Rabiul Awwal 1441 H: Wasiat Politik Rasulullah saw. dan Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani

Wasiat politik pertama dari Habibina wa Nabiyyina Muhammad ﷺ, dan wasiat politik kedua dari al-‘Allamah al-Mujahid al-Mujaddid al-Qadhi Taqiyyuddin al-Nabhani رحمه الله تعالى.


Oleh: Yuana Ryan Tresna

MuslimahNews.com, TSAQAFAH – Pada momen Maulid Nabi Muhammad ﷺ yang gaungnya ramai dengan tema “Cinta Nabi, Cinta Syariah”, saya hendak menyampaikan “Dua Wasiat Politik Rabi’ul Awwal 1441 H”.

Wasiat Politik Pertama dari Baginda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam

عَنْ أَبِي نَجِيْحٍ الْعِرْبَاضِ بْنِ سَاريةَ رَضي الله عنه قَالَ : وَعَظَنَا رَسُوْلُ اللهِ صَلىَّ الله عليه وسلم مَوْعِظَةً وَجِلَتْ مِنْهَا الْقُلُوْبُ، وَذَرِفَتْ مِنْهَا الْعُيُوْنُ، فَقُلْنَا : يَا رَسُوْلَ اللهِ، كَأَنَّهَا مَوْعِظَةُ مُوَدِّعٍ، فَأَوْصِنَا، قَالَ : أُوْصِيْكُمْ بِتَقْوَى اللهِ عَزَّ وَجَلَّ، وَالسَّمْعِ وَالطَّاعَةِ وَإِنْ تَأَمَّرَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ، فَإِنَّهُ مَنْ يَعِشْ مِنْكُمْ فَسَيَرَى اخْتِلاَفاً كًثِيْراً. فَعَلَيْكُمْ بِسُنَّتِي وَسُنَّةِ الْخُلَفَاءِ الرَّاشِدِيْنَ الْمَهْدِيِّيْنَ عَضُّوا عَلَيْهَا بِالنَّوَاجِذِ، وَإِيَّاكُمْ   وَمُحْدَثَاتِ اْلأُمُوْرِ، فَإِنَّ كُلَّ بِدْعَةٍ ضَلاَلَةٌ. (رَوَاه داود والترمذي وقال : حديث حسن صحيح)

Dari Abu Najih Al Irbadh bin Sariah رضي الله عنه dia berkata, Rasulullah ﷺ memberikan kami nasihat yang membuat hati kami bergetar dan air mata kami bercucuran.

Maka kami berkata, “Ya Rasulullah, seakan-akan ini merupakan nasihat perpisahan, maka berilah kami wasiat.”

Rasulullah ﷺ bersabda,

“Saya wasiatkan kalian untuk bertakwa kepada Allah ta’ala, tunduk dan patuh kepada pemimpin kalian meskipun yang memimpin kalian adalah seorang budak. Karena di antara kalian ada yang hidup (setelah ini) akan menyaksikan banyaknya perselisihan. Hendaklah kalian berpegang teguh terhadap sunahku dan sunah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapatkan petunjuk, gigitlah dengan geraham. Hendaklah kalian menghindari bid’ah, karena semua perkara bid’ah adalah sesat.” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi, dia berkata: hasan sahih)

Hadis di atas adalah hadis politik yang sangat penting dan agung. Rasulullah berwasiat beberapa hal: (1) bertakwa kepada Allah; (2) patuh dan taat kepada pemimpin dalam pemerintahan meski ia seorang budak (majazi); (3) setelah zaman kenabian akan ada banyak perselisihan; (4) perintah mengikuti sunah

Nabi Muhammad ﷺ dan sunah Khulafa’ur Rasyidin yang mendapat petunjuk (dalam hal penyelenggaraan pemerintahan); (5) perintah berpegang teguh pada sunah seperti menggigit sesuatu dengan gigi geraham; dan (6) larangan perilaku bid’ah, karena bid’ah adalah kesesatan.

Dengan merujuk kaidah bid’ah sebagai berikut:

1. Perkara baru yang tidak semisal dengan contoh sebelumnya (اختراع / احداث على غير مثال سابق);

2. Perkara tersebut bertentangan dengan hukum syara’ (مقابل الشرع);

3. Perkara tersebut ada penambahan dan pengurangan yang menyalahi hukum syara’ (زيادة ونقصان تخالف الشرع),

maka sistem pemerintahan yang ada saat ini adalah sistem bid’ah, tidak sesuai sunah Rasulullah dan sunah al-Khulafa’ al-Rasyidun. Misalnya, kedaulatan dalam membuat hukum harusnya di tangan syariat, bukan di tangan rakyat.

Dalam kitab al-Sunnah wa al-Bid’ah, syaikh Abdullah Mahfuzh al-Hadad menyebutkan jenis bid’ah kotemporer, yakni tidak menjadikan hukum syariat sebagai Undang-undang. Karena Hukum dan Undang-undang yang ada telah menghalalkan apa yang Allah haramkan.

Para ulama telah sepakat akan kewajiban imamah, Khilafah, dan nashbul khalifah. Masa depan umat adalah masa depan Islam, kepemimpinan Islam, dan Khilafah. Masa depan Khilafah adalah di tangan umat karena sesuai dengan QS An-Nur : 55, Allah akan memberikan kekuasaan kepada siapa saja yang beriman dan beramal saleh. Siapa pun dan umat pada generasi mana pun.

Wasiat Politik Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani

Terakhir, saya sampaikan wasiat politik yang merupakan Seruan Hangat dari al-‘Allamah al-Mujahid al-Mujaddid al-Qadhi’ Taqiyyuddin al-Nabhani رحمه الله تعالى ونفعنا الله بعلومه فى الدارين dalam kitabnya,

نداء حار إلى المسلمين من حزب التحرير

Beliau mewasiatkan,

أيها المسلمون، إن مصيبتكم الفادحة أن العقيدة الإسلامية قد انطفأ نورها في قلوبكم، وذهب أثرها في أعمالكم، وفقدت حرارتها في تصرفاتكم، وصارت ميتة في نفوسكم. فأنيروها بأحكام القرآن وأحيوها بذكر الله، واجعلوها تعيدكم خلقاً آخر كالمسلمين الأولين من الصحابة والتابعين أو تابعي التابعين. أنيروها بالثقة بأفكار الإسلام وأحكامه وبالعمل لإعادة سلطان الإسلام ورفع راية القرآن. أنيروها بحمل الدعوة إلى الناس كافة لتخرجوهم من ظلمات الكفر والضلال إلى نور الإسلام، ومن جحيم القلق والشقاء إلى نعمة الطمأنينة ونعيم السعادة. وأحيوها بتقوى الله وطاعته، وبالخوف من عذابه والطمع في جنته، وبتقوية الصلة به، وبذكره في كل تصرف، وتذكّره عند كل عمل، وبالتقرب إليه لا بالصلاة والصوم والزكاة والدعاء فحسب، بل بقول الحق أينما كان، وكفاح الباطل أينما وُجد، وجهاد الكفار والمنافقين في كل وقت وفي كل حين. نداء حار (ص: 129)

“Wahai kaum muslimin, sesungguhnya musibah fatal kalian adalah bahwa akidah Islam telah padam sinarnya di hati kalian, telah pergi dampaknya dalam amal-amal kalian, telah hilang panasnya dalam perbuatan-perbuatan kalian dan telah menjadi mati dalam jiwa-jiwa kalian.

Maka sinarilah ia dengan hukum-hukum Alquran, hidupkanlah ia dengan mengingat Allah, jadikanlah ia mampu mengembalikan kalian menjadi sosok lain seperti kaum muslimin terdahulu dari para sahabat, para tabi’in dan tabi’ tabi’in.

Terangilah ia dengan keyakinan terhadap pemikiran-pemikiran Islam dan hukum-hukumnya, juga dengan beramal untuk mengembalikan kekuasaan Islam dan meninggikan panji Alquran.

Terangilah ia dengan mengemban dakwah kepada manusia seluruhnya, untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan kekufuran dan kesesatan kepada cahaya Islam, dan dari neraka kegundahan dan kesengsaraan, kepada nikmatnya ketenangan dan surga kebahagiaan.

Hidupkanlah ia dengan bertakwa kepada Allah dan menaati-Nya, dengan takut akan azab-Nya dan berkeinginan kuat terhadap surga-Nya, dan dengan menguatkan hubungan dengan-Nya, dan dengan menyebut-Nya di setiap aktivitas, dan mengingat-Nya pada setiap amal, juga dengan mendekat kepada-Nya, bukan hanya dengan salat, puasa, zakat, dan berdoa saja, tapi juga dengan mengatakan kebenaran bagaimana pun adanya, dan melawan kebatilan di mana pun berada, serta memerangi orang-orang kafir dan orang-orang munafik di setiap waktu dan setiap saat.” (Nida Har, hlm. 129). [MNews]


Apa komentar Anda?

3 tanggapan untuk “Rabiul Awwal 1441 H: Wasiat Politik Rasulullah saw. dan Syekh Taqiyyuddin al-Nabhani

  • 8 November 2019 pada 21:38
    Permalink

    Cinta Rasul Cinta Syariah, semoga segera tegak kembali hukum Islam di bumi ini.Aamiin..Allahu Akbar
    .

    Balas
  • 8 November 2019 pada 12:00
    Permalink

    Khilafah janji Allah

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *