; Wahai Pemuda! Jadilah Pejuang Tangguh Laksana Zubair - Muslimah News

Wahai Pemuda! Jadilah Pejuang Tangguh Laksana Zubair

“Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.” -Sabda Rasulullah Saw.

MuslimahNews.com, KISAH INSPIRATIF — Zubair bin Awwam, salah satu sahabat Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam yang termasuk orang-orang yang ber-Islam di masa-masa awal. Zubair termasuk tujuh orang pertama yang masuk Islam dan perintis perjuangan di rumah Arqam. Kala itu usia Zubair baru 15 tahun, namun ia telah diberi petunjuk, cahaya, dan kebaikan saat masih belia.

Zubair adalah sahabat yang mulia. Ia termasuk 10 orang yang dijamin masuk surga walaupun belum meninggal dunia. Ia salah seorang dari enam ahli syura’, yang memusyawarahkan pengganti khalifah Umar bin Khaththab, ini merupakan pengakuan terhadap keilmuan dan kematangannya.

Sewaktu Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mempersaudarakan para sahabat di Makkah sebelum hijrah, beliau mempersaudarakan Thalhah dengan Zubair. Sudah sejak lama Nabi Saw. bersabda tentang keduanya secara bersamaan, seperti sabda beliau, “Thalhah dan Zubair adalah tetanggaku di surga.”

Keduanya masih kerabat Rasulullah. Thalhah masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Murrah bin Ka’ab, sedangkan Zubair masih keturunan kakek buyut Rasulullah yang bernama Qusai bin Kilab. Shafiyah, ibu Zubair, juga bibi Rasulullah.

Sifai-Sifat Zubair

Zubair adalah seorang yang berbudi tinggi dan berakhlak mulia. Keberanian dan kepemurahannya bagai dua kuda yang digadaikan.

Ia juga seorang pebisnis sukses. Harta kekayaannya melimpah ruah. Semuanya ia dermakan untuk kepentingan Islam, hingga saat mati mempunyai utang.

Kedermawanan, keberanian, dan pengorbanannya bersumber dari sikap tawakalnya yang sempurna kepada Allah. Karena dermawannya, sampai-sampai ia rela mendermakan nyawanya untuk Islam.

Zubair ahli menunggang kuda sejak kecil. Bahkan, ahli sejarah menyebutkan bahwa pedang pertama yang dihunuskan untuk membela Islam adalah pedang Zubair bin Awwam.

Di masa-masa awal, saat jumlah kaum muslimin masih sedikit dan masih bermarkas di rumah Arqam, terdengar berita bahwa Rasulullah terbunuh. Zubair langsung menghunus pedang lalu berkeliling kota Makkah laksana tiupan angin kencang, padahal usianya masih muda belia.

Yang pertama kali dilakukannya adalah mengecek kebenaran berita tersebut. Seandainya berita itu benar, ia bertekad menggunakan pedangnya untuk memenggal semua kepala orang-orang kafir Quraisy atau ia sendiri yang gugur.

Di satu tempat, di bagian kota Makkah yang agak tinggi, ia bertemu Rasulullah. Rasulullah menanyakan maksudnya. Ia menceritakan berita yang ia dengar dan menceritakan tekadnya. Maka, beliau berdoa agar Zubair selalu diberi kebaikan dan pedangnya selalu diberi kemenangan.

Sekalipun Zubair seorang bangsawan terpandang, namun ia juga merasakan penyiksaan Quraisy. Orang yang disuruh menyiksanya adalah pamannya sendiri. Ia pernah diikat dan dibungkus tikar, lalu diasapi hingga kesulitan bernapas. Saat sang paman memintanya untuk keluar dari keislamannya, ia menolak dan tidak akan kembali kepada kekafiran untuk selama-lamanya.

Sifat Terpuji Zubair bin Awwam

حَدَّثَنَا أَحْمَدُ بْنُ مُحَمَّدٍ أَخْبَرَنَا عَبْدُ اللَّهِ أَخْبَرَنَا هِشَامُ بْنُ عُرْوَةَ عَنْ أَبِيهِ عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الزُّبَيْرِ قَالَ كُنْتُ يَوْمَ الْأَحْزَابِ جُعِلْتُ أَنَا وَعُمَرُ بْنُ أَبِي سَلَمَةَ فِي النِّسَاءِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا أَنَا بِالزُّبَيْرِ عَلَى فَرَسِهِ يَخْتَلِفُ إِلَى بَنِي قُرَيْظَةَ مَرَّتَيْنِ أَوْ ثَلَاثًا فَلَمَّا رَجَعْتُ قُلْتُ يَا أَبَتِ رَأَيْتُكَ تَخْتَلِفُ قَالَ أَوَهَلْ رَأَيْتَنِي يَا بُنَيَّ قُلْتُ نَعَمْ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يَأْتِ بَنِي قُرَيْظَةَ فَيَأْتِينِي بِخَبَرِهِمْ فَانْطَلَقْتُ فَلَمَّا رَجَعْتُ جَمَعَ لِي رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَبَوَيْهِ فَقَالَ فِدَاكَ أَبِي وَأُمِّي

Telah bercerita kepada kami Ahmad bin Muhammad telah mengabarkan kepada kami ‘Abdullah telah mengabarkan kepada kami Hisyam bin ‘Urwah dari bapaknya dari ‘Abdullah bin Az Zubair berkata,

Pada hari perang Ahzab, aku dan ‘Umar bin Abu Salamah berada dekat dengan kaum wanita lalu aku melihat-lihat ternyata aku dapatkan Zubair berada di atas kudanya bolak-balik menuju Bani Quraizhah dua atau tiga kali.

Setelah kembali aku bertanya, “Wahai Ayahku, aku melihatmu berbolak-balik”. Dia bertanya, “Apakah benar kamu melihatku, wahai Anakku?”. Aku jawab, “Ya, benar”. Dia berkata, “Karena sebelumnya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, ‘Siapa yang dapat mendatangi Bani Quraizhah lalu membawa kabar mereka kepadaku?’.

Maka aku berangkat dan tatkala aku kembali, aku dapati Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam menyertakan kedua orang tua beliau sebagai tebusan bagiku dengan sabdanya, “Tebusanmu adalah bapak dan ibuku”. (Hadis Sahih Al-Bukhari No. 3442)

Terlibat dalam Pertempuran

Zubair ikut dalam perjalanan hijrah ke Habasyah dua kali. Kemudian ia kembali untuk mengikuti semua peperangan bersama Rasulullah, hingga tidak satu pun peperangan yang tidak ia ikuti. Banyaknya bekas luka pedang dan tombak di tubuhnya adalah bukti keberanian dan kepahlawanannya.

Seusai Perang Uhud, sewaktu pasukan Quraisy sedang dalam perjalanan pulang ke Makkah, Zubair dan Abu Bakar diperintahkan Rasulullah memimpin kaum muslimin mengejar mereka (Quraisy) agar mereka menganggap kaum muslimin masih mempunyai kekuatan, sehingga mereka tidak berpikir untuk menyerbu Madinah.

Abu Bakar dan Zubair membawa 70 tentara muslim. Sekalipun Abu Bakar dan Zubair sebenarnya sedang mengikuti satu pasukan yang menang perang dan berjumlah jauh lebih besar, namun kecerdikan dan siasat yang dipergunakan keduanya berhasil mengecoh mereka.

Pasukan Quraisy menyangka bahwa pasukan yang dipimpin Abu Bakar dan Zubair adalah pasukan perintis dan di belakang pasukan ini masih ada pasukan yang jauh lebih besar. Tentu saja ini membuat mereka takut. Mereka pun mempercepat langkah menuju Makkah.


Di perang Yarmuk, Zubair memerankan satu pasukan tersendiri. Ketika banyak prajuritnya yang lari ketakutan melihat jumlah pasukan Romawi yang begitu banyak, ia berteriak, “Allaahu Akbar”, lalu menyerbu pasukan Romawi sendirian dengan pedangnya.

Ia sangat rindu untuk syahid. Ia berkata, “Thalhah bin Ubaidillah memberi nama anak-anaknya dengan nama nabi-nabi padahal tidak ada nabi setelah Muhammad SAW. Karena itu, aku memberi nama anak-anakku dengan nama para syuhada dengan harapan mereka syahid.”

Nama anak-anaknya adalah Abdullah dari nama Abdullah bin Jahsy; Mundzir dari nama Mundzir bin Amru; Urwah dari nama Urwah bin Amru; Hamzah dari nama Hamzah bin Abdul Muthalib; Ja’far dari nama Ja’far bin Abi Thalib; Mushab dari nama Mushab bin Umair; dan Khalid dari nama Khalid bin Sa’id. Seperti itulah, semua anaknya diberi nama dengan nama-nama para syuhada dengan harapan bisa syahid seperti mereka.

Zubair percaya dengan kemampuannya di medan perang, dan itulah kelebihannya. Meskipun pasukannya berjumlah 100 ribu prajurit, namun ia seakan-akan sendirian di arena pertempuran. Seakan-akan dia sendiri yang memikul tanggung jawab perang. Keteguhan hati di medan perang dan kecerdasannya dalam mengatur siasat perang adalah keistimewaannya.

Ketika pengepungan terhadap bani Quraidzah sudah berjalan lama tanpa membawa hasil, Rasulullah menugaskan Zubair dan Ali bin Abi Thalib. Keduanya berdiri di depan benteng musuh yang kuat dan berkata, “Demi Allah, mari kita rasakan apa yang dirasakan hamzah. Atau, akan kita buka benteng mereka.”

Keduanya lalau melompat ke dalam benteng. Dengan kecerdasannya, ia berhasil membuat takut orang-orang yang berada dalam benteng dan berhasil membuka pintu benteng, sehingga pasukan Islam berhamburan menyerbu ke dalam benteng.

Di perang Hunain, suku Hawazin yang dipimpin Malik bin Auf menderita kekalahan yang memalukan. Tidak bisa menerima kekalahan yang diderita, Malik beserta beberapa prajuritnya bersembunyi di sebuah tempat, mengintai pasukan Islam dan bermaksud membunuh para panglima Islam. Ketika Zubair mengetahui kelicikan Malik, ia langsung menyerang mereka seorang diri dan berhasil mengobrak-abrik mereka.

Begitu sayangnya Rasulullah kepada Zubair. Beliau bahkan pernah menyatakan kebanggaannya atas perjuangan Zubair. “Setiap nabi mempunyai pembela dan pembelaku adalah Zubair bin Awwam.”

Wafatnya Zubair

Sebelum meninggal, Zubair berpesan kepada anaknya untuk melunasi utang-utangnya, “Jika kamu tidak mampu melunasinya, mintalah kepada pelindungku.”

Sang anak bertanya, “Siapa pelindung yang Ayah maksud?” Zubair menajwab, “Allah! Dialah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.”

Di kemudian hari, sang anak bercerita, “Demi Allah, setiap kali aku kesulitan membayar utangnya, aku berkata, ‘Wahai Pelindung Zubair, lunasilah utangnya.’ Maka Allah melunasi utangnya.”

Di perang Jamal, seperti yang tersebut dalam kisah Thalhah, perjalanan hidup Zubair berakhir.

Setelah ia mengetahui duduk permasalahannya lalu meninggalkan peperangan, ia dikuntit sejumlah orang yang menginginkan perang tetap berkecamuk. Ketika Zubair sedang melaksanakan salat, mereka pun menikam Zubair.

Setelah itu, si pembunuh pergi menghadap Khalifah Ali, mengabarkan bahwa ia telah membunuh Zubair. Ia berharap kabar itu menyenangkan hati Ali karena yang ia tahu, Ali memusuhi Zubair.

Ketika Ali mengetahui ada pembunuh Zubair yang hendak menemuinya, ia langsung berseru, “Katakanlah kepada pembunuh Zubair putra Shafiah bahwa orang yang membunuh Zubair tempatnya di neraka.”

Ketika pedang Zubair ditunjukkan kepada Ali, ia menciumnya. Lalu ia menangis dan berkata, “Demi Allah, sekian lama pedang ini melindungi Nabi dari marabahaya.”


Begitulah kisah heroik seorang Zubair bin Awwam. Patut kita renungkan, mengapa para pemuda saat ini tidak memiliki keberanian dan semangat keislaman seperti Zubair kecil? Zubair percaya akan janji-janji Allah dengan surga-Nya. Lalu, tidakkah kita tergiur pula dengan janji-janji Allah dengan berbagai kenikmatan surga?

Sebagaimana firman-Nya “Sesungguhnya orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal-amal saleh, mereka diberi petunjuk oleh Tuhan mereka karena keimanannya, di bawah mereka mengalir sungai- sungai di dalam syurga yang penuh kenikmatan. (QS: Yunus: 9).”

Wahai Para Pemuda, jadilah pemuda seperti Zubair dan para pejuang Islam lainnya, yang tidak gentar membela Islam, bertahan pada keimanannya meski mendapat ancaman sana sini, bahkan rela mengorbankan nyawa demi kemenangan Islam.

Semoga kemenangan Islam kelak lahir dari tangan para pemuda layaknya Zubair bin Awwam. [MNews | Disarikan dari berbagai sumber]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *