Transformasi dan Kebangkitan Islam

Perubahan merupakan perkara sunnatullah dalam kehidupan manusia. Namun, arah perubahan merupakan hasil pilihan manusia. Dan bagi sebuah umat, perubahan menuju keadaan lebih baik harus senantiasa terjadi sebab perubahan itu tabiat alami adanya kehidupan umat Islam.


Oleh: Endiyah Puji Tristanti, S.Si. (Penulis dan Pemerhati Politik Islam)

MuslimahNews.com, OPINI – Umat Islam adalah umat yang khas, berbeda dengan umat yang lain. Umat Islam hanya mampu tumbuh dan berkembang dalam lingkungan yang khas, di mana hukum-hukum syariat diterapkan secara kafah. Sebaliknya, eksistensi umat Islam lenyap tatkala mereka dilepaskan dari lingkungan alaminya, yakni penerapan syariat dalam seluruh aspek kehidupan.

Sekularisme bukanlah bentuk kehidupan yang sesuai bagi umat Islam. Sekularisme telah menelanjangi umat Islam dari ketaatan totalitas terhadap Rabb-nya. Sekularisme telah mengundang bala dan murka Rabb semesta alam kepada umat Islam.

وَلَوْ أَنَّ أَهْلَ الْقُرَىٰ آمَنُوا وَاتَّقَوْا لَفَتَحْنَا عَلَيْهِمْ بَرَكَاتٍ مِنَ السَّمَاءِ وَالْأَرْضِ وَلَٰكِنْ كَذَّبُوا فَأَخَذْنَاهُمْ بِمَا كَانُوا يَكْسِبُونَ

“Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri beriman dan bertakwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS. Al-A’raf: 96)

Siksa dunia sesungguhnya telah mampu dirasakan dan diindra kasat mata oleh umat di berbagai belahan dunia. Bahkan, kesadaran untuk melepaskan kehidupan mereka dari jerat sekularisme telah tumbuh dan terus tumbuh.

Namun sayang, belum secara keseluruhan umat memahami bentuk dan arah perubahan yang benar yang lahir atas tuntutan keimanan mereka.

Kesadaran umat untuk bangkit baru kesadaran yang bersifat naluriah/insting/ghariziyah. Kesadaran yang didorong oleh maslahat dan mafsadah yang menimpa mereka. Sistem sekularisme telah terang-terangan mengeksploitasi, menjajah umat dalam aspek ekonomi, politik, sosial-budaya, serta hukum dan perundang-undangan. Oleh karenanya umat ingin memberontak.

Mereka memahami sistem kehidupan mereka adalah rusak dan batil. Namun, hal ini tidak secara otomatis membawa umat menginginkan sistem Islam dalam lafaz yang sharih (gamblang). Sebab, pemikiran umat telah dipisahkan dengan perasaan mereka.

Umat merasakan penderitaan di satu sisi. Di sisi lain umat menderita islamofobia. Pemikiran Islam politik berusaha dicabut dengan keras oleh penjajah dengan berpura-pura memberikan solusi.

Akan tetapi, umat tetaplah umat Islam, umat yang satu. Akidahnya yang mengakar mustahil bisa dicabut dari benak umat, selama seruan dakwah terus dikumandangkan, dan selama pemikiran tentang perubahan terus dipupuk sembari berusaha dipertemukan dengan perasaan mereka.

Jalan Baru Islam

Dakwah 20 tahun silam memperbincangkan apa itu syariat dan mengapa harus syariat. Sedangkan dakwah 10 tahun lalu mendiskusikan apa itu Khilafah dan apa hukum menegakkan Khilafah. Hari ini berkembang pesat.

Umat memperbincangkan dan mendiskusikan bagaimana metode menegakkan Khilafah dalam konteks kekinian. Ini bukti pergeseran pemikiran umat secara alami bergulir maju dari satu fase ke fase berikutnya.

Kezaliman sistem dan rezim dalam berbagai aspek menjadi salah satu faktor asas pendorong perubahan. Fasad telah mencapai puncaknya. Di negeri ini, keinginan umat untuk ‘talak tiga’ dengan rezim telah menggumpal.

Kontrak Freeport, proyek OBOR/BRI, aksi jual aset BUMN adalah secuil fakta bahwa penguasa telah melepaskan tanggung jawabnya sebagai raa’in (pengatur urusan rakyat) dan junnah (pelindung rakyat atas cengkeraman asing).

Yang penting untuk digarisbawahi oleh umat, kezaliman rezim merupakan ‘amanah’ undang-undang hasil tawar menawar kepentingan korporasi, eksekutif, dan legislatif.

Pengambilan keputusan eksekutif dan legislatif praktis di bawah supervisi lembaga internasional (negara-negara kapitalis). Inilah problem sistemis buah penerapan sistem politik global, demokrasi-kapitalistik.

Kesadaran atas fakta kerusakan sistemis perlu dibarengi dengan pemahaman yang cukup pada diri umat tentang sistem pengganti yang secara pasti memberikan garansi keberhasilan.

Umat sangat membutuhkan pemahaman detail konsep Khilafah ideal, Khilafah ala minjaahin nubuwwah, baik struktur maupun sistem administrasi.

Diskusi perihal Khilafah dalam memberikan solusi problematik kehidupan sangat ditunggu-tunggu umat. Saatnya umat melek Khilafah.

Kerinduan akan hadirnya sistem adil nan penuh berkah atas ridha ilahi akan semakin membuncah tak terbendung, melahirkan pergerakan umat. Di sinilah penjelasan secara rinci dan lengkap akan jalan baru kebangkitan Islam menjadi kebutuhan umat.

Metode praktis nonpragmatis untuk sampai pada tegaknya Khilafah layak menjadi fokus diskusi seluruh elemen umat terutama elemen pergerakan. Agar siapa pun yang ingin membajak dan memalingkan arah pergerakan umat harus menanggung risiko berhadapan face to face dengan kesadaran politik Islam dalam dada umat.

Bila diringkas, asas perubahan ada tiga.

Pertama, adanya pemahaman akan fakta yang rusak. Kedua, pentingnya gambaran fakta ideal pengganti fakta yang rusak. Ketiga, pemahaman yang lengkap dan rinci tentang jalan/metode perubahan. Ketiganya akan menghasilkan arah perjuangan yang jelas, tanpa kesamaran dan kekaburan.

Penulis merekomendasikan kepada umat, untuk menelaah dan mendiskusikan sejumlah kitab yang telah diadopsi Hizbut Tahrir dan kitab-kitab yang ditulis oleh para syabbab-nya perihal gambaran sistem Khilafah dan metode penegakannya. Sehingga, berbagai pertanyaan umat seputar Khilafah menemukan jawaban yang memang dibutuhkan. Ambillah dari pakarnya.

Hasil Gemilang Metode Dakwah Rasul

وَمَا أَرْسَلْنَا مِنْ رَسُولٍ إِلَّا بِلِسَانِ قَوْمِهِ لِيُبَيِّنَ لَهُمْ ۖ فَيُضِلُّ اللَّهُ مَنْ يَشَاءُ وَيَهْدِي مَنْ يَشَاءُ ۚ وَهُوَ الْعَزِيزُ الْحَكِيمُ

“Kami tidak mengutus seorang Rasul pun, melainkan dengan bahasa kaumnya, supaya ia dapat memberi penjelasan dengan terang kepada mereka. Maka, Allah menyesatkan siapa yang Dia kehendaki, dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Dan Dialah Tuhan Yang Mahakuasa lagi Mahabijaksana.” (QS. Ibrahim: 4)

Petunjuk dan penjelasan telah sempurna atas diri Rasulullah Muhammad shallallahu’alaihi wasallam. Tuntutan syariat akan kewajiban penegakan Khilafah juga telah disempurnakan dengan contoh nyata bagaimana metode sahih yang dilakukan Rasulullah saw. untuk sampai pada penegakan sistem Islam di Madinah.

وَمَا يَنْطِقُ عَنِ الْهَوَى إِنْ هُوَ إِلا وَحْيٌ يُوحَى

“Dan tiadalah yang diucapkannya itu (Alquran) menurut kemauan hawa nafsunya. Ucapannya itu tiada lain hanyalah wahyu yang diwahyukan (kepadanya).” (QS. An-Najm: 3-4)

Bisyarah Rasulullah atas jaminan pasti kembalinya fase Khilafah ala minjaahin nubuwwah yang kedua, dalam hadis riwayat Ahmad, cukup untuk menjawab keraguan akankah Khilafah yang tegak nanti bersih dari keburukan-keburukan penerapan Islam sebagaimana terjadi pada masa lalu.

Lafaz “ثم تكون خلافة على منهاج النبوة” dengan ” خلافة” berharakat fathah sebagai khobar kaana, menunjukkan fase kelima, kekhilafahan yang sebentar lagi tegak biidznillah adalah Khilafah yang sesuai dengan masa khulafaur rasyidiin yang mulia.

Telaah terhadap sirah dakwah Rasulullah saw. dan pengkajian terhadap surat Ali ‘Imran ayat 104 menjelaskan bahwa karakter dakwah Rasul dalam melakukan transformasi masyarakat jahiliah (Arab) menuju masyarakat Islam (Madinah) bersifat pemikiran, politik, berjamaah dalam sebuah partai politik Islam, dan tanpa kekerasan.

Bukan dengan jalan kudeta dan makar.

Metode dakwah Rasul mewajibkan perubahan diambil melalui dua jalan, yakni jalan umat (thariqah umat), dan penyerahan kekuasaan dari ahlun nushrah (thalabun nushrah).

Melalui dakwah Mush’ab bin Umair selama setahun di Yatsrib kepada seluruh penduduk, sampai terbangun kesadaran imani menginginkan penerapan Islam, dilanjutkan dengan penyerahan kekuasaan Yatsrib oleh Sa’ad bin Muadz, pemimpin Yatsrib kepada Muhammad saw. melalui peristiwa Bai’at Aqabah II.

Inilah metode perubahan gemilang yang belum pernah terjadi sepanjang sejarah peradaban manusia, namun berhasil dicontohkan oleh Islam. Maka, siapa saja yang bersungguh-sungguh menapaki jalan yang sama, fainsya Allah akan mendapatkan hasil yang sama pula. Wallaahu a’lam bish shawab. [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *