; Surogasi, Bisnis Tanpa Nurani - Muslimah News

Surogasi, Bisnis Tanpa Nurani

“We’re the happiest Dads in the world!” Kalimat ini menghiasi instagram Mark Feehily, personel boyband Westlife. Di foto, tampak Mark dan Cailean O Neill, pasangan sesama jenisnya, sedang bersama seorang bayi baru lahir. Bayi ini adalah hasil surogasi (ibu pengganti) yakni suatu pengaturan atau perjanjian yang mencakup persetujuan seorang wanita untuk menjalani kehamilan bagi orang lain, yang akan menjadi orang tua sang anak setelah kelahirannya.


Oleh: Ragil Rahayu, SE. (Pengasuh MT Maratus Sholiha, Sidoarjo)

MuslimahNews.com, OPINI – Mark bukan satu-satunya selebriti Barat yang melakukan praktik surogasi. Dikutip dari Tempo.co, setidaknya tiga selebriti memiliki anak dari ibu pengganti. Yakni pasangan aktor Neil Patrick Harris, selebriti sekaligus desainer Nate Berkus, dan ahli kebugaran yang sering muncul di layar kaca, Shaun T.

Foto yang dipamerkan Mark Feehily dengan pasangan homonya, di laman instagramnya.

Surogasi seolah menjadi solusi untuk menambal kehampaan hidup para pasangan sejenis yang mendambakan momongan. Ya, setiap manusia dikaruniai Allah Swt. gharizah nau’ (naluri melestarikan jenis manusia). Keinginan memiliki anak ada pada semua orang, termasuk yang memutuskan menjadi homoseksual.

Biasanya pasangan sejenis menggunakan sperma salah satu dari mereka untuk dipertemukan dengan sel telur ibu pengganti dan terus berada dalam kandungannya hingga lahir. Pascalahir, sang bayi menjadi hak penuh pasangan sesama jenis tersebut. Sementara sang ibu pulang tanpa membawa bayi. Ini adalah praktik surogasi tradisional, dilahirkan memiliki keterkaitan genetik dengannya.

Praktik yang lebih populer adalah surogasi gestasional yakni kehamilan terjadi akibat transfer embrio melalui program “bayi tabung”, sehingga anak yang dilahirkan tidak terkait secara genetik dengan sang ibu pengganti. Surogasi ini biasanya ditempuh pasangan hetero yang ingin mendapatkan momongan.

Surogasi Komersial

Di sistem kapitalisme, segala hal dipandang dengan kacamata materi. Demi keuntungan, segala hal dilakukan, meski menabrak aturan agama, norma kemasyarakatan, atau bahkan nilai kemanusiaan sekalipun.

Memang benar, surogasi bisa melalui prosedur nonprofit yang biasa disebut surogasi altruistik, di mana orang tua yang ingin punya anak hanya memberi uang ganti mengandung dan kelahiran. Namun, surogasi paling populer di dunia adalah yang komersial.

BBC News melaporkan bahwa merujuk data Families Through Surrogacy, sebuah organisasi sewa rahim nonprofit internasional, India menjelma menjadi surga surogasi dunia. Bisnis surogasi di India ditaksir mencapai keuntungan $1 miliar per tahun.

Klinik sewa rahim tak pernah kekurangan perempuan yang menjadi ibu inang, sebab uang sewa rahim mereka butuhkan untuk melepaskan diri dari jerat kemiskinan. Di India, terdapat “pabrik bayi”, yakni klinik yang menampung sekitar 100 perempuan hamil dalam satu rumah.

Infografis bisnis praktik surogasi di India. Gambar: lasmania.

Surogasi Merusak Perempuan dan Generasi

Surogasi berdampak buruk pada psikologis anak maupun ibu pengganti. Anak-anak yang dilahirkan dengan surogasi akan sulit menerima penjelasan tentang asal usul mereka. Kasus ini terjadi pada keluarga Ricky Martin. Anak hasil surogasi juga akan mengalami kerancuan garis genetika.

Dampak psikologis negatif juga menyerang sang ibu pengganti. Karena dalam perjanjian, ibu pengganti hanya menyewakan rahim saja, sehingga mereka dipaksa tidak memiliki perasaan pada bayi yang dikandungnya. Para ibu pengganti juga kerap khawatir melahirkan bayi abnormal sehingga perjanjian sewa menjadi batal.

Bisnis surogasi memosisikan anak sebagai produk, jika ada cacat maka anak tersebut akan dibuang, sebagaimana produk gagal di pabrik. Melansir Nakita.id dari Foxnews.com, seorang bayi bernama Gammy yang merupakan hasil sewa rahim dari pasangan asal Australia, dibuang oleh orang tua kandungnya.

Ia dikandung oleh Pattaramon Chanbua yang saat itu menjadi surrogate mother bagi dua anak kembar, Gammy dan Pipah. Miris, Gammy yang terlahir dengan kondisi down syndrome ‘dibuang’ oleh ayah dan ibu kandungnya. Sedangkan saudara perempuannya dibawa pulang ke Australia untuk dirawat. Sungguh bisnis surogasi benar-benar tak memiliki nurani. Bayi hanya dipandang sebagai komoditas dagangan semata.

Surogasi Haram

Surogasi menjadi bukti kegagalan kapitalisme menyelesaikan masalah manusia. Sebuah kesalahan yakni homoseksualitas coba diselesaikan dengan kesalahan lain yakni surogasi. Hasilnya adalah kekacauan. Jika praktik surogasi diteruskan, nasab akan kacau dan generasi menjadi rusak. Terjadi kekacauan berpikir tentang definisi ayah dan ibu, berikut hak dan kewajibannya. Profil keluarga akan membingungkan karena tidak adanya figur ibu dan adanya dua ayah.

Surogasi haram hukumnya dalam Islam. Meski dilakukan oleh pasangan hetero yang terikat dalam pernikahan sah. Syekh Ali Jum’ah, salah satu ulama yang menjadi mufti di Al-Azhar Mesir telah memberikan jawabannya di dalam Fatawa Asriyahnya bahwa menyewa rahim hukumnya haram dan dilarang agama.

Lembaga Riset dan Fatwa Al-Azhar dalam sidangnya pada 29 Maret 2011 telah mengeluarkan keputusan yang mengharamkan praktik penyewaan rahim. Keputusan ini juga disepakati oleh kalangan fukaha (ahli fikih/hukum Islam) kontemporer saat membahas masalah serupa di salah satu konferensi Islam di bidang ilmu kedokteran.

Alasannya, adanya pihak ketiga (pemilik rahim yang disewa) selain suami pemilik sperma dan istri pemilik sel telur, sehingga ibu sebenarnya bagi si bayi mustahil diketahui. Dengan kata lain, mustahil ditentukan siapa yang lebih berhak menjadi ibu si bayi, apakah istri pemilik sel telur yang darinya tercipta janin dan terbawa seluruh sifat genetiknya, ataukah perempuan yang di dalam rahimnya berlangsung seluruh proses perkembangan janin hingga menjadi sosok bayi yang sempurna?

Surogasi oleh pasangan sejenis lebih-lebih lagi keharamannya. Aktivitas seksual sesama jenis adalah perbuatan haram. Dalilnya adalah ayat Alquran surah al-A’raaf ayat 80 dan 81. Serta hadis Nabi Saw:

“Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth. Allah melaknat siapa saja yang berbuat seperti perbuatan kaum Nabi Luth, beliau sampaikan sampai tiga kali”. (Dihasankan Syekh Syu’aib Al-Arna`uth)

Khilafah menyelesaikan masalah ini dengan sederhana. Homoseksual dilarang, pelakunya dihukum hingga jera. Praktik surogasi juga dilarang. Pasangan yang menginginkan keturunan bisa menempuh cara lain yang syar’i. Jika masih belum berhasil, solusinya adalah bersabar atas ketentuan Allah Swt. Insya Allah akan mendapatkan pertolongan. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *