Mustahil Berharap pada Pemimpin Hasil “Buzzer” Saat Ini

Tampuk kepemimpinan telah diraih. Menjadi sebuah harapan kepemimpinan yang kedua akan lebih baik. Berbagai kerusuhan, kemiskinan, kejahatan dan masalah lainnya akan terselesaikan. Namun, bagaikan mimpi di siang bolong. Harapan tinggallah angan-angan. Bagaikan pungguk merindukan bulan, memimpikan cita-cita yang tak mungkin diraihnya. Bagaimana tidak? kesuksesan yang digadang ternyata isapan jempol semata.


Oleh: Henyk Nur Widaryanti S.Si., M.Si. (Dosen Swasta)

MuslimahNews.com, OPINI — Seluruh cita-cita dan harapan rakyat ini pun kandas. Pasalnya, pencritaan selama ini adalah hasil kerja para buzzer politik. Dilansir oleh CNNIndonesia.com (6/10/2019) bahwa Universitas Oxford menerbitkan penelitian berjudul ‘The Global Disinformation Order 2019 Global Inventory of Organised Social Media Manipulation’ yang digarap oleh Samantha Bradshaw dan Philip N. Howard.

Hasil penelitian tersebut menyebutkan Indonesia menjadi satu dari 70 negara yang menggunakan pasukan siber alias buzzer untuk sejumlah kepentingan sepanjang 2019. Laporan tersebut menyampaikan pihak-pihak yang berkaitan dengan buzzer adalah politisi, partai politik, dan kalangan swasta. Bahkan para buzzer itu digaji dari Rp1-50 juta.

Memahami Makna Buzzer

Apa itu buzzer? Dalam Bahasa Inggris artinya lonceng, bel, atau alarm. Buzzer secara harfiah diartikan sebagai alat yang dimanfaatkan untuk mengumumkan sesuatu agar orang-orang berkumpul.

Di Indonesia, istilah ini berarti “kentongan”. Kentongan merupakan salah satu alat tradisional yang sering digunakan untuk mengumpulkan warga pada saat terdapat pengumuman atau berita penting.

Maka, di sosial media buzzer adalah orang yang memanfaatkan akun sosial media miliknya guna menyebarluaskan info, atau dengan kata lain untuk melakukan promosi maupun iklan dari suatu produk maupun jasa pada perusahaan tertentu.

Sehingga, gayung pun bersambut. Para politisi menggunakan mereka demi menaikkan pamornya. Sedang buzzer memanfaatkan keahlian demi sejumlah bayaran. Mereka digaji untuk menyebarkan propaganda propemerintah atau propartai, menyerang oposisi, hingga membentuk polarisasi.

Dari sini kita dapat memahami bahwa hasil pesta politik beberapa waktu yang lalu erat kaitannya dengan buzzer politik.

Sesuatu yang Dibangun Atas Dasar Kebohongan Akan Hancur

Berkali-kali umat tertipu. Harapan yang mereka letakkan di pundak para wakil mereka kini pupus. Semua pencitraan yang ada di hadapan umat bohong belaka. Pasalnya semua itu hanyalah buatan buzzer bayaran.

Beginilah ketika kita hidup dalam sistem demokrasi. Segala cara akan halal jika dipakai meraih kekuasaan. Dalam demokrasi, kedaulatan di tangan manusia. Manusia berhak membuat tata aturan. Asalkan menguntungkan semua akan dilakukan. Masalah buzzer bayaran pun demikian. Walaupun yang dikampanyekan adalah kebohongan tak dipermasalahkan. Asalkan semua itu dilakukan atas waktu yang ditentukan.

Namanya kebusukan, kalau disimpan lama juga akan tercium baunya. Meski dilapisi madu, tetap akan kelihatan busuknya. Begitulah pencitraan, jika dibangun atas dasar kebohongan suatu saat akan tercium juga. Kepercayaan yang dibangun atas kebohongan suatu saat akan hancur. Tidak mungkin kita mengharapkan pemimpin yang adil jika berasal dari pencitraan semu semata.

Sebagaimana kebohongan akan diikuti dengan kebohongan lainnya. Maka, pemimpin yang dilahirkan dari kebohongan. Ia akan banyak berbohong. Pemimpin seperti ini tidak akan dipercaya dan dicintai rakyatnya. Maka, dia akan menjadi pemimpin yang rugi dunia dan akhirat.

“Sedangkan seburuk-buruk pemimpin kalian ialah orang-orang yang kalian membenci mereka dan mereka pun membenci kalian, juga yang kalian melaknat mereka dan mereka pun melaknat kalian.” (HR. Muslim)

Pemimpin Dipilih karena Kredibilitasnya

Islam memiliki seperangkat aturan yang sempurna. Masalah memilih pemimpin Islam memiliki solusinya. Ada syarat-syarat yang perlu dipenuhi seorang calon pemimpin. Dalam buku Struktur Negara Khilafah karangan Syaikh Taqiyyudin An Nabhani dijelaskan syarat wajib menjadi pemimpin. Di antaranya: muslim, laki-laki, balig, berakal, adil, merdeka (bukan budak), dan mampu.

Selain syarat wajib (syarat in’qad), ada juga syarat keutamaan. Syarat keutamaan ini adalah syarat tambahan, tidak harus terpenuhi. Namun, akan menjadi lebih baik jika dipenuhi. Contohnya seperti khalifah harus dari keturunan Quraisy, seorang mujtahid, harus ahli menggunakan senjata, dll.

Maka, umat akan memilih orang-orang yang memenuhi persyaratan tersebut. Karena mereka paham perkara memilih pemimpin bukan sekadar menulis nama/mencoblos gambar. Tapi pemimpin adalah orang yang diamanahi mengurus keperluan umat. Sehingga umat harus mempercayakannya pada orang yang tepat.

Memilih Pemimpin Bervisi Surga

Pemimpin bukanlah orang yang sekadar mampu dengan urusan dunia. Namun, ia juga mampu membawa yang dipimpin sukses dunia akhirat. Oleh karena itu, kita wajib memilih pemimpin yang taat dengan Allah dan Rasul-Nya.

Pemimpin yang demikian akan taat kepada Allah. Ketaatan ini akan mendorongnya untuk mengambil aturan Allah, karena ia yakin hanya aturan-Nya yang dapat menyelamatkan kehidupan dunia dan akhirat.

“Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul serta ulil amri di antara kalian.” (TQS an-Nisa’ [4]: 59)

Wallahu a’lam bishawab. [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *