; 'Anger Management' menurut Islam - Muslimah News

‘Anger Management’ menurut Islam

“Setiap emosi manusia tidak boleh dibiarkan tersalurkan sesuai dengan pikiran manusia yang terbatas.”


MuslimahNews.com, NAFSIYAH – Sebagai manusia, kita menunjukkan berbagai emosi ketika berinteraksi dengan orang lain. Kemarahan adalah salah satunya. Kita menunjukkan kemarahan kita sebagian besar ketika kita tidak menyetujui tingkah laku seseorang, atau ketika harga diri kita terluka.

Anda mungkin sudah menyaksikan diskusi keluarga di ruang tunggu, di mana terjadi perselisihan karena masalah politik atau agama yang menyebabkan kemarahan beberapa individu. Sayangnya, kemarahan itu terkadang demi ego kita semata, bukan demi Allah Subhanahu wata’ala.

Kemarahan yang bukan karena Allah, bisa jadi murni untuk diri kita sendiri. Bagi kebanyakan orang, mungkin ini terdengar oke dan adil saja. Namun, setiap emosi manusia tidak boleh dibiarkan tersalurkan sesuai dengan pikiran manusia yang terbatas.

Apabila Anda kebetulan tinggal di kota besar, kemungkinan besar Anda akan menyaksikan contoh kemarahan yang berlebihan, akibat sekadar masalah kecil -mungkin di jalan atau bahkan ketika mengantre di supermarket.

Sedihnya, di mana ada kisah-kisah malang terkait insiden kemarahan, di sana pula ada contoh di mana seharusnya muncul cerminan emosi atau rasa marah dari orang-orang atas sesuatu yang terjadi di depan umum, tetapi ternyata tidak ada apa-apa.

Sebaliknya, hanya ada keheningan dan sama sekali tidak ada emosi atau reaksi. Inilah yang disebut ‘bystander apathy’* khususnya untuk masyarakat yang kebarat-baratan.

Anda bisa lihat, masyarakat kapitalis memunculkan individualisme, di mana rakyat didorong oleh manfaatnya. Jelas, nilai ini kemudian memengaruhi cara mereka berinteraksi satu sama lain di masyarakat.

Sehingga, seseorang mungkin menunjukkan rasa marah jika ada yang melecehkan mereka secara verbal, tetapi tidak bereaksi sedikit pun ketika melihat kehormatan orang lain dipertaruhkan.

Karenanya, ini adalah bukti, bahwa rasa marah –seperti semua emosi lainnya– membutuhkan pengaturan oleh Sang Pencipta umat manusia.

Jadi, apa pendapat Islam tentang ‘kemarahan’?

Sesungguhnya, merasa marah adalah fenomena alami. Bertolak belakang dengan keyakinan banyak orang dalam komunitas muslim, tidaklah terlarang dalam Islam untuk merasa marah.

Berbeda dengan kapitalisme sekuler di mana nilai-nilai berputar di sekitar kepentingan pribadi, Islam menjadikan keridaan Allah sebagai pusat atau poros dari semua aktivitas. Alquran menjelaskan, aktivitas mana yang mendapat pahala, dan mana yang menimbulkan murka Allah.

Dalam sunah Muhammad (saw), bisa kita lihat bahwa ada banyak contoh di mana Rasulullah menjadi marah karena Allah. Saat Nabi (saw) melihat para Sahabat terlibat dalam hal-hal yang bertentangan dengan syariat, maka beliau saw. akan menegur mereka dan menunjukkan kekesalannya.

Misalnya, ketika Rasulullah saw. melihat mereka berselisih tentang masalah yang berkaitan dengan keputusan Allah (Qadha wal Qadar), atau ketika Nabi melihat tanda-tanda nasionalisme di dalamnya, atau bahkan saat beliau melihat gambar binatang di tirai di rumah Aisyah (ra.). Semua ini mencontohkan saat Rasulullah tidak menyetujui perilaku orang-orang di sekitarnya.

Bahkan istrinya, Aisyah (ra.), pernah menceritakan tentang Rasulullah Saw.,

“Dan Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam tidak pernah merasa dendam untuk dirinya, kecuali jika itu berhubungan dengan pelanggaran terhadap kehormatan Allah, maka beliau dendam karena (demi) Allah.” ( Hadis Abu Daud Nomor 4153)

Hal ini menunjukkan kepada kita bahwa nilai yang sedang dicari –ketika Nabi marah– tidak pernah bersifat pribadi, melainkan sebagaimana Aisyah (ra.) katakan: Demi Allah.

Maka dalam Islam, kemarahan adalah tergantung konteksnya.

Menunjukkan rasa marah terhadap saudara muslim Anda karena dia gagal memahami sudut pandang Anda, tidaklah dianjurkan dalam Islam. Sementara, marah pada penindasan yang disebabkan oleh kuffar dan sekutu mereka pada umat kita adalah wajib.

Tangisan umat kita, mengisi hati kita dengan kesedihan dan kegeraman. Hari demi hari, kita melihat anak-anak ditarik keluar dari puing-puing bangunan, serta para ibu memegang anak-anak mereka yang kelaparan di lengan-lengan mereka.

Meskipun demikian, jangan sampai kita kehilangan pemikiran ideologis kita pada saat kita mengeluhkan kondisi kita. Akar masalah penyebab korupsi dan pertumpahan darah di tanah kaum muslimin tidak lain adalah akibat ketiadaan sistem pemerintahan Khilafah.

Ketiadaan ini (khilafah) yang menyebabkan diterapkannya hukum kufur, korupsi para penguasa Muslim, dan menyebarnya budaya kufur di tanah kita.

Sebagai Muslim, kita harus memperbaiki nilai-nilai kita sesuai Islam. Tak hanya harus menempatkan rasa marah kita pada hal-hal yang membuat Allah marah, tetapi kita juga harus berpikir secara ideologis tentang penyebab sesungguhnya dari penderitaan umat ini.

Janganlah kita memboroskan emosi kita secara membabi buta, melainkan mengikuti sunah dan berjuang untuk menyatukan umat Islam di bawah panji-panji Islam, yang akan membebaskan umat manusia dari kesengsaraan dan penindasan yang ada saat ini. [MNews/GZ]

Diterjemahkan oleh redaksi Muslimah News dari episode siaran radio yang dapat didengarkan di sini: “Nafsiya Reflections: Anger Management”.

*Catatan: Bystander Apathy atau Bystander Effect merupakan suatu fenomena dalam psikologi sosial, ketika seseorang membutuhkan pertolongan tapi orang di sekitarnya tidak ada yang membantu. Situasi di mana orang hanya memilih untuk menjadi pengamat, menyaksikan bahaya yang terjadi, namun tidak melakukan apa pun untuk membantu atau menghentikan kejadian tersebut. (pijarpsikologi.org)


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *