; Smart Farming 4.0, untuk Kesejahteraan Masyarakat? - Muslimah News

Smart Farming 4.0, untuk Kesejahteraan Masyarakat?

“Konsep pertanian modern ini seakan-akan membawa angin segar bagi kemajuan pertanian.”


MuslimahNews.com, ANALISIS — Kita akui bersama, hingga saat ini persoalan pemenuhan pangan masih jauh dari selesai. Berbagai persoalan yang menimbulkan kesulitan rakyat kerap terjadi.

Kita masih menemukan rakyat yang mengalami kelaparan seperti di Seram–Maluku–, Papua, dan Suku Anak Dalam–Jambi–. Harga yang sering berfluktuasi juga makin menyulitkan sebagian besar masyarakat untuk mengakses pangan berkualitas dan terjangkau.

Begitu pula permasalahan di hulu yaitu sektor pertanian. Masifnya impor pangan yang dilakukan pemerintah menciptakan ketergantungan yang semakin kuat pada asing. Di satu sisi mengancam kedaulatan negara, di sisi lain mengancam keberlangsungan kehidupan para petani.

Selain menguras devisa, produk impor sering kali mematikan produk petani lantaran harga dan kualitas yang kalah bersaing. Tak jarang petani beralih profesi karena asetnya habis terjual tersebab kemiskinan atau kalaupun jadi petani hanyalah buruh yang tidak memiliki lahan.

Pertanian modern 4.0 (smart farming) dijadikan tumpuan untuk mengatasi persoalan, baik dalam rangka mewujudkan ketahanan pangan bangsa serta meningkatkan kesejahteraan petani. Konsep pertanian ini makin serius dikembangkan Pemerintah melalui Kementerian Pertanian.

Menteri Pertanian menyebutkan, “Saat ini industri pertanian dunia sudah memasuki era evolusi industri yang keempat atau biasa disebut industri 4.0, ditandai dengan penggunaan mesin-mesin automasi yang terintegrasi dengan jaringan internet.”[1]

Sementara Kepala Staf Kepresidenan sekaligus Ketua HKTI Moeldoko menyebut, “Mereka yang tak bisa mengikuti perkembangan di era disrupsi akan tertinggal dan tergilas.”[2]

Pada era ini, pertanian akan berlangsung efisien dan efektif, sehingga mampu meningkatkan produktivitas secara signifikan dan berdaya saing[3] serta memberikan kesejahteraan bagi para petani.

Bahkan pertanian 4.0 dijadikan sarana menarik minat para milenial terjun ke dalam dunia pertanian karena model pertanian 4.0 sangat berbeda dengan konsep pertanian sebelumnya.

Smart Farming 4.0

Smart farming adalah konsep pertanian menggunakan teknologi modern untuk meningkatkan kuantitas dan kualitas produk pertanian. Menurut Smart-AKIS (Jaringan Eropa yang mengaruskan smart farming di antara petani Eropa) Pertanian Cerdas 4.0 ini melibatkan tiga jenis teknologi yang saling berhubungan, yaitu sistem informasi manajemen, pertanian akurat, serta otomatisasi dan robotika.

Sistem Informasi Manajemen: Sistem untuk mengumpulkan, memproses, menyimpan, dan menyebarluaskan data dalam bentuk yang diperlukan untuk melaksanakan operasi dan fungsi lahan.

Pertanian Presisi: Manajemen variabilitas spasial dan temporal untuk meningkatkan pengembalian ekonomi setelah penggunaan input dan mengurangi dampak lingkungan. Termasuk Sistem Pendukung Keputusan untuk seluruh manajemen pertanian dengan tujuan mengoptimalkan pengembalian input sambil melestarikan sumber daya; di antaranya mengaktifkan penggunaan GPS, gambar udara oleh drone dan generasi terbaru gambar hiperspektral yang disediakan oleh satelit Sentinel, memungkinkan pembuatan peta variabilitas spasial dari banyak variabel yang dapat diukur (misalnya hasil panen, fitur medan/topografi, kandungan bahan organik, tingkat kelembapan, tingkat nitrogen, dll).

Automasi pertanian dan robotika: Proses penerapan robotika, kontrol otomatis, dan teknik kecerdasan buatan di semua tingkat produksi pertanian.

Di samping itu, model pertanian ini juga akan merealisasikan sustainable agriculture (pertanian berkelanjutan) yang sejalan dengan target SDGs karena pemanfaatan air yang lebih efisien dan minimnya penggunaan input eksternal seperti pupuk dan pestisida.

Berbagai inovasi pertanian bermunculan dari teknologi RI 4.0 yaitu Internet of Things, Artificial Intelligence, Human-Machine Interface, teknologi robotik dan sensor, serta teknologi 3D Printing. Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian (Balibangtan) telah meluncurkan teknologi yang dikembangkan dengan kombinasi antara teknologi cloud computing dengan mobile internet, yaitu UPJA Smart Mobile dan SAPA MEKTAN.

UPJA Smart Mobile adalah aplikasi android yang digunakan untuk melakukan usaha jasa pengolahan tanah, jasa irigasi, jasa penanaman padi, jasa panen padi, jasa penggilingan padi, jasa jual benih, jasa jual gabah, jasa pelatihan untuk operator alsintan (alat mesin pertanian, ed.), perawatan dan perbaikan alsintan, dan jasa penjualan suku cadang alsintan.

Sementara inovasi teknologi mekanisasi yang dihasilkan Balitbangtan antara lain: smart irrigation, smart green house, telescoping boom sprayer, mobile dryer, rice Upland Seeder by Farm Dozer, jarwo riding transplanter, penanam benih padi, alsin penanam tebu dan pemasang drip line irigasi, dan kandang ayam closed system.

Teknologi ini ditujukan agar proses usaha tani menjadi semakin efisien, sehingga terjadi efisiensi, peningkatan produktivitas, dan daya saing.[4]

Secara kelembagaan, pemerintah juga terus menguatkan model kelembagaan petani dengan bentuk korporasi. Sejak pertama kali diresmikan tahun 2017 lalu, pemerintah terus mendorong petani membentuk korporasi petani baik berbentuk koperasi maupun Badan Usaha Milik Desa (BUM-Des).

Bahkan, pemerintah telah melahirkan Permentan 18/2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Berbasis Korporasi Petani sebagai bentuk keseriusan mengaruskan program ini[5].

Kementan menggelar Sosialisasi Permentan 18/2018 tentang Pedoman Pengembangan Kawasan Berbasis Korporasi Petani di Bandung. Foto/Ist /sindonews.com

Jokowi menjelaskan konsep korporasi petani adalah membuat kelompok besar petani (agar) mereka berpikir dengan manajemen modern, berpikir dengan aplikasi-aplikasi modern, berpikir dengan cara-cara pengolahan industri yang modern sekaligus memasarkannya ke industri retail memasarkannya ke konsumen dengan cara-cara online store, toko online, memasarkannya ke retail-retail dengan sebuah manajemen yang baik.[6]


Konsep pertanian modern ini seakan-akan membawa angin segar bagi kemajuan pertanian. Karena di satu sisi, smart farming 4.0 akan jauh menggenjot produksi pertanian untuk merealisasikan ketahanan dan kedaulatan pangan. Di sisi lain, model korporasi petani akan memperbaiki nasib para petani yang selama ini identik dengan kemiskinan.

Korporasi akan memandirikan petani. Para petani diberi ruang untuk menjalin kemitraan dengan pihak mana pun, baik untuk permodalan, pengolahan, hingga pemasaran. Kesejahteraan petani akan membaik seiring meningkatnya produksi, apalagi dengan korporasi, mereka dapat memperluas usaha pertanian hingga off farm seperti pengolahan dan pemasaran.

Pertanian Cerdas 4.0, Menguatkan Kapitalisasi Pertanian

Pengadopsian teknologi secara masif di bidang pertanian bukan kali ini saja. Revolusi pertanian generasi ketiga atau Green Revolution juga pernah diadopsi dan dikembangkan di Indonesia pada era 1970-an.

Revolusi Hijau yang diaruskan bagi negara-negara berkembang juga ditargetkan untuk peningkatan produksi dengan ‘memanfaatkan’ teknologi tinggi. Mulai dari benih varietas unggul termasuk genetically modified organism (GMO), pestisida, pupuk, irigasi, hingga pemasaran.

Namun faktanya, sistem pertanian dengan teknologi pertanian yang berbiaya tinggi tersebut tidaklah berkorelasi positif dengan kesejahteraan masyarakat serta pencapaian ketahanan dan kedaulatan pangan. Meskipun sempat mencapai swasembada beras pada tahun 1984, namun tak bertahan lama[7].

Memasuki tahun 1990-an impor beras kembali dilakukan bahkan hingga saat ini ketergantungan makin menguat. Ketahanan pangan makin sulit dicapai. Manajemen stok pangan tak terkelola baik sehingga harga pangan berfluktuasi tanpa terkontrol.

Lebih parahnya, teknologi pertanian modern yang dikenalkan saat itu mengakibatkan ketergantungan petani terhadap benih dan saprotan (sarana produksi pertanian, ed.) yang notabene produk korporasi.

Realitas ini menunjukkan kemajuan teknologi pertanian bukan jaminan pencapaian ketahanan dan kedaulatan pangan serta kesejahteraan petani, ketika tata kelolanya masih dijalankan dengan sistem buruk yaitu kapitalistik neoliberal. Di mana fungsi pemerintah hampir tidak ada, sedangkan peran korporasi makin dominan dan dijadikan pilar pentingnya.

Bahkan, seperti green revolution yang didesain oleh dan untuk raksasa pertanian. Inovasi teknologi ini memperkuat konsentrasi kekuatan politik dan ekonomi di tangan sejumlah kecil perusahaan melampaui peran negara. Korporasi ini juga memiliki kontrol monopoli terhadap inovasi yang berkembang melalui paten.[8]

Hari ini, di tengah kapitalisasi neoliberal yang makin menggurita, maka modernisasi pertanian ala RI 4.0 pun hanya akan menguatkan kapitalisasi pangan. Politik neoliberal telah menghadirkan pemerintah yang makin abai terhadap masyarakat.

Pemerintah sekadar regulator dan fasilitator, jauh dari tanggung jawab mengurusi hajat masyarakat. Pemerintah hanyalah menyiapkan regulasi dan aturan main. Sementara yang secara langsung terlibat sebagai operator adalah korporasi.

Apalagi pertanian modern yang menggunakan teknologi tinggi 4.0 adalah pertanian berbiaya tinggi yang sangat sulit dijalankan oleh umumnya petani di negeri ini. Sebab, petani kita didominasi petani gurem atau buruh tani.

Karena minimnya perhatian pemerintah, selama ini petani kita masih berkutat dengan sejumlah problem seperti terbatasnya lahan yang dikelola, kurangnya permodalan dan rendahnya kualitas manajemen, serta lemahnya penguasaan teknologi.

Seandainya pun dijalankan, para petani tak lebih dari sebatas konsumen teknologi yang dikendalikan korporasi pemilik hak cipta. Walhasil, smart agriculture 4.0 sejatinya hanya untuk korporasi besar, bukanlah bagi petani umumnya.

Foto: boombastis.com

Begitu pula model kelembagaan korporasi petani yang dianggap menjadi solusi mengatasi kemiskinan para petani. Jika dicermati, pembentukan korporasi petani adalah bentuk makin berlepastangannya pemerintah dalam mengurusi rakyatnya.

Dengan bentuk korporasi, petani ‘dimandirikan’ untuk mencari modal sendiri, membangun industri pengolahan sendiri, atau membuka jaringan pemasaran sendiri.

Dengan kemandirian ala kapitalistik ini, akankah para petani kita–dengan posisi tawar yang lemah–mampu bertahan dalam pusaran kapitalisasi?

Di sini hanya akan berlaku prinsip dasar kapitalisme: The survival of the fittest. Hanya korporasi besar–yang memiliki modal kuat dan teknologi tinggi, proses pengolahan yang efisien, serta jaringan pemasaran yang luas– sajalah yang akan bertahan. Sedangkan yang lemah, lambat laun akan mati.

Jelaslah, kemajuan teknologi pertanian 4.0 bukan solusi bagi penguatan ketahanan pangan dan kesejahteraan masyarakat, jika tata kelolanya masih menggunakan konsep kapitalisme neoliberal. Sebab peran negara dan pemerintah makin minim.

Sementara, sistem ekonominya hanya berpihak kepada pemodal besar. Untuk itu dibutuhkan konsep pengelolaan pertanian dan pangan yang sahih dan meniscayakan kehadiran penuh negara dalam melayani dan melindungi rakyatnya. Serta pengaturan pertanian dijalankan dengan sistem ekonomi yang berkeadilan.

Kemajuan Teknologi Pertanian Khilafah Islam

Sebagai ideologi yang visioner, Islam tidak menolak kemajuan teknologi. Sebab hukum asal teknologi adalah mubah. Bahkan negara Islam diperbolehkan mengadopsi teknologi dari bangsa mana pun.

Selain itu Islam memosisikan teknologi sebagai sarana dan alat untuk memudahkan manusia dalam menjalankan ketaatan kepada Allah Swt. dan menjalankan visi rahmatan lil ‘aalamiin-nya di muka bumi.

Dengan bingkai inilah, teknologi akan berkembang pesat di dalam negara Islam.

Kemajuan peradaban Islam dalam berbagai aspek, sangat gamblang ditulis dalam sejarah, termasuk pertanian dan pangan. Khilafah Islam menciptakan atau mengadopsi berbagai teknologi untuk meningkatkan produksi pangan dalam rangka melayani kebutuhan seluruh rakyat, logistik jihad, bahkan membantu bangsa lain yang membutuhkan.

Sejarah mencatat, pada masanya Khilafah Islam terdepan melakukan revolusi pertanian. Khilafah Islam telah menerapkan teknologi pertanian yang menjadi cikal bakal ‘precission agriculture’. Teknik pertaniannya mengombinasikan antara introduksi tanaman baru dengan penggunaan sistem irigasi terbaik yang menggunakan mesin-mesin terbaru. Sehingga lebih banyak jenis tanah yang ditanami dan produksi tanaman terus meningkat.

Ketika di Eropa dalam setahun hanya menghasilkan satu jenis tanaman, wilayah pertanian Daulah Islam bisa menghasilkan tiga atau lebih jenis tanaman tiap tahun secara bergilir. Hasilnya, di sepanjang wilayah yang menjadi sentra pertanian tumbuh ratusan varietas biji-bijian, sayuran, kacang-kacangan dan buah-buahan.

Wilayah yang dulunya sepi dan ditinggalkan penduduk, tumbuh menjadi daerah padat penduduk yang produktif bertani. Mereka dapat memenuhi kebutuhan pangan negara hingga berlebih dan menjadi negara eksportir. Seorang sejarawan menulis, “Sistem pertanian muslim Spanyol adalah the most complex, the most scientific, the most perfect, ever devised by the ingenuity of man.”[9]

Tak jarang Khilafah mengirimkan bantuan pangan ke berbagai negara yang mengalami bencana kelaparan. Seperti kasus ‘the great hunger’ yang melanda Irlandia hingga satu juta orang meninggal pada 1845-1852 M.

Khilafah Utsmaniyah menyiapkan bantuan 10.000 sterling untuk membantu petani Irlandia. Karena ditolak Ratu Victoria, akhirnya dikirimkan 2.000 sterling saja ditambah 5 kapal besar berisi makanan, sepatu, dan keperluan lain senilai 10.000 sterling (yang dikirim secara diam-diam).

The Great Hunger atau The Great Famine, periode di mana wabah dan kelaparan besar-besaran menimpa rakyat Irlandia selama rentang 1845-1849 M. | Ilustrasi: irishcentral.com

Solusi Islam

Perlu dicatat, kunci keberhasilan tersebut bukanlah semata-mata karena kemajuan teknologi. Akan tetapi kesuksesan itu terletak pada tata kelola pertanian dan pangan yang berpijak pada syariat Islam dan dijalankan dengan konsep politik yang sahih.

Keseriusan Khilafah menciptakan teknologi atau mengadopsinya dari berbagai bangsa sesungguhnya didorong oleh kewajiban dan rasa tanggung jawab politiknya, sebagaimana yang ditetapkan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam sebagai raain (pelayan) dan junnah (pelindung) umat.

“..Imam (Khalifah) raa’in (pengurus rakyat) dan dia bertanggung jawab terhadap rakyatnya” (HR Ahmad, Bukhari)[10].

Dalam hadis lain Rasulullah Saw. bersabda, “Khalifah itu laksana perisai tempat orang-orang berperang di belakangnya dan berlindung kepadanya….” (HR Muslim).

Berdasar kedua fungsi ini, Khilafah menjalankan tanggung jawabnya secara penuh melayani hajat masyarakat. Dalam hal pangan, Khilafah mengurusi masyarakat mulai dari menjamin ketersediaannya secara cukup (aspek produksi), mendistribusikannya secara merata sampai dipastikan setiap individu rakyat terpenuhi makanannya, serta menjamin keamanan pangan yang beredar adalah halal dan thayyib.

Untuk itu, niscaya Khilafah akan menyelenggarakan riset-riset untuk pengembangan alat dan teknologi, membangun industri untuk memproduksi alat-alat tersebut, lalu mendistribusikannya kepada rakyat. Keseluruhan pembiayaan ditanggung penuh oleh baitulmal, bukan dengan skema kerja sama/KPS yang memberi ruang bagi korporatisasi.

Khilafah dapat pula membagikan alat dan teknologi ini secara gratis kepada petani-petani yang tidak mampu, sehingga mereka dapat memproduksikan lahannya secara maksimal. Di sisi lain, Khilafah juga bertanggung jawab mengedukasi para petani, baik tentang pengetahuan dan teknologi pertanian, juga hukum syariat seputar pertanian.

Khilafah juga membuat peta riset yang sejalan dengan visi negara Khilafah, mendorong dan membiayai riset-riset di perguruan tinggi dan lembaga-lembaga riset untuk produktif menghasilkan karya dan inovasi. Semuanya dalam kontrol Khilafah dan semata-mata ditujukan untuk menjalankan politik dalam dan luar negerinya.

Dengan politik ekonomi Islam yang dijalankan di bawah kendali penuh Khilafah ini, maka teknologi benar-benar akan membawa kemaslahatan bagi seluruh rakyat. Pertanian yang maju dan berkembang pun akan mudah diraih. Pemenuhan pangan secara memadai dan merata pun akan terwujud.

Lebih dari itu, pemenuhan pangan seluruh individu masyarakat tidaklah dengan meningkatkan produksi semata. Problem krusial justru pada aspek distribusi. Karena itulah, selain menggenjot produksi, Khilafah memiliki perhatian besar dalam aspek distribusi dengan menjalankan mekanisme khas yang sesuai syariat Islam.

Konsep ini sangat berbeda dengan kapitalisme neoliberal yang hanya berorientasi pada peningkatan produksi, sementara distribusi dibiarkan dengan mekanisme harga. Sehingga meskipun produksi pangan surplus, namun akses pangan tetap sulit.

Khatimah

Kunci menuju terwujudnya ketahanan dan kedaulatan pangan bukan terletak pada modern atau tidaknya teknologi yang digunakan. Namun pada konsep pengelolaan yang dijalankan.

Kapitalisme neoliberal selalu menjanjikan kemajuan teknologi akan memperbaiki kehidupan rakyat dan lebih menyejahterakan, namun realitasnya tidak pernah terwujud. Kesejahteraan yang ditawarkan hanyalah semu yaitu untuk segelintir orang, sedang kemiskinan makin akut dan kelaparan makin meluas.

Kinilah saatnya kembali kepada Islam yang memiliki konsep pengelolaan pertanian yang unggul dan membawa kesejahteraan, karena dijalankan oleh pemerintahan Khilafah yang bertanggung jawab sebagai pelayan dan pelindung rakyat.

Bahkan, di masa teknologi belum semaju saat ini pun, Khilafah telah membuktikan mampu menyejahterakan rakyatnya serta membawa kebaikan kepada bangsa-bangsa lain.

Firman Allah Subhanahu wata’ala,

“Tidakkah kamu perhatikan bagaimana Allah telah membuat perumpamaan kalimat yang baik seperti pohon yang baik, akarnya teguh dan cabangnya (menjulang) ke langit, pohon itu memberikan buahnya pada setiap musim dengan seizin Rabbnya. Allah membuat perumpamaan-perumpamaan itu untuk manusia supaya mereka selalu ingat.” (QS. Ibrahim: 24-25)

“Dan perumpamaan kalimat yang buruk seperti pohon yang buruk, yang telah dicabut dengan akar-akarnya dari permukaan bumi, tidak dapat tetap (tegak) sedikit pun.” (QS. Ibrahim: 26). Wallahu a’lam bi ash showab. [MNews]


Referensi:

[1] https://bisnis.tempo.co/read/1131160/revolusi-industri-4-0-teknologi-mekanisasi-pertanian-digenjot

[2] https://ekbis.sindonews.com/read/1362752/34/era-revolusi-industri-40-sektor-pertanian-harus-efisien-1544770529

[3] https://ekbis.sindonews.com/read/1362752/34/era-revolusi-industri-40-sektor-pertanian-harus-efisien-1544770529

[4] https://www.pertanian.go.id/home/?show=news&act=view&id=3399

[5] https://ekbis.sindonews.com/read/1338231/34/kementerian-pertanian-serius-tangani-korporasi-petani-1536916098

[6] https://republika.co.id/berita/ekonomi/makro/17/09/12/ow5s7e382-ini-konsep-korporasi-petani-yang-akan-dikenalkan-jokowi

[7] https://tirto.id/swasembada-beras-ala-soeharto-rapuh-dan-cuma-fatamorgana-c2eV

[8] https://phys.org/page2.html

[9] http://muslimheritage.com/article/muslim-contribution-spanish-agriculture

[10] Hizbut Tahrir. Ajhizatu Daulatilkhilafah. Darul Ummah. Beirut. 2015. Hal. 49

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *