Film, Penyangga Demokrasi yang Hampir Ambruk

Dunia perfilman tanah air sedang ramai dengan kontroversi film SIN. SIN adalah film besutan Herwin Novianto yang diadaptasi dari novel best seller di platform Wattpad berjudul sama karya Faradita, yang pertama kali terbit di tahun 2017. Tema film ini kontroversial karena bercerita tentang kakak beradik yang saling jatuh cinta (inses).


Oleh: Ummu Naira (Forum Muslimah Indonesia / ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI — Produksi perfilman Indonesia saat ini bisa dikatakan sedang menggeliat, baik itu jenis film Indie maupun film ‘mahal’ besutan para sutradara besar di negeri ini. Mulai dari film dengan cerita horor, drama komedi, hingga laga.

Apakah semua film itu ‘aman’ ditonton (khususnya) anak-anak? Adakah film yang murni dan steril dari pornografi-pornoaksi? Film horor pun memuat konten porno di dalamnya. Karena dua unsur ini, horor dan seks, adalah bumbu-bumbu yang bisa membuat film laris-manis. Film tentang pocong saja bisa dipastikan di dalamnya ada adegan porno.

Pantas kalau akhirnya Indonesia mendapatkan juara ketiga dunia pengakses situs porno (kominfo.go.id, 17/2/2012) dan juara dua pengguna konten pornografi di dunia (terkininews.com, 8/5/2016). Malah sekarang yang jadi artis porno dadakan adalah para remaja. Mereka yang membuat ‘film-film porno’, mereka juga yang menjadi artis/aktor, sutradara, bahkan kamerawannya. Na’udzubillah.

Konon sekarang juga membanjir film-film berbau Islami. Benarkah sudah islami dan bisa kita ambil semua pesan moral dan agama dari film-film tersebut? Misalkan saja film “The Santri”. Film ini juga kontroversial dan mendapat banyak penolakan dari masyarakat karena dianggap mendiskreditkan pesantren serta menyebarkan pemahaman yang salah tentang pesantren dan santri.

Film ini juga dianggap menyampaikan ide-ide sinkretisme dan pluralisme (paham yang menganggap semua agama itu benar). Ini jelas berbahaya. Padahal, pluralisme bertentangan dengan Islam.

Jadi, tak semua adegan atau nilai-nilai yang dibawa oleh film ‘Islami’ itu selalu lurus dan sesuai Islam.

Kita harus berhati-hati dalam menyaring nilai-nilai yang ditampilkan dan kamuflase nilai Islam yang disampaikan dari film-film itu. Belum lagi, film-film impor yang juga beragam nilai (value) yang hendak mereka sebarkan.

Tidak semua film yang berbau Islam layak tonton, apalagi oleh orang awam yang tidak memiliki landasan iman yang kuat. Banyak film yang memelintir nilai-nilai Islam, membalik citra Islam, Islam dijadikan semacam tertuduh, bahkan teroris. Jadi, sebagai seorang muslim kita harus jeli melihatnya.

Akhlak Generasi di Ujung Tanduk

Film adalah media audio visual yang bisa menjadi alat efektif untuk menyampaikan nilai-nilai kehidupan, mulai dari nilai moral, agama, budaya, persatuan umat, dan seterusnya. Positif atau negatifnya nilai sebuah film akan sangat bergantung pada ideologi yang mendasari dan menjadi nyawa film tersebut.

Film-film berideologi sekuler dengan nilai-nilai turunannya seperti liberal, tidak mau diatur dengan agama, memisahkan kehidupan dunia dengan akhirat, tidak menggunakan standar halal-haram dalam setiap adegan, cenderung menampilkan gaya hidup bebas, serta menyodorkan kekerasan bahkan kejahatan, tentu membawa pesan secara langsung dan tidak langsung agar penonton berperilaku seperti itu juga.

Banyak kasus kejahatan muncul karena pelakunya terinspirasi dari tontonan. Penyimpangan perilaku tak normal bermunculan juga karena efek dari film. Maka, jangan salahkan jika banyak kasus terjadi di masyarakat akibat tontonan tidak menjadi tuntunan. Akhlak generasi sudah berada di ujung tanduk.

Setuju atau tidak, demokrasi telah nyata-nyata membawa banyak kerusakan dan menzalimi rakyat. Sebaik apapun orangnya, selurus apapun pemimpinnya, jika masuk ke dalam demokrasi, maka mustahil akan berhasil membawa kesejahteraan hakiki bagi masyarakat.

Sekali lagi, akhlak generasi dipertaruhkan dalam sistem demokrasi, karena yang menjadi tujuan utama dalam sistem demokrasi adalah keuntungan materi. Banyak film dibuat untuk menyebarkan propaganda kemaksiatan yang menjadi life style bagi generasi muslim.

Sistem yang Menjaga Akhlak Generasi

Demokrasi adalah sistem turunan dari ideologi sekuler. Nilai-nilai kebebasan di dalam demokrasi laksana racun berbalut madu. Masalah krisis multidimensi yang sedang kita hadapi tak lepas dari dampak sistem demokrasi yang diterapkan atas bangsa ini. Kita tak bisa berharap lebih pada demokrasi yang telah membawa banyak kemudaratan.

Fakta mengatakan, sebaik-baik orang (pelaku, pemimpin) dalam sistem demokrasi, maka akan terseret pada perbuatan jahat dan pelanggaran, karena sistemnyalah (demokrasi, red.) yang menciptakan kejahatan itu.

Lantas bagaimana ideologi Islam bisa menyelamatkan generasi?

Sistem Islam dibangun atas tiga pilar penyangga utama yang akan menjamin penjagaan akhlak generasi.

Pilar pertama, ketakwaan individu.

Islam mengajarkan nilai-nilai tauhid yang membentuk manusia berkepribadian Islami (syakhsiyah Islam). Di dalamnya ada proses mendidik generasi agar memiliki pola pikir (aqliyah) dan pola sikap (nafsiyah) Islami. Aqliyah Islam mengajarkan agar segala perilaku manusia merujuk kepada sumber hukum syariat yaitu Alquran, hadis, ijmak sahabat, dan qiyas.

Adapun nafsiyah Islam mengajarkan manusia mengembalikan standar baik-buruk (khair-syar) dan terpuji-tercela (hasan-qabih) pada aturan Allah juga. Kita berbuat baik dan berperilaku baik terdapat nilai (qimah) yang akan dinilai Allah subhanahu wa ta’ala.

Ada konsep hubungan manusia dengan Allah (hablumminallah), hubungan manusia dengan sesamanya (hablumminannas), dan hubungan manusia dengan dirinya sendiri pun (hablumminafsih) diatur oleh Islam. Semua diatur sedemikian rupa oleh Allah, Zat yang Maha Mengatur (Al Mudabbir), sehingga semua berjalan teratur, baik, dan tanpa cela.

Pilar kedua, kontrol masyarakat.

Masyarakat yang dibentuk dalam sistem Islam adalah masyarakat yang peduli dengan kondisi lingkungan sekitarnya, bukan masyarakat apatis. Di sinilah konsep hablumminannas berjalan.

Ketika ada indikasi pelanggaran hukum syariat oleh individu, maka masyarakat akan ikut serta mencegah, menasihati, mengingatkan, dan mengoreksi. Dengan demikian, jika ada kasus penyimpangan perilaku atau sejenisnya, tidak akan meluas dan tidak dibiarkan semakin parah.

Pilar ketiga, penerapan hukum oleh negara.

Sistem Islam memiliki konsep uqubat dan sanksi tegas dalam kasus pelanggaran hukum syariat Islam. Hukum Islam bersifat membuat pelaku jera. Hukum Islam berfungsi sebagai penebus siksa akhirat (jawabir) dan pencegah terjadinya tindak kejahatan yang baru terulang kembali (zawajir).

Dengan konsep yang holistik dari sistem Islam ini, tentu masalah akhlak generasi sudah diatur oleh sistem Islam dengan baik sehingga masalah dekadensi moral akan bisa diminimalisir, bahkan bisa saja tidak akan terjadi.

Kita berharap penerapan sistem Islam yang kafah agar jaminan terhadap kebaikan akhlak generasi segera terwujud. Wallahu a’lam bish-shawab.[MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *