“Indonesia Hijrah” Bukan Sekadar Pawai

Oleh: EL Fitrianty (penulis buku Menemukan Keimanan yang Kokoh)

MuslimahNews.com, OPINI — Tahun baru Islam 1441 Hijriah disambut gegap gempita oleh umat Islam Indonesia. Berbagai bentuk kegiatan seperti pawai, tablig akbar, parade tauhid dilakukan di berbagai daerah dengan sukacita. Seperti pawai obor di acara Jakarta Muharram Festival dalam rangka menyambut tahun baru Islam tahun ini yang diikuti sekitar 4.000 peserta (www.liputan6.com, 31/08/2019).

Pada Minggu (1/9/19) Badan Koordinasi (Badko) TPQ Kecamatan Seri Kuala Lobam (SKL) Bintan menyelenggarakan pawai diikuti oleh 2500 santri (kepri.kemenag.go.id, 02/09/2019).

Tablig akbar diadakan di banyak kota di Indonesia. Yang juga menarik, parade Muharam dengan mengendarai sepeda ontel di kampung Inggris, Pare, Kediri Jawa Timur diiringi dengan kibaran bendera tauhid pada hari Ahad, 1 September 2019 (mediaumat.news, 02/09/2019).

Makna dan Spirit Hijrah

Hijrah, secara bahasa, berasal dari kata “hajara” yang berarti berpindah dari suatu tempat ke tempat lain; dari suatu keadaan ke keadaan yang lain (Ash-Shihhah fi al-Lughah, II/243, Lisan al-‘Arab, V/250; Al-Qamus Al-Muhith, I/637).

IbnuRajab al-Hanbali dalam Fath al-Bârî menjelaskan, asal dari hijrah adalah meninggalkan dan menjauhi keburukan untuk mencari, mencintai, dan mendapatkan kebaikan. Jadi, hijrah identik dengan perubahan, dari kondisi yang buruk ke kondisi yang baik.

Spirit hijrah bagi seorang muslim tentu bukan sekadar berpindah atau berubah. Ada goal (tujuan) jangka panjang di sana. Semangat hijrah seorang muslim adalah lillah, semua dilakukan karena ada perintah dan larangan Allah Subhanahu wa ta’ala di sana.

Rasul shallallahu’alaihi wasallam bersabda:

الْمُسْلِمُ مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُوْنَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ وَالْمُهَاجِرُ مَنْ هَجَرَ مَا نَهَى اللَّهُ عَنْهُ

Seorang Muslim adalah orang yang menjadikan kaum Muslim selamat dari lisan dan tangannya. Seorang yang berhijrah adalah orang yang meninggalkan apa saja yang Allah larang atas dirinya.” (HR al-Bukhari, Abu Dawud, an-Nasai, Ahmad, Ibnu Hibban dan al-Humaidi).

Dengan begitu, maka hijrahnya seorang muslim adalah hijrah yang bermakna, penuh dengan nuansa keimanan, ada kesadaran akan hubungan dia dengan Allah sehingga harapannya akan istikamah menapaki jalan baru, jalan kebaikan yang telah dia pilih.

Spirit hijrah seorang muslim adalah bersegera melaksanakan syariat Allah Subhanahu wa ta’ala dan meninggalkan segala larangan-Nya seoptimal mungkin dalam segala aspek kehidupannya. Jadi ketaatannya totalitas dan kafah.

Hijrah bagi Bangsa Indonesia

Bagaimana seharusnya makna hijrah ini disikapi oleh bangsa Indonesia? Hijrahnya bangsa Indonesia harusnya menjadi momentum besar untuk merenungi kembali apakah sistem kehidupan yang saat ini kita pakai telah mempu mengantarkan Indonesia pada ‘kemerdekaan’ dan kebangkitan yang hakiki. Kita rasakan bahwa di tengah masyarakat masih banyak masalah politik, ekonomi, sosial, dan pertahanan keamanan.

Di bidang politik, korupsi masih menjadi masalah utama. Menurut kajian dari Indonesia Corruption Watch (ICW) yang dirilis pada 28 April 2019 menyatakan bahwa korupsi pada 2018 mencapai Rp 9,29 trilliun. Pelaku korupsi merata di semua instansi, mulai dari anggota DPR dan DPRD, pejabat kementerian, pejabat BUMN, gubernur, bupati hingga petinggi partai politik (muslimahnews.com, 7/9/2019).

Di bidang ekonomi, pengangguran masih belum bisa diatasi. Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) per Februari 2019 ada di angka 5,01 persen dari tingkat partisipasi angkatan kerja Indonesia yaitu sebanyak 6,82 juta orang. Angka yang masih cukup besar karena menimbulkan banyak masalah sosial yang lain. Survei BNN dan LIPI menunjukkan 2,3 juta pelajar atau mahasiswa di Indonesia pernah mengonsumsi narkoba (www.cnnindonesia.com, 22/6/2019). Belum lagi masalah pergaulan bebas (free sex), kenakalan remaja, aborsi di luar nikah, eljibiti, dan lain-lain.

Sistem liberal kapitalistik yang diterapkan di Indonesia telah menjadi habitat penyubur kemaksiatan. Perilaku manusianya menjadi serba bebas tak ingin diatur-atur, apalagi oleh syariat Islam.

Sistem kapitalisme (ra’sumaliyun) memiliki mindset bahwa segala sesuatunya diukur berdasarkan manfaat materi, asal menguntungkan diambil saja tanpa memperhitungkan siapa kawan dan lawan apalagi batasan halal-haram. Semua diputuskan dengan hukum buatan manusia, berdasarkan suka dan tidak suka (like and dislike) sekehendak hati manusia.

Ditambah lagi dominasi dari pihak asing (Cina Tiongkok, AS, Australia, dll) yang secara terang-terangan merangsek masuk ke Indonesia. Bagaimana kita tetap bertahan dengan sistem yang ada sekarang? Sistem yang selalu menjadikan Indonesia ‘jongos’ bagi negara lain dengan berbagai jeratan utang. Lalu di manakah makna hijrah yang kita peringati di bulan Muharam ini? Akankah semua pawai dan parade Muharam sekadar seremonial tanpa menghasilkan perubahan dan perbaikan yang hakiki?

Padahal, bangsa Indonesia mayoritas muslim. Padahal, Allah Subhanahu wa ta’ala telah menyifati umat Islam sebagai khairu ummah (umat terbaik), sebagaimana firman-Nya:

كُنتُمْ خَيْرَ أُمَّةٍ أُخْرِجَتْ لِلنَّاسِ تَأْمُرُونَ بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَوْنَ عَنِ الْمُنكَرِ وَتُؤْمِنُونَ بِاللَّهِ

Kalian adalah umat terbaik yang dilahirkan untuk manusia; melakukan amar makruf nahi munkar dan mengimani Allah.” (TQS Ali ‘Imran [3]: 110).

Di manakah posisi bangsa Indonesia sebagai umat terbaik tersebut? Allah Subhanahu wa ta’ala berfirman:

إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ

Sungguh Allah tidak mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (TQS ar-Ra’du [13]: 11).

Imam al-Qurthubi dalam Al-Jâmi’ li Ahkâm al-Qur’ân menjelaskan,

“Allah Subhanahu wa ta’ala memberitahukan dalam ayat ini bahwa Dia tidak mengubah keadaan suatu kaum sampai terjadi perubahan dari mereka, baik dari mereka sendiri, atau dari orang yang mengurus mereka, atau dengan sebab dari sebagian orang di antara mereka.”

Karena itu perubahan atau “hijrah” harus dilakukan secara sistemik, keluar dari lingkaran setan sistem liberal kapitalistik. Bukan hanya pada tataran individu, tetapi juga pada tataran masyarakat, yakni perubahan menuju ketaatan kepada Allah Subhanahu wa ta’ala secara total dengan sistem Islam kafah. Wallahu a’lam bishshawab. [MN]

Apa komentar Anda?

Jangan lupa berkomentar, ya

%d blogger menyukai ini: