Fitnah, Sebut Khilafah Bawa Kemunduran Bangsa

Khilafah masih terus menjadi topik hangat untuk dibicarakan di setiap kesempatan. Guru Besar Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah, Prof. Dede Rosyada turut bersuara terkait Khilafah. Ia mengatakan kalau ‘ideologi’ Khilafah itu dibiarkan berkembang, partisipasi masyarakat dalam politik akan sangat dibatasi. Karena sejarah Khilafah yang baik, hanya ada pada masa Abu Bakar, Umar, dan separuh pemerintahan Utsman bin Affan. Selebihnya, sesudah memiliki dinasti atau kerajaan, kekuasaan ada pada Khalifah, dan rakyat tidak memiliki peran. “Ini (Khilafah) jelas kemunduran dalam kehidupan bernegara di zaman modern ini,” katanya. (Kamis (9/9/2019), nu.or.id)


Oleh: Rindyanti Septiana, S.Hi. (Alumni Fak. Syariah UIN-SU Medan)

MuslimahNews.com, OPINI – Pernyataan Dede Rosyada tersebut merupakan fitnah yang justru tak sesuai dengan fakta sejarah. Ketika dikatakan jika Khilafah dibiarkan berkembang, partisipasi masyarakat dalam politik akan sangat dibatasi, itu pernyataan yang “ngawur”. Karena kekuasaan dalam sistem pemerintahan Islam tetap di tangan rakyat. Khalifah yang berkuasa dalam Negara Khilafah juga tidak akan bisa berkuasa, jika tidak mendapatkan mandat dari rakyat.

Hanya saja, meski Khalifah memerintah karena mandat dari rakyat, yang diperoleh melalui bai’at in’iqad yang diberikan kepadanya, namun rakyat bukan majikan Khalifah. Sebaliknya, Khalifah juga bukan buruh rakyat. Sebab, akad antara rakyat dengan Khalifah bukanlah akad ijarah, melainkan akad untuk memerintah rakyat dengan hukum Allah.

Karena itu, selama Khalifah tidak melakukan penyimpangan terhadap hukum syara’, maka dia tidak boleh diberhentikan. Bahkan, kalaupun melakukan penyimpangan dan harus diberhentikan, maka yang berhak memberhentikan bukanlah rakyat, tetapi Mahkamah Mazhalim.

Lalu, representasi rakyat tidak mempunyai hak legislasi seperti dalam sistem Demokrasi, sebagaimana konsep separating of power-nya Montesque, yang memberikan mereka kekuasaan legislasi.

Kekuasaan dalam Islam sepenuhnya di tangan Khalifah, dan dialah satu-satunya yang mempunyai hak legislasi. Dengan begitu, representasi rakyat diberlakukan dalam check and balance.

Dalam melakukan check and balance, masyarakat dapat masuk menjadi bagian dari Majelis Umat. Tiap Muslim maupun non-Muslim, baik pria maupun wanita, yang berakal dan baligh, mempunyai hak untuk dipilih dan memilih anggota Majelis Umat.

Baca juga:  The Amazing of Khilafah: Antara Tuduhan Ilusi dan Fakta Solusi (2/2)

Meski antara Muslim dan non-Muslim mempunyai hak yang berbeda, bagi anggota Majelis Umat yang Muslim mempunyai hak syura dan masyura, yaitu menyatakan pandangan tentang hukum syara’, strategi, konsep, dan aksi tertentu.

Sementara, bagi yang non-Muslim hanya mempunyai hak dalam menyatakan pendapat tentang kesalahan pelaksanaan hukum Islam terhadap mereka, tentang kezaliman dan komplain. Tidak lebih dari itu.

Menjadi jelas bahwa fitnah ngawur yang disampaikan Profesor tersebut, bahwa jika Khilafah dibiarkan akan menghilangkan peran rakyat, telah terpatahkan. Hal itu merupakan perkara yang menjauhkan umat dari gagasan Khilafah serta propaganda jahat untuk menyerang ajaran Islam.

Khilafah Ajaran Islam

Ketakutan Barat akan kembalinya Khilafah Islamiyah direspon penguasa dunia Islam dengan melakukan upaya menjauhkan Islam politik dari kehidupan muslim. Serangkaian upaya dilakukan mengatasnamakan deradikalisasi, baik secara hard power ataupun soft power.

Malangnya, ada di antara kaum muslim yang secara sadar ataupun tidak, turut latah menggaungkan strategi ini. Kiranya mereka lupa, jika mereka terlibat dalam pusaran permainan kotor yang hendak memadamkan cahaya Allah. Padahal, sehebat apapun upaya itu, cahaya Allah tak pernah padam.

Khilafah adalah mahkota kewajiban. Bukan ajaran kriminal. Dan pengusungnya adalah orang-orang yang baik, bukan perampok yang menjarah harta rakyat.

Imam Al Mawardi Asy-Syafi’i menyatakan, “Imamah itu menduduki posisi untuk Khilafah nubuwwah dalam menjaga agama serta politik yang sifatnya duniawi”. (Imam Al Mawardi, Ali bin Muhammad, Al-Ahkaam Al Sulthaniyyah, hal 5)

Imam Al-Haramain berkata, “Imamah itu adalah kepemimpinan yang sifatnya utuh, dan kepemimpinan yang berkaitan dengan hal-hal yang bersifat umum dan khusus dalam urusan-urusan agama maupun dunia”. (Imam Al Haramain, Abu Al Ma’ali Al Juwaini, Ghiyatsul Umam fil Tiyatsi Adz-dzulam hal 15)

Baca juga:  Blunder Tragedi Penusukan, Saatnya Islam Raih Kepemimpinan

Shahib Al Mawaqif menyatakan, “Imamah adalah merupakan Khilafah Rasul SAW dalam menegakkan agama, dimana seluruh umat wajib mengikutinya. Itulah sebagian penjelasan para Ulama’ tentang imamah”. (‘Idhuddin Abdurrahman bin Ahmad Al Aiji, Al-Mawaaqif, juz III, hal 574)

Shahibu Ma’atsiril Inafah fii Ma’alimil Khilafah menyatakan, “Khilafah adalah kepemimpinan umum untuk umat secara keseluruhan”. (Asy Syeikh Musthafa Shabari, Mauqiful Aqli, wal Ilmi wal ‘Alam, juz IV, hal 262)

Para ulama telah memaparkan pentingnya Khilafah serta segala hal yang terkait dengannya dalam kitab-kitab mereka. Mewajibkan umat Islam yakin secara akidah bahwa Khilafah ajaran Islam yang akan membawa kebaikan serta keberkahan.

Ketika ada sekelompok orang yang justru menebar fitnah atas Khilafah dan mendorong untuk menindak aktivis Islam yang menyerukan Khilafah, berarti menghalang- halangi dari melakukan dakwah dan menyampaikan ajaran Islam Khilafah, padahal itu bagian dari amar makruf nahi mungkar.

Sejarah Keemasan Khilafah

Rekam jejak emas Khilafah hingga sekarang masih dapat ditemukan dalam banyak catatan sejarah. Seorang orientalis dan sejarawan Kristen bernama T.W Arnold dalam bukunya, The Preaching of Islam: A History of Propagation of The Muslim Faith, dia banyak membeberkan fakta-fakta kehidupan dalam negara Khilafah.

“Perlakukan terhadap warga Kristen oleh Pemerintah Khilafah Turki Utsmani selama kurang lebih dua abad setelah penaklukan Yunani telah memberikan contoh toleransi keyakinan yang sebelumnya tidak dikenal di daratan Eropa.”

Karen Amstrong mengatakan bahwa kaum Yahudi menikmati zaman keemasan di Andalusia. Dia mengatakan “Under Islam, the Jews had Enjoyed a golden age in al-Andalus.”

Kemewahan infratruktur pada masa KeKhilafahan Bani Umayyah, Cordoba menjadi ibu kota Andalus dikelilingi dengan taman-taman hijau. Pada malam harinya diterangi dengan lampu-lampu sehingga pejalan kaki memperoleh cahaya sepanjang sepuluh mil tanpa terputus.

Baca juga:  Islam Radikal: Propaganda Menjegal Islam Kaffah

Lorong-lorongnya dialasi dengan batu ubin, dan sampah-sampah singkirkan dari jalan-jalan. Pada malam hari ada sebuah masjid dengaan 4.700 buah lampu yang meneranginya dan setiap tahunnya menghabiskan 24.000 ritl minyak. Di sisi Selatan masjid tampak 19 pintu berlapiskan perunggu yang sangat menakjubkan kreasinya, sedang di pintu tengahnya berlapiskan lempengan-lempengan emas.

Dalam pendidikan, Khilafah sangat memperhatikan agar rakyatnya cerdas. Anak-anak bersekolah dan Negaralah membayar para gurunya. Selain 80 sekolah umum Cordoba yang didirikan Khalifah Al-Hakam II pada 965 M, masih ada 27 sekolah khusus diperuntukkan anak-anak miskin.

Sementara di Kairo, Al- Mansur Qalawun mendirikan sekolah anak yatim. Dia juga menganggarkan setiap hari ransum makanan yang cukup serta satu stel baju untuk musim dingin dan satu stel baju untuk musim panas. Bahkan, untuk orang-orang badui yang berpindah-pindah, dikirim guru yang juga siap berpindah-pindah mengikuti tempat tinggalnya.

Kemudian, menurut Ibnu Haukal, di suatu kota dari kota-kota Sicilia ada 300 kuttab, bahkan ada beberapa kuttab yang luas dan mampu menampung hingga ratusan bahkan ribuan siswa. Lalu dalam bidang kesehatan, Negara membangun rumah sakit di hampir semua kota seantero (negara) Khilafah.

Bahkan, pada tahun 800 M, di Baghdad sudah dibangun rumah sakit jiwa yang pertama di dunia. Rumah sakit-rumah sakit ini bahkan menjadi favorit para pelancong asing yang ingin mencicipi sedikit kemewahan tanpa biaya, karena seluruh rumah sakit di dalam negara Khilafah bebas biaya.

Dalam sebuah kota yaitu Sevilla, terdapat 6.000 alat tenun untuk sutera. Setiap penjuru kota dikelilingi pohon-pohon zaitun, sehingga di tempat tersebut terdapat 100.000 tempat pemerasan minyak zaitun. Kota-kota peninggalan Islam hingga sekarang terdapat pabrik-pabrik baju besi, topi baja, dan alat perlengkapan baja lainnya.

Maka, bukti-bukti tentang keemasan Khilafah tidak sebatas pada apa yang disebutkan di atas. Masih sangat banyak bentuk kegemilangan yang menjadi catatan emas sejarah Islam dari masa Khulafaur Rasyidin hingga masa Khalifah-Khalifah setelahnya.

Jadi, kalau ada yang mengatakan bahwa Khilafah itu akan membawa kemunduran suatu bangsa, sekali lagi penulis menyatakan, hal tersebut merupakan propaganda jahat untuk menyerang ajaran Islam. Boleh jadi karena tekait dengan kepentingan dan urusan duniawi yang dijanjikan padanya untuk didapatkan. Sungguh ironis. [MNews]


Tinggalkan Balasan