Khilafah Menyebabkan Kemunduran? Itu Fitnah dan Ahistoris

Lagi-lagi Khilafah difitnah. Kali ini Khilafah dianggap akan membawa pada kemunduran.


Oleh: Ragil Rahayu, SE. (Pengasuh MT Mar’atus Solihah)

MuslimahNews.com, OPINI – Ketua Forum Kerukunan Umat Beragama (FKUB) Provinsi DKI Jakarta Prof Dede Rosyada, mengatakan, “Kalau ideologi Khilafah itu dibiarkan berkembang, tentunya partisipasi masyarakat dalam politik akan sangat dibatasi. Karena sejarah Khilafah yang baik hanya pada masa Abu Bakar, Umar, dan separuh pemerintahan Ustman bin Affan. Selebihnya sudah dimiliki dinasti atau kerajaan, kekuasaan ada pada khalifah, dan rakyat tidak memiliki peran. Ini (Khilafah) jelas kemunduran dalam kehidupan bernegara di zaman moden ini.” (Republika.co.id, 19/9/2019).

Khilafah bukan Ideologi

Gagal paham tentang apa itu Khilafah, akan menjadi pintu pembuka mispersepsi terhadap segala hal yang terkait dengannya. Khilafah adalah kepemimpinan umum bagi kaum muslim seluruhnya di dunia untuk menegakkan syariat Islam dan mengemban dakwah Islam ke seluruh dunia.

Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa Khilafah adalah sistem pemerintahan Islam. Khilafah bukanlah ideologi.

Istilah ‘ideologi’ yang bermakna pandangan hidup tepat dilekatkan pada Islam. Jadi bagi seorang muslim, ideologinya adalah Islam dan sistem pemerintahannya adalah Khilafah.

Para imam mazhab telah bersepakat bahwa Imamah (Khilafah) adalah wajib. Hal senada ditegaskan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani, “Para ulama telah sepakat bahwa wajib mengangkat seorang khalifah dan bahwa kewajiban itu adalah berdasarkan syariah, bukan berdasarkan akal.” [Ibn Hajar, Fath al-Bâri, Juz XII/205].

Pendapat para ulama terdahulu tersebut juga diamini oleh para ulama muta’akhirîn. Ulama Nusantara, Syeikh Sulaiman Rasyid, dalam kitab fikih yang sangat terkenal berjudul Fiqih Islam, juga mencantumkan bab tentang kewajiban menegakkan Khilafah. Jadi Khilafah adalah sistem pemerintahan yang wajib ditegakkan umat Islam.

Khilafah bukan Pemerintahan Otoriter

Khilafah seringkali diopinikan sebagai pemerintahan otoriter karena posisi khalifah yang menerapkan hukum berdasar wahyu Ilahi. Fakta buruk negara agama (teokrasi) yang terjadi pada abad pertengahan di Eropa membuat sebagian orang mengira bahwa khalifah akan berlaku sebagai wakil Tuhan di muka bumi sehingga memiliki kebenaran mutlak. Hal ini tidak tepat.

Khilafah adalah negara basyariyah (negara yang dijalankan manusia). Konsep Khilafah berasal dari wahyu, namun pelaksananya adalah manusia biasa. Konsep Khilafah dijamin kebenarannya karena bersumber dari Alquran yakni QS an Nuur : 55 dan hadis. Namun, figur khalifah bisa jadi berbuat salah. Jika kesalahan khalifah sampai menyebabkan hilangnya syarat wajib padanya, maka dia berhak diberhentikan oleh Pengadilan Mazhalim.

Dari sisi pembuatan hukum, khalifah tidak bisa bertindak otoriter dengan membuat aturan sesuka hatinya. Hal ini dikarenakan kewenangan membuat hukum ada pada Allah Subhanahu wata’ala, sedangkan khalifah hanya memiliki hak tabanni (adopsi hukum).

Hukum yang di-tabanni khalifah haruslah hasil ijtihad syar’i. Ketika hukum syariat yang di-tabanni khalifah dianggap bermasalah, bisa diajukan keberatan ke Pengadilan Mazhalim. Hakim mazhalim yang akan memutuskan apakah tabanni khalifah bisa diteruskan pelaksanaannya atau harus diperbaiki/diganti.

Rakyat, baik muslim maupun nonmuslim, bisa mengadukan kezaliman yang dialaminya, baik disebabkan kebijakan khalifah maupun aparatnya. Jika Khalifah atau bawahannya terbukti berbuat zalim, pengadilan mazhalim bisa memberi sanksi. Sanksi terberat adalah berupa pemberhentian dari jabatannya.

Tampak bahwa Khilafah bukanlah negara otoriter, rakyat berhak mengadukan kezaliman khalifah dan aparatnya. Rakyat juga memiliki ruang yang luas untuk memuhasabahi khalifah baik secara langsung maupun melalui wakilnya di majelis umat.

Khilafah Mewujudkan Kemajuan

Pernyataan bahwa Khilafah membawa pada kemunduran adalah ahistoris. Kemajuan yang diwujudkan Khilafah telah diakui oleh negara-negara Barat. Mantan Presiden AS, Barack Obama menyatakan,”Peradaban berutang besar pada Islam.”

Berikut adalah bukti kemajuan yang diwujudkan Khilafah*:

  1. Tingginya Kemampuan Literasi

    Para khalifah sangat peduli literasi. Pada abad ke-10, di Andalusia saja terdapat 20 perpustakaan umum. Perpustakaan Darul Hikmah di Kairo mengoleksi tidak kurang dua juta judul buku. Tokoh barat menyatakan, “Rata-rata tingkat kemampuan literasi Dunia Islam di abad pertengahan lebih tinggi daripada Byzantium dan Eropa.” (Jonathan Bloom & Sheila Blair, 2002).

  2. Lahirnya Banyak Ilmuwan Besar

    Khilafah melahirkan para ilmuwan yang menghasilkan karya-karya yang mengagumkan, yang mereka sumbangkan demi kemajuan peradaban. Misalnya Ibn Sina (Aveciena), Ibn Miskawaih, Asy-Syabusti, Ibn Rusyd (Averous), az-Zahrawi, al-Khawarizmi, al-Idrisi (Dreses), Jabir Ibn Hayyan, Nashiruddin ath-Thusi, Ibnu al-Haitsam, Muhammad bin Ahmad al-Maqdisi, Muhammad, Banu Musa Ibnu Syakir, Ibnu Khaldun, dan masih banyak lagi.

  3. Jaminan atas keamanan dunia.

    Dalam hal ini, Will Durant mengatakan, “Para Khalifah telah memberikan keamanan kepada manusia hingga batas yang luar biasa besarnya bagi kehidupan dan usaha keras mereka. Kegigihan dan kerja keras mereka menjadikan pendidikan menyebar luas sehingga berbagai ilmu, sastra, falsafah dan seni mengalami kejayaan luar biasa; yang menjadikan Asia Barat sebagai bagian dunia yang paling maju peradabannya selama lima abad.” (The Story of Civilization).

  4. Menyatukan umat manusia.

    Dalam hal ini, Will Durant mengakui, “Agama Islam telah menguasai hati ratusan bangsa di negeri-negeri yang terbentang mulai dari Cina, Indonesia, India hingga Persia, Syam, Jazirah Arab, Mesir bahkan hingga Maroko dan Spanyol.” (The Story of Civilization).

  5. Menciptakan kemajuan ekonomi.

    Will Durant menyatakan, “Pada masa pemerintahan Abdurrahman III diperoleh pendapatan sebesar 12,045,000 dinar emas (lebih dari Rp 24 triliun). Sumber pendapatan yang besar tersebut bukan berasal dari pajak yang tinggi, melainkan salah satu pengaruh dari pemerintahan yang baik serta kemajuan pertanian, industri, dan pesatnya aktivitas perdagangan.” (The Story of Civilization).

  6. Menjamin kesehatan masyarakat.

    Will Durant secara menegaskan, “Islam telah menjamin seluruh dunia dalam menyiapkan berbagai rumah sakit yang layak sekaligus memenuhi keperluannya. Contohnya adalah al-Bimarustan yang dibangun oleh Nuruddin di Damaskus tahun 1160, telah bertahan selama tiga abad dalam merawat orang-orang sakit tanpa bayaran dan menyediakan obat-obatan gratis.” (The Story of Civilization).

  7. Bukti-bukti Arkeologis

    Peradaban Islam tampak dari berbagai bangunan kuno yang saat ini masih bisa disaksikan di berbagai penjuru dunia. Bangunan tersebut sebagian masih berfungsi dengan baik. Di antaranya adalah masjid, makam (Taj Mahal), saluran air, istana, kincir air, rumah sakit, universitas, benteng, dan lain-lain.

*) Dikutip dati Tabloid Media Umat.


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *