Dari Materi Perang dalam Islam Kita Belajar

Oleh: Ummu Naira (anggota Forum Muslimah Indonesia/ ForMind)

MuslimahNews.com, OPINI — Islam adalah agama (din) yang sempurna. Islam mengatur hubungan manusia dengan Sang Khalik Allah Subhanahu wata’ala (hablum minallah), hubungan manusia dengan dirinya sendiri (hablum minafsih) dan hubungan manusia dengan sesama (hablum minannas). Allah menurunkan Alquran sebagai petunjuk atas segala problematika yang mungkin akan dihadapi manusia dalam hubungannya dengan tiga hal tersebut.

Hubungan manusia dengan Allah terlihat pada aktivitas ibadah mahdhah seperti salat, puasa, zakat, haji, dan lain-lain. Sedangkan bentuk hubungan manusia dengan dirinya sendiri terlihat pada akhlak seperti jujur, amanah, dan lain-lain.

Adapun bentuk hubungan manusia dengan sesama manusia akan nampak pada aktivitas muamalahnya dengan orang lain. Aturan Islam dalam hal muamalah berupa aturan dalam bidang ekonomi, politik, pemerintahan, pendidikan, sosial dan uqubat (sanksi).

Aspek Pendidikan dalam Sistem Islam

Masalah pendidikan sangat diperhatikan dalam sistem Islam. Dalam Alquran dan hadis Rasulullah disebutkan bahwa Islam mewajibkan kaum muslimin untuk menuntut ilmu. Allah juga meninggikan derajat orang-orang yang berpengetahuan.

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِذَا قِيلَ لَكُمْ تَفَسَّحُوا فِي الْمَجَالِسِ فَافْسَحُوا يَفْسَحِ اللَّهُ لَكُمْ ۖ وَإِذَا قِيلَ انْشُزُوا فَانْشُزُوا يَرْفَعِ اللَّهُ الَّذِينَ آمَنُوا مِنْكُمْ وَالَّذِينَ أُوتُوا الْعِلْمَ دَرَجَاتٍ ۚ وَاللَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ خَبِيرٌ

Hai orang-orang beriman apabila dikatakan kepadamu: “Berlapang-lapanglah dalam majelis”, maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi kelapangan untukmu. Dan apabila dikatakan: “Berdirilah kamu”, maka berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. Dan Allah Maha Mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Mujadalah: 11)

Baca juga:  Perang Dagang AS – Cina

Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda, “Menuntut ilmu itu wajib atas setiap Muslim.” (HR Ibnu Majah, Ibn Adi, al-Baihaqi dan ath-Thabrani).

Selain itu, para mujtahid juga merumuskan bagaimana gambaran umum sistem pendidikan dalam Islam. Asas pendidikan Islam adalah akidah Islamiyah. Segala kurikulumnya didasarkan pada akidah Islam.

Tujuan dari pendidikan Islam adalah membekali pemikiran dengan konsep utuh tentang Islam secara komprehensif sehingga setiap muslim akan memakai ilmu pengetahuannya dalam setiap aspek kehidupan.

Materi Perang dalam Sistem Pendidikan Islam

Materi pelajaran yang diberikan kepada siswa adalah materi tentang ilmu pengetahuan dan tsaqofah. Ilmu pengetahuan (sains) diajarkan sesuai dengan keperluan, kemampuan dan kemauan siswa. Jika ada siswa setingkat SMP atau SMA sudah berkeinginan untuk mendalami ilmu kedokteran dan ia dipandang mampu, maka ia akan segera diberi ilmu tersebut.

Termasuk ilmu-ilmu di bidang yang lain, misalkan robotik, elektronik, dan lain-lain. Islam tidak berbelit-belit dalam memberikan ilmu kepada siswa. Adapun tentang tsaqafah Islam menyangkut ilmu tentang akhlak, ibadah, muamalah (ekonomi, pemerintahan, sosial budaya, politik dll yang semuanya dilandaskan pada ajaran Islam).

Bagaimana dengan materi pelajaran tentang perang? Sistem Islam tidak akan menutup-nutupi bagaimana sejarah Islam yang sesungguhnya, termasuk peperangan yang terjadi pada masa Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wa sallam atau masa-masa kekhilafahan sesudahnya.

Materi tentang jihad dan perang menjadi bagian dari sejarah peradaban Islam dan juga bagian dari dakwah Islam di era Kekhilafahan Islam. Namun demikian, Islam tidak mengajarkan agar anak-anak melakukan kekerasan, anarkis, atau sejenisnya. Karena sejatinya ajaran Islam adalah ajaran yang damai dan toleran kepada nonmuslim. Bahkan di dalam Alquran juga Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

Baca juga:  Kewajiban Perang dalam Islam

لَا إِكْرَاهَ فِي الدِّينِ ۖ قَدْ تَبَيَّنَ الرُّشْدُ مِنَ الْغَيِّ ۚ فَمَنْ يَكْفُرْ بِالطَّاغُوتِ وَيُؤْمِنْ بِاللَّهِ فَقَدِ اسْتَمْسَكَ بِالْعُرْوَةِ الْوُثْقَىٰ لَا انْفِصَامَ لَهَا ۗ وَاللَّهُ سَمِيعٌ عَلِيمٌ

“Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barang siapa yang ingkar kepada Thaghut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 256).

Materi tentang jihad atau perang dalam sistem Islam bukan untuk melakukan tindak kekerasan atau menimbulkan kekacauan (chaos) di tengah-tengah masyarakat.

Memang, di tengah isu pemberitaan yang sumir tentang Islam di masa sekarang ini, kekhawatiran sebagian masyarakat mungkin saja muncul karena tidak paham bagaimana sejatinya Islam sangat menghargai nyawa manusia.

Aturan Perang dalam Islam

Dari materi tentang perang kita juga akan memahami bahwa Islam adalah agama yang beradab, termasuk dalam soal perlakuan terhadap tawanan perang. Islam melarang membunuh anak, perempuan, orang tua, dan orang yang sedang sakit. (Imam Abu Dawud).

Islam melarang melakukan pengkhianatan atau mutilasi. Jangan mencabut atau membakar telapak tangan atau menebang pohon-pohon berbuah. Jangan menyembelih domba, sapi, atau unta, kecuali untuk makanan. (Al-Muwatta).

Baca juga:  Menolak Moderasi Makna Jihad; Jangan Samakan Jihad dengan Terorisme

Islam juga melarang membunuh para biarawan di biara-biara, dan tidak membunuh mereka yang tengah beribadah. (Musnad Ahmad Ibn Hanbal). Tidak boleh menghancurkan desa dan kota, tidak merusak ladang dan kebun, dan tidak menyembelih sapi. (Sahih Bukhari, Sunan Abu Dawud)

Nabi saw juga telah memerintahkan secara jelas untuk merawat tawanan perang. Sejarah mencatat bagaimana umat Islam saat itu menangani tawanan pertama selepas Perang Badar pada 624 Masehi. Sebanyak 70 orang tawanan Makkah yang ditangkap dalam perang itu dibebaskan dengan atau tanpa tebusan.

Rasulullah Sallallahu ‘alaihi wasallam juga memberikan perintah untuk tidak memaksa tawanan perang berpindah agama. Itu sebabnya, Nabi membiarkan penyembah berhala Thamamah Al-Hanafi yang tertangkap dalam pertempuran untuk tidak berpindah agama. Nabi lebih memilih meminta para sahabat untuk berdialog bersama Al-Hanafi saat penyembah berhala itu merasa terjamin keselamatannya.

Dalam pertempuran Badar, Nabi Muhammad SAW juga tidak membiarkan para tawanan berpakaian lusuh. Nabi memerintahkan para sahabat untuk memberikan pakaian yang layak. “Setelah Perang Badar, para tawanan perang dibawa, di antara mereka adalah Al-Abbas bin Abdul Muthalib. Dia tidak punya baju, jadi Nabi mencari kemeja untuknya. Ternyata kemeja Abdullah bin Ubayy memiliki ukuran yang sama. Selanjutnya, Nabi (saw) memberikannya kepada Al-Abbas untuk dipakai.” HR. Bukhari (republika.co.id, 23/12/2011).

Bagaimanapun, jihad atau perang adalah puncak keagungan Islam. Jihad menjadi metode mendasar untuk mendakwahkan Islam ke luar negeri (Daulah Islam). Mengemban dakwah Islam merupakan aktivitas pokok Daulah Islam setelah penerapan hukum-hukum Islam di dalam negeri.[MNews]

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *