; Khilafah yang Akuntabel – Muslimah News

Khilafah yang Akuntabel

Berbagai tudingan miring kepada Khilafah Islamiyah berkali-kali digulirkan oleh para politisi, akademisi, dan pengamat politik Barat yang keliru memahami sistem pemerintahan Khilafah. Mereka gagal mengapresiasi mekanisme akuntabilitasnya.


Oleh: Ummu Naira (anggota Forum Muslimah Indonesia/ ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI – Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) akuntabilitas artinya keadaan yang dapat dimintai pertanggungjawaban. Suatu lembaga disebut akuntabel jika memiliki kemampuan untuk menjelaskan kondisi yang dialami termasuk di dalamnya keputusan yang diambil dan berbagai aktivitas yang dilakukan (Wikipedia).

Akuntabilitas di dalam negara Khilafah terjamin dalam tiga hal. Pertama, melalui institusi pemerintahan; Kedua, di dalam kewajiban untuk mendirikan partai-partai politik; Dan yang ketiga, melalui kewajiban individu yang diemban seluruh warga negara.

Khalifah Tidak Berada di Atas Hukum

Prinsip pertama dalam sistem pemerintahan Islam adalah supremasi hukum syariat. Aturan hukum dalam sistem Islam kafah sangat dijunjung tinggi.

Tak seorang pun di dalam negara Khilafah, termasuk Khalifah sendiri, posisinya berada di atas hukum atau memiliki kekebalan (imunitas) terhadap hukum.

Ketaatan terhadap hukum ini terdapat dalam hadis Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam sebagai berikut.

Aisyah ra. meriwayatkan bahwa orang-orang Quraisy sangat mencemaskan seorang perempuan dari Bani Makhzum yang pernah melakukan pencurian. Mereka lalu bertanya, “Siapa yang akan mengonsultasikan masalah ini pada Rasulullah?” Lalu beberapa orang di antara mereka berkata, “Tak seorang pun yang mampu menyampaikan masalah ini pada Rasulullah selain orang yang paling dicintai Rasulullah, yakni Usamah bin Zaid.”

Maka, Usamah pun menemui Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam untuk mengatakan hal tersebut. Rasulullah pun bersabda, “Apakah engkau hendak mempermasalahkan seseorang yang pernah bermasalah langsung dengan Allah dan hukuman-Nya?”

Lalu Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa salam berdiri dan berkata, “Orang-orang sebelum kamu telah binasa, karena jika kedapatan orang-orang miskin di antaramu mencuri, maka dipotong tangannya; Namun jika kedapatan orang-orang terpandang di antaramu mencuri, maka dibiarkan. Demi Allah! Bila Fatimah binti Muhammad mencuri, aku sendiri yang akan memotong tangannya.” (HR. Bukhari, Vol. 4, Kitab 56, Nomor 681).”

Sumber-sumber hukum syariat dalam Negara Khilafah Islamiyah ada empat yaitu Alquran, Hadis, Ijmak para sahabat, dan Qiyas (analogi).

Mendirikan Partai-Partai Politik

Islam memerintahkan untuk mendirikan partai-partai politik. Partai politik dalam Negara Khilafah didirikan untuk menilai kepala negara (Khalifah) dan pemerintahannya.

Tugas mereka adalah untuk memastikan pemerintah tidak menyimpang dari hukum Islam dan menjaga pemikiran Islam di tengah-tengah masyarakat.

Warga negara Khilafah berhak mendirikan partai politik sebagaimana termaktub dalam kitab suci Alquran. Allah Subhanahu wata’ala berfirman: “Dan hendaklah ada di antara kamu segolongan umat yang menyeru kepada kebaikan, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar. Merekalah orang-orang yang beruntung.” (TQS. Ali Imran: 104).

Untuk mendirikan partai politik tidak diperlukan izin dari pemerintah, karena syariat telah memberi izin untuk itu.

Mengawasi Khalifah, Hak Seluruh Warga Negara

Mengawasi Khalifah merupakan hak seluruh warga negara, baik muslim maupun nonmuslim. Kewajiban untuk menegakkan yang makruf dan mencegah dari yang mungkar bukan hanya tugas partai politik, namun juga merupakan tugas dari semua warga negara.

Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda: “Demi Dia yang nyawaku berada di tangan-Nya, kalian wajib menyeru pada kebaikan dan mencegah kemungkaran, atau (kalau hal itu tidak dilakukan, maka) Allah akan menimpakan siksa-Nya atasmu dan apabila engkau memohon pada-Nya, maka Dia tidak akan menjawab doamu.” (Musnad Ahmad diriwayatkan dari Hudzaifah).

Islam juga menekankan pentingnya menilai kezaliman penguasa walau taruhannya nyawa.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda, “Pemimpin para syuhada ialah Hamzah bin Abdul Muttalib dan seseorang yang berdiri menentang penguasa yang zalim dan ia terbunuh karenanya.” (Sunan Abu Dawud).

Khilafah Islamiyah adalah alternatif terbaik sebuah sistem yang akuntabel yang dapat memenuhi kebutuhan seluruh penduduknya dan secara historis telah terbukti sukses mengatur dunia Islam selama 13 abad.

Sejak runtuhnya Khilafah, Dunia Islam telah mencoba berbagai sistem pemerintahan, namun berujung pada kegagalan. Mari kita kembali kepada sistem Islam yang kafah ini. Wallahu a’lam bishshawab. [MNews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *