Keluar dari Ekonomi Berbasis Riba, Solusi ‘Warning’ Ekonomi RI

MuslimahNews.com, NASIONAL — Memperbaiki kebijakan ekonomi. Begitu yang disampaikan Menteri Ekonomi, Sri Mulyani Indrawati, menanggapi ‘warning’ ekonomi RI oleh Bank Dunia yang disampaikan dalam materi presentasi Bank Dunia ke Pemerintah.

Materi itu menyebut pertumbuhan ekonomi Indonesia akan terus menurun akibat produktivitas yang lemah, juga kondisi Current Account Deficit (CAD) semakin terpuruk. Hal-hal inilah yang dinilai akan memengaruhi aliran modal asing yang masuk atau keluar dari Indonesia.

Dilansir detik.com, Sri Mulyani mengungkapkan seluruh dunia saat ini memang tengah mengalami perlambatan pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, Sri yakin dana asing tak akan keluar karena pemerintah berupaya penuh mengeluarkan kebijakan yang tetap menarik di mata internasional.

https://m.detik.com/finance/berita-ekonomi-bisnis/d-4696420/bank-dunia-warning-ekonomi-ri-sri-mulyani-akan-kita-perbaiki

Pernyataan Sri inilah yang kemudian mendapat respon Dosen Ekonomi Syariah, Hj. Nida Saadah, SE, MEI, Ak.

Menurut Nida, sesungguhnya posisi ekonomi Indonesia ibarat pelanduk yang mati di tengah-tengah pertarungan gajah. ‘Warning’ Bank Dunia terhadap Indonesia ini tentu memaksa para ekonom ‘policy maker’ menyusun tambahan regulasi yang memudahkan investor, langkah yang akan diambil di tengah kemudahan regulasi yang sebelumnya sudah banyak diberikan ke Cina Tiongkok.

“Bank Dunia sebagai representasi kubu Barat menginginkan banyak kemudahan yang sama banyaknya, bahkan mungkin lebih. Ujung-ujungnya yang menderita adalah rakyat negeri ini. Sumber daya alamnya habis dikooptasi, lapangan pekerjaan tak tersedia, biaya hidup makin tinggi,” jelas Nida pada MNews (7/9/19).

Sebagai negeri kaya, Indonesia menurut Nida, butuh penguasa bervisi ekonomi mandiri, tidak terbelenggu cara berpikir apatis, pragmatis, apalagi apolitis. Nida menyatakan, syariah Islam Kaffah –khususnya dalam bidang ekonomi– adalah jawaban solutif.

Beberapa tawaran konsep ekonomi syariah Islam Kaffah, lanjut Nida, akan mengatur ekonomi tanpa riba, menutup sektor nonriil yang menjadi celah penjajahan kubu Barat dan Timur, juga menerapkan konsep Baitul Mal Sistem Keuangan Negara Berbasis Syariah.

“Ketakutan terhadap syariah Islam, islamofobia, dengan terus bertahan pada ekonomi sekuler berbasis riba dalam kooptasi asing, hanya akan memperpanjang penderitaan rakyat negeri ini,” tegas Nida.[MN]

Apa komentar Anda?

Jangan lupa berkomentar, ya

%d blogger menyukai ini: