; The Amazing of Khilafah: Antara Tuduhan Ilusi dan Fakta Solusi (1/2) - Muslimah News

The Amazing of Khilafah: Antara Tuduhan Ilusi dan Fakta Solusi (1/2)

“Syariah dan Khilafah bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Islam dan rangkaian ajaran syariahnya, termasuk Khilafah, bukanlah musuh negeri ini. Musuh sejati negara saat ini adalah Kapitalisme-Liberalisme. Inilah yang secara nyata semakin memperpuruk kehidupan bangsa.”


Oleh: Dr. Ahmad Sastra (Peminat Islam Politik dan Peradaban)

MuslimahNews.com, FOKUS — Istilah Khilafah adalah sesuatu yang amazing akhir-akhir ini. Setiap orang dari hampir seluruh strata sosial di negeri ini fasih mengucapkannya. Dari orang yang berpendidikan tinggi hingga yang tidak berpendidikan. Dari orang yang berpikir rasional hingga yang emosional. Dari yang berlandaskan wahyu hingga yang hanya memuja nafsu. Dari pendapat seorang profesor hingga mulut seorang provokator. Amazing, sungguh menakjubkan istilah ini.

Bahkan kata khilafah ini terlebih dahulu fasih diucapkan oleh orang-orang Barat dengan berbagai analisis politik dan ilmiahnya. Tak terkecuali di negeri ini, istilah khilafah telah merambat cepat masuk ke jantung, hati, dan otak masyarakat Indonesia, bahkan lintas agama. Amazing Khilafah, adalah kata yang tepat untuk disematkan kepadanya.


Istilah khilafah sesungguhnya bukanlah istilah asing dalam khasanah keilmuwan Islam, sebab khilafah adalah ajaran Islam sebagaimana ajaran Islam lain seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lainnya.

Kaum Muslim dan seluruh warga negara khilafah yang notabene lintas ras dan agama setelah Rasulullah saw. wafat lebih dari 1.000 tahun hidup sejahtera dalam naungan Khilafah.

Karena itu Khilafah adalah ajaran Islam. Mewujudkan eksistensinya adalah sebagai kewajiban layaknya kewajiban lain dalam syariat Islam. Bahkan keberadaan Khilafah merupakan “tâj al-furûd (mahkota kewajiban)”. Jika Khilafah hilang, banyak hukum-hukum Islam terabaikan.

Asal-usul kata khilâfah kembali pada ragam bentukan kata dari kata kerja khalafa. Al-Khalil bin Ahmad (w. 170 H) mengungkapkan: fulân[un] yakhlufu fulân[an] fî ‘iyâlihi bi khilâfat[in] hasanat[in]; yang menggambarkan estafet kepemimpinan.

Hal senada diungkapkan oleh al-Qalqasyandi (w. 821 H).Salah satu contohnya dalam QS al-A’raf [7]: 142. Al-Qalqasyandi menegaskan bahwa Khilafah secara ‘urf lantas disebut untuk kepemimpinan agung, memperkuat makna syar’i-nya yang menggambarkan kepemimpinan umum atas umat, menegakkan berbagai urusan dan kebutuhannya.

Namun bukan sembarang kepemimpinan, melainkan kepemimpinan yang menjadi pengganti kenabian dalam memelihara urusan agama ini dan mengatur urusan dunia dengannya. Ini ditegaskan oleh Imam al-Mawardi (w. 450 H), Imam al-Haramain al-Juwaini (w. 478 H), dan para ulama lainnya.

Dengan kata lain, kepemimpinan dengan ruh Islam ini menjadi menjadi ciri khas mulia; berbeda dengan sistem sekuler yang mengundang malapetaka. Inilah yang diungkapkan Al-Qadhi Taqiyuddin an-Nabhani.

Beliau menjelaskan makna syar’i Khilafah yang digali dari nas-nas syar’i, bahwa Khilafah adalah: kepemimpinan umum bagi seluruh kaum Muslim di dunia, untuk menegakkan hukum-hukum syariah Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh penjuru dunia (yakni mengemban dakwah dengan hujjah dan jihad).

Wahbah az-Zuhaili mengemukakan makna Khilafah. Beliau menyebutkan, “Khilafah, Imamah Kubra, dan Imaratul Mu’minin merupakan istilah-istilah yang sinonim dengan makna yang sama.” (Az-Zuhaili, Al-Fiqh al-Islâmi wa Adillatuhu, 9/881).

Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum Muslim di dunia untuk melaksanakan hukum-hukum Islam dan mengemban dakwah ke seluruh alam. Sejatinya, antara syariah atau ajaran Islam secara kâffah tidak bisa dilepaskan dengan Khilafah.

Ini juga yang disampaikan oleh Hujjatul Islam Imam al-Ghazali, “Agama adalah pondasi dan kekuasaan politik adalah penjaganya. Sesuatu yang tidak ada pondasinya akan roboh. Sesuatu yang tidak ada penjaganya akan telantar.”

Syariah dan Khilafah bukanlah sesuatu yang perlu ditakutkan. Islam dan rangkaian ajaran syariahnya, termasuk Khilafah, bukanlah musuh negeri ini. Musuh sejati negara saat ini adalah Kapitalisme-Liberalisme. Inilah yang secara nyata semakin memperpuruk kehidupan bangsa.

Liberalisme-Kapitalisme menjadikan sistem ekonomi di negeri ini secara nyata mengikuti paham neoliberalisme. Paham ini meniscayakan pengurangan peran negara dalam sektor ekonomi.

Bahkan negara dianggap sebagai penghambat utama penguasaan ekonomi oleh individu (korporat) yang sangat diperlukan untuk memicu pertumbuhan ekonomi.

Pengurangan peran negara di sektor ekonomi tersebut melalui privatisasi sektor publik, pencabutan subsidi komoditas strategis yang menjadi hajat hidup masyarakat, penghilangan hak-hak istimewa Badan Usaha Milik Negara (BUMN) melalui ketentuan perundang-undangan yang menyamadudukkan BUMN dengan BUMS (Badan Usaha Milik Swasta).

Neoliberalisme sejatinya merupakan upaya pelumpuhan peran negara untuk mencapai negara korporasi (corporate state), yaitu ketika negara dihela oleh persekutuan jahat politikus dengan pengusaha.

Keputusan-keputusan politik yang diambil akhirnya tidak lagi berpihak kepada rakyat, namun untuk kepentingan segelintir pengusaha swasta, domestik maupun asing.

Jika kita mau memahami lebih mendalam, maka sungguh negeri ini telah mengadopsi ideologi kapitalisme yang secara diametral bertentangan dengan pancasila. Kapitalisme melahirkan jurang kesejahteraan yang sangat lebar, yang kaya tambah kaya, sementara rakyat semakin sengsara.

Bagaimana tidak, di satu sisi ada kapitalis asing tinggal di Indonesia memiliki ratusan triliun uang, sementara ada anak negeri yang hanya mampu makan rumput kering karena jeratan kemiskinan yang tak terperi.

Karena itu khilafah sebagai ajaran Islam sejatinya adalah solusi alternatif atas hegemoni ideologi kapitalisme maupun komunisme.

Kapitalisme sekuler yang selama ini mencekeram bangsa ini, bahkan kini aroma komunisnya semakin terasa, telah dengan jelas menafikan peran Tuhan dalam pengaturan kehidupan berbangsa dan bernegara.

Kapitalisme sekuler yang mengabaikan nilai ketuhanan dan komunisme yang ateistiklah yang justru telah gagal menyejahterakan bangsa Indonesia dan gagal menghadirkan keadilan bagi seluruh rakyat Indonesia.

Sementara Islam adalah ideologi sempurna dari yang Mahasempurna dan Khilafah adalah bagian dari ajaran Islam. Karena itu tidak relevan membenturkan ide Khilafah dengan Pancasila.

Pancasila, menurut Din Syamsudin dalam sebuah wawancara di Kompas TV (Aiman, 12/06) menegaskan bahwa justru sangat islami. Din juga menjelaskan bahwa khilafah adalah ajaran Islam. Maka adalah muslim yang bodoh jika mau diadu domba antara Islam dan pancasila.


Dalam kitab fikih yang terbilang sederhana—namun sangat terkenal—dengan judul Fiqih Islam karya Sulaiman Rasyid, dicantumkan bab tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Bab tentang Khilafah juga pernah menjadi salah satu materi di buku-buku madrasah (MA/MTs) di Tanah Air.

Tahun 2015, ada penelitian Balitbang Diklat Kemenag yang dimuat di situs Balitbang Diklat Kemenag tertanggal 23 Juli 2015 dengan titel, “Perlukah Risaukan Gerakan Keagamaan Transnasional di Indonesia?”

Dengan tegas penelitian itu menyatakan bahwa gerakan keagamaan transnasional, termasuk HTI [sebelum dibubarkan BHP-nya], tidaklah membahayakan atau mengancam NKRI. Menurut penelitian ini, HTI meskipun mewacanakan Khilafah, harus dimaknai agar umat Islam memiliki solidaritas yang tinggi terhadap umat Islam di manapun berada sebagaimana ajaran Islam bahwa umat Islam itu bersaudara.

Menurut pandangan Sayyid Quthb dalam kajian tentang Islam dan ketatanegaraan, Islam merupakan agama yang realistik, yang membuktikan bahwa larangan dan nasihat saja tidak cukup. Juga membuktikan, bahwa agama ini tidak akan tegak tanpa negara dan kekuasaan.

Agama Islam adalah manhaj atau sistem yang menjadi dasar kehidupan praktis manusia, bukan hanya perasaan emosional (wijdani) yang tersemat dalam hati, tanpa kekuasaan, perundang-undangan, manhaj yang spesifik dan konstitusi yang jelas. (Tafsir fi Dhilal al Qur’an, Juz I hlm. 601)

Sejarah Islam, menurutnya, sebagaimana yang pernah ada, merupakan sejarah dakwah dan seruan, sistem, dan pemerintahan. Tidak ada asumsi lain yang dapat diklaim sebagai Islam, atau diklaim sebagai agama ini, kecuali jika ketaatan kepada Rasul direalisasikan dalam satu keadaan dan sistem. (Tafsir fi Dhilal al Qur’an, Juz II hlm. 696)

“Eksistensi agama ini merupakan eksistensi kedaulatan hukum Allah. Ketika kondisi asal ini ternafikan, niscaya eksistensi agama ini juga ternafikan. Yang menjadi problem utama di muka bumi sekarang bagi agama ini adalah berdirinya para taghut yang selalu melakukan perlawanan terhadap ketuhanan Allah dan merampas kekuasaan-Nya, kemudian dirinya diberikan otoritas untuk menetapkan peraturan perundang-undangan untuk membenarkan dan melarang jiwa, harta, dan anak.” (Tafsir fi Dhilal al Qur’an, Juz III hlm. 1216-1217).

Kewajiban menegakkan Khilafah ini telah menjadi ijmak para ulama, khususnya ulama Ahlus Sunnah wal Jamaah (Aswaja).

Imam al-Qurthubi menegaskan, “Tidak ada perbedaan pendapat mengenai kewajiban tersebut (mengangkat khalifah) di kalangan umat dan para imam mazhab; kecuali pendapat yang diriwayatkan dari al-‘Asham (yang tuli terhadap syariah) dan siapa saja yang berkata dengan pendapatnya serta mengikuti pendapat dan mazhabnya.” (Al-Qurthubi, Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân, 1/264).

Imam an-Nawawi juga menyatakan, “Mereka (para imam mazhab) telah bersepakat bahwa wajib atas kaum Muslim mengangkat seorang khalifah.” (An-Nawawi, Syarh Sahih Muslim, 12/205).

Imam al-Ghazali menyatakan, “Kekuasaan itu penting demi keteraturan agama dan keteraturan dunia. Keteraturan dunia penting demi keteraturan agama. Keteraturan agama penting demi keberhasilan mencapai kebahagiaan akhirat. Itulah tujuan yang pasti dari para Nabi. Karena itu kewajiban adanya Imam (Khalifah) termasuk hal-hal yang penting dalam syariah yang tak ada jalan untuk ditinggalkan.” (Al-Ghazali, Al-Iqtishâd fî al-I’tiqâd, hlm. 99).

Imam Ibnu Hajar al-Asqalani menyatakan, “Mereka (para ulama) telah sepakat bahwa wajib hukumnya mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” (Ibn Hajar, Fath al-Bâri, 12/205).

Imam al-Mawardi menyatakan, “Melakukan akad Imamah (Khalifah) bagi orang yang (mampu) melakukannya hukumnya wajib berdasarkan ijmak meskipun al-‘Asham menyalahi mereka.” (Al-Mawardi, Al-Ahkâm ash-Shulthâniyyah, hlm. 5).

Imam Ibnu Hajar al-Haitami menyatakan, “Ketahuilah juga, para sahabat Nabi saw. telah sepakat bahwa mengangkat Imam (Khalifah) setelah berakhirnya zaman kenabian adalah wajib. Bahkan mereka menjadikan itu sebagai kewajiban terpenting karena mereka telah menyibukkan diri dengan hal itu dari menguburkan jenazah Rasulullah saw.” (Al-Haitami, Ash-Shawâ’iq al-Muhriqah, hlm. 17).

Imam asy-Syaukani menyatakan, “Mayoritas ulama berpendapat Imamah (Khilafah) itu wajib. Menurut ‘Itrah (Ahlul Bait), mayoritas Muktazilah dan Asy’ariyah, Imamah (Khilafah) itu wajib menurut syariah.” (Asy-Syaulani, Nayl al-Awthâr, VIII/265).

Pendapat para ulama tedahulu di atas juga diamini oleh para ulama muta’akhirin (Lihat, misalnya: Syaikh Abu Zahrah, Târîkh al-Madzâhib al-Islâmiyah, hlm. 88; Dr. Dhiyauddin ar-Rais, Al-Islâm wa al-Khilâfah, hlm. 99; Abdul Qadir Audah, Al-Islâm wa Awdha’unâ as-Siyâsiyah, hlm. 124; Syaikh Taqiyyuddin an-Nabhani, Asy-Syakhshiyyah al-Islâmiyyah, II/15; Dr. Mahmud al-Khalidi, Qawâ’id Nizhâm al-Hukm fî al-Islâm, hlm. 248; dll).

Khilafah bukan Ilusi, tapi Solusi

Sungguh aneh bin ajaib jika ada kaum muslimin mengatakan bahwa Khilafah adalah ilusi dan utopis, sebab orang-orang Barat justru sedang menghadang bangkitnya Khilafah.

Bagaimana mungkin disebut sebagai utopis di satu sisi, namun dihadang berdirinya di sisi lain? Sementara dalam perspektif akidah, kemenangan Islam adalah janji Allah.

“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan, dan kamu lihat manusia masuk agama Allah dengan berbondong-bondong, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia adalah Mahamenerima tobat.” (QS An Nashr :1-3).

Hanya penontonlah yang mengatakan tegaknya Khilafah sebagai ilusi, sementara para pejuangnya semakin yakin akan pertolongan Allah. [MNews | Bersambung ke bagian 2/2]

https://www.muslimahnews.com/2019/10/31/the-amazing-of-khilafah-antara-tuduhan-ilusi-dan-fakta-solusi-2-2/]


Bagaimana menurut Anda?

Satu tanggapan untuk “The Amazing of Khilafah: Antara Tuduhan Ilusi dan Fakta Solusi (1/2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *