“The Sick Man of USA”

Amerika Serikat (AS) baru menjadi adidaya setelah tahun 1945, usai mengalahkan Blok Axis -Italia-Jerman-Jepang- dalam Perang Dunia II. Namun belum juga genap seabad, penyakit Paman Sam kian kronis. Kepemimpinan Presiden ke-45, Donald John Trump menambah parah kondisi AS.


Oleh: Pratma Julia Sunjandari

MuslimahNews.com, ANALISIS – Sesumbar Trump dalam pidato kenegaraan -State of the Union/SOTU- pada 5 Februari 2019, “Tidak ada negara mana pun di dunia ini yang dapat bersaing dengan Amerika” terbukti hanya pepesan kosong. Bisa jadi Trump ‘dipilih’ Allah, untuk mengakhiri posisinya sebagai negara nomor satu. Sepak terjang politiknya penuh kesalahan, sehingga tak menutup kemungkinan bakal mengikuti jejak Mikhail Gorbachev yang mengakhiri hidup Union of Soviet Socialist Republics pada 26 Desember 1991.

AS Sempoyongan di Luar Negeri

James Dobbins –peneliti senior RAND Corporation– dalam artikelnya Time to Return to the Basics of Statecraft mengakui pengaruh AS atas dunia selama dua dekade terakhir terus alami kemunduran tanpa henti.[1] Di Timur Tengah, AS kelabakan atasi masalah Afghanistan, Irak dan metastasis Al Qaidah di dunia Muslim.

Perang Afghanistan menelan anggaran militer AS hingga USD12,5 miliar[2]. Jika dihitung, hampir 7.000 personel militer tewas dalam perang Afghanistan dan Irak sejak 2001.[3] Trump yang berencana mengulang demokratisasi ala Arab Springs dengan menarik 5.400 tentaranya dari Afghanistan[4] masih mengalami kebuntuan negosiasi dengan Taliban.

Donald J. Trump

Buku dan artikel yang mengulas tentang runtuhnya tatanan dunia liberal, erosi demokrasi, dan akhir abad Amerika makin bertambah. Pengaruh global AS kian terkikis. Kejayaan AS atas Timur Tengah seperti yang terjadi pada awal tahun 1990-an mulai pudar.

Trump tak dapat mengulang keberhasilan Jimmy Carter (1977 – 1981) dalam menciptakan pertahanan Teluk Persia, menggalang dukungan rahasia bagi pemberontak anti-Soviet di Afghanistan, mendapatkan dukungan penyebaran rudal nuklir dari Eropa dan menegaskan peran HAM dalam kebijakan AS. Atau mengikuti kesuksesan Ronald Reagan dan George H.W. Bush dalam menyebarluaskan demokrasi, mengurangi senjata nuklir, menyatukan kembali Jerman dan memenangkan Perang Dingin. [5]

Di kawasan Pasifik, strategi a free and open Indo-Pacific yang dimaksudkan AS untuk menguasai wilayah itu terganjal manuver Cina. Sekutu AS yang tergabung dalam Quadrilateral Security Dialogue (QSD) atau Quad yakni Australia, Jepang dan India tak bisa menahan godaan Cina. Jepang masih berminat pada proyek Belt and Road Initiative (BRI) dan kerja sama ekonomi lain dengan Cina.

Peta perkembangan Belt and Road Initiative.

Sedangkan bagi Australia, Cina adalah mitra dagang terbesarnya, yang menguasai hampir ¼ total perdagangan. Cina juga memiliki lobi kuat pada semua partai Australia dalam kondisi politik yang ‘kurang stabil.’ Karena, amat jarang Perdana Menteri Australia berhasil menyelesaikan tiga tahun masa jabatannya dengan mulus. Demikian pula India. Pragmatismenya menjadikan India harus mencari kerja sama dari semua –apalagi Cina yang amat ekspansif- demi mencapai tujuan samridhi (kemakmuran).[6]

Rusia pun turut mempermainkan satelit-satelit AS. Memanfaatkan Forum Ekonomi Timur (Eastern Economic Forum) yang digagas Presiden Vladimir Putin dan selalu diadakan di Vladivostok sejak 2015, Rusia memperluas pengaruhnya di kawasan Asia-Pasifik. Tahun ini, forum yang diselenggarakan 4 – 6 September 2019 ditandai dengan peneguhan ikatan yang lebih erat antara Rusia dan India. PM India Narendra Modi memastikan hal itu sebagai bagian dari inisiatif Make in India untuk mendorong perusahaan asing berproduksi di sana. Apalagi, India adalah klien utama industri senjata Rusia.[7] Sedangkan dengan PM Jepang Shinzo Abe, Putin berusaha mempromosikan kegiatan ekonomi bersama di dua pulau yang disengketakan – Kunashiri dan Etorofu – mulai Oktober 2019. [8]

PM India Narendra Modi (kiri) bersama dengan Presiden Rusia Vladimir Putin (kanan). Foto: themoscowtimes.com

Kemerosotan AS, menurut Dobbins tak bisa mempersalahkan Cina atau Rusia.[9] Rusia adalah musuh bebuyutan AS, dan dianggap bertanggung jawab atas kemenangan Trump dalam Pilpres AS 2016. Sementara dengan Cina, permusuhan AS memuncak dalam perang dagang yang berlangsung sejak Maret 2018. Dobbins berpendapat, kegagalan-kegagalan itu disebabkan oleh Amerika sendiri, akibat dari kebijakan yang cacat dan bukan perubahan yang menentukan keseimbangan kekuatan global. [10]

AS Terjungkal Hadapi Masalah Dalam Negeri

Tidak hanya dalam politik luar negeri, kegagalan AS juga terjadi pada internal generasinya. Bagaimana mereka mampu bertahan sebagai adidaya jika tak ada anak ‘biologis’ yang menjadi ‘anak’ ideologisnya?

Survei NBC News Wall Street Journal yang dilakukan 10 -14 Agustus 2019 menyimpulkan bahwa nilai-nilai yang dipandang penting oleh AS telah berubah selama dua dekade terakhir. Anak muda AS kini kurang mementingkan patriotisme, agama, dan keinginan memiliki anak.

Generasi muda AS lebih menghargai kerja keras, toleransi, keamanan finansial, dan kepuasan diri. Hanya 30 persen yang menganggap agama sangat penting. Demikian pula tentang keinginan memiliki anak, hanya 43 persen mengatakan itu sangat penting. Perubahan pandangan generasi baru juga menunjukkan patriotisme bukan lagi hal penting.[11]

Di sisi lain, blessing in disguise, muslim AS mendapatkan berkah dari keengganan beragama dan memiliki anak itu. Penelitian demografis Pew Research Center menunjukkan pada tahun 2017, pertumbuhan muslim meningkat hingga ditaksir ada 3,45 juta muslim dari semua tingkat umur yang hidup di AS. Artinya ada kurang lebih 1,1 persen muslim dari jumlah penduduk AS. Sementara waktu berjalan, jumlah Muslim di AS terus bertambah pada laju 100 ribu orang per tahun, baik berkat tingkat kesuburan yang tinggi maupun kedatangan imigran Muslim.[12]

Foto muslim di Amerika melaksanakan salat di Washington DC, 2009. Foto: vox.com, Islam in America.

Pada aspek ketiga, patriotisme generasi AS berkurang seiring menipisnya kepercayaan generasi muda pada kapitalisme. Riset Harvard University pada 2016 terhadap penduduk pada rentang usia 18-29 tahun menunjukkan 51 persen tidak mendukung kapitalisme.[13] Benak mereka dipenuhi gambaran masa depan suram akibat krisis finansial yang dihasilkan kapitalisme. Harga rumah makin mencekik, di samping 44 juta warga AS yang masih terbebani pembayaran utang kuliah hingga mereka bekerja. Mereka sadar kapitalisme adalah ideologi tua, dan orang-orang muda ini sudah lelah dengan ketimpangan yang mereka warisi. Meski belum jelas sistem alternatif seperti apa yang diharapkan, 33 persen responden menyatakan dukungan terhadap sosialisme.[14]

Polling menunjukkan generasi milenial AS menolak pasar bebas kapitalisme.

Demikian pula laporan tahunan demokrasi 2018 yang dibuat Freedom House. Laporan itu menyebutkan bahwa beberapa tahun terakhir demokrasi di AS melemah secara signifikan. Trump dinilai menimbulkan bahaya bagi demokrasi karena tidak menghargai prinsip-prinsipnya. Pelemahan demokrasi di AS diikuti oleh 68 negara yang mengalami penurunan dalam hak politik dan kebebasan sipil pada tahun 2018.

Nyatanya, 2018 merupakan tahun ke-13 terjadi kemerosotan berturut-turut dalam kebebasan global. [15] Tentu saja hal ini tidak menguntungkan AS yang amat mendewakan liberalisme.

Pada kinerja ekonomi, kapitalisme memang terus menerus menunjukkan kerentanannya atas krisis. Juru bicara IMF Gerry Rice menuturkan, ketegangan perdagangan mulai mempengaruhi ekonomi dunia yang sebelumnya sudah menghadapi berbagai hambatan. Pelemahan aktivitas manufaktur tidak kunjung membaik sejak krisis keuangan global pada 2007-2008. Ketegangan geopolitik dan perdagangan menyebabkan ketidakpastian dan mengikis kepercayaan bisnis maupun investasi. Dampak perang dagang AS vs Cina terjadi lebih cepat. Bahkan Rice melukiskan prospek ekonomi sebagai ‘sangat berbahaya’ dan ‘sangat rapuh’.[16]

Khatimah

Pergiliran kekuasaan adalah sunnatullah, sebagaimana yang telah ditorehkan dalam sejarah. Syekh Taqiyuddin An Nabhani turut menjabarkan fenomena itu dalam Mafahim Siyasiy Lii Hizbit Tahrir. Beliau rahimahullah mengungkapkan bahwa negara adidaya bisa melemah dan digantikan posisinya oleh negara-negara lain hingga mengubah konstelasi internasional. Perubahan konstelasi internasional inilah yang akan mengubah bentuk hubungan negara adidaya dan melahirkan perbedaan dalam kekuatan dan kelemahan antarnegara.

Realitas ini pernah terjadi pada Inggris ketika disaingi oleh Jerman; atau dapat pula menguat sebagaimana terjadi pada AS ketika memukul pengaruh Inggris dan Prancis. Atau kedudukan seimbang antara AS dan Uni Soviet terjadi setelah pertemuan Wina 1961; atau dapat pula AS berjaya menjadi adikuasa tanpa pesaing atas kedudukannya setelah runtuhnya Uni Soviet.

Cukuplah semua realitas tersebut menjadi pembenaran bahwa pergiliran kekuasaan yang menghancurkan kapitalisme sebagai ideologi kian menjelang. “The sick man of USA” akan menjadi tanda awal keruntuhan itu.

Lambat laun AS akan kehilangan kemampuannya dalam mengontrol dunia, termasuk kehilangan kemampuan dalam membendung laju perkembangan ideologi Islam hingga siap menggantikannya di tampuk kekuasaan dunia.

Sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Tiap-tiap umat mempunyai batas waktu; maka apabila telah datang waktunya mereka tidak dapat mengundurkannya barang sesaat pun dan tidak dapat (pula) memajukannya.” (TQS Al A’raf ayat 34), maka ajal kapitalisme akan tiba saatnya.

Bagi kaum mukminin, Khilafah adalah wa’dulah, janji Allah yang pasti tertunaikan.

Demikianlah pula keyakinan Imam Al Qurthubi (1214-1273) sehingga mengungkapkan tafsir QS An Nuur ayat 55 dalam kitab tafsirnya bahwa,

“Janji Allâh ini tidak terbatas hanya untuk Khulafâ-ur Râsyidîn radhiallâhu’anhum saja, sampai harus dikhususkan dari keumuman ayat. Bahkan segenap Muhâjirîn dan kaum muslimin yang lain juga masuk dalam janji-janji ayat ini… Maka pendapat yang sahih adalah bahwa ayat ini berlaku umum untuk umat Muhammad SAW, tidak bersifat khusus .” [Tafsîr al-Qurthubi: 12/299]

Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah juga menjadi bisyarah Rasulullah shallallahu’alaihi wasalam melalui hadis HR. Ahmad dalam Musnad-nya (no. 18430), Abu Dawud al-Thayalisi dalam Musnad-nya (no. 439); Al-Bazzar dalam Sunan-nya (no. 2796)). “…Tsumma takunu Khilafah ‘alaa minhajin nubuwwah.”

Setelah kekuasaan jabbriyah diktatorisme AS dengan segenap satelit, pengekor, dan pesaingnya –yang terkamuflase dalam ilusi demokrasi- tumbang, saatnya Khilafah kembali memimpin dunia. Sekali lagi: itu tak akan lama. Insya Allah. [MNews]


[1] https://www.rand.org/blog/2019/09/time-to-return-to-the-basics-of-statecraft.html

[2] https://www.voaindonesia.com/a/biaya-perang-as-di-afghanistan-jadi-12-5-miliar-/4055652.html

[3] https://www.voaindonesia.com/a/konflik-perdagangan-warnai-pidato-trump-terkait-kebijakan-luar-negeri/4774909.html

[4] https://www.bbc.com/indonesia/indonesia-49723697

[5] Ibidem 1

[6] https://amti.csis.org/the-indo-pacific-whats-in-a-name/

[7] https://www.aljazeera.com/news/2019/09/putin-modi-vow-closer-ties-east-economic-forum-190904092531421.html

[8] https://www.japantimes.co.jp/news/2019/09/04/national/politics-diplomacy/abe-trip-to-russia-summit-putin/#.XYMyJygzbIU

[9] Ibidem 1

[10] Ibidem 1

[11] https://www.voaindonesia.com/a/nilai-nilai-amerika-alami-pergeseran-besar/5073890.html

[12] https://www.voaindonesia.com/a/berapa-banyak-jumlah-muslim-di-amerika-/4787482.html

[13] https://tirto.id/fenomena-bernie-sanders-amp-mekarnya-sosialisme-di-kalangan-muda-as-dhwv

[14] Ibidem 13

[15] https://www.voaindonesia.com/a/demokrasi-as-alami-pelemahan-signifikan/4772993.html

[16] https://republika.co.id/berita/pxqfdw423/imf-perang-tarif-chinaas-berpotensi-pangkas-gdp-global

Apa komentar Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *