Menjemput Perubahan Hakiki dan Abadi

Kulihat Ibu Pertiwi
Sedang bersusah hati
Air matanya berlinang
Mas intannya terkenang
(Ismail Marzuki)


Oleh: Henyk Widaryanti (Aktivis Muslimah dan Perubahan)

MuslimahNews.com, OPINI — Rintihan lirih penuh arti membersamai setiap tetes linangan air matamu. Engkau lunglai, letih, dan pedih menyaksikan daging-daging terkoyak oleh kebuasan sang predator. Sakit yang begitu tajam, menghujam pusat sanubari kehidupan. Membuatmu membiru, kaku, dan pilu tiada berdaya.

Begitulah kiranya perasaan Ibu Pertiwi saat melihat berbagai kerusakan melanda negeri ini. Sebut saja masalah utang, sudah bukan rahasia lagi utang kita mencapai Rp4.570 triliun per Juni 2019. Capaian utang yang cukup besar sepanjang sejarah.

Di sisi lain Sumber Daya Alam (SDA) dikuasai asing. Tahun 2018 saja 74% SDA negeri ini telah dikuasai asing. Tambang terbesar di negeri ini pun penguasanya adalah asing. Seperti tambang emas di Papua, tambang geotermal di Jawa Barat, tambang batu bara di Kalimantan, dan tambang minyak bumi di berbagai tempat.

Masalah impor pun masih menggelayuti bangsa ini. Hampir seluruh kebutuhan primer dan sekunder semua berasal dari impor. Bahkan, kita yang notabene negara agraris dan maritim malah impor beras, bawang merah, bawang putih, kedelai, dan garam.

Satu masalah belum usai, timbul masalah lainnya. Sebut saja masalah korupsi. Negeri ini tercatat memiliki Indeks Persepsi Korupsi (IPK) nomor 4 se-ASEAN. Indeks persepsi dengan nomor 0 berarti negara tersebut paling banyak terjadi kasus korupsi. Artinya, negeri ini cukup banyak pelaku korupsinya.

Uang rakyat banyak yang dikorupsi, di lain pihak rakyat justru banyak dipalak. Berbagai kebijakan tentang pajak kini menghiasi kehidupan sehari-hari rakyat. Mulai dari pajak pendapatan/penghasilan, pajak kendaraan, pajak bumi dan bangunan, pajak perdagangan/pembelian/penjualan, dll, hingga kewajiban membayar asuransi kesehatan, alias BPJS. Semua itu ditanggung rakyat.

Padahal, tingkat kemiskinan masih tergolong banyak sekitar 25,14 juta jiwa, meskipun turun menjadi 9,41% per Maret 2019. Artinya jumlah penduduk miskin masih ada, bahkan ada beberapa wilayah naik. Seperti NTT, Sulawesi Utara, Kep. Riau, Papua, Kalimantan Barat, dan Maluku Utara. (cnbcindonesia.com)

Dunia pergaulan juga menghadapi masalah. Sebagai contoh kasus seks bebas, narkoba, aborsi, bahkan LGBT menghantui masyarakat. Dari anak-anak hingga dewasa. Kejahatan pun mengintai setiap saat. Kasus perkosaan, perampokan, pembunuhan, tawuran, dll juga menambah miris negeri ini.

Di balik masalah negeri ini, politik pun mengalami guncangan. Setelah adanya kebijakan-kebijakan yang dirasa kurang memihak rakyat. Timbul masalah-masalah baru. Kasus meninggalnya ratusan KPPS pascapemilu yang tak selesai, bangkitnya mahasiswa dari tidur panjangnya –dengan tuntutan menolak Revisi Undang-Undang KPK, RKUHP, RUU PKS, UU Pemasyarakatan, dan UU lainnya–. Bahkan di antara mereka ada yang menjadi korban.

Belum lagi kasus pemecatan sepihak/pencopotan jabatan beberapa ASN yang dinilai anti-Pancasila; persekusi pada kelompok-kelompok yang dituduh radikal; bahkan menegatifkan beberapa istilah dalam Islam, seperti, khilafah, jihad, dll.


Puluhan masalah yang menghampiri negeri ini sudah melewati batas kewajaran. Oleh karena itu, perlu mencari titik pangkal masalahnya. Pasalnya, kondisi negeri ini bagaikan bangunan yang berdiri kelihatan megah, tapi sudah rusak sana-sini, banyak tambalan. Bahkan pondasinya pun telah rapuh. Sehingga, kita perlu memperbaiki bangunan ini.

Akar Permasalahan yang Sesungguhnya

Ibarat sebuah bangunan, kekukuhan bangunan dilihat dari pondasinya. Jika kuat pondasi bangunan, maka bangunan itu akan berdiri kukuh. Namun, jika rapuh pondasinya, maka bangunan di atasnya tidak bertahan lama.

Begitu pun negara, pondasinya adalah arah pandang dalam menyelesaikan masalah. Istilah “bekennya”: akidahnya.

Negeri mayoritas muslim ini mengambil kapitalisme sebagai panduan aturannya, dengan demokrasi sebagai sistem pemerintahannya. Kapitalisme ialah sebuah ideologi yang berakidah memisahkan agama dengan kehidupan (sekularisme). Di mana segala sesuatu berdasarkan kesenangan materi yang didapat. Walhasil, sistem pemerintahannya pun mengacu pada pandangan tersebut.

Meskipun dikatakan dari rakyat, oleh rakyat, dan untuk rakyat, pada kenyataannya tidaklah semanis prinsipnya. Aturan yang dipakai diserahkan pada sekelompok “yang mengaku wakil rakyat”. Namun, kebijakan yang diambil tak mendukung keinginan rakyat. Buktinya dengan lahir keputusan yang merugikan masyarakat.

Prinsip dasar dari sekularisme juga menghalalkan segala cara untuk mencapai tampuk kekuasaan. Pesta demokrasi yang menghabiskan dana puluhan hingga ratusan juta, praktik-praktik serangan fajar, atau ketidakjujuran lainnya menghiasi pesta ini. Oleh karena itu, politik kekuasaan selalu identik dengan uang dan pemodal.

Kondisi seperti ini tidaklah manusiawi. Tanpa kontrol agama, manusia akan cenderung mengikuti hawa nafsunya. Akal manusia yang terbatas akan membuat aturan yang sesuai kebutuhannya. Mereka hanya melihat segala sesuatu atas timbangan materi. Sehingga, kita tidak akan pernah bisa berharap banyak dengan sistem seperti ini.

Solusi Tuntas dan Berkualitas

Menyelesaikan masalah ini harus dimulai dari akarnya. Jika suatu bangunan sudah terlihat mau roboh dan pondasinya sudah rapuh, maka yang dilakukan adalah merobohkan dan mengganti pondasinya dengan yang baru. Tentunya tidak akan memakai pondasi yang lama, para konsultan akan menyarankan untuk membangun dari nol.

Sama halnya dengan saat ini, dengan kerusakan yang terjadi dalam segala aspek. Maka, kita perlu mencari pondasi (arah pandang hidup) yang benar. Islam adalah sebuah ideologi. Dalam Islam memandang dunia ini dengan alam sebelum dan setelah dunia ada keterikatan. Allah bertindak sebagai Al-Khaliq dan Al-Mudabbir.

Atas dasar itu, manusia di dunia ini tujuannya hanyalah ibadah. Sebagaimana firman Allah, “Dan Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. Adz Dzariyat : 56)

Oleh karena itu, dalam membuat sistem aturan di negeri, wajib atas dasar ibadah. Islam memiliki sistem pemerintahan sendiri yakni khilafah. Sistem pemerintahan ini berdasarkan keimanan kepada Allah dan aturan yang dibuat dasar sumbernya adalah Alquran dan Sunah.

Seorang pemimpin dalam Islam akan senantiasa memutuskan masalah dengan menjadikan Islam sebagai acuan. Sedangkan akal manusia dipakai untuk memahami masalah dan memikirkan penyelesaian yang sesuai dengan Islam.

Mengambil Islam sebagai Jalan Perubahan Hakiki

“Sesungguhnya Allah tidak mengubah keadaan sesuatu kaum, sehingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar Rad : 11)

Perubahan yang hakiki tidak akan terjadi manakala kita terdiam membisu. Perubahan itu hanya akan terwujud jika kita mengambil pandangan hidup yang benar, serta aturan yang benar.

Allah berfirman, “Sesungguhnya agama di sisi Allah ialah Islam. Tidaklah berselisih orang-orang yang telah diberi Al-Kitab, kecuali setelah mereka memperoleh ilmu, karena kedengkian di antara mereka. Barang siapa yang ingkar terhadap ayat-ayat Allah, maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ali ‘Imran : 19)

Dengan demikian, hanya Islam yang bisa kita ambil untuk meraih hidup yang hakiki. Dengan dasar Islam kita menjadikan negeri ini beriman dan bertakwa kepada Allah. Aturan Islam dilaksanakan dengan sempurna, baik habluminnallah (hubungan dengan Allah), habluminnaf (dengan diri sendiri), dan habluminnas (dengan sesama manusia).

Tak Perlu Ragu Menyuarakan Kebenaran

Memang tidak mudah meyakinkan umat Islam untuk kembali pada Islam. Pasalnya, racun kapitalisme telah masuk merasuki pemikirannya. Sehingga kita perlu mengerahkan segenap daya dan upaya untuk memperjuangkannya.

Bagaimana dengan tindakan represif dan persekusi yang selama ini dialami (umat) Islam? Allah berjanji akan selalu memenangkan Islam atas musuh-musuhnya. Kita tak perlu ragu menyuarakan perubahan hingga ke dasar, karena perubahan hakiki hanya diperoleh dengan perubahan yang benar. Dan itu adalah Islam.

Mereka (musuh Allah) akan menjadikan orang-orang yang memperjuangkan Islam sebagai musuh mereka. Mereka akan menghalalkan segala cara, bahkan menjadikan para pembela Allah sebagai common enemy (musuh bersama). Kita tak perlu ragu, janji Allah itu pasti. Bukankah kenikmatan surga lebih baik dari dunia dan seisinya? Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *