Menjaga Dua Warisan Rasulullah Saw.

Kedua warisan Rasulullah Saw. begitu dibutuhkan umat yang telah tersesat jauh dari jalan menuju predikat khairu ummah (umat terbaik, ed.). Umat Islam menghadapi banyak persoalan dan kehidupan mereka serba susah. Ajaran agama mereka diacak-acak lewat munculnya kampanye Islam nusantara dan moderasi Islam.


Oleh: Iffah Ainur Rochmah

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا : كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ رَسُوْلِهِ

“Aku tinggalkan kepada kamu dua perkara, kamu tidak akan tersesat selamanya selama kamu berpegang dengan kedua-duanya, yaitu kitab Allah (Alquran) dan Sunahku. (HR Al-Hakim)

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Secara lugas, manthuq hadis di atas menerangkan bahwa Rasulullah Saw. mewariskan pada umatnya dua hal yaitu kitabullah (Alquran) dan Sunah. Semua umat Muhammad bisa menjadikan keduanya sebagai petunjuk agar tidak tersesat selamanya, dengan syarat mereka ber-tamassuk pada keduanya.

Menurut Mu’jam al-Ghaniy, lafaz at-tamassuk semakna dengan al-i’tisham yakni berpegang teguh dan mengenggam kuat agar tidak terlepas. Maka, memaknai hadis di atas bisa dilakukan dengan merujuk penjelasan mufassir tentang ayat I’tisham.

Di antaranya di dalam QS Ali ‘Imran : 103,

وَاعْتَصِمُوا بِحَبْلِ اللَّهِ جَمِيعًا وَلَا تَفَرَّقُوا

“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali (agama) Allah secara keseluruhan, dan janganlah kamu bercerai berai.”

Yang dimaksud dengan tali Allah menurut Imam Baidhawi adalah agama Islam atau kitab-Nya. Jadi, berpegang teguh pada tali Allah berarti berpedoman hidup pada Alquran.

Baca juga:  Mengingatkan Manusia tentang Asal-usulnya

Ini berdasarkan sabda Rasul Saw.,

“Aku tinggalkan di antara kalian kitab Allah. Ia adalah tali Allah. Barang siapa yang mengikutinya, niscaya berada atas petunjuk hidayah. Barang siapa yang meninggalkannya, niscaya tersesat.” (HR Ibn Abi Syaibah dan Ibn Hibban).

Selanjutnya lafaz جَمِيعًا pada ayat tersebut juga memerintahkan agar sikap teguh berpedoman hidup pada Kitabullah dilakukan secara keseluruhan. Maknanya, Alquran tidak boleh diambil sebagian dan ditinggalkan sebagian lainnya.

Demikian juga, harus diambil pedoman dari seluruh hadis yang menjabarkan dan mencontohkan secara nyata isi Alquran. Jangan sampai syariat dipakai untuk hal yang dianggap menguntungkan dan syariat disingkirkan saat dianggap mengancam kedudukan dan kemaslahatan diri dan kelompoknya.

Saat ini, kedua warisan Rasulullah Saw. itu begitu dibutuhkan umat. Mereka (umat) telah tersesat jauh dari jalan menuju predikat khairu ummah (umat terbaik, ed.).

Umat Islam menghadapi banyak persoalan dan kehidupan mereka serba susah. Ajaran agama mereka diacak-acak lewat munculnya kampanye Islam nusantara dan moderasi Islam.

Bahkan, ulama yang seharusnya jadi panutan umat saat ini tergadai. Sebagian difitnah dengan cap radikal, sebagian lagi menjadi stempel penguasa. Kehidupan politik di tengah mereka ibarat bola panas yang siap melahap umat.

Baca juga:  Menggapai Lailatul Qadar

Kelompok umat–begitu diundang ke istana–berubah sikap terhadap umat Islam, bahkan berubah haluan dalam perjuangan Islam. Umat Muhammad hari ini dikuasai rezim ruwaibidhah yang sedang memperbanyak punggawa lewat agenda deradikalisasi.


Di era hari ini, menjaga warisan Rasulullah dengan ber-tamassuk dan i’tisham terhadap Kitabullah dan Sunah Nabi menuntut jiddiyah (kesungguhan), sabar dan ikhtiar, serta pengorbanan untuk memahami secara utuh menyeluruh dua pusaka warisan Rasulullah Saw. pada keseluruhan isi yang dikandungnya.

Selanjutnya, tamassuk dan i’tisham juga mengharuskan pemberlakuannya tanpa tebang pilih pada seluruh aspek kehidupan. Untuk menjalani itu, tentu tak mudah dan butuh kesabaran dan perjuangan.

Bukankah Rasulullah Saw. sudah mengingatkan melalui lisan mulianya?

“Akan datang kepada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti orang yang menggenggam bara api.” (HR Tirmidzi)

Tantangan di hadapan kita saat ini di antaranya adalah hilangnya pegangan sebagian umat untuk bersikap. Bukan tidak mungkin mereka tersesat jalan akibat sesat pikir yang tidak disadarinya.

Karena tipu daya kaum liberal dan provokasi rezim anti-Islam, mereka mengerdilkan perintah amar makruf nahi mungkar yang agung mulia. Sebagai gantinya, mereka menggaungkan slogan-slogan membingungkan di tengah umat.

Baca juga:  Mencari “Nushrah” ke Luar Makkah

Simaklah, mereka begitu gigih menentang ikhtiar muhasabah hukkam – lewat aksi bertajuk “Bela Islam, Bela Qur’an, dan Bela Tauhid”– dan menyuarakan bahwa Islam berikut ajarannya tak perlu pembelaan.

Bila pun ingin membela, cukup dengan mentradisikan sema’an Qur’an untuk bela Alquran, ritual tahlilan untuk bela tauhid, dan selawatan untuk bela Rasulullah. Semua terjadi karena arus dominan hari ini bukanlah pemberlakuan Kitabullah dan Sunah Rasulullah.

Dengan demikian, menjaga dua warisan Rasulullah dan berpegang pada agama Allah harus menjadi amal nyata, bukan hanya slogan dan retorika.

Wujudnya dengan kesungguhan dan kesabaran kita untuk berjuang segenap tenaga mempraktikkan hukum-hukum Allah yang terkandung di dalam keduanya pada seluruh aspek kehidupan. Agar tidak tersesat selamanya dan demi meninggikan kalimat Allah–izzul Islam wal muslimin–dalam wadah Khilafah Islamiyah. [MNews]

Sumber: suaramubalighah.com berjudul “Bagaimana Menjaga Warisan Rasulullah SAW?”


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *