Mewujudkan Perubahan Hakiki

Negeri ini tidak sedang baik-baik saja. Kerusakan moral, politik, ekonomi, sosial terjadi di depan mata kita. Berbagai kasus dan tindak pidana pun kerap terjadi di tengah-tengah masyarakat. Kasus perkosaan, inses dengan saudara kandung, perzinaan, LGBT, aborsi karena hamil di luar nikah, korupsi, ditambah kasus kerusuhan berbau rasis di Wamena-Papua yang sampai sekarang belum selesai.


Oleh: Ummu Naira (anggota Forum Muslimah Indonesia/ ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Sejumlah bangunan di Papua seperti rumah dinas, ruko, dan kantor bupati dibakar massa. Sedikitnya 30 orang tewas, yang sebagiannya berasal dari ranah Minang (9 orang) dan Butta Makassar (24 orang).

Hingga 27 September 2019 terdapat 1.096 warga eksodus dari Wamena ke Jayapura dengan pesawat terbang. Juga, aksi anarkis telah mengakibatkan 150 rumah milik para korban pendatang dibakar, 465 rumah toko (ruko) mereka dibakar dan dijarah, 165 sepeda motor dan 224 mobil hangus terbakar.

Lima ratus warga sempat tersandera dalam ketakutan oleh massa perusuh selama 10 jam di Wamena. Bahkan, seorang dokter yang bernama dr. Soeko Marsetiyo (53 tahun) dibakar hidup-hidup, bahkan ada balita dikapak kepalanya hingga meregang nyawa.

Juga, tiga pelajar yang tidak mau ikut unjuk rasa dibakar tubuhnya. Sebagai pembanding data resmi Aksi Cepat Tanggap (ACT) melaporkan sebanyak 33 orang meninggal dunia, 10 ribu orang mengungsi, dan yang eksodus berjumlah 2.589 (www.law-justice.co, 30/9/2019).

Ini mengerikan. Masyarakat Papua (asli maupun pendatang) betul-betul membutuhkan jaminan keamanan dari negara. Negara harus “hadir” di Papua karena negara adalah junnah (perisai) bagi rakyatnya.

Krisis multidimensional di negeri kita terjadi berkepanjangan, seperti sakit kronis yang belum juga menemukan obatnya. Bagaimana solusinya?

Filosofi Perubahan, ke Arah Mana?

Kita menyadari bahwa ada banyak masalah yang melanda negeri ini. Jika kita tarik benang merah, sebenarnya ada akar masalah yang menjadi penyebab semua kerusakan ini.

Akar masalahnya bukan pada personel pelaku kerusuhan atau kerusakan, tapi lebih kepada paradigma atau sistem yang diterapkan dalam berbagai aspek kehidupan bangsa ini. Ya, kapitalisme liberal-lah yang menjadi akar masalahnya.

Dengan paradigma ini, manusia tidak lagi dimanusiakan karena yang menjadi raja adalah harta dan kekuasaan (materi). Betapa harga manusia begitu rendah dalam kacamata kapitalisme.

Tubuh manusia “dijual” demi uang adalah hal biasa. Pelacuran dan perdagangan manusia baik secara sembunyi-sembunyi (soft) maupun terang-terangan (hard) menjadi tontonan yang tak habis kita saksikan.

Betapa juga dengan kapitalisme ini, aset-aset negara yang harusnya dikelola oleh negara untuk sebesar-besar kemakmuran rakyat dijual kepada asing dan swasta.

Dengan prinsip materialistis, negara Indonesia yang sebenarnya gemah ripah loh jinawi, toto tentrem kerto raharjo (kaya raya dengan banyaknya sumber daya alam, aman dan tenteram) menjadi negara miskin pengutang riba.

Lihat saja berapa utang negara kita, Utang Luar Negeri (ULN) Indonesia pada akhir triwulan II 2019 tercatat sebesar USD391,8 miliar atau Rp5.601 triliun (Rp14.296 per Dolar AS), yang terdiri dari utang pemerintah dan bank sentral sebesar USD195,5 miliar, serta utang swasta (termasuk BUMN) sebesar USD196,3 miliar (liputan6.com, 15/8/2019).

Utang Pemerintah (Liputan6.com/Triyasni)

Kita sudah begitu jauh masuk ke dalam jebakan utang. Mau tidak mau, seharusnya kita keluar dari “lingkaran setan” ini dengan mengganti sistem kapitalisme dengan sistem yang lebih baik, di mana sistem tersebut lebih “tahan banting” terhadap goncangan ekonomi global yaitu sistem ekonomi Islam dengan konsep mata uang dinar-dirham.

Dalam aspek politik, hukum, dan pemerintahan pun, Islam memiliki konsep utuh bagaimana agar pemerintahan berjalan baik, meminimalkan korupsi, tegas dalam menerapkan hukum, serta akuntabel dalam berbagai persoalan.

Jalan Baru Islam

Rasulullah SAW adalah teladan terbaik dalam melakukan perubahan hakiki. Pada tahap awal, beliau mendakwahi orang-orang terdekatnya. Mengubah pemahaman mereka yang awalnya jahiliah, diisi dengan pemahaman Islam kafah dari A sampai Z.

Kekufuran, kesyirikan, kebodohan digantikan dengan pemahaman Islam yang cemerlang. Semakin bertanya tentang Islam, maka manusia akan semakin menemukan jawab bahwa Islam adalah satu-satunya din (agama) yang benar.

Benarlah Firman Allah Subhanahu wa ta’ala:

إِنَّ الدِّينَ عِنْدَ اللَّهِ الْإِسْلَامُ ۗ وَمَا اخْتَلَفَ الَّذِينَ أُوتُوا الْكِتَابَ إِلَّا مِنْ بَعْدِ مَا جَاءَهُمُ الْعِلْمُ بَغْيًا بَيْنَهُمْ ۗ وَمَنْ يَكْفُرْ بِآيَاتِ اللَّهِ فَإِنَّ اللَّهَ سَرِيعُ الْحِسَابِ

“Sesungguhnya agama (yang diridai) di sisi Allah hanyalah Islam. Tiada berselisih orang-orang yang telah diberi Kitab kecuali sesudah datang pengetahuan kepada mereka, karena kedengkian (yang ada) di antara mereka. Barang siapa ingkar terhadap ayat-ayat, Allah maka sesungguhnya Allah sangat cepat perhitungan-Nya.” (QS. Ali ‘Imran [3] : 19)

Kemudian tahapan selanjutnya, Rasulullah SAW berinteraksi dengan masyarakat luas. Menentang kekufuran secara terang-terangan dan menunjukkan jalan kebenaran. Hingga sampailah pada tahapan puncak yaitu penerapan syariat Islam secara kafah dalam bingkai Daulah Islam.

Demikianlah Rasulullah SAW mencontohkan kepada kita. Dakwah Islam tanpa kekerasan, tanpa anarkisme, tanpa meneror baik fisik maupun nonfisik; sabar dalam menyebarluaskan ajaran Islam yang membawa rahmat bagi seluruh alam. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]


Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *