; Perempuan dalam Jebakan UMKM - Muslimah News

Perempuan dalam Jebakan UMKM

Pandangan Barat atas pemberdayaan ekonomi perempuan hanya dilandaskan pada aspek ekonomi semata. Kapitalisme menjadikan perempuan sebagai tumbal kesejahteraan dan mengabaikan perannya sebagai ibu generasi.


Oleh: Arum Harjanti

MuslimahNews.com, ANALISIS – Indonesia mengambil peran penting dalam rangkaian pertemuan Asia-Pacific Economic Cooperation (APEC) Women and the Economy Forum (WEF) 2019 yang diselenggarakan pada 30 September – 5 Oktober 2019 di La Serena, Chile.

Pertemuan tersebut membahas berbagai upaya untuk mendorong penguatan kemajuan perempuan dalam ekonomi. Kebijakan peningkatan pasar tenaga kerja inklusif, menghilangkan gender gap dalam pemberian upah dan pendidikan, meningkatkan kapasitas perempuan dalam mendukung ekonomi digital dan revolusi industri, mendorong partisipasi di bidang STEM (Science, Technology, Engineering, and Mathematics), dan penguatan kapasitas institusi ekonomi kreatif melalui kerja sama antara pemerintah dan swasta menjadi rekomendasi perhelatan itu.[1]

Fokus pemberdayaan ekonomi perempuan masih menjadi catatan utama karena paranoia para pegiat gender tentang diskriminasi dan ketidaksetaraan gender. Terlebih lagi, tahun 2030 –yang ditargetkan pencapaian SDGs dan terwujudnya Planet 50×50– makin dekat, sementara belum ada satu negara pun yang dapat mewujudkan kesetaraan gender.

Perkara itulah yang disampaikan Direktur Eksekutif UN Women dalam pertemuan Menteri Pemberdayaan Perempuan Negara-Negara G7 pada Mei 2019 lalu di Paris.[2]

Bagi Indonesia, peningkatan peran perempuan dalam bidang ekonomi sangat penting. Perempuan sebagai pelaku ekonomi memiliki potensi besar dalam berkontribusi membangun ketahanan ekonomi Indonesia.[3]

Mereka banyak berkiprah dalam usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Oleh karena itu, usulan Indonesia dalam rangkaian pertemuan APEC Women and the Economy Forum (WEF) 2019 sesuai dengan realitas tersebut.

UMKM Tulang Punggung Perekonomian

Direktur Jenderal Pajak (DJP) Robert Pakpahan menyebutkan UMKM menjadi tulang punggung perekonomian Indonesia,[4] yakni menyumbang PDB hingga 60,34 persen.[5]

Analis UMKM yang juga Wakil Bendahara Umum Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI) Suhaji Lestiadi mengungkapkan, sektor UMKM dan koperasi mampu menjadi penyangga sistem perekonomian nasional dalam menghadapi resesi ekonomi global, sebagaimana terjadi pada 1998 lalu.[6]

Kementerian Koperasi dan UKM RI melaporkan bahwa pada 2017, UMKM memiliki pangsa sekitar 99,99% (62.9 juta unit) dari total keseluruhan pelaku usaha di Indonesia, dan menyerap sekitar 97% tenaga kerja nasional.[7]

Adapun UMKM yang dikelola perempuan sebanyak 64,5% dari total UMKM Indonesia di 2018, atau mencapai 37 juta UMKM, dan kontribusi pendapatan perempuan pada 2018 telah mencapai 36,7%.[8]

Pada 2018, kontribusi UMKM yang dikelola perempuan terhadap PDB mencapai 9,1 persen. Sementara kontribusinya terhadap ekspor lebih dari 5 persen.[9]

Namun faktanya, mayoritas perempuan memiliki keterbatasan modal dan juga adanya tanggung jawab ganda.[i] International Finance Corporation (IFC) menemukan “kurangnya kepemilikan properti, pengalaman bisnis, keterbatasan mobilitas, dan ketergantungan yang lebih besar pada suami dan keluarga” menjadi penghambat pertumbuhan dan perkembangan dari UMKM milik perempuan.[10]

Sementara Chief Operating Officer PT Katadata Indonesia Ade Wahyudi menyampaikan, perempuan pelaku UMKM menghadapi kesulitan dalam mendapatkan akses pengembangan keterampilan, pengembangan produk, manajemen keuangan, tata kelola perusahaan, dan pemasaran.[11]

Infografik Perempuan dan UMKM tahun 2018. Sumber: Kumparan.

Oleh karena itu, dapat dipahami mengapa Indonesia mengusulkan untuk memperkuat UMKM dan meningkatkan kemampuan perempuan dalam bidang STEM, terlebih dalam era Revolusi Industri 4.0 ini.

Begitu berartinya peningkatan peran perempuan Indonesia ini sehingga mendapatkan dukungan dari berbagai pihak, seperti Google, FaceBook[12] dan Investing in Womens -sebuah inisiatif Pemerintah Australia yang mempromosikan pemberdayaan ekonomi perempuan di Asia Tenggara-.[13]

Berbagai dukungan dan bantuan itu seolah menunjukkan betapa dunia global berkepentingan akan meningkatnya jumlah UMKM yang dikelola oleh perempuan di Indonesia.

Mereka meyakini bahwa peningkatan peran perempuan dalam bidang ekonomi tidak saja akan meningkatkan pertumbuhan ekonomi negara, namun juga dunia. Hal itu seolah menjadi jawaban apa yang dicuitkan oleh UN Women Asia Pacific tanggal 20 April 2019 lalu.

Akun @unwomenasia menuliskan, “When women are empowered and earn an income, they invest back into their families and communities. This is good for families, communities and economies.” [Terjemahan: Ketika para perempuan diberdayakan dan mendapatkan penghasilan, mereka berinvestasi kembali ke keluarga dan komunitas mereka. Ini bagus untuk keluarga, komunitas, dan ekonomi.

Cuitan itu ibarat membuktikan hasil laporan McKinsey Global Institute (MGI) yang dipublikasikan September 2015. Laporan itu menyebutkan bahwa dalam skenario potensi penuh perempuan, yaitu perempuan memainkan peran yang identik dalam pasar tenaga kerja dengan laki-laki, maka PDB tahunan global pada 2025 dapat bertambah sebanyak $28 triliun, atau 26 persen.[14]

Perangkap UMKM

Asisten Deputi Bidang Kesetaraan Gender Kementerian PPPA, Muhammad Ihsan mengatakan, perempuan sebagai pelaku ekonomi memiliki potensi besar dalam berkontribusi membangun ketahanan ekonomi Indonesia.[15]

Meningkatnya jumlah UMKM yang dikelola oleh para perempuan menjadi salah satu bentuk pemberdayaan ekonomi perempuan (PEP). PEP sendiri merupakan salah satu wujud kesetaraan gender, yang menjadi program global yang harus diwujudkan sesuai dengan amanat Deklarasi Beijing pada 1995.

Kementerian PPPA sendiri sejak 2016 sudah menginisiasi adanya Industri Rumahan (IR) sebagai salah satu cara mewujudkan kesetaraan gender melalui program Three Ends.

Pembentukan Industri Rumahan ini merupakan upaya untuk mengakhiri poin ketiga dalam program Three Ends, yaitu mengakhiri kesenjangan akses ekonomi bagi perempuan.[16]

Tiga poin Program Three Ends (Tiga Akhiri).

Peningkatan partisipasi perempuan dalam UMKM tentu saja akan makin menggairahkan perekonomian. Perempuan yang berdaya secara ekonomi dianggap dapat membantu meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Dalam laporan McKinsey Global Institute (MGI), “The power of parity: How advancing women’s equality can add $12 trillion to global growth.” Bahkan, disebutkan dalam skenario potensi penuh di mana perempuan memiliki peran yang identik dengan pria di pasar kerja, dapat menambahkan $28 triliun, atau 26 persen pada PDB tahunan global pada 2025.[17]


Itulah pandangan Barat atas pemberdayaan ekonomi perempuan, yang hanya dilandaskan pada aspek ekonomi semata. Kapitalisme menjadikan perempuan sebagai tumbal kesejahteraan dan mengabaikan perannya sebagai ibu generasi.

Pemberdayaan perempuan membuat perempuan menjadi mandiri secara finansial. Perempuan dipaksa membiayai hidupnya sendiri. Negara abai akan nasib warga negaranya sendiri. Perempuan terpaksa menjadi autopilot karena negara tidak mengurusinya. Bahkan, negara juga abai akan nasib generasi penerus yang lahir dari rahimnya.

Di sisi lain, pemberdayaan ekonomi perempuan dan kesetaraan gender juga membuat perempuan diaruskan untuk terjun dalam dunia kerja sebagaimana laki-laki.

Kesetaraan gender memaksa perempuan untuk disamakan dengan laki-laki dan menunaikan tanggung jawab laki-laki. Kesetaraan gender yang mendambakan terwujudnya Planet 50×50 memaksa perempuan untuk melupakan kodratnya sebagai perempuan.

Yang tak bisa dipungkiri, secara tidak langsung, upaya meningkatkan laju pemberdayaan ekonomi ini ternyata sejalan dengan rencana Countering Violence Extremism.

Barat menganggap, tersibukkannya perempuan mengelola, membesarkan, dan mengembangkan UMKM-nya akan mengalihkannya dari kajian-kajian ekstrem.

Karena jelas sulit membagi konsentrasi terhadap pengembangan bisnis dengan optimalisasi mengurus masalah keumatan. Apalagi, acap kali perhatian serius terhadap masalah dakwah akan menyebabkan perempuan makin terikat dengan aturan syariat, yang bisa jadi akan banyak bertentangan dengan tata cara bisnis kapitalistik.

Islam Memuliakan Perempuan

Islam menetapkan perempuan adalah istri dan ibu generasi, bukan pemilik kewajiban untuk mencari nafkah. Islam menetapkan laki-laki lah yang wajib mencari nafkah. Islam juga memiliki mekanisme untuk menanggung nafkah perempuan dan anak-anaknya dalam kondisi tertentu, sehingga perempuan tetap dapat menjalankan perannya sebagai ibu generasi.

Ilustrasi: masjed.ir

Islam memberikan keleluasaan untuk menuntut ilmu, termasuk dalam bidang STEM sekalipun. Islam juga membolehkan perempuan untuk bekerja, namun tidak mewajibkannya sebagai penanggung jawab nafkah, meski untuk dirinya sendiri.

Semua itu karena Allah sudah menetapkan tugas kodrati masing-masing sesuai dengan peran dan fungsi berdasarkan jenis kelaminnya. Dan bukan karena merendahkan perempuan atau menjadikannya sebagai warga kelas dua, namun justru karena memuliakannya.

Dan yang tak boleh dilupakan, keterlibatan perempuan dalam urusan keumatan –yang acap kali disebut radikal atau ekstrem- justru menjadi pangkal menyebarluaskan kemuliaan Islam. Juga menjadi jalan bagi perempuan untuk melepaskan dilema hidup dalam kesengsaraan akibat penerapan ideologi kapitalisme.

Melalui dakwah, perempuan akan melakukan tugas terhormat karena menyebarluaskan harapan akan kemuliaan Islam. Karena, kemuliaan perempuan akan terwujud sempurna ketika aturan Islam diterapkan secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan, dalam bangunan Khilafah Islamiyah.[MNews]


[1]https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2359/bahas-isu-pemberdayaan-perempuan-di-apec-wef-2019-indonesia-dorong-perempuan-kuasai-stem

[2]https://www.unwomen.org/en/news/stories/2019/5/speech-ed-phumzile-g7-ministerial-meeting

[3]https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2086/peran-industri-rumahan-dalam-pemberdayaan-ekonomi-perempuan

[4]https://nasional.kontan.co.id/news/umkm-dorong-pertumbuhan-ekonomi

[5]https://www.liputan6.com/bisnis/read/3581067/umkm-sumbang-60-persen-ke-pertumbuhan-ekonomi-nasional

[6]https://www.wartaekonomi.co.id/read251927/umkm-dan-koperasi-pondasi-utama-hadapi-resesi-ekonomi-global.html

[7] https://www.ukmindonesia.id/baca-artikel/62

[8] https://www.ekon.go.id/press/view/siaran-pers-kembangkan.5020.html

[9]https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/pnxf89313/perempuan-miliki-potensi-kembangkan-umkm

[10]https://www.idntimes.com/business/economy/rosa-folia/perempuan-pegiat-umkm-sang-tulang-punggung-ekonomi-nasional

[11]https://nasional.republika.co.id/berita/nasional/umum/pnxf89313/perempuan-miliki-potensi-kembangkan-umkm

[12]https://www.idntimes.com/business/economy/rosa-folia/perempuan-pegiat-umkm-sang-tulang-punggung-ekonomi-nasional/full,

[13]https://republika.co.id/berita/pob8bq366/nasional/umum/19/03/06/pnxf89313-perempuan-miliki-potensi-kembangkan-umkm

[14]https://www.mckinsey.com/featured-insights/employment-and-growth/how-advancing-womens-equality-can-add-12-trillion-to-global-growth

[15]https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/2086/peran-industri-rumahan-dalam-pemberdayaan-ekonomi-perempuan

[16]https://www.kemenpppa.go.id/index.php/page/read/29/910/press-release-menteri-pp-dan-pa-three-ends-strategi-mengakhiri-kekerasan-terhadap-perempuan-dan-anak

[17]https://www.mckinsey.com/featured-insights/employment-and-growth/how-advancing-womens-equality-can-add-12-trillion-to-global-growth


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *