Dicari, Pemimpin yang Dicintai Rakyatnya

Aisyah radhiyallahu‘anha berkata, “Aku mendengar Rasulullah saw bersabda saat di rumahku, ‘Ya Allah, keraslah kepada mereka yang diserahi urusan umatku lalu bersikap kasar pada umatku! Dan baiklah kepada mereka yang diserahi urusan umatku lalu bersikap baik pada umatku!’” (HR. Muslim)


Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia/ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI — Pemimpin dalam sistem Islam kafah haruslah seorang yang perintahnya membuat mayoritas rakyatnya gembira, bukan orang yang membuat rakyatnya berpaling darinya.

Abu Musa berkata, “Saat Rasulullah saw mengirim salah seorang sahabatnya untuk urusan tertentu, beliau akan berkata pada sahabatnya, ‘Buatlah orang senang dan jangan buat mereka berpaling darimu. Bersikaplah lemah lembut dan jangan mengasari mereka.’” (HR. Muslim)

Imam Muslim dan Ahmad meriwayatkan dari Sulaiman bin Buraidah yang menerima dari ayahnya, “Saat Rasulullah saw hendak memilih seorang Amir yang akan memimpin pasukan atau ekspedisi, beliau selalu memerintahkannya agar memiliki ketakwaan dan agar bersikap baik pada para muslim yang bersamanya.” (HR. Muslim, Musnad Ahmad).

Penguasa yang takut dan bertakwa kepada Allah Subhanahu wata‘ala, serta hatinya selalu terpaut kepada Allah Subhanahu wata’ala akan terhindar dari kemungkinan berubah menjadi diktator.

Demikianlah sosok pemimpin yang kita rindukan kehadirannya saat ini. Pemimpin yang bisa mengayomi, adil, dan memiliki kepribadian yang mulia. Yang mengedepankan kemaslahatan dan kepentingan rakyatnya di atas kepentingan pribadi dan golongannya saja. Pemimpin yang bervisi akhirat, yang hanya ada dalam sistem tata kelola pemerintahan yang juga bervisi akhirat.

Demokrasi berbeda. Demokrasi jauh dari visi akhirat. Demokrasi itu sekuler, lahir dari keyakinan bahwa agama harus sepenuhnya terpisah dari politik. Inilah yang menyebabkan penguasa atau pemimpin dalam sistem demokrasi berpeluang untuk menjadi diktator karena tidak memiliki ketakutan kepada Allah Subhanahu wata‘ala atau pertanggungjawaban di akhirat. Ini adalah aspek fundamental.

Tanpa kepatuhan pada Allah Subhanahu wata‘ala, pemimpin dalam sistem demokrasi cenderung terjerumus kedalam sikap diktator jika ia tidak dibatasi oleh berbagai mekanisme pemerintahan yang akuntabel.

Memang, pemimpin dalam sistem Islam kafah sekalipun, bukanlah orang suci, melainkan manusia biasa yang berpeluang juga untuk berbuat salah dan khilaf. Namun, sistem Islam kafah memiliki sejumlah mekanisme akuntabilitas.

Prinsip pertama dan utama dalam sistem pemerintahan Islam adalah supremasi hukum syariat. Aturan hukum dalam sistem Islam kafah sangat dijunjung tinggi. Tak seorang pun di dalam negara yang menerapkan sistem Islam kafah, termasuk pemimpin sendiri, posisinya berada di atas hukum atau memiliki kekebalan (imunitas ) terhadap hukum.

Selain itu, seluruh warga negara baik muslim maupun nonmuslim akan senantiasa mengawasi pemimpin agar tetap melaksanakan tanggung jawabnya dengan benar dan akan dikoreksi jika berbuat salah melalui perantara Majelis Umat.

Meskipun bukan orang yang suci, namun seorang pemimpin dalam sistem Islam kafah harus seorang muslim yang adil. Ia tidak boleh fasik selama memegang jabatannya. Ia adalah orang yang mampu (kapabel) menjalankan tugasnya. Yang paling penting adalah takwa kepada Allah, baik hati, dan bukan seseorang yang tak disukai mayoritas orang. Wallahu a’lam bish-shawwab. [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *