Blunder Tragedi Penusukan, Saatnya Islam Raih Kepemimpinan

Tragedi penusukan Menko Polhukam, Jenderal Wiranto, bak dagelan. Alih-alih mengutuk peristiwa tersebut, masyarakat malah mempertanyakan apakah kejadian tersebut rekayasa atau tidak.


Oleh: Kanti Rahmillah, M.Si.

MuslimahNews.com, OPINI – Wajar masyarakat bertanya, selain janggalnya peristiwa penusukan tersebut, pemerintah dinilai sudah berulang kali membohongi publik. Sebut saja kasus Setya Novanto dan hoaks ambulans yang membawa batu saat demonstrasi. Respons publik pun semakin panas dan terpolarisasi saat framing media langsung melabeli Islam teroris sebagai biang keladi.

Menurut Direktur Komunikasi Indonesia Indicator, Rustika Herlambang, dalam acara Indonesia Lawyers Club (ILC) TV One, Selasa (15/10/2019), awalnya 58,4% masyarakat di-drive oleh isu media. Mereka berempati dan memberikan doa pada Wiranto.

Namun dua hari sejak kejadian, isu yang berkembang berubah. Yang awalnya berempati, kini 44,03% mempertanyakan apakah ini settingan atau bukan. Perubahan isu ini, menurut Rustika dikarenakan adanya ruang kosong, alias tidak clear di tengah warganet. Terjadi simpang siur berita yang berakhir pada ketidakpercayaan publik terhadap penguasa.

Kejanggalan Memperbesar Ketidakpercayaan

Berbagai kejanggalan peristiwa penusukan telah membuat masyarakat mempertanyakan apakah ini disebut “Tragedi Penusukan” atau “Drama Penusukan”? Karena baru pertama kali ada seorang pejabat tinggi negara terkena tusukan di depan umum. Apalagi sebelumnya pelaku berjarak sekitar dua meter saja dari Wiranto. Wajar akhirnya masyarakat bertanya, peristiwa ini “Kecolongan”? Atau “Settingan”?

Selain video yang beredar tak menunjukkan jelas proses penusukan, tak satu pun dari pihak rumah sakit yang mengabarkan kondisi Wiranto. Yang memberikan penjelasan kondisi Wiranto justru para pejabat yang keterangannya berbeda-beda dan tak masuk logika, contohnya pejabat yang menyebutkan Wiranto dipotong ususnya sepanjang 40 cm hingga mengeluarkan darah sebanyak 3,5 liter.

Hasilnya, ketidakpercayaan masyarakat semakin besar kepada pemerintah dan pejabat publik. Pasalnya, bukan kali ini saja masyarakat dikibuli. Sudah banyak kasus pembohongan publik yang bermuara pada derita masyarakat.

Mirisnya lagi, Presiden dan para pejabat langsung merespons dengan cepat, berbeda dengan kasus pembakaran hidup-hidup di Wamena atau kematian para pendemo yang menuntut keadilan. Seolah bisu, mereka bungkam dan menutup mata.

Respons Jokowi pun tak terduga, tak lama pascatragedi penusukan, Presiden RI tersebut menyatakan perang dengan radikalisme. Labeling pelaku adalah anggota jaringan Islam radikal langsung disambut hangat oleh media.

Begitu pun kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Budi Gunawan, yang dengan cepatnya merespons dan memastikan pelaku penusuk adalah Syahrial Alamsyah alias Abu Rara, teroris jaringan Jamaah Ansharut Daulah (JAD) Bekasi. Menurut Budi, Abu Rara sudah dipantau sejak tiga bulan lalu.

Sungguh menggelikan, jika sudah dipantau, mengapa bisa berada begitu dekat dengan Wiranto dan terjadi penusukan itu?

Kepemimpinan Liberal vs Kepemimpinan Islam

Pelantikan Presiden dan Wakil Presiden tinggal beberapa hari lagi. Seperti biasa, menjelang pelantikan berbagai macam isu terus dikipas-kipas, agar asapnya membumbung tinggi. Pembagian kue kekuasaan akan segera berakhir. Tunjukkan kekuatan dan amankan posisi. Begitulah politik pragmatis. Bahkan, bisa mengubah sosok macan menjadi kucing ompong yang sujud mengabdi pada majikan.

Pembohongan hingga penghilangan nyawa manusia, siap menjadi tameng untuk meraih kekuasaan. Lantas, mengapa negeri ini terus-menerus memproduksi penguasa yang zalim? Yang tak pernah mengurusi rakyatnya, yang hanya sibuk dengan kursi megahnya di senayan sana.

Begitulah karakter pemimpin dalam sistem demokrasi. Bekerja hanya untuk kepentingan partai dan dirinya sendiri. Mengapa? Karena dari awal, niat keterlibatan mereka dalam mengurusi rakyat hanya hitung-hitungan materi dan kekuasaan belaka.

Jabatan dan harta, itulah motivasi mereka. Jika pun ada rasa peduli pada rakyat, itu disimpan di paling akhir dalam prioritas kerjanya, jika seluruh kepentingannya telah selesai. Maka, jika mereka saling menutupi borok sesamanya, itu semata agar boroknya tak diumbar ke mana-mana. Walaupun pada akhirnya, yang kalah bernegosiasi harus siap menjadi tumbal politik. Itulah politik transaksional, ciri khas politik dalam demokrasi.


Berbeda dengan Islam, yang menempatkan penguasa sebagai pelayan umat. Ketergabungan mereka dari awal memang untuk mengabdi sebagai pelayan umat. Seorang pemimpin negara (Khalifah) dalam Islam tidak mendapat upah, karena dia bukan sedang bekerja yang akan mendapatkan upah setelah selesai.

Khalifah hanya diberikan tunjangan sesuai kebutuhan. Sehingga, jabatan pemimpin negara bukanlah ladang emas seperti sekarang ini, namun ladang pahala yang akan membawa seorang pemimpin menuju surga tertinggi.

Begitu pun pejabat-pejabat negara di bawahnya, mereka menerima amanah semata untuk kemaslahatan umat. Dengan spirit ketakwaan kepada Allah subhanahu wa ta’ala, mereka menerima amanah tersebut.

Jangankan berbohong yang memang dilarang agama, Khalifah Umar bin Khaththab bahkan menangis saat ada keledai terperosok di jalan berlubang. Umar merasa dirinya lalai terhadap amanah yang diberikan kepadanya hingga menyebabkan seekor hewan terzalimi. Berbeda sekali dengan pemimpin saat ini, di mana ratusan nyawa manusia dikorbankan untuk sebuah kepentingan.

Dalam Islam, hubungan rakyat dengan penguasa akan harmonis. Penguasa mencintai rakyatnya dengan tulus. Ketulusannya direspons dengan doa-doa terbaik untuk para penguasa yang mengurusi dan melindungi umat.

Berbeda dengan pemimpin hari ini, mereka tak terlihat mencintai rakyatnya. Yang mereka cintai hanya harta dan kuasa. Wajar akhirnya rakyat membenci mereka. Tak ada doa-doa indah buat para penguasa hari ini, yang ada adalah umpatan-umpatan ketidakpuasan terhadap pengurusan kehidupan.

Oleh karena itu, jangan diam wahai Saudaraku! Jangan diam melihat pelecehan yang terjadi pada rakyat negeri ini. Penguasa telah dengan semena-mena menggunakan kekuasaannya untuk menzalimi dan membohongi umat.

Lawan mereka dan tumbangkan mereka. Jangan biarkan negeri ini terus dikungkung para pemimpin bodoh yang tak bisa mengurus rakyat. Kembalikan sistem Khilafah yang selama ini dipaksa meregang nyawa. Karena dengan sistem Khilafah karakter pemimpin Islam akan tercipta. [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *