Bagaimana Dunia Menjadi Sangat Tergantung pada Amerika

Oleh: Muhammed Mustafa

MuslimahNews.com, POLITIK — Amerika adalah negara adikuasa global dengan jangkauan global yang sesungguhnya, ia adalah (dianggap) satu-satunya negara adikuasa dalam sejarah yang mencapai jangkauan ini. Sebagai perbandingan, Kekaisaran Romawi dan Kekaisaran Persia hanya dianggap sebagai kekuatan regional bukan adikuasa, bahkan kekhalifahan dinilai sekadar kekuatan regional.

Saat ini hegemoni Amerika mengendalikan dan menjalankan dunia, tidak hanya terlibat tetapi dominan dalam urusan dunia. Tidak terkecuali Dunia Muslim. Pertanyaannya bukan mengapa, tapi bagaimana Amerika Serikat datang untuk mengatur dunia?

Pada akhir Perang Dunia Kedua (WW2), Inggris, Prancis, dan negara-negara Eropa lainnya kehilangan sebagian besar pengaruhnya atas koloni mereka di seluruh dunia. Sejak WW1, Amerika menyaksikan kehancuran Eropa, dan pada akhir WW2, dipastikan bahwa kekuatan Eropa tidak akan dapat pulih kembali dari segala kesulitan ini. Dengan demikian, AS memutuskan sudah waktunya memasuki panggung dunia, karena penurunan Eropa yang tak terhindarkan.

Ketika kedua Perang Dunia berlangsung sengit, AS awalnya menyaksikan dari wilayahnya, lebih suka menjadi pengamat, dan fokus pada ekonomi domestiknya. Hingga saat Revolusi Industri, Amerika melihat munculnya dinamisme ekonomi di mana negara mulai membentuk fondasi industrinya seperti orang Eropa.

Akan tetapi, ketika itu (AS) masih merupakan negara berkembang. Selama WW2, Amerika memang ikut campur, tetapi lebih karena mempertahankan diri dari Kekaisaran Jepang, sampai pada 1944-1945 AS melangkah di mana militernya cukup mampu mendukung Eropa untuk menekan pakta kekuatan baja (Jerman, Italia, dan Jepang).

Pada akhir WW2, saingan industri Amerika –pihak Eropa dan Jepang– berkurang. Hal ini memberi Amerika peluang emas untuk masuk dan meletakkan rencana besar strategisnya yang akan membuat AS tetap berkuasa di tahun-tahun mendatang.

George Kennan, salah satu perencana strategis terbesar Amerika dan arsitek strategi penahanan Perang Dingin, menyatakan dalam Studi Perencanaan Kebijakan 23:

“Kita memiliki sekitar 50% dari kekayaan dunia tetapi hanya 6,3% dari populasinya. Dalam situasi ini, kami tidak dapat gagal menjadi objek kecemburuan dan kebencian. Tugas kita yang sebenarnya di masa mendatang adalah merancang pola hubungan yang memungkinkan kita mempertahankan posisi disparitas ini. Untuk melakukannya, kita harus berhenti berbicara tentang tujuan yang tidak nyata seperti hak asasi manusia, standar hidup, dan demokratisasi. Semakin sedikit kita terhambat oleh slogan-slogan idealis, semakin baik kita.” [Chomsky. N (2010) How the World Works: Penguin]

Oleh karenanya, ini adalah waktu yang tepat bagi AS untuk meletakkan aturan mainnya dalam rangka mengamankan (kekuatan) imperatifnya, dan membangun hubungan yang akan memberi Amerika ruang untuk mengatasi hal lainnya.

Pertama, Eropa dihancurkan oleh perang di seluruh benua akibat WW2. Amerika tahu bahwa gabungan ekonomi Eropa lebih besar daripada AS, ia memiliki lebih banyak modal dan lebih banyak orang berpendidikan daripada AS. Oleh karena itu, Amerika sadar jika Eropa dibiarkan sendiri membangun kembali reruntuhannya menjadi negara-negara kapitalis yang sukses, itu akan menimbulkan ancaman serius bagi investor dan perusahaan Amerika dalam waktu dekat.

Karenanya, sepanjang tahun 1948-1951 rencana Marshall adalah untuk membantu sejumlah US$12 miliar pinjaman yang digunakan untuk membeli sepertiga ekspor AS. Ini menjadi sangat bermanfaat bagi Amerika karena membuat Eropa di bawah pengaruhnya.

Kedua, tatanan dunia baru (Amerika) menugaskan lokasi spesifik untuk keuntungan ekonomi diri. Jerman dan Jepang disebut sebagai Tenaga Kerja, sebutan ini diberikan karena keahlian industri mereka. Negara-negara ini akan digunakan untuk produksi skala cepat untuk AS di masa depan. Dunia ketiga dikenal karena sumber dayanya dan tenaga kerjanya yang murah, yang akan membantu sabuk industri Amerika meningkatkan produksinya dengan biaya rendah. Karenanya, Amerika menciptakan nama-nama yang berbeda untuk berbagai belahan dunia sehubungan dengan pemberian manfaat ekonomi bagi masing-masing negara.

Ketiga, penghapusan standar emas pada tahun 1971 karena orang Eropa ingin menukar dolar mereka dengan emas. Ini bukan kepentingan terbaik Amerika karena pertukaran semacam itu akan mengurangi harga dolar, ditambah AS tidak memiliki cukup emas untuk mendukung dolar yang beredar. Oleh karena itu, Presiden Nixon menghapuskan standar emas sepenuhnya yang membuat orang Eropa dan seluruh dunia terpaku pada dolar selamanya. Saat ini, 40% dari semua transaksi secara global dilakukan dalam dolar. Ini adalah salah satu langkah yang dibuat Amerika dalam upayanya menjadi negara adikuasa global dan untuk mengamankan kepentingannya sepanjang masa.

Komunisme, bukanlah ancaman serius dibandingkan demokrasi; yang akhirnya akan memberikan stabilitas kepada banyak negara. Salah satu negara ini adalah Italia. Selama tahun 1948 Partai Komunis berkuasa melalui cara yang sah melalui demokrasi, karenanya, Amerika bekerja sama dengan mantan rezim fasis untuk menginstal ulang fasisme ke Italia untuk menyebabkan ketidakstabilan.

Demokrasi, ultranasionalisme, dan rezim antifasis, tidak pernah baik bagi AS, karena suatu negara akan memiliki kedaulatan atas sumber dayanya dan menjadi mandiri, yang akan menghambat modal Amerika dan menciptakan perbedaan pendapat terhadap investor Amerika.

Woodrow Wilson adalah orang yang mempropagandakan penentuan nasib sendiri bagi negara, tetapi dia tahu, bahwa jika negara menjadi kekuatan berdaulat, negara itu akan memberi mereka kemauan politik untuk mencapai kemerdekaan dan stabilitas ekonomi, bahkan kedaulatan atas sumber daya nasional mereka.

Oleh karena itu, invasi Republik Dominika dan Haiti terjadi di mana tentara membunuh ribuan dan menghancurkan lingkungan, membuat sistem politik menjadi tidak stabil dengan memasang rezim brutal, serta membiarkan perusahaan-perusahaan AS dalam kendali. 

Woodrow Wilson hanya mempromosikan penentuan nasib sendiri untuk mematahkan pengaruh kekuatan Eropa atas koloni mereka.  Namun, dia tahu bahwa dalam jangka panjang ini tidak akan sesuai untuk kepentingan imperialis Amerika, jadi dia memutuskan untuk ‘melawan’ dirinya sendiri.

Taktik pun berlanjut, bagaimana Amerika memicu kudeta di seluruh dunia, khususnya negara-negara dunia ketiga seperti Iran (1953), Guatemala (1954 dan 1963) –ketika Kennedy mendukung kudeta militer untuk mencegah demokrasi–, Brasil (1964), dan Chili (1973). 

Setiap kali revolusi terjadi, Amerika dengan cepat melakukan intervensi untuk menghancurkannya dan mencegah negara-negara menjadi stabil secara demokratis. Alasannya, demokrasi adalah ancaman terhadap kapitalisme, mereka tidak identik. 

Aristoteles dalam bukunya yang berjudul “The Politics” juga menyatakan hal yang sangat mirip, yaitu apakah Anda mengurangi ketimpangan atau mengurangi demokrasi. Dia lebih suka sistem antara oligarki dan demokrasi, karena keduanya menghasilkan berbagai masalah. Barat masih belum berhasil dalam menghasilkan sistem politik yang baik. Bahkan di Amerika, nilai-nilai demokrasi liberal hanya untuk elit semata, yang dimiliki adalah kediktatoran liberal dan tidak lebih.

Demokrasi tidak pernah ada dalam bentuknya yang paling murni, karena semakin murni demokrasi, semakin brutal jadinya bagi para elit. Karenanya, pemerintah menciptakan paradigma pembebasan dan kebahagiaan buatan dengan ukuran yang tepat untuk membodohi massa.

Buku sistem antar-Amerika, yang dikeluarkan dan dipelajari oleh Royal Institute of International Affairs di London menyatakan “sementara AS membayar lip service untuk demokrasi, komitmen nyata adalah perusahaan kapitalis swasta” ketika hak-hak investor terancam, demokrasi harus pergi. Dan jika hak-hak ini terlindungi, para pembunuh dan penyiksa akan baik-baik saja ”.

Dunia Muslim Tidak Ada Bedanya

Amerika menggunakan militer negara-negara asing untuk menyebabkan ketidakstabilan ekonomi, lingkungan, dan politik. Setelah itu, AS memutuskan untuk menyerahkan masalah negara kepada warga sipil di mana mereka akan memilih seorang pemimpin, atau terkadang AS akan menempatkan seorang pemimpin sendiri tergantung pada kelemahan negara tersebut.

Akhirnya, para penguasa ini lari ke Amerika untuk mendapatkan pinjaman IMF sebagai upaya menstabilkan negara. Karena itu, setelah militer turun, IMF mengambil alih untuk memerintah negara itu dan membuatnya tetap bergantung pada Amerika. Sehingga, militer tidak diperlukan lagi karena IMF menjalankan pertunjukan kecuali jika orang-orang bangkit lagi, maka militer akan digunakan lagi oleh Amerika untuk menyebabkan ketidakstabilan, lagi. Terdengar tak asing?

Hal ini membuat para elit perusahaan asing AS tetap memegang kendali dan juga para elit lokal sebab mereka mendapatkan ‘bagian dari kue’ untuk kerja sama mereka. Sementara sisanya merupakan warga sipil tak berdosa yang menderita yang biasanya merupakan 90% dari populasi. Ini adalah bagaimana Timur Tengah, Amerika Latin, dan Afrika dikendalikan oleh AS.

Hal yang sama berlaku bagi Timur Tengah, di mana diktator dan raja dipasang oleh AS, untuk memberi korporasi AS kendali atas sumber daya mereka, dan pada akhirnya, mereka mendapatkan ‘sepotong kue’ sebagai imbalan atas kepatuhan dan kerja sama mereka.

AS sangat senang dengan sosok diktator seperti Abdul Fattah as-Sisi yang memaksakan nilai-nilai liberal kepada rakyatnya, pemaksaan apa yang disebut kebebasan berbicara, kebebasan beragama, dan banyak resep liberal sekuler lainnya, ketika dalam kenyataannya solusi sebenarnya ada di depannya, yakni Islam.

Pada saat yang sama, tentara Sisi memperkosa, menyiksa, dan membunuh siapa saja yang ingin membawa Islam ke dalam kekuasaan atau memiliki kepatuhan ideologis terhadapnya (Islam). Sementara AS tidak memiliki aspirasi untuk campur tangan guna membantu orang-orang yang menderita. Tetapi selama revolusi Mesir, AS bertindak segera dan membantu Sisi berkuasa untuk mencegah (gerakan) kebangkitan.

Hal yang sama terjadi pada Pakistan, di mana krisis Kashmir baru-baru ini terjadi. Imran Khan menunjukkan banyak perang wacana tapi sminim aksi terkait penghapusan Artikel 370 oleh Modi. Kenyataannya, Amerika adalah pihak yang memiliki penguasa agen, yang sebagai imbalannya, penguasa ini berkolaborasi dengan kepentingan kekaisaran Amerika mis. IMF kolonial. Di mana Khan terus mengambil pinjaman dari IMF yang datang dengan ikatan ekstrem.

Mayoritas kebijakan IMF merugikan Pakistan dalam jangka panjang, seperti deregulasi,  sehingga arus masuk FDI dapat terjadi, devaluasi mata uang, peningkatan ekspor ke AS, dan peningkatan privatisasi. Semua kebijakan ini mendukung banyak perusahaan AS untuk menjaga dan meningkatkan kekayaan mereka. Akan tetapi, negara menderita karena pemerintah harus menerapkan pajak berat kepada masyarakat untuk menghasilkan aliran pendapatan akibat privatisasi ekstrem korporasi. Strategi ini yang membuat negara peminjam selamanya berutang.

Jadi, selayaknya ini menunjukkan bahwa AS telah menciptakan serangkaian ketergantungan di bawah paradigma kapitalis, di mana tidak ada negara yang dapat mengatasinya karena AS menjadi satu-satunya negara adikuasa dengan ekonomi dan militer yang kuat.

Semua perdagangan minyak dipatok terhadap dolar, mayoritas transaksi dilakukan dalam dolar, dan lembaga-lembaga neoliberal telah membungkus ibu kota elit AS di seluruh dunia.  Sebagai contoh, Bilderberg dan Komisi Trilateral pada tahun 1970-an dapat menunda guncangan minyak di Jepang dan Eropa yang merupakan pakar industri untuk AS –sebagaimana disebutkan sebelumnya– dengan memberlakukan kebijakan IMF pada negara-negara berkembang.

Ini kemudian menopang dunia industri, Jepang dan Eropa, ditambah sistem dolar Amerika selama beberapa dekade dengan menghancurkan aspirasi demokrasi, nasionalistis, atau revolusioner di dunia (terutama dunia ketiga).

AS telah menggunakan IMF untuk menekan mayoritas industrialisasi dunia, kecuali yang diperlukan. Lebih jauh, pada 2003 Amerika menggunakan demokrasi untuk memasuki Irak dan mengendalikan ladang minyaknya secara langsung dengan bantuan sekutunya, Inggris.  Ini adalah bagian dari “dominasi spektrum penuh” di mana AS ingin mengendalikan perkembangan ekonomi, politik dan militer di samping memonopoli teknologi militer dan bidang energi.

AS memerintahkan mata uang cadangan dunia dan sengaja merusak wilayah di seluruh dunia, sehingga mereka tidak bisa menjadi ancaman potensial bagi hegemoninya. Siapa pun yang ingin keluar dari siklus ketergantungan ini pada akhirnya akan kembali ke AS.

Seperti baru-baru ini, Imran Khan ingin menarik diri dari CPEC dan kembali ke AS untuk kelanjutan dukungan ekonomi dan militer dari bagian-bagian F-16, ditambah penghapusan gugus tugas aksi keuangan (FATF). Pakistan menyadari bahwa Cina tidak dapat menawarkan negara, dibandingkan dengan apa yang dapat AS lakukan dalam hal dukungan ekonomi, militer, dan umum. Sebab, AS telah mengeksekusi tatanan dunia sedemikian rupa, sehingga akan selalu membuat semua orang dalam posisi tetap mereka dalam sistem kapitalisme global.

Penyeimbangan Kekuasaan di Timur Tengah

Setelah menciptakan ketergantungan secara ekonomi di wilayah tersebut melalui kebrutalan ekonomi, Amerika menggunakan “Israel” untuk menjaga keseimbangan di Timur Tengah. Hal itu dilakukan untuk menjaga ibu kotanya di wilayah tersebut tetap aman.

Sebagai imbalan atas kerja sama “Israel”, AS membantu “Israel” dengan kepentingannya sendiri, seperti Tepi Barat dan Gaza. Sejak 1967, opini AS dari kedua belah pihak –Liberal dan Republik– telah disejajarkan dengan yayasan ekstremis “Israel”. Seperti pengambilalihan Yerusalem Timur Arab, meskipun pendapat dunia mengutuknya, AS masih memberi dana kepada “Israel” dan otorisasi untuk melakukan apa pun yang mereka suka. Ada juga elemen ekstremisme Kristen alias tentara salib di mana AS mengizinkan “Israel” untuk melakukan kekejaman biadab terhadap Muslim Palestina.

Hal yang sama juga berlangsung di Iran dan Arab Saudi, yang juga digunakan AS untuk menjaga keseimbangan kekuasaan di kawasan itu, dan ini disebabkan wilayah tersebut sangat rapuh. Kedua negara tetangga Iran di kiri dan kanan memiliki senjata nuklir, Pakistan di satu sisi dan “Israel” di sisi lain, karena ini Iran juga menginginkan senjata nuklir, namun Amerika membatasi Iran dengan menerapkan sanksi. Jika Iran berhasil membangun senjata nuklir, maka akan menyebabkan “Israel” merasa terancam. Oleh karena itu, konflik fisik dapat pecah yang akan menyebabkan minyak wilayah tersebut terbakar di Teluk Persia yang mengakibatkan harga minyak naik dan mempengaruhi ekonomi global.

Penyeimbangan ini tidak hanya berlaku untuk Timur Tengah, tetapi juga ke bagian lain dunia. NATO misalnya, digunakan Amerika untuk mendistribusikan kekuasaan di antara negara-negara Eropa. Namun ini hanyalah gambaran tentang bagaimana AS mempertahankan pengaruhnya di dunia Muslim.

Kesimpulan

Satu-satunya cara untuk keluar dari siklus ini adalah dengan pergeseran tektonik ideologis, sesuatu yang akan memberi dunia keamanan dan perdamaian nyata, yang akan mengatur naluri dan kebutuhan alami mereka dengan cara yang benar; sebuah ideologi yang dapat mengatasi sistem kapitalis saat ini dengan membawa sistem politik dan ekonomi yang sama sekali berbeda yang memberikan keamanan, perdamaian, dan keadilan bagi semua warga negaranya.

Karena itu, Islam adalah satu-satunya ideologi yang dapat mencapai hal ini. Komunisme ada di tempat sampah sejarah dan kapitalisme adalah satu-satunya harapan orang meskipun itu adalah harapan yang sekarat.

Akibat banyak orang di dunia menjadi pragmatis menuju perubahan, mereka tidak akan pernah dapat lolos dari sistem ini, kecuali sesuatu yang superior menggantikannya. Lebih jauh, Islam juga menentang konsep logika keseimbangan militer karena kekuatan ideologi, ia mendorong keluar kekuatan Romawi dan Persia meskipun lokasi geografis Madinah tidak mendukungnya.

Sungguh! Islam akan datang kembali dan membebaskan dunia seperti yang terjadi selama 1.400 tahun dan menunggu untuk ditulis sebagai negara adikuasa berikutnya dalam buku-buku sejarah. Begitu dekat.

Allah SWT berfirman:

هُوَ الَّذِيْۤ اَرْسَلَ رَسُوْلَهٗ بِا لْهُدٰى وَدِيْنِ الْحَـقِّ لِيُظْهِرَهٗ عَلَى الدِّيْنِ كُلِّهٖ ۙ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُوْنَ

Dialah yang telah mengutus Rasul-Nya dengan petunjuk (Alquran) dan agama yang benar untuk diunggulkan atas segala agama, walaupun orang-orang musyrik tidak menyukai.” (TQS. At-Taubah 9 : 33).

Sumber: hizb-ut-tahrir.info

Apa komentar Anda?

Jangan lupa berkomentar, ya

%d blogger menyukai ini: