Jokowi Menyerukan Perang Lawan Radikalisme. Peneliti: Sangat Tendensius terhadap Islam!

MuslimahNews.com, NASIONAL — Pada Kamis (10/10/2019) laman CNN Indonesia mengabarkan bahwa Presiden Joko Widodo (Jokowi) menyerukan masyarakat untuk bersama-sama memerangi radikalisme dan terorisme, menyusul insiden penusukan yang menimpa Menko Polhukam Wiranto di Pandeglang, Banten, Kamis (10/10/2019).

“Dan pada seluruh masyarakat saya mengajak bersama-sama untuk memerangi radikalisme dan terorisme di tanah air kita. Hanya dengan upaya bersama-sama, terorisme dan radikalisme bisa kita selesaikan dan berantas dari negara yang kita cintai,” ujar Jokowi usai menjenguk Wiranto di RSPAD Gatot Soebroto, Jakarta.

Presiden Jokowi menyerukan masyarakat untuk bersama-sama memerangi radikalisme dan terorisme menyusul insiden penusukan yang menimpa Menkopolhukam Wiranto. (ANTARA FOTO/Akbar Nugroho Gumay)

Pernyataan Jokowi tersebut mendapat tanggapan Direktur el-Harokah Research Center, Achmad Fathoni, melalui tulisannya pada Selasa (15/10/2019). Menurut Achmad, selama ini isu perang melawan radikalisme sangat tendensius dan kentara membidik umat Islam, bukan yang lain. Sehingga, menurut Achmad, pernyataan Jokowi tentu sangat disayangkan publik, khususnya umat Islam di negeri ini.

“Buktinya sangat banyak dan sangat jelas, Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang sudah jelas-jelas melakukan tindakan pembunuhan terhadap ribuan rakyat sipil dan anggota TNI-Polri, tidak pernah dituduh radikal ataupun teroris. Idiom terkait radikalisme hanya menyasar Islam dan umatnya, misalnya: “radikalisme agama”, “Islam radikal”, dll, yang semuanya cenderung berkonotasi negatif pada Islam,” papar Achmad.

Tentu patut disayangkan, lanjut Achmad, karena kini istilah radikal menjadi kata-kata politik (political words) yang cenderung multitafsir, bias, dan sering digunakan sebagai alat penyesatan atau stigma terhadap lawan politik.

“Seperti penggunaan istilah “Islam radikal” yang sering dikaitkan dengan terorisme, penggunaan kekerasan untuk mencapai tujuan, skriptualis (hanya merujuk pada teks) dalam menafsirkan agama, menolak pluralitas (keberagaman) di masyarakat, dan julukan-julukan yang dimaksudkan untuk memberikan kesan buruk terhadap Islam dan umatnya,” tulisnya.

Achmad menegaskan, mengaitkan tragedi penusukan terhadap Menko Polhukam dengan seruan perang melawan radikalisme dan terorisme adalah tindakan yang gegabah, tendensius, dan sangat menyesatkan.

Ada tiga alasan penting, jelas Achmad, mengapa umat Islam khususnya dan bangsa Indonesia umumnya, harus tegas menolak pernyataan Presiden Jokowi tersebut.

Alasan pertama, pernyataan tersebut dirasa sangat gegabah, padahal kasusnya belum diinvestigasi pihak berwenang. Namun, Pemerintah buru-buru menyerukan masyarakat bersama-sama memerangi radikalisme dan terorisme.

“Jelas, ini merupakan tindakan yang gegabah, yang seharusnya tidak boleh terjadi. Sebagai pejabat negara sudah selayaknya memberikan pernyataan yang objektif dan solutif, serta mengedepankan prinsip praduga tak bersalah,” jelas Achmad.

Achmad menengarai, pernyataan tersebut justru makin memperkeruh situasi dan kondisi perpolitikan di negeri ini. Padahal, banyak persoalan yang ada dan mendesak untuk diselesaikan pemegang kebijakan di negeri ini, akan tetapi belum mendapat tanggapan dan solusi yang serius dari pejabat berwenang.

“Misalnya, tragedi kabut asap di sejumlah daerah, belum teratasi secara tuntas. Tragedi Wamena dan beberapa daerah lain di Papua masih membara, belum mendapat penyelesaian yang berarti. Dan masih banyak persoalan bangsa ini yang sangat lambat penyelesaiannya dan membutuhkan tindakan cepat, tepat, dan solutif,” jelasnya.

Alasan kedua, menurutnya mengaitkan tragedi penusukan Menko Polhukam dengan radikalisme juga merupakan tindakan yang sangat tendensius. Seakan-akan jika ada tindakan kejahatan di negeri ini, senantiasa dikaitkan dan dituduhkan terhadap kelompok Islam.

Padahal, papar Achmad, pakar dan peneliti terorisme di Asia Tenggara serta penasihat senior dari International Crisis Group, Sidney Jones, pun mengatakan masih terlalu dini menyebutkan dari kelompok mana pelaku penusukan terhadap Menko Polhukam Wiranto.

“Terlalu dini,” ujar Sidney Jones saat dimintai tanggapan atas dugaan pelaku penusuk Wiranto terkait JAD. “Belum ada info yang jelas,” jelasnya (www.indonesia.org, 10/10/2019).

Lalu alasan ketiga, pernyataan tersebut telah mengonfirmasi bahwa rezim yang berkuasa saat ini sangat antipati dengan Islam dan elemen umat Islam.

“Jika itu yang terjadi, maka umat Islam harus menolak keras sikap dari penguasa saat ini,” tulis Achmad.

Achmad kemudian mengutip ulama KH. Hasan Abdullah Sahal, Pimpinan Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, yang menyoroti istilah radikalisme yang sering dikampanyekan untuk mendiskreditkan Islam.

“Orang yang menuduh Islam itu radikal, dia itu orang radikal. Islam bukan agama radikal, yang mengatakan Islam radikal, itu radikal,” kata KH. Hasan Abdullah Sahal dalam wawancara dengan Majalah Gontor (www.portal-islam.id, Senin  (14/10/2019).

KH. Hasan Abdullah Sahal, ulama kharismatik penerus kepemimpinan Pesantren Modern Gontor. | Foto: gomuslim.co.id

Dengan demikian, Achmad mengimbau umat Islam harus bersatu padu dan merapatkan barisan, serta menjaga ukhuwah Islamiyah dan  menolak tegas upaya pihak-pihak yang mencoba mendiskreditkan Islam, serta dan memecah belah kesatuan kaum Muslimin.

“Ke depan umat Islam harus terus berjuang mewujudkan kembali penguasa Muslim yang amanah dalam sistem yang terbaik yaitu sistem Islam, khilafah Islamiyah. Karena hanya dengan sistem Islam itulah yang bisa mewujudkan pemimpin yang dicintai oleh umat dan rakyat yang dipimpinnya,” tegasnya.

Achmad merujuk pada hadis Nabi shallallahu’alaihi wasallam, “Sebaik-baik Imam (pemimpin) kalian adalah yang kalian cintai dan mereka mencintai kalian. Kalian doakan mereka dan mereka pun mendoakan kalian. Seburuk-buruk Imam (pemimpin) adalah yang kalian benci dan mereka membenci kalian. Kalian melaknat mereka dan mereka juga melaknat kalian.” [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *