Mahfud: Proyek Perang Melawan Radikalisme Merugikan Umat Islam, Menguntungkan Barat

“Proyek radikalisme ini akan menguntungkan Barat.”


MuslimahNews.com, BERITA – Mantan Wakil Panglima TNI 1999-2000, Jenderal (Purn.) Fachrul Razi, mengejutkan publik pascaterpilih sebagai Menteri Agama (Menag) untuk Kabinet Indonesia Maju periode 2019-2024. Salah satu fokus yang diinstruksikan Presiden Joko Widodo adalah menangani radikalisme.

Menyoal ini, Fachrul Razi mengaku akan mengkaji lebih dalam apa saja yang sudah dilakukan kemenag untuk melakukan langkah-langkah simultan selanjutnya.

Fachrul Razi diwawancarai wartawan setelah pelantikan kabinet, Ahad (20/10/2019). | Foto: dok. Humas Kemenag RI.

Menanggapi hal ini, Direktur Indonesia Change, Mahfud Abdullah, mengingatkan pemerintah bahwa sejatinya perang melawan radikalisme adalah proyek Barat untuk menjaga kepentingannya.

Dilansir dari mediaumat.news, Mahfud mengatakan sesungguhnya proyek ini akan menguntungkan Barat.

“Yakni untuk menguasai dunia dengan sistem kapitalisme sekulernya. Proyek radikalisme ini akan menguntungkan Barat,” ujar Mahfud pada Jumat (24/10/2019).

Menurut Mahfud, yang akan dirugikan dalam proyek perang melawan radikalisme ini bukan hanya kelompok-kelompok Islam, tapi seluruh umat Islam.

“Siapa yang dirugikan dengan proyek radikalisme ini? Jelas umat Islam secara keseluruhan. Bukan hanya kelompok-kelompok Islam yang selama ini aktif dalam perjuangan penegakan syariah Islam secara kafah melalui institusi khilafah,” papar Mahfud.

Pemerintah Indonesia, menurut Mahfud, dengan kacamata subjektifnya menganggap radikalisme secara dominan adalah gejala yang lahir dari tafsiran teologi yang menyimpang. Namun, lanjutnya, pemerintah abai terhadap realitas gejala sosial dari meluasnya apatisme dan frustasi sosial akibat kemiskinan, ketidakadilan, ketidakpastian masa depan, dan tekanan hidup yang berat.

Baca juga:  Deradikalisasi yang Membelah Umat
Ilustrasi kemiskinan di Indonesia.

“Situasi itu korelatif dengan peran imperialisme global yang dikomandani Amerika Serikat. Maka, berapa pun anak-anak negeri ini yang ditembak mati karena alasan terorisme, sesungguhnya tidak akan bisa memadamkan potensi lahirnya “teroris-teroris” baru, jika faktor kompleks termasuk di dalamnya kezaliman global oleh dunia Barat terhadap dunia Islam tetap ada dan diabaikan,” urai Mahfud

Oleh karena itu, Mahfud mengingatkan umat Islam untuk lebih kritis terhadap upaya stigmatisasi istilah radikalisme.

Sementara itu, pengamat politik Retno Sukmaningrum mengungkapkan, isu radikalisme seolah dipelihara di negeri ini, karena setiap peristiwa apa pun di negeri ini senantiasa ditarik ke sana (radikalisme, ed.).

“Sangat sulit dicerna akal sehat, kejadian di Wamena dituduh pula akibat berkembangnya gerakan radikal (Islam) di sana. Padahal nyata-nyata yang menginginkan disintegrasi dari Indonesia adalah gerakan OPM (Organisasi Papua Merdeka),” ungkap Retno.

Retno juga menerangkan, beberapa tujuan penting isu perang melawan terorisme dijadikan alasan umum untuk memerangi pemikiran, organisasi, atau perjuangan yang berusaha melawan ideologi, kepentingan ekonomi-politik, dan imperialisme Barat atas negeri-negeri kaum Muslim.

‘Dengan kata lain, isu perang melawan terorisme sejatinya dimaksudkan untuk mengukuhkan penjajahan dan dominasi Barat atas negeri-negeri kaum Muslim,” ungkap Retno.

Baca juga:  Blunder Tragedi Penusukan, Saatnya Islam Raih Kepemimpinan

Selain menangani radikalisme, hal lain yang diinstruksikan Jokowi kepada Fachrul untuk ditangani adalah masalah ekonomi umat, industri halal, bahkan urusan haji. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *