; Berdoalah dan Berjuang untuk Membangun Kembali Perisai Kita, Khilafah, sehingga Kashmir yang Diduduki Dibebaskan - Muslimah News

Berdoalah dan Berjuang untuk Membangun Kembali Perisai Kita, Khilafah, sehingga Kashmir yang Diduduki Dibebaskan

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Oleh: Tariq Ali (Pakistan)

MuslimahNews.com, INTERNASIONAL – Presiden Amerika Serikat (AS), Donald Trump, mengumumkan pada 16 September 2019, bahwa ia akan bertemu dengan para pemimpin India dan Pakistan, dalam “beberapa hari ke depan”, sembari mengklaim bahwa “banyak kemajuan sedang dibuat” dalam upaya meredakan ketegangan antara dua negara-bersenjata-nuklir Asia Selatan.

Adapun Muslim Pakistan yang mulia, sejak 5 Agustus 2019, ketika pemerintahan Modi menyatakan aneksasi paksa atas pendudukan Kashmir, mereka marah, gelisah, dan khawatir. Duduk di seberang Garis Kontrol, yang mudah dijangkau dari lembah, Muslim Pakistan menyaksikan ketika saudara-saudara mereka di Kashmir menjadi korban dari gelombang terorisme militer Negara Hindu.

Demikianlah, Muslim Kashmir yang tangguh mengalami serangan fisik, kebrutalan, penyiksaan, dan penganiayaan oleh militer India yang menduduki, sementara Muslim Pakistan dalam kondisi frustrasi karena tidak dimobilisasi untuk memberi dukungan, sesuai dengan hadis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam,

«مثل المؤمنين في توادهم وتراحمهم وتواصلهم كمثل الجسد الواحد, إذا اشتكى منه عضو تداعى له سائر الجسد بالحمى والسهر»

“Perumpamaan orang-orang beriman dalam hal saling mencintai, mengasihi, dan saling berempati bagaikan satu tubuh. Jika salah satu anggotanya merasakan sakit, maka seluruh tubuh turut merasakannya dengan berjaga dan merasakan demam.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di tengah upaya putus asa untuk menenangkan umat Islam, rezim Pakistan, di level negaranya, sibuk mengecam atas kekejaman India, menyerukan boikot ekonomi dan budaya, mengetuk pintu UNSC dan OKI secara terus-menerus, melakukan pidato pers retorika, menyamakan Modi dengan (Adolf) Hitler, dan memerintahkan aksi solidaritas setiap Jumat. Akan tetapi, tak satu pun langkah rezim meredakan desakan umat Islam untuk memobilisasi angkatan bersenjata mereka yang kuat, mampu, dan mau. Meskipun (rezim Pakistan) memiliki komando atas militer dengan teknologi terbaik di dunia yang pernah ada, diamnya rezim Bajwa-Imran tidak dapat diterima umat Islam Pakistan.

Bagi Muslim Pakistan, suatu yang tidak bisa ditolerir bahwa rezim Bajwa-Imran tidak mengambil tindakan nyata dan berarti untuk membela Muslim Kashmir yang tertindas, bertindak acuh tak acuh terhadap musuh yang memutuskan urat leher kita, meskipun Allah subhanahu wata’ala mengatakan,

[وما لكم لا تقاتلون في سبيل الله والمستضعفين من الرجال والنساء والولدان الذين يقولون ربنا أخرجنا من هذه القرية الظالم أهلها واجعل لنا من لدنك وليا واجعل لنا من لدنك نصيرا]

Mengapa kamu tidak mau berperang di jalan Allah dan (membela) orang-orang yang lemah baik laki-laki, wanita-wanita, maupun anak-anak yang semuanya berdoa: “Ya Tuhan kami, keluarkanlah kami dari negeri ini (Makkah) yang zalim penduduknya dan berilah kami pelindung dari sisi Engkau, dan berilah kami penolong dari sisi Engkau!”. (QS. An-Nisa [4] : 75)

Jurang antara rezim dan rakyat makin melebar. Bagi Muslim sipil atau militer, solusi untuk krisis Kashmir saat ini jelas, intervensi militer. Namun, rezim bergerak berlawanan arah dengan meninggalkan Kashmir yang diduduki oleh Negara Hindu.

Kaum Muslimin sangat merasakan kebutuhan untuk segera memberikan dukungan militer kepada Muslim Kashmir yang tertindas, tetapi mereka menyadari bahwa hal itu tidak akan pernah terjadi di tengah kondisi saat ini.

Alasan makin melebarnya jurang tersebut adalah karena tuntutan untuk secara militer mendukung Muslim Kashmir, didorong oleh iman. Sementara, aturan rezim saat ini ditopang sistem korup tanpa kecenderungan, aturan, dan prinsip Islam.

Jurang yang menganga tersebut hanya bisa ditutup dengan menegakkan kembali Khilafah, negara Islam yang sah, yang secara mandiri akan menolak tatanan internasional korup yang ada, dan tidak menerapkan apa pun selain hukum Islam.

Oleh karena itu, penegakan kembali Khilafah harus menjadi panggilan kepada semua Muslim yang menginginkan pembebasan tanah mereka yang diduduki, dan berkuasa dengan semua yang telah Allah (swt) perintahkan.

Kita harus menyadari, aksi kita di level negara adalah berdasar Dien kita yang mulia, yang mengamanatkan pembentukan kembali Khilafah, bukan yang lain.

Jelaslah, sistem demokrasi kapitalis yang dipaksakan kepada kita oleh Barat adalah rintangan nyata dalam memberikan bantuan kepada rakyat Kashmir yang tertindas. Tatanan internasional yang memperbudak dan korup, melalui alat-alat kolonialis seperti PBB, IMF, FATF, dan Bank Dunia, adalah belenggu yang mencegah kita semua keluar menyelamatkan Muslim Kashmir.

Belas kasihan bagi umat Muslim Kashmir yang membakar hati kita menuntut agar kita sepenuhnya menolak sistem demokrasi non-Islam saat ini, dan berusaha keras untuk menegakkan kembali Khilafah sesuai metode Kenabian.

Saat itulah, hati Muslim yang berduka akan disembuhkan dengan langkah Khilafah yang nyata, tegas, dan bermakna yang mendukung umat Muslim yang tertindas di seluruh dunia.

Kepemimpinan sipil-militer dari sistem demokrasi korup yang ada, menghalangi kita untuk menggunakan kekuatan dan kemampuan kita untuk membebaskan Kashmir. Kepemimpinan dari sistem korup saat inilah yang mencegah angkatan bersenjata kita –yang siap dan mampu– memenuhi perintah Allah (swt),

[وَاقْتُلُوهُمْ حَيْثُ ثَقِفْتُمُوهُمْ وَأَخْرِجُوهُمْ مِنْ حَيْثُ أَخْرَجُوكُمْ]

“Dan bunuhlah mereka di mana saja kamu jumpai mereka, dan usirlah mereka dari tempat mereka telah mengusir kamu (Makkah)…” (QS. al-Baqarah [2] : 191)

Meskipun ada desakan bagi ‘para singa’ di angkatan bersenjata kita untuk melakukan jihad melawan militer Musyrik India, mereka akan terus dihalangi hingga kita mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk menegakkan kembali Khilafah. Rasulullah (saw) berkata,

«إِنَّمَا الْإِمَامُ جُنَّةٌ يُقَاتَلُ مِنْ وَرَائِهِ وَيُتَّقَى بِهِ»

“Sesungguhnya al-imam (khalifah) itu (laksana) perisai, di mana (orang-orang) akan berperang di belakangnya (mendukung), dan berlindung (dari musuh) dengan (kekuasaan)-nya.” (HR. Muslim)

Singa-singa kita tidak layak dipimpin oleh “kepemimpinan tak bertulang” saat ini, yang berkali-kali mengkhianati mereka, yang memerintahkan mereka berdiam diri di hadapan musuh rendahan yang (sebenarnya) berada dalam ketakutan akan serangan terkecil anggota kita yang perkasa.

Yang layak diterima singa-singa kita adalah dipimpin seorang Khalifah yang saleh, yang akan memastikan pembelaan Islam dan Muslim, melawan dan menancapkan ketakutan di hati kaum kafir yang tidak beriman.

Jadi, mari masing-masing dan semua dari kita mendesak ayah, saudara laki-laki, dan anak laki-laki kita di angkatan bersenjata untuk memberikan Nussrah (dukungan material) kepada para pendukung Khilafah, hingga akhirnya tanah kita yang diduduki dibebaskan dan tanah baru terbuka untuk Islam, sebagaimana selama berabad-abad sepanjang masa pemerintahan yang berhukum dengan apa yang Allah (swt) perintahkan.

Dan semoga Allah (swt) menjawab doa-doa dari yang tertindas di Kashmir yang diduduki dengan pertolongan-Nya mengembalikan Khilafah, perisai kita, segera (insya Allah). Rasulullah (saw) mengirim Mu’az (ra) ke Yaman dan berkata,

«اتَّقِ دَعْوَةَ الْمَظْلُومِ، فَإِنَّهَا لَيْسَ بَيْنَهَا وَبَيْنَ اللَّهِ حِجَابٌ»‏

“Takutlah kepada doa kaum yang teraniaya, sebab tidak ada hijab antaranya dengan Allah (untuk mengabulkan)”. (HR Bukhari) [Mnews]


Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *