[Editorial] Pendidikan Sekuler Sukses Menjadi Mesin Perusak Generasi

Pendidikan semestinya menjadi pilar peradaban terbaik. Namun dalam habitat sekuler kapitalistik, sistem pendidikan nyaris berubah fungsi menjadi mesin penghancur generasi.


MuslimahNews.com, EDITORIAL — Merebaknya berbagai krisis multidimensi cukup menjadi bukti atas konklusi ini. Karena bagaimana pun, semua krisis yang terjadi terkait dengan laku masyarakat yang sejatinya merupakan output dari sistem pendidikan yang dikukuhi.

Kita lihat, betapa dekadensi moral sudah sedemikian parah memapar generasi. Pergaulan bebas, narkoba, LGBTQ, inses, praktik aborsi, pornografi-pornoaksi, atau budaya kekerasan, nampak kian lekat dalam kehidupan masyarakat hari ini. Padahal tak bisa dipungkiri, rata-rata pelakunya adalah generasi terdidik. Bahkan, budaya kekerasan justru kian kerap terjadi di lingkup pendidikan.

Di luar itu, perilaku koruptif pun kian parah menjangkiti para pejabat negeri. Bahkan di antara mereka ada yang rela menjual kedaulatan negara dan berkhidmat untuk kepentingan aseng maupun asing. Padahal mereka, lagi-lagi merupakan kaum terdidik.

Alhasil, semua ini cukup memberi gambaran betapa pendidikan sekularistik yang telah lama diterapkan nyaris gagal membawa nilai-nilai kebaikan. Pendidikan selama ini hanya mampu mengasah skill dan kecerdasan, tapi nyaris gagal mengasah keluhuran adab dan ketinggian moral.

Pemerintah memang telah mencanangkan apa yang disebut revolusi mental. Namun, revolusi yang digagas sejak era Soekarno dan didengungkan kembali di era Jokowi ini ternyata arahnya tak jelas hendak ke mana. Revolusi mental benar-benar mental.

Yang pasti, selain menghasilkan berbagai keruwetan di atas, siapa pun bisa melihat betapa bangsa ini kian jatuh dalam sindrom inferioritas, penuh ketidakberdayaan, bahkan nampak nyaman berstatus sebagai bangsa pembebek dan menjadi objek penjajahan.

Begitu pun narasi soal pendidikan karakter yang terus didengungkan. Narasi ini selalu digadang-gadang akan mampu menyolusi persoalan merosotnya moral generasi yang kian mengancam peradaban. Terutama di era disrupsi Revolusi Industri 4.0 alias era digitalisasi yang dampak ikutannya sangat luas ini.

Namun faktanya, narasi ini pun kian lama kian sumir. Tak jelas seperti apa wujud dan standarnya. Apakah budaya? Tapi budaya yang mana? Jika agama, agama apa?

Apalagi, demi dan atas nama membangun daya saing di era disrupsi, penguasa hari ini cenderung kian fokus pada proyek-proyek pengembangan SDM yang siap kerja, siap berusaha, yang link and match antara pendidikan dan industri. Seolah-olah pendidikan hanya menjadi pabrik pekerja pabrik. Disistemkan semata-mata demi memenuhi kebutuhan pasar tenaga kerja yang murah meriah.

Di saat yang sama, rezim penguasa hari ini pun nampak sedang berusaha untuk memarjinalisasi peran agama dan terus berupaya keras membawa Indonesia sebagai negeri berpenduduk muslim terbesar ini menjadi negara sekuler seutuhnya.

Ini salah satunya nampak dari getolnya pemerintah menyuarakan perang melawan radikalisme, yang terbaca jelas mengarah pada penyingkiran gagasan Islam kaffah. Padahal dalam konteks iman Islam, penegakan syariah kaffah ini–termasuk urusan moral dan akhlak di dalamnya–adalah konsekuensi dari dua kalimat syahadat.


Narasi deradikalisasi ini seakan telah menjadi muara dari semua rencana strategis rezim sekuler di sekuel kedua kekuasaannya. Tak terkecuali renstra di bidang pendidikan, mulai level pendidikan tinggi, hingga level pendidikan anak usia dini. Kurikulum agama kian tak mendapat porsi.

Terkait hal ini, rezim penguasa bahkan terus mengembangkan narasi literasi yang dipandang urgen untuk melawan apa yang mereka sebut sebagai radikalisme ini. Di antaranya literasi baca tulis, literasi numerasi, literasi sains, literasi finansial, literasi digital dan literasi kebudayaan dan kewargaan.

Nampak di sana aspek agama tak menjadi target literasi. Malah literasi yang dikembangkan sangat kental dengan agenda sekularisasi. Setiap anak didik hanya didorong untuk memiliki watak yang mandiri, kritis, berdaya saing, memiliki visi bisnis, dan tak gagap teknologi. Sementara kedudukan agama tak lagi dipandang penting.

Kenyataannya, pelajaran agama memang sudah lama diabaikan dalam dunia pendidikan di negeri ini. Benar-benar serba ala kadarnya. Kalau pun sesekali agama disebut-sebut, maka unsur religiusitasnya selalu diberi catatan “yang tidak ekstrem ke kiri dan ke kanan”. Artinya, harus moderat, tak boleh kaffah!

Nampak betul, hadirnya pemahaman agama terutama gagasan Islam kaffah memang dianggap sebagai ancaman besar oleh penguasa. Karena Islam kaffah akan menjadi pembanding bahkan pengukur bagi setiap konsep pemikiran yang diterapkan penguasa yang nyatanya sangat sekularistik dan kapitalis neoliberalistik.

Termasuk ketika rezim penguasa demikian serius turut mensukseskan agenda Revolusi Industri 4.0. Padahal sejatinya agenda ini merupakan strategi untuk mempercepat pencapaian liberalisasi ekonomi dunia. Sementara agenda liberalisasi ekonomi sejatinya adalah instrumen penjajahan gaya baru negara-negara adidaya atas dunia ketiga.

Inilah yang ditakutkan oleh para penguasa penjaga kepentingan kapitalisme global. Hadirnya pemahaman Islam kaffah di tengah umat dipastikan akan membangunkan ghirah kebangkitan melawan penjajahan. Sehingga, mereka (para penguasa tadi) akan terus berupaya menyingkirkan peran Islam dari kehidupan.

Oleh karenanya, umat semestinya waspada bahwa agenda sekularisasi pendidikan hakikatnya adalah untuk memuluskan penjajahan. Umat pun harus waspada bahwa dengan gencarnya arus sekularisasi ini generasi masa depan akan kian kehilangan pegangan, karena mereka makin dijauhkan dari Islam yang justru menjadi kunci kebangkitan.

Ya, umat harus kembali diingatkan bahwa kebangkitan yang hakiki justru hanya bisa diwujudkan dengan Islam. Yakni dengan menegakkannya dalam seluruh aspek kehidupan, baik dalam kehidupan bermasyarakat maupun bernegara. Termasuk di bidang pendidikan.

Umat pun harus diingatkan bahwa sejarah peradaban dunia benar-benar telah mencatat kesuksesan sistem Islam dalam mencetak profil generasi terbaik. Yakni generasi emas penakluk dunia yang menebar rahmat bagi seluruh alam.

Dr. Musthafa As Siba’i dalam kitab Min Rawa’i Hadhratina memuat perkataan sejumlah tokoh dalam mengomentari tentang peradaban Islam maupun barat. Di antaranya Jacques C. Reister yang mengatakan, “Selama lima ratus Islam menguasai dunia dengan kekuatannya, ilmu pengetahuan dan peradaban yang tinggi.”

Bahkan Montgomery Watt dalam bukunya membuat sebuah pengakuan, “Cukup beralasan jika kita menyatakan bahwa peradaban Eropa tidak dibangun oleh proses regenerasi mereka sendiri. Tanpa dukungan Islam yang menjadi ‘dinamo’-nya, Barat bukanlah apa-apa.”

Generasi emas Islam ini diketahui memiliki karakter yang sangat agung, yang dikenal dengan istilah kepribadian Islam atau syakhshiyah Islam. Kepribadian Islam ini nampak dari pola pikir dan pola sikap yang selalu bersandar pada akidah Islam sebagai akidah yang sahih, yang sesuai dengan akal dan menenteramkan jiwa, sekaligus melahirkan tata aturan kehidupan yang sesuai dengan kebutuhan manusia.

Kepribadian inilah yang secara otomatis akan menuntun mereka sekaligus mengasah kecerdasan dan skill mereka agar sukses menjalani kehidupan sesuai tuntutan Penciptanya. Bahwa mereka hidup hanya untuk kemuliaan Islam dan untuk menebar rahmat Islam ke seluruh alam.


Itulah rahasia bangkitnya peradaban emas Islam. Perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, termasuk teknologi infrastruktur, transportasi, navigasi dan persenjataan serta kesehatan, juga perkembangan seni dan bahasa, semua lahir dari unggulnya kepribadian Islam yang ditanamkan lewat sistem pendidikan yang diterapkan oleh negara berasas Islam.

Betapa di masa Islam kaffah tegak, umat tampil menjadi pioner peradaban. Dan di saat yang sama, generasi mereka tampil sebagai prototipe generasi terbaik sebagaimana yang disebutkan dalam Alquran.

كُنْتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنْكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

“Kamu adalah umat yang terbaik yang dilahirkan untuk manusia, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, dan beriman kepada Allah.” (QS Ali ‘Imran: 110)

Sampai-sampai sejarawan Barat Will Durant dalam buku yang dia tulis bersama Istrinya Ariel Durant, Story of Civilization, menggambarkan kehebatan umat Islam,

“Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan kerja keras mereka. Para Khalifah itu juga telah menyediakan berbagai peluang untuk siapa pun yang memerlukan dan memberikan kesejahteraan selama beradab-abad dalam wilayah yang sangat luas. Fenomena seperti itu belum pernah tercatat (dalam sejarah) setelah zaman mereka.

Maka atas semua hal ini, kiranya perlu ada perenungan kembali soal paradigma pendidikan yang diadopsi bangsa ini. Pihak pemerintah seharusnya berpikir, sekularisme jelas tak layak dipertahankan sebagai asas, kecuali kita berharap kondisi bangsa terus terperosok dalam kehancuran.

Begitupun berbagai kebijakan yang menjadi derivasi asas sekularisme, harus segera dicampakkan karena terbukti telah melahirkan berbagai kekacauan dan menjauhkan bangsa ini dari tujuan mulia pendidikan.

Hanya dengan paradigma Ilahiah sebagai asasnya dan dengan sistem pengaturan yang terpancar dari asas itulah, kebijakan pendidikan dipastikan akan mengarah pada tujuan ideal yang diharapkan.

Bukan saja membentuk output pendidikan yang mumpuni di bidang sains, tetapi juga paham tentang kehidupan sekaligus memiliki kepribadian khas dan kuat yang akan mampu mengubah karakter ‘bangsa budak dan pengekor’ ini menjadi bangsa yang mandiri dan siap menjadi negara nomor satu.

Dan ini semua sama sekali tak mustahil. Karena sejarah keemasan masa lalu telah gamblang membuktikannya. [Editorial MNews | SNA]


Apa komentar Anda?

Satu tanggapan untuk “[Editorial] Pendidikan Sekuler Sukses Menjadi Mesin Perusak Generasi

  • 8 November 2019 pada 09:43
    Permalink

    Setelah membaca solusi dari semua persoalan harus kembali kepada islam, sungguh indah rasanya, tapi kenapa rezim ini terus bertahan pada sistem yg buruk ini.. 😢😢😢

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *