; Mahasiswa dan Rakyat, Ketahuilah Siapa Musuh Kalian yang Sebenarnya! - Muslimah News

Mahasiswa dan Rakyat, Ketahuilah Siapa Musuh Kalian yang Sebenarnya!

Perjuangan kalian; mahasiswa dan rakyat, haruslah perjuangan menuju perubahan sistem. Tak akan tercapai perubahan hakiki tanpa perubahan sistem. Jadilah pejuang perubahan ideologis bukan pragmatis. Bila tidak, maka derap langkah perjuangan kalian akan dimanfaatkan kaum oportunis yang sedang berebut kue kekuasaan.


Oleh: Iwan Januar

MuslimahNews.com, OPINI – Bumi pertiwi kembali bergolak. Ribuan mahasiswa di berbagai kota kembali bergerak. Bara perubahan menyala dan mulai memanas. Gedung anggota dewan dikepung dan gerbangnya sudah dirobohkan.

KPK yang dilemahkan;
Karhutla yang masih membara dan berasap;
Para menteri korup;
Utang negara  yang menggunung.

Hanya sebagian bahan bakar kegeraman mahasiswa dan warga terhadap ketidakwarasan pengurusan negeri ini. Negeri yang harusnya kaya raya, makmur, dan punya pemimpin yang amanah, justru ditimbun ribuan musibah.

Mahasiswa, rakyat, ulama, santri harus berderap menggalang gelombang perubahan. Inqilabiyyah. Totalitas.

Tapi, gelombang perubahan tanpa tahu siapa sebenarnya –the real enemy– yang kita hadapi, seperti bertarung dengan bayangan dengan jurus dewa mabuk. Melelahkan dan berujung pada terperangkap dalam irama gendang musuh.

Maka kenali musuh-musuh kalian sebelum turun ke gelanggang. Siapa saja?

Pertama, kaum oportunis, baik para pejabat dan politisi rakus pemburu rente, anggota dewan, akademisi, seniman dan budayawan, hingga tokoh agama.

Mereka ini ibarat dasamuka yang berwajah sepuluh dan bisa berganti-ganti. Mereka bisa paling keras teriak Pancasila, NKRI Harga Mati, atau juga duduk khusyu di mesjid dan majlis talim. Paling kencang serukan perlawanan pada radikalisme agama tapi semua kedok untuk pertahankan jabatan dan salurkan syahwat bejatnya. Mereka takkan sungkan jual negara pada imperialis asing asal bisa menjadi fulus. Percayalah, mereka tak pernah cinta tanah air selain fulus dan fulus sampai mampus.

Lihat saja, hari ini sudah mulai tampak politisi, pejabat, dan ketua parpol, juga media massa yang berbalik mengkritisi rezim. Mereka cuci tangan dan seolah bertobat melebihi tobatnya Nabi Adam. It’s all fake. Palsu! Mereka sedang bidik peluang untuk bisa bertahan andai rezim ini tumbang (karena mereka tahu takkan lama lagi ini akan terjadi).

Merekalah komprador-komprador asing yang siap menunggangi perjuangan rakyat. Mereka pandai berselancar di atas gelombang. Seolah mendukung kalian tapi sebenarnya berusaha mempertahankan diri.

Kedua,tentakel gurita imperialis asing.

Pahami bila Indonesia adalah kawasan imperium asing sejak dulu hingga sekarang. Bumi pertiwi sudah dalam cengkraman dan terus diperebutkan mereka. Tiongkok dan AS kini memperebutkan pengaruh dan kepentingan mereka di sini.

Tentakel-tentakel itu adalah korporat-korporat asing dan LSM-LSM yang menancapkan pengaruhnya di tanah air. Tentakel-tentakel itu tak jarang mempengaruhi penyusunan undang-undang untuk melakukan liberalisasi nilai sosial, ekonomi dan politik yang memuluskan kepentingan mereka di tanah air.

Ketiga, ideologi asing terutama kapitalisme-liberalisme.

Praktik kapitalisme-neoliberalisme di negeri ini sebenarnya sudah begitu telanjang, meskipun coba ditutupi sebegitu banyak tokoh dengan slogan “Saya Pancasila” atau “NKRI Harga Mati”. Negeri ini sudah terperosok dalam jurang neoliberalisme; utang LN berbasis riba, penguasaan SDA oleh asing, liberalisasi di bidang sosial dengan seperti elGeBeTe, legalisasi perzinaan, dll.

Kerusakan negeri ini bukan hanya karena semata pemimpin tidak kredibel dan korup, tapi akibat menerapkan ideologi kapitalisme-neoliberalisme. Maka jika tuntutan mahasiswa hari ini sebatas pergantian rezim, apalagi hanya pembatalan RUU KPK, RUU KUHP, dll., hanya akan memutar jarum sejarah untuk masuk lagi ke dalam vicious circle.

Belakangan muncul lagi sebagian orang yang mencoba mempopulerkan ideologi yang sudah jadi bangkai sejarah; sosialisme-komunisme. Itu pun sama, bahkan lebih buruk. Sosialisme-komunisme lebih dulu bangkrut dan mati ketimbang kapitalisme yang dikritiknya, dan sudah dicampakkan negara-negara penganutnya.

Bahkan, Tiongkok pun sudah mengadopsi sistem ekonomi kapitalisme, bukan sosialisme-komunisme.

Namun, musuh terbesar kalian adalah pihak asing yang terus mengaduk-aduk keadaan negeri ini sebagai daerah jajahan mereka. Mereka yang mengarahkan politik dan ekonomi para pemimpin di negeri ini. Mereka yang menanamkan ideologi kapitalisme-neoliberalisme sekaligus dengan operator-operatornya di lapangan, yakni para penguasa, akademisi, seniman-budayawan, jurnalis dan tokoh agama.

Karenanya perjuangan kalian; mahasiswa dan rakyat, haruslah perjuangan menuju perubahan sistem.

Tak akan tercapai perubahan hakiki tanpa perubahan sistem. Jadilah pejuang perubahan ideologis bukan pragmatis. Bila tidak, maka derap langkah perjuangan kalian akan dimanfaatkan kaum oportunis yang sedang berebut kue kekuasaan.

Pasca pilpres 2019, pertarungan politik sudah berubah bukan lagi kubu 01 melawan 02, tapi tarik menarik kepentingan politik. Kaum oportunis ini memanfaatkan momentum, menciptakan kekisruhan dan mengeksploitasi kebodohan sosok yang berada di panggung politik untuk terus membangun kebencian rakyat sehingga menjadikannya bahan bakar konflik politik untuk kepentingan mereka. Waspadalah!

Sekali lagi, jadilah pejuang perubahan ideologis.

Dan hanya satu ideologi yang sahih, menjamin kebaikan umat manusia; Islam. Bukan sosialisme-komunisme, juga bukan kapitalisme-neoliberalisme. [MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *