Kembalikan Masjid pada Fungsinya

Pembatasan aktivitas di masjid-masjid, termasuk masjid di kantor Pemerintah, apalagi berkaitan dengan konten materi yang disampaikan, merupakan pengebirian terhadap fungsi dan peran masjid itu sendiri.


Oleh: Najmah Saiidah

MuslimahNews.com, FOKUS — Kabinet terbaru telah terbentuk. Seperti biasa, menteri yang baru mulai mengemukakan pendapat dan pernyataannya tentang apa yang akan dilakukan berkaitan dengan tugas yang diembannya dari kepala negara. Tidak terkecuali Mahfud MD, yang dipilih Jokowi menjadi Menko Polhukam.

Mahfud MD menyatakan bahwa masjid di kantor pemerintah bukan tempat untuk membangun adu domba dan takfiri. Menurutnya, masjid di kantor pemerintah harus membangun kesejukan dan persaudaraan.

“Masjid dan pengajian di kantor-kantor itu untuk membangun persaudaraan dan kesejukan. Tidak boleh mengadu domba, tidak boleh bersifat takfiri, menganggap orang lain kalau tidak sepakat dengan dia, musuh adalah kafir dan sebagainya,” ujar Mahfud di Kantor Kemenko Polhukam, Jakarta, Jumat (25/10/2019). (CNN Indonesia, 26/10/2019).

Sesungguhnya pernyataan ini tidak lepas dari apa yang dipesankan Jokowi saat pelantikan, salah satunya agar mereka serius menuntaskan persoalan radikalisme yang dianggap kian membahayakan, yakni membahayakan persatuan dan kebinekaan. Dan moderasi Islam tetap dijadikan kedok untuk memuluskan jalan untuk mewujudkan apa yang mereka kehendaki.

Radikalisme akan dijadikan alat legitimasi untuk mengalienasi kelompok kritis yang menginginkan perubahan Indonesia ke arah yang lebih bermartabat sesuai Islam, menekan rakyat dan oposan agar selalu tunduk pada keinginan penguasa dan tak lagi berani memperjuangkan perubahan mendasar, apalagi ke arah Islam.

Baca juga:  Sekularisasi Atas Nama Deradikalisasi dan Moderasi

Inilah yang terjadi sejak jilid pertama kekuasaan Jokowi. Ya, Islam memang nampak menjadi sasaran utama proyek deradikalisasi ini. Mengingat geliat kebangkitan kesadaran akan rusaknya sistem hidup berdasar sekularisme demokrasi yang dimotori kelompok Islam dan ulama-ulama ideologis memang berbenturan dengan kepentingan kelompok penguasa yang telah diuntungkan oleh penerapan sistem rusak ini.

Pembatasan aktivitas di masjid-masjid, termasuk masjid di kantor Pemerintah, apalagi berkaitan dengan konten materi yang disampaikan, merupakan pengebirian terhadap fungsi dan peran masjid itu sendiri.

Selama konten materi tidak bertentangan dengan Islam, maka sesungguhnya tidak perlu menjadi hal yang dikhawatirkan. Masjid adalah tempat untuk menyiarkan Islam, menyebarkan pemahaman Islam ke tengah-tengah umat, ke tengah-tengah masyarakat. Salah satu sarana yang sangat baik untuk membina dan mencerdaskan umat, mengajak umat ke jalan yang lurus.

Benar, bahwa kita tidak boleh mengadu domba, harus membangun dan mengukuhkan persaudaraan umat Islam, akan tetapi tidak dengan mencurigai umat Islam yang mereka adalah rakyatnya sendiri.

Islam mengajarkan persaudaraan dan tidak boleh mengadu domba. Tetapi harus dipahami juga bahwa toleransi kebablasan bukan dari Islam, sehingga membiarkan ajaran yang salah dengan atas nama HAM, membiarkan hal-hal yang bertentangan Islam, atau menganggap semua agama sama, jelas semua ini bertentangan dengan Islam.

Baca juga:  [Editorial] Jika Bukan Nabi saw., Lantas Siapa yang Pantas jadi Teladan untuk Urusan Pemerintahan?

Karena Islam mengajarkan amar makruf nahi mungkar, mengajak kepada kebaikan dan mencegah kemungkaran. Bahkan hal ini merupakan kewajiban seorang muslim, termasuk mengoreksi penguasa.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam juga menyatakan dengan spesifik kewajiban serta keutamaan melakukan muhasabah (koreksi) kepada penguasa.

Al-Thariq menuturkan sebuah riwayat, “Ada seorang laki-laki mendatangi Rasulullah Saw. seraya bertanya, ‘Jihad apa yang paling utama?’ Rasulullah menjawab, ‘Kalimat haq (kebenaran) yang disampaikan kepada penguasa yang zalim.’” (HR Imam Ahmad)

Bahkan dalam riwayat lain, Rasulullah Saw. bersabda, “Pemimpin syuhada adalah Hamzah, serta laki-laki yang berdiri di hadapan penguasa zalim lalu ia menasihati penguasa tersebut, lantas penguasa itu membunuhnya.”(HR Hakim dari Jabir)

Dengan kondisi seperti ini, sesungguhnya umat Islam tidak perlu takut atau khawatir untuk tetap menyuarakan Islam, apalagi di tempat-tempat yang di dalamnya banyak berkumpul umat Islam yang sedang beribadah dan berbuat baik.

Masjid adalah tempat orang beribadah dan berbuat kebaikan. Peran masjid dalam pembinaan umat Islam sangat penting dan dibutuhkan. Generasi lslam pertama di Madinah ditempa oleh Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam di Masjid Quba dan Masjid Nabawi.

Di masjid mereka dididik mendapatkan pelajaran, berlatih keterampilan, mengatur siasat, serta menyelesaikan permasalahan kaum muslimin. Di masjid hati mereka terpaut, dan sebagian hidup mereka berada di masjid.

Baca juga:  Racun Pembunuh Ukhuwah Islamiyah Bernama “Diplomasi Lunak”

Jelaslah bahwa masjid tidak hanya berfungsi sebagai tempat beribadah mahdhah seperti salat dan zikir semata, tetapi masjid juga sebagai tempat pembinaan dan pendidikan, tempat pemberian santunan sosial, tempat latihan militer dan persiapan perang, tempat pengobatan para korban perang, tempat mendamaikan dan menyelesaikan sengketa, tempat menerima utusan delegasi/tamu, serta sebagai pusat penerangan dan pembelaan agama.

Dari pembinaan yang dilakukan Rasulullah di masjid itu lahirlah tokoh-tokoh yang berjasa dalam pengembangan Islam ke seantero dunia, seperti Abu Bakar Shiddiq, Umar bin al-Khaththab, Utsman bin ‘Affan, dan Ali bin Abi Thalib.

Sudah seharusnya umat Islam memakmurkan masjid, mengembalikannya kepada fungsinya yang sesungguhnya, sebagaimana yang perintahkan oleh Allah SWT dalam firman-Nya,

إِنَّمَا يَعْمُرُ مَسَاجِدَ اللَّهِ مَنْ آمَنَ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ وَأَقَامَ الصَّلَاةَ وَآتَى الزَّكَاةَ وَلَمْ يَخْشَ إِلَّا اللَّهَ ۖ فَعَسَىٰ أُولَٰئِكَ أَنْ يَكُونُوا مِنَ الْمُهْتَدِينَ

“Hanya yang memakmurkan masjid-masjid Allah ialah orang-orang yang beriman kepada Allah dan Hari kemudian, serta tetap mendirikan salat, menunaikan zakat, dan tidak takut (kepada siapa pun) selain kepada Allah, maka merekalah orang-orang yang diharapkan termasuk golongan orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS At-Taubah : 18).

Wallahu a’lam bishshawwab. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *