejahatan merajalela di semua tempat, kemiskinan dan kelaparan melanda banyak negara, sementara negara-negara kaya sibuk berpesta dan berfoya-foya. Penjajahan baik fisik maupun ekonomi, politik, dan sosial budaya dilakukan oleh negara-negara besar terhadap negara lain terutama negeri muslim. Inikah rahmatan lil’ alamin?

Sejarah juga bicara banyak bukti. Ketika Barat memulai ekspansi dengan melakukan penaklukan di seluruh dunia, negara-negara jajahannya jatuh dalam penderitaan yang sangat. Diperbudak, dijarah, dan dibantai. Suku Indian, Maya, Inca, Aztek di Amerika punah. Suku Aborigin dan Maori dipinggirkan, dan orang-orang Afrika dijual sebagai budak di Eropa. Di Asia, rakyat dieksploitasi dan para pejuang dihabisi. Bukankah semangat gospel ikut melatari penaklukan ini?

Bagaimana Islam? Islam menaklukkan Andalusia, maka jadilah Andalusia surga dan pusat ilmu pengetahuan. Islam menaklukkan Persia dan Syam, dan jadilah mereka negeri-negeri yang kaya dan gilang gemilang. Islam menaklukkan Konstantinopel, maka ia menjelma menjadi pusat kekhilafahan yang berabad-abad dalam kejayaan.

Allah telah menegaskan bahwa hanya Islam satu-satunya agama yang benar. Firman Allah,

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ 

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam.” (QS Ali Imran: 19)

وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

“Barang siapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu) dari padanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.”  (QS Ali Imran: 85)

Maka keyakinan inilah yang harus kita semai dalam hati kita. Jangan sampai kita campur adukkan dengan keyakinan akan kebenaran yang lain.

Cukuplah firman Allah mengingatkan kita,

وَلَا تَلْبِسُوا الْحَقَّ بِالْبَاطِلِ وَتَكْتُمُوا الْحَقَّ وَأَنْتُمْ تَعْلَمُونَ

Dan janganlah kamu campuradukkan kebenaran dengan kebathilan dan (janganlah) kamu sembunyikan kebenaran, sedangkan kamu mengetahuinya.” (QS Al-Baqarah: 42). [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *