; 1924, Titik Balik Kaum Muslimin – Muslimah News

1924, Titik Balik Kaum Muslimin

Pada 1924, pemerintahan Islam yang telah berlangsung hampir 1.300 tahun lamanya dipaksa berakhir. Mustafa Kemal Ataturk ‘berhasil’ meruntuhkan Khilafah Islamiyah. Pengaruh Islam atas dunia internasional semakin memudar dan terpinggirkan oleh negara-negara kapitalis.


Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia / ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Di pusat pemerintahan Islam sendiri terjadi proses sekularisasi yang memiriskan hati kaum muslimin. Sejak dibubarkannya Khilafah Islamiyah pada 3 Maret 1924, Kementerian Syariah dan Awqaf dihapuskan, jabatan Syaikhul Islam dihilangkan, dan semua sekolah keagamaan dinonaktifkan.

Mustafa Kemal Ataturk, penguasa diktator Turki yang menyebabkan Khilafah Utsmaniyah berakhir dan menginisisasi Turki menjadi negara sekuler pada 1924.

Tindakan-tindakan radikal ini kemudian memancing kemarahan sebagian kaum muslimin. Muncullah perlawanan Kurdi pada Februari 1925 dipimpin oleh Syekh Said. Namun, perlawanan ini berhasil dipadamkan oleh rezim Kemalis (Nutuk, pp. 517-524, dinukil oleh Mohammad Rasyid Feroze, Islam and Secularism in Post-Kemalis Turkey, Islamabad, 1976, p.86).

Untuk melanggengkan kekuasaannya dan untuk mempermudah upaya mengubah Turki menjadi bagian tak terpisahkan dari peradaban Barat, pada 1927 Undang-Undang Darurat untuk memelihara ketertiban diperbarui dan diberlakukan sejak 1929.

Pada September 1925, rezim Kemalis mengeluarkan sebuah keputusan yang berisikan larangan memakai pakaian agama oleh orang yang tidak memegang jabatan keagamaan. Semua pegawai sipil diwajibkan memakai setelan dan topi Barat.

November 1925, rezim Kemalis juga mengeluarkan keputusan mengenai kewajiban bagi laki-laki untuk memakai topi, sedangkan memakai turbus adalah sebuah kejahatan.

Desember 1925, mulai dipergunakan penanggalan Gregorian dan Kemal menyerang pemakaian cadar oleh wanita (H.A. Mukti Alam, Islam dan Sekulerisme di Turki Modern, 1994, Penerbit Djambatan, Jakarta).

Pemerintahan Turki juga mengadopsi Undang-Undang Sipil Swiss, dan bentuk lengkap Undang-Undang Sipil Turki diputuskan untuk menggantikan Undang-Undang Sipil dari Syariah sejak 4 Oktober 1926. Poligami dilarang. Perkawinan wanita muslim dengan laki-laki kafir diperbolehkan. Semua orang yang sudah dewasa diberi hak untuk mengubah agama mereka, jika mereka mau (Feroze, op.cit, p. 87).

Undang-Undang yang diputuskan oleh Dewan Nasional Agung pada 3 November 1928 mewajibkan penggunaan tulisan latin bagi bangsa Turki (Cf. Bernard Lewis, The Emergence of Modern Turkey, London, 1961, p.479).


Kita pantas bergidik dengan keputusan yang dikeluarkan oleh pemerintah Turki pada 1932. Saat itu diputuskan untuk mengganti azan dengan bahasa Turki. Keputusan ini disiarkan Kantor Kepresidenan Urusan Agama.

Azan versi Turki ini dipersiapkan secara khusus oleh Himpunan Linguistik dan melodinya disetujui oleh Konservatori Musik Nasional, Ankara. Pada 1933, dikeluarkan suatu keputusan bahwa azan berbahasa Arab adalah sebuah pelanggaran. Keputusan ini membuat kemarahan besar rakyat Turki (op.cit, p. 407-408).

Itulah alasan mengapa tahun 1924 menjadi titik balik kaum muslimin sedunia. Di mana kita tidak lagi memiliki institusi yang bisa melindungi kehormatan umat Islam, menjaga keamanan, dan memenuhi kebutuhan-kebutuhan (bahkan) yang mendasar seperti pangan, sandang, dan papan.

Ironisnya, sebagian besar kaum muslimin tidak menyadari dan memahami bahwa bencana terbesar bagi keberlangsungan ajaran Islam kafah adalah runtuhnya Khilafah Islamiyah ini.

Bahkan sejak abad 19 Masehi, kaum muslimin sudah tidak lagi mengenal sistem pemerintahan Islam yang mulia itu. Yang ada, Khilafah Islamiyah justru dianggap membahayakan dan mengancam.

Sungguh menyedihkan. 1924 menjadi tahun titik balik kaum muslimin menuju kemerosotannya ke jurang yang dalam. Wallahu a’lam bish-shawwab. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *