Membebaskan Naluri Keibuan dari Cengkeraman Kapitalisme Neoliberal

“When you look at your mother, you are looking at the purest love you will ever know.” – Saat kamu melihat ibumu, kamu sedang melihat cinta paling murni yang pernah kamu tahu.


Oleh: Henyk Nur Widaryanti (Pemerhati Masalah Keluarga)

MuslimahNews.com, OPINI –Ibu ibarat cahaya yang menyinari setiap relung kehidupan sang anak. Ia mencurahkan segenap kasih bagi kesayangan. Ia mampu mengorbankan apa saja demi buah hatinya. Benarlah ungkapan “kasih ibu sepanjang jalan, kasih anak sepanjang galah”. Curahan cinta ibu tak terhitung dengan apa pun.

Hati ini selalu merasa haru ketika berbicara masalah ibu. Ia adalah malaikat yang diciptakan Allah untuk menjaga anak-anaknya, mendidiknya, menyayangi, membesarkan, dan mencintai mereka sepenuh jiwa. Tak mampu seorang anak membalas jasa ibu karena ibu selalu ikhlas memberikan pengorbanannya.

Namun, hati ini menjadi teriris. Miris. Perasaan kesal, sedih, marah bercampur menjadi satu. Ketika nama baik ibu terkotori. Jagat media kini kembali gempar atas pembunuhan seorang anak usia 2,5 tahun. Diberitakan Detik.com (25/10/19) orang yang tega menganiaya anaknya hingga tewas adalah ibunya sendiri.

Peristiwa ini terjadi lantaran sang ibu stres. Ancaman cerai dan pertikaian dari sang suami menjadi penyebab utama kejadian ini. Pasalnya, jika si anak tidak gemuk maka suami akan menceraikannya.

Hati istri mana yang tak rapuh jika dikatai seperti itu? Sudah kondisi ekonomi pas-pasan, dapat uang dari mana untuk membeli gizi yang cukup bagi anaknya? Ketika tak ada tempat mengadu, hati ibu kalut. Rasa sayang bisa melayang, rasa benci bisa datang.

Alhasil, sang ibu tega menggelonggong anaknya dengan air galon selama 20 menit. Hingga akhirnya si balita pun meregang nyawa. Kalau sudah begini siapa yang pantas disalahkan? Apakah sang ibu sendiri yang harus menanggung kesalahan? Sepertinya tak cukup tega untuk menyalahkannya saja.

Kasus seperti ini tak hanya sekali ini saja. Sebelumnya, bulan lalu ada seorang ibu membunuh anaknya yang masih berusia tiga bulan di Bandung. Baby blues menjadi alasan utama sang ibu membunuh anaknya.

Pada Maret 2019 di Langsa juga ada seorang ibu yang tega membunuh anaknya di bak mandi. Alasannya pun karena kesal terhadap suami yang tidak mau mencari nafkah.

Sepanjang tahun 2018 saja ada 6 kasus pembunuhan anak oleh orang tua. Ini adalah kasus yang mencuat ke permukaan. Sedangkan pembunuhan bayi akibat hamil di luar nikah belum terdata. Berarti bisa jadi masih banyak kasus-kasus seperti ini terjadi.

Jeratan Kapitalisme Membuat Para Ibu Pesimis

Ibu adalah seorang wanita yang memiliki kepekaan rasa yang besar. Setiap masalah yang dihadapi akan selalu disimpan. Bagaikan bom waktu, jika semakin banyak masalah yang disimpan dan tidak dikeluarkan, maka sewaktu-waktu akan bisa meledak.

Masalah yang dihadapi seorang ibu bisa bermacam-macam, di antaranya:

Pertama, ekonomi. Masalah ini kerap kali meminta tumbal nyawa. Susahnya mencari pekerjaan, persaingan dunia kerja, tidak adanya keahlian khusus, rendahnya tingkat pendidikan, menjadikan masalah ekonomi semakin sulit. Hasilnya, keluarga tak mampu memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari, apalagi jika harga kebutuhan pokok melonjak tinggi.

Kedua, ketidakharmonisan keluarga. Masalah dengan suami tercinta memang selalu menimbulkan luka. Apalagi jika keduanya saling meminta, memaksa, dan menuntut. Perkataan atau tindakan kasar dari pasangan akan menimbulkan stres yang luar biasa. Jika sang ibu tak mampu menahan, ia akan melampiaskan pada orang-orang di sekitarnya.

Ketiga, malu dan belum siap punya anak. Umumnya alasan ini hinggap pada ibu-ibu muda. Terutama para ibu yang married by accident (hamil di luar nikah). Sehingga mereka tega membuang bahkan membunuh jabang bayinya.

Ilustrasi test pack kehamilan.

Dari alasan-alasan di atas, penyebab utamanya adalah diterapkannya aturan ala kapitalisme. Sistem kapitalisme hanya memprioritaskan hasil instan, menomorduakan agama, surga bagi para kapital, dan menyingkirkan orang-orang tak berdaya.

Apalagi kapitalisme telah mengubah pemikiran menjadi instan. Pasangan hanya ingin mendapatkan haknya tanpa melaksanakan kewajiban. Mereka berleha-leha, bahkan bisa lebih parah dengan hura-hura, berjudi, atau main wanita. Inilah prinsip kebebasan dalam kapitalisme, bebas melakukan apa saja.

Islam Mengembalikan Fitrah Ibu

Ibu adalah madrasah awal bagi anaknya. Di tangan ibu tanggung jawab mendidik anak diberikan. Mengasuh dan mengatur rumah tangga adalah tugasnya. Jika peran ini dikembalikan pada tempatnya, niscaya akan lahir generasi-generasi hebat dari pangkuannya.

Mengembalikan fitrah ibu sangatlah perlu. Jiwa para ibu dibersihkan dari pemikiran kapitalisme sekuler yang bikin stres, dengan diajak untuk mengkaji Islam.

Islam akan mengembalikan fitrah ibu. Islam menanamkan akidah yang kuat. Mengajarkan bahwa tugas seorang ibu adalah mendidik anak dengan kasih sayang bukan kebencian. Apalagi anak adalah titipan Tuhan.

Islam juga akan mengaktifkan kembali peran keluarga, menyadarkan pasangan suami istri untuk saling menerima kekurangan, saling melengkapi, mengerti, dan mencintai, akan menumbuhkan kepercayaan dan keharmonisan keluarga.

Apalagi jika dalam keluarga tersuasana dengan nilai keislaman. Maka, keluarga yang sakinah mawaddah warahmah akan tercipta. Sehingga darinya akan lahir generasi-generasi yang tangguh.

Sekolah didirikan dengan tujuan membentuk generasi beriman dan bertakwa. Selain menciptakan cendekiawan dan ulama yang unggul, negara menyiapkan kurikulum yang mampu membentuk laki-laki dan perempuan berjalan sesuai tuntunan syariat.

Seperti menyiapkan seorang perempuan agar siap menjadi Ibu dan pengatur rumah tangga ketika telah dewasa. Menyiapkan laki-laki agar siap memimpin keluarga, mencari nafkah, hingga memimpin masyarakat ketika telah dewasa.

Lingkungan yang perhatian jika ada tetangga yang dilanda masalah akan menambah kepekaan masyarakat. Sehingga mereka akan saling membantu, bukan cuek dan apatis atas masalah yang terjadi.

Menciptakan suasana tenang, nyaman, dan bahagia atas dasar Islam tidak bisa dilakukan sendirian. Bahkan tidak mampu dilakukan beberapa keluarga saja. Perlu kerja sama semua pihak. Baik keluarga, sekolah, dan lingkungan.

Oleh karena itu, kita butuh peran negara mengatur kebijakan. Baik memperbaiki sistemnya maupun memberikan sanksi bagi para pelanggar. Jika kondisi baik maka fitrah ibu pun akan terjaga.

Negara yang bisa melakukan hal ini adalah negara berdikari, yang memiliki ideologi kuat. Tentu saja bukan negara penganut kapitalisme neoliberal. Tapi negara yang mencerminkan Islam di dalamnya. Negara yang menjadikan Islam sebagai landasannya. Ialah Khilafah ‘ala minhaj nubuwwah. Wallahu a’lam bishawab. [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *