; Kiprah Para Ulama yang Diidam-idamkan Umat (Bagian 2/2) - Muslimah News

Kiprah Para Ulama yang Diidam-idamkan Umat (Bagian 2/2)

“Ulama yang kita maksud adalah Ulama Akhirat. Yakni ulama yang takut pada Allah karena dia ‘alim (berpengetahuan luas) tentang Allah, serta ‘alim terhadap batasan-batasan yang ditetapkan Allah, serta apa-apa yang difardukan-Nya.”


Oleh: Yuana Ryan Tresna

MuslimahNews.com, TSAQAFAH — Masih tentang ulama, al-Qadhi Ibn Iyadh berkata[18], “Ulama itu adalah ibarat ‘bunganya’ umat ketika musim semi. Apabila orang sakit melihatnya, kalaulah tidak menyembuhkan paling tidak akan meringankan. Apabila orang fakir melihatnya, dia (orang fakir, ed.) merasa menjadi kaya”.

Rasanya ini cukup bagi kita untuk menggambarkan apa dan bagaimana ulama itu.

Hujjatul Islam Abu Hamid al-Ghazali dalam kitab Ihya’ Ulumuddin mengklasifikasikan ulama menjadi dua kategori besar, Ulama Dunia atau Ulama Su’, dan Ulama Akhirat.

Ulama Dunia ciri-cirinya antara lain adalah menjadikan ilmu untuk mendapatkan kenikmatan duniawi serta sebagai sarana untuk memperoleh kemasyhuran dan popularitas. Sedangkan Ulama Akhirat sebaliknya[19].

Jadi, ulama yang kita maksud adalah Ulama Akhirat. Yakni ulama yang takut pada Allah karena dia ‘alim (berpengetahuan luas) tentang Allah, serta ‘alim terhadap batasan-batasan yang ditetapkan Allah, serta apa-apa yang difardukan-Nya.

Bagaimana aktualisasi ulama saat ini?

Riilnya adalah seperti yang digambarkan oleh Syekh Ali Bin Haj ulama terkemuka FIS, dalam kitabnya Fashlul Kalam fii Muwajahati Dzulmil Hukkam[20].

Pertama, ulama yang memadukan ilmu dan amal. Yaitu ulama yang connected antara ilmu yang dia kuasai dengan aktivitas yang dia lakukan. Kedua, selalu membela dan memperjuangkan hak-hak umat.

Bagi kita, sebenarnya pernyataan para salafush shalih saja sudah lebih dari cukup untuk memahami kedudukan para ulama dalam Islam. Al-hasan misalnya, dia berkata[21], “Kalaulah bukan karena ulama, maka manusia akan seperti hewan ternak”.

Yahya bin Mu’adz menegaskan[22], “Ulama itu lebih menyayangi umat Muhammad dibanding bapak dan ibu mereka. Ketika dia ditanya mengapa begitu? Dia menjawab karena bapak dan ibunya menjaga mereka dari neraka dunia, sedangkan ulama menjaga mereka dari neraka akhirat”.

Secara singkat, Imam Fakhruddin ar-Razi di dalam tafsir Mafatihul Ghaib fii At-tafsir menjelaskan, bahwa di dalam Alquran Allah mendeskripsikan tentang ulama dengan lima “manaqib”.

Pertama, tentang keimanannya, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 7. Kedua, tentang tauhid dan syahadat, sebagaimana firman Allah dalam QS. Ali ‘Imran ayat 18. Ketiga, banyak menangis, sebagaimana firman Allah salam QS. Al-Isra’ ayat 109. Keempat, khusyu’ sebagaimana firman Allah dalam QS. Al-Isra’ ayat 107. Dan kelima adalah takut (pada Allah), sebagaimana firman Allah dalam sQS. Fathir ayat 28.[23]

Peran ulama saat ini?

Sebelum membahas hal tersebut, ada baiknya kita memotret sekilas kondisi objektif kita, kaum muslimin. Allah berfirman di dalam Alquran QS. Ar-Rum ayat 41,

ظَهَرَ الْفَسَادُ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ بِمَا كَسَبَتْ أَيْدِي النَّاسِ لِيُذِيقَهُمْ بَعْضَ الَّذِي عَمِلُوا لَعَلَّهُمْ يَرْجِعُونَ

Al-hafidz Asy-syaukani dalam tafsir Fathul Qadir menjelaskan pengertian ayat di atas, bahwa sesungguhnya syirik dan maksiat itu merupakan sebab zhahir-nya “fasad” di dunia[24].

Sedangkan Imam Abul ‘Aliyyah sebagaimana dikutip oleh al-Hafidz Ibn Katsir dalam tafsirnya menjelaskan, bahwa siapa yang maksiat pada Allah di atas bumi, sungguh dia telah menimbulkan kerusakan di bumi, karena baiknya bumi dan langit adalah dengan ketaatan (pada Allah)[25].

Jadi, dalam perspektif Islam, fasad atau kerusakan yang selama ini terjadi, seperti banjir, tanah longsor, krisis sosial, penjajahan ekonomi, dan campur tangan asing pada hampir seluruh dimensi kehidupan, begitu pula dengan hilangnya kemerdekaan kita, adalah buah perbuatan maksiat yang kita lakukan.

Tentu peran ulama dalam mengupayakan menghilangkan kefasadan multidimensional itu adalah penting sekali. Mengapa?

Karena pada diri para ulama terpadu dua hal yang istimewa. Pertama. pemahaman tentang Allah yang akan melahirkan sikap hanya takut pada azab Allah, sikap ikhlas, serta taat pada Allah. Kedua, pemahaman tentang batasan-batasan atau larangan-larangan yang telah ditetapkan Allah, serta hal-hal yang difardukan oleh-Nya, yang diperlukan untuk melaksanakan ketaatan pada Allah.

Mengutip penjelasan Syekh Ali Bilhaj di atas bahwa ciri ulama adalah terpadunya ilmu dan amal pada dirinya, serta selalu membela hak-hak masyarakat. Dengan ilmunya para ulama sangat paham bahwa menerapkan hukum Allah adalah merupakan konsekuensi akidah kita.

Bahkan, kita memahami hal tersebut juga dari para ulama. Guru-guru kita, baik di pesantren, kulliyatul mua’allimin, majelis taklim, pengajian, maupun di sekolah dan di perguruan tinggi.

Pada saat yang sama, kita juga mengetahui bahwa kita sebagai rakyat telah lama hak-hak kita terabaikan. Kita terus menerus terzalimi. Pendidikan mahal, perawatan kesehatan semakin tidak terjangkau, BBM langka, harga-harga bahan pokok melambung tinggi; lebih menyedihkan lagi kita dipaksa untuk berhadapan dengan kenyataan bahwa jaminan keamanan, terutama harta saat ini telah menjadi ‘makhluk’ langka. Ketika kita ditimpa bencana, pemerintah juga lebih sering lamban, dst.

Dalam hadis yang diriwayatkan oleh Imam Abu Dawud[26], At-tirmidzi[27], Ad-darimi[28], Ibnu Hibban[29], dan Imam Ath-thabarani[30] serta Ath-thahawi[31] Rasulullah SAW menegaskan:

… وَإِنَّ الْعُلَمَاءَ وَرَثَةُ الْأَنْبِيَاءِ وَإِنَّ الْأَنْبِيَاءَ لَمْ يُوَرِّثُوا دِينَارًا وَلَا دِرْهَمًا وَرَّثُوا الْعِلْم…

“… Bahwa ulama adalah ahli waris para nabi. Dan para nabi itu tidak mewariskan dinar atau dirham, tapi mewariskan ilmu….

Jadi, suatu hal yang maklum kalau para ulama, sosok yang menonjol adalah keberadaannya sebagai ahli waris para Nabi; yakni dakwah dan ilmu (tentang dien).

Secara singkat, kiprah ulama dalam partai politik paling tidak ada tiga poin.

Pertama, bersama-sama dengan kaum muslimin menempatkan diri pada garda terdepan dalam melakukan aktivitas kolektif yang sifatnya wajib kifa’i. Yakni dakwah ilal khair; yakni berdakwah untuk mengajak pada Islam dan (penerapan) syariah, serta amar makruf nahi mungkar.

Mengapa berada di garda terdepan? Karena dengan paduan ilmu dan amal para ulama, tentunya Ulama Akhirat, memiliki isthitha’ah (kemampuan, ed.) di atas kaum muslimin pada umumnya dalam berdakwah ilal khair serta amar makruf nahi mungkar.

Bukankah Imam al-Qurthubi di atas telah menegaskan bahwa yang (lebih) diwajibkan melaksanakan perintah Allah dalam Surah Ali ‘Imran : 104 di atas adalah para ulama?

Kedua, dengan tidak diterapkannya hukum Allah dalam kehidupan bernegara dan bermasyarakat, maka kewajiban kita –kaum muslimin terutama para ulama- adalah memperjuangkan penerapan hukum Allah pada seluruh aspek kehidupan, atau dengan istilah lain isti’naf al-hayah al-islamiyyah (melanjutkan kehidupan Islam) dengan iqamah ad-daulah al-khilafah. Kewajiban berhukum pada hukum Allah ini adalah konsekuensi akidah kita.

Tentu para ulama tahu wajibnya menjelaskan pada masyarakat, bahwa adanya imam atau khalifah untuk menerapkan hukum Allah, menolong sunahnya, membela yang dizalimi, serta menempatkan hak-hak pada tempatnya adalah fardu kifayah. Ini amanah ilmu.

Rasulullah SAW menegaskan, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Imam Ibn Majah, sanksi yang akan diberikan di hari kiamat kelak bagi yang mereka yang kitman (menyembunyikan, ed.) terhadap ilmu dengan sabda beliau[32]:

مَا مِنْ رَجُلٍ يَحْفَظُ عِلْمًا فَيَكْتُمُهُ إِلَّا أُتِيَ بِهِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ مُلْجَمًا بِلِجَامٍ مِنْ النَّارِ

“Tidaklah seorang laki-laki yang menghafal satu ilmu lalu dia menyembunyikannya kecuali dia akan didatangkan pada hari kiamat dalam keadaan (diberi) kekang dengan (kekang) dari api neraka”.

Alhasil, tidak seorang ulama pun yang mempersoalkan kewajiban ini. Selama kewajiban ini belum tertunaikan, maka kewajiban tersebut tetap terbebankan pada seluruh kaum muslim yang terkena taklif. Tentunya para ulama lebih wajib dibanding yang lain.

Namun, masih ada sebagian dari kita yang tidak melaksanakan kewajiban tersebut karena alasan tidak mampu. Dan bukankah Allah tidak membebankan kewajiban lebih dari yang kita mampu?

Benar… bahwa Allah tidak akan membebankan di pundak kita kewajiban yang di luar kemampuan kita. Begitulah penjelasan Imam al-Hafidz ibn Katsir[33] dan Imam Al-qurthubi[34] ketika menjelaskan firman Allah Ta’ala QS. al-Baqarah ayat 286:

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”

Pertanyaannya, apakah nasbul khalifah litathbiqi syari’atillah merupakan kewajiban yang di luar batas kemampuan kita? Memang… kalau kewajiban tersebut hanya dilaksanakan oleh individu-individu kaum muslimin, tentu akan melampaui batas kemampuan mereka. Tapi bukankah kewajiban nasbu al-khalifah tersebut adalah fardu kifayah? Kewajiban yang dibebankan terhadap kita kaum muslimin secara umum terutama para ulama?

Artinya, selama kewajiban tersebut belum tertunaikan maka kewajiban nashbul khalifah tetap dibebankan di atas pundak kita, seluruh kaum muslimin. Tentu diam dan tidak memperjuangkan hal tersebut tanpa udzur syar’i tidak bisa dikategorikan tidak mampu, apatah lagi menghambat atau menentang perjuangan tersebut.

Ketiga. Masih menurut Syekh Ali bin Hajj, ciri ulama yang berikutnya adalah selalu membela hak-hak umat. Bagaimana?

Dengan dua hal.

Pertama, menyadarkan umat akan hak serta kewajiban mereka. Dengan menjelaskan fakta yang sebenarnya terjadi serta mengungkapkan secara jujur dan ikhlas bagaimana asing telah men-set up seluruh segmen kehidupan sehingga mereka bisa menguasai seluruh urat nadi ekonomi, melakukan kontrol total terhadap sistem politik dan sosial tanpa peduli terhadap nasib masyarakat. Tentu hal ini membutuhkan kemampuan berfikir politik yang prima.

Kedua, melakukan muhasabah terhadap penguasa. Inilah kurang lebih kiprah para ulama yang diidam-idamkan oleh umat. Wallahu a’lam. [MNews]

Baca Bagian Pertama: https://www.muslimahnews.com/2019/10/22/kiprah-para-ulama-yang-diidam-idamkan-umat-bagian-1-2/

Sumber: Tulisan Ustaz Yuana Ryan Tresna berjudul “Ulama dan Aktivitas Politik”.


[19] Lihat Hujjatul Islam Abu Hamid Al-ghazali, Ihya’ Ulumuddin, Juz I hal 62-65

[20] Lihat Asy-Syekh Abu Abdul Fatah Ali bin Haj, Fashlul Kalam fii Muwajahati Dzulmil Hukkam, hal 255-258

[21] Lihat Syekh Ali bin Hajj, Fashlul Kalam fii Muwajahati Dzulmil Hukkam, hal 255

[22] Idem hal 255-256

[23] Lihat Imam Fakhruddin Ar-razi, Mafatihul Ghaib fii At-tafsir, Juz I hal 458

[24] Lihat Imam Al-hafidz Asy-saukani, Fathul Qadir, Juz V hal 475

[25] Lihat Imam Al-hafidz Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil Adzim, juz VI hal 320

[26] Lihat Imam abu Dawud, Sunan Abu Dawud, Juz X hal 49

[27] Lihat Imam At-tirmidzi, Sunan at-tirmidzi, Juz IX hal 296

[28] Lihat Imam Ad-darimi, Sunan Ad-darimi, Juz I hal 383

[29] Lihat Imam Ibn Hibban Al-basthi, Shahih Ibn Hibban, Juz I hal 171

[30] Lihat Imam Ath-thabarani, Musnad Asy-syamiyyin, juz IV hal 175

[31] Lihat Imam Al-hafidz Ath-thahawi, Musykilul Atsar, Juz II hal 465

[32] Lihat Imam Ibn Majah, Sunan Ibn Majah, juz I hal 305

[33] Lihat Imam al-hafidz Ibn Katsir, Tafsirul Qur’anil adzim, juz I hal 737

[34] Lihat Imam Al-qurthubi, Al-jami’ li Ahkamil Qur’an, Juz III hal 429


Bagaimana menurut Anda?

Satu tanggapan untuk “Kiprah Para Ulama yang Diidam-idamkan Umat (Bagian 2/2)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *