Tsunami PHK Menghantui Dunia

Sistem kapitalisme tak sesuper yang dinarasikan. Sistem ini justru memustahilkan kesejahteraan dan keadilan. Kekayaan hanya berputar pada segelintir orang. Distribusi kekayaan tidak merata.


Oleh: Chusnatul Jannah (Lingkar Studi Perempuan dan Peradaban)

MuslimahNews.com, OPINI — Ekonomi dunia tengah lesu. Menyusul tsunami PHK yang dilakukan perusahaan besar dunia. Pemberhentian Hubungan Kerja (PHK) massal tak hanya menimpa bank-bank dunia. Gelombang PHK mulai merambah perusahaan otomotif dan start-up.

Ada HP yang akan memangkas 10% karyawannya di seluruh dunia; sebanyak 9.000 karyawan akan dirumahkan dalam tiga tahun mendatang. Perusahaan start up, Uber, juga berencana akan merumahkan ratusan karyawannya di seluruh dunia. Sekitar 85% pekerja yang di PHK berada di AS. Sedangkan 10% lainnya di Asia Pasifik dan 5% lain di Eropa, Timur Tengah, dan Afrika. (cnbc, 12/10/2019).

Gelombang tsunami PHK juga merambah ke Indonesia. Beberapa waktu lalu Krakatau Steel merumahkan ribuan pegawainya. Perusahaan mobil asal Jepang, Nissan, juga ikut-ikutan memangkas karyawan. Sekitar 12.500 karyawan Nissan di seluruh dunia di-PHK.

Di Indonesia, Nissan merumahkan 830 pekerja. Bahkan stasiun TV swasta, NET TV, dikabarkan mem-PHK massal karyawannya. Dalam lima tahun kepemimpinan Jokowi gelombang PHK massal masif terjadi. Mulai dari perbankan, perusahaan ritel, hingga start up tak luput dari terjangan tsunami PHK.


Bila didalami, fenomena tsunami PHK yang dilakukan perusahaan-perusahaan besar di seluruh dunia disebabkan beberapa faktor.

Pertama, kalah daya saing.

Persaingan bisnis atau usaha adalah lumrah terjadi. Di mana ada bisnis, daya saing produk akan menghantuinya. Tak ayal, perusahaan yang kalah bersaing akan ditinggalkan customer. Tak segera berinovasi, siap-siap kebangkrutan membayangi.

Kedua, efisiensi pengeluaran.

Cara efektif untuk mengurangi pengeluaran perusahaan adalah dengan memangkas karyawan. Menggaji karyawan dianggap hal yang paling membebani pembiayaan. Oleh karenanya, tak mengherankan bila banyak perusahaan besar lebih memilih merumahkan pekerja untuk menekan biaya produksi.

Ketiga, perkembangan teknologi 4.0.

Revolusi industri 4.0 memiliki efek domino yang luas. Tenaga manusia mulai tergantikan dengan tenaga mesin. Badan usaha apapun harus mampu berevolusi agar tak dianggap ketinggalan zaman. Dengan berkembangnya teknologi, manusia lebih menyukai hal-hal yang sifatnya praktis dan instan.

Sebagai contoh, Hero dan Giant menjadi korban industri 4.0. Gairah belanja offline mulai berkurang sejak bisnis e-commerce menggejala di dunia. Belanja online menjadi pola baru dalam kehidupan masyarakat.

Keempat, kapitalisasi dan liberalisasi industri.

Wajah rimba begitu kentara dalam ekonomi kapitalis. Yang bermodal besar akan mengalahkan pemodal kecil. Pemenang dalam dunia kapitalis adalah pemilik modal terbesar. Sehingga kekayaan dan kepemilikan berbagai sektor industri hanya berputar pada kaum borjuis.

Duo negara super kapitalis masih mendominasi dunia. Yakni AS dan Cina. Tatkala terjadi perang dagang di antara keduanya, negara lain di dunia pasti terkena imbasnya. Terlebih Indonesia yang ‘cuma’ negara berkembang.


Pasar bebas adalah satu di antara penerapan liberalisasi ekonomi di berbagai bidang. Akibat penerapan kapitalis liberal, perusahaan nasional di Indonesia kalah pamor.

Sebut saja Krakatau Steel dan semen lokal. Perusahaan BUMN itu bahkan terancam gulung tikar akibat gempuran produk baja dan semen asal Cina. Tak ada penjagaan negara dalam hal ini. Sebab, Indonesia terikat dengan aturan global ekonomi kapitalis. Mau tidak mau harus legowo menerima konsep pasar bebas ala kapitalis liberal.

Tsunami PHK, Bukti Lemahnya Kapitalisme

Meski AS dan Cina masih menjadi juara dunia, faktanya ekonomi mereka tengah bergejolak. AS mulai ketar-ketir dengan Cina sebagai raksasa baru ekonomi dunia. Posisinya mulai menggeser dominasi AS di berbagai negara. Bahkan diketahui AS sendiri sedang fokus memperbaiki ekonomi dalam negeri mereka.

Di bulan September lalu pertumbuhan ekonomi AS mengalami penurunan sebanyak 0,9 persen. Sementara Cina sedang membangun ambisi dan mimpi besarnya untuk menguasai kawasan Asia dan sekitarnya. Kendati demikian, kelesuan pun turut menimpa mereka.

Survey Reuters menunjukkan ekonomi Cina akan melambat ke 6,2% pada 2019 ini. Ekonomi negara itu bahkan akan semakin suram di 2020 dengan estimasi pertumbuhan 5,9%. (cnbcindonesia, 16/10/2019).

Perang dagang AS-Cina masih akan berdampak pada lesu tidaknya ekonomi. Sebab, dua negara itu menentukan dalam percaturan ekonomi global. Semuanya tidak lepas dari ideologi kapitalis liberal yang diembannya.

Di negara pengembannya saja kapitalis nampak lesu dan tak berdaya, apatah lagi di negara-negara yang menjadi pengekor keduanya. Tentu dampaknya lebih terasa. Sebagaimana yang terjadi di negara berkembang seperti Indonesia.

Sekelumit fakta itu membuktikan bahwa sistem kapitalisme tak sesuper yang dinarasikan. Sistem ini justru memustahilkan kesejahteraan dan keadilan. Kekayaan hanya berputar pada segelintir orang. Distribusi kekayaan tidak merata.

Dalam kapitalisme, kekayaan alam dan aset apapun bisa diperjualbelikan. Alih-alih menjadikannya negara kaya, kapitalisme hanya membuat kaya bagi pemodal dan para investor. Selebihnya rakyat hanya diberi sisa-sisa kekayaan.

Kapitalisme justru menciptakan powerless state. Negara tak memiliki kekuatan di hadapan negara besar. Hal ini banyak dialami negara berkembang. Lebih ironisnya, posisi negara berkembang mayoritas dihuni negeri-negeri muslim.

Islam, Solusi Ekonomi Global

Islam tak hanya berbicara ibadah ritual. Islam memiliki seperangkat aturan yang komprehensif. Dari aturan personal hingga komunal. Dalam Islam, kebebasan diatur sesuai syariat Islam. Tidak ada kebebasan mutlak sebagaimana yang digaungkan kapitalisme.

Sistem Ekonomi menurut pandangan Islam mencakup pembahasan tentang tata cara perolehan harta kekayaan dan pemanfaatannya baik untuk kegiatan konsumsi maupun distribusi.

Asas yang dipergunakan untuk membangun sistem ekonomi menurut Islam berdiri di atas tiga pilar (fundamental): bagaimana harta diperoleh yakni menyangkut kepemilikan (tamalluk), pengelolaan (tasharruf) kepemilikan, serta distribusi kekayaan di tengah masyarakat.

Tiga asas fundamental itu akan menjadi pedoman arah kebijakan sistem ekonomi Islam dalam bernegara. Tidak sekadar mencari keuntungan dan kepuasan individu. Konsep kapitalisme bertentangan dengan fitrah manusia.

Setiap manusia pasti menginginkan kesejahteraan dan keadilan. Di sistem kapitalisme, kesejahteraan rakyat tak diperhitungkan. Mereka hanya peduli manfaat dan keuntungan saja. Tak aneh bila kebijakan negara acapkali jauh dari nilai adil dan sejahtera.

Dengan melihat berbagai fenomena kerusakan kapitalis, ekonomi lesu, dan derivat masalah yang disebabkan kapitalisme, masihkah kita berharap pada sistem yang merusak dan tak manusiawi ini?

Kembalilah pada jalan hakiki. Yaitu mengembalikan kehidupan Islam sebagaimana peradabannya yang mendunia dulu. Allah tak mungkin menetapkan aturan tanpa ada kemaslahatan di dalamnya. Sebagaimana kaidah fikih berbunyi, “Di mana ada syariat Islam, di situ ada maslahat”.

Imam Al-‘Izz bin Abdussalam berkata, “Sesungguhnya syariat itu seluruhnya maslahat, bisa berupa menolak mafsadah (mudarat) atau mendatangkan maslahat.” (Qawa’idul Ahkam, 1/9).

Hal serupa juga diungkapkan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taymiah, “Sesungguhnya syariat Islam datang untuk mewujudkan segala kemaslahatan dan menyempurnakannya serta untuk meniadakan mafsadah dan meminimalkannya.” (Minhajus Sunnah, 1/147). Tiada sempurna Islam tanpa syariat. Tak akan terterapkan syariat tanpa institusinya, yakni Khilafah Islamiyah. Wallahu a’lam. [MNews]


Apa komentar Anda?

Satu tanggapan untuk “Tsunami PHK Menghantui Dunia

  • 22 Oktober 2019 pada 10:28
    Permalink

    Hanya dg sstim ekonomi Islam dlm negara Khilafah yg terbukti bisa mmbawa kesejahteraan & keadilan bg umat

    Balas

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *