Disertasi Sampah Produk Liberal dan Cacat Logika Akut

“Disertasi ini lebih layak disebut Disertasi Sampah produk pemikiran liberal dibanding karya ilmiah. Bahkan, penuh dengan kecacatan logika yang akut.”


MuslimahNews.com, OPINI — Disertasi Abdul Aziz, mahasiswa S3 yang diuji dalam promosi doktoral di Kampus UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta, mengenai legalnya seks di luar nikah selama dilakukan di ruang privat, berbuntut panjang. Mulai dari protes warganet, reaksi keras para ulama, hingga tuntutan mundur pada Rektor UIN Sunan Kalijaga.

Tak terkecuali dari KH. Dr. Miftah el-Banjary, M.A. yang menyampaikan opininya dari sudut pandang semiotika, asbabun nuzul, pandangan mufassir, juga nas-nas syariat.

Doktor Miftah sendiri, yang merupakan pengkaji semiotika tafsir Alquran dan alumnus program S3 Prodi Sastra dan Bahasa Arab di Institute of Arab League, Kairo, Mesir, menuliskan bahwa disertasi ini lebih layak disebut Disertasi Sampah produk pemikiran liberal dibanding karya ilmiah. Bahkan, penuh dengan kecacatan logika yang akut.

Berdasar pengakuan Abdul Aziz di TV One, pendapatnya dalam disertasi tersebut ditopang pandangan Muhammad Syahrur, tokoh pemikir Islam liberal dari Syiria yang banyak dijadikan kiblat pemikiran kaum liberalis di Indonesia.

Muhammad Syahrur, mencoba membongkar pasang tafsiran kalimat  “مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُهُمۡ” yang terdapat pada QS. al-Mu’minun ayat ke-5 dan 6:

وَٱلَّذِینَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَـٰفِظُونَ  إِلَّا عَلَىٰۤ أَزۡوَ ٰ⁠جِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَیۡرُ مَلُومِین

“… dan orang-orang beriman, yaitu mereka yang menjaga kemaluan mereka, terkecuali terhadap pasangan-pasangan mereka atau budak wanita yang mereka miliki.”

Muhammad Syahrur memahami bahwa “Malakat Aiman” ditafsirkan sebagai “pasangan di luar nikah” pada surat al-Mu’minun tersebut, sehingga pada kesimpulannya bahwa kehalalan zina diperbolehkan menurut Alquran.

Dengan demikian, Abdul Aziz menyimpulkan bahwa hubungan seksual diperbolehkan baik dengan pasangan halal ataupun dengan pasangan di luar nikah atas dasar suka sama suka.

Pendapat ini asli ngaco! Tentu saja, pandangan ini keliru besar dan menjadi musibah terbesar bagi umat Islam!” Tegas Dr. Miftah.

Berikut penjelasan Dr. Miftah yang dikutip dari akun Facebook-nya, yang mempreteli apa yang disebut sebagai “Kedunguan Abdul Aziz”.

1. Dari Segi Semantik Dilalah

Secara bahasa kata “Maalakat” (مالكة) dalam bentuk isim mufradah mu’annatsah yang berarti “memiliki”. Raja disebut “Maalik” (مالك), karena dia memiliki kekuasaan.

Sedangkan tafsir dari kalimat مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُهُمۡ berarti budak-budak wanita yang dimiliki, bukan “pasangan di luar nikah”.

Di mana korelasi antara makna “kepemilikan budak wanita” dengan “partner pasangan di luar nikah?” Sungguh betul-betul Absurd. Tidak masuk akal sama sekali.

Jelas sekali, orang ini tidak memahami semantik atau dilalah dalam penggunaan bahasa Arab. Dari analisis bahasa Arab-nya saja sudah kacau dan rancu, lantas apa layak disebut karya ilmiah? Cocoknya karya sampah.

2. Segi Asbabun Nuzul Ayat

Perlu diketahui bahwa surat al-Mu’minun merupakan surat al-Makiyyah yang turun di kota Makkah. Surat ini menjelaskan tentang sifat dan karakter orang-orang beriman yang salah satunya menjaga kemaluan mereka dari berhubungan zina.

Jadi jelas sekali, ayat ini menegasikan tentang pelarangan berperilaku seksual menyimpang, seperti zina.

Namun, oleh Abdul Aziz dipahami jungkir balik, sebagai ayat yang menghalalkan zina. Logika akal sehatnya di mana? Secara rasional saja sudah tidak mengena, bagaimana bisa disebut seorang yang intelektual?

3. Pandangan Mufassir

Berdasarkan para pakar mufassir, seperti Imam Ibnu Katsir dalam tafsir “Al-Qur’an al-Adzhim” menyebutkan bahwa ayat ke-6 surat al-Mu’minun terkait hukum keharaman melakukan onani/masturbasi bagi orang yang tidak memiliki pasangan.

وقد استدل الإمام الشافعي رحمه الله ومن وافقه على تحريم الاستمناء باليد بهذه الآية الكريمة : وَٱلَّذِینَ هُمۡ لِفُرُوجِهِمۡ حَـٰفِظُونَ ۝  إِلَّا عَلَىٰۤ أَزۡوَ ٰ⁠جِهِمۡ أَوۡ مَا مَلَكَتۡ أَیۡمَـٰنُهُمۡ فَإِنَّهُمۡ غَیۡرُ مَلُومِینَ.

Imam Syafi’i dan kelompok yang menyepakati pendapatnya, menyatakan tentang keharaman onani dengan melandaskan pada dalil ayat: “… dan orang-orang beriman yang mereka itu menjaga kemaluan mereka, terkecuali terhadap pasangan-pasangan mereka atau budak wanita yang mereka miliki.”

(Silakan lihat “Tafsir Ibn Katsir”, Juz 3, hal. 314, penerbit: Maktabah as-Tsaqafah ad-Diniyyah, Cairo-Mesir).

Jadi, persoalannya tidak ada sama sekali terkait tentang kehalalan zina, namun perbedaan pandangan tentang hukum onani. Meskipun Imam Abu Hanifah memperbolehkan dengan beberapa syarat. Dari sini, Abdul Aziz tidak mengerti persoalan pada pokok ayat yang dibahasnya.

Mari lihat pandangan Mufassir lainnya, seperti Imam Fakhrurazi dalam karya tafsir “Fakhrurazi” dan Imam Al-Alusi dalam karya tafsirnya “Rouhul Ma’ani”.

Imam Fakhrurazi menjelaskan bahwa ayat tentang kehalalan melakukan hubungan seksual dengan budak-budak wanita adalah budak yang telah dinikahi secara syar’i, bukan disetubuhi tanpa nikah alias dizinai.

Jelas, persoalan yang dibicarakan para ulama tafsir di sini bukan pada kehalalan zina, justru keharaman melakukan onani, lebih-lebih lagi melakukan zina.

Demikian pandangan yang sama ditafsirkan oleh Imam al-Alusi dalam kitab “Rouhul Ma’ani” dengan menjelaskan tentang hukum pernikahan mut’ah serta hukum perkara onani yang dilarang menurut pandangan sebagian besar ulama dengan mendalilkan pada hadis Nabi:

لا صلاة إلا بطهور ولا نكاح إلا بولي

Tidak sah shalat melainkan dengan suci, dan tidak sah menikah, terkecuali dengan adanya wali”.

(Lihat, Tafsir Fakhrurazi juz 23 hal 79, Maktabah Taufiqiyyah, Mesir dan Tafsir Rouhul Ma’ani Juz 10 hal 10 Maktabah Taufiqiyyah, Mesir.)

Dari sini, jika Abdul Aziz mendasarkan analisisnya dari teks-teks Alquran, jelas sekali sangat kontradiktif dan bertentangan dengan apa yang sebenarnya ada di dalam Alquran.

Merujuk pada pandangan Prof. Dr. Quraish Shihab di dalam tafsir al-Misbah, menjelaskan bahwa syariat diperbolehkannya menikahi para budak dalam rangka cara Islam mengangkat derajat manusia dari tradisi perbudakan serta cara menghapusnya dengan cara pernikahan yang halal.

(Lihat, Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, juz 8 hal. 324.)

4. Segi Dalil Nash Muhkamat

Dari sekian banyak dalil ayat-ayat tekstual yang bersifat Muhkamat, jelas-jelas Islam datang menghalalkan pernikahan serta mengharamkan perzinaan.

Berikut dalil-dalil nash muhkamat tentang kesyariatan pernikahan menurut Alquran, Hadis, Ijmak, dan Qiyas:

a. Nas Alquran

– Surat An-Nisa ayat 3:

قال تعالى:  فَانْكِحُوا مَا طَابَ لَكُمْ مِنَ النِّسَاءِ  [النساء: 3]، والآية الكريمة نص في مشروعية نكاح ما طاب من النساء.

Kawinilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi…”

Ayat ini menegaskan tentang syariat pernikahan dalam Alquran.

– Surat an-Nuur ayat 32

قال تعالى:  وَأَنْكِحُوا الْأَيَامَى مِنْكُمْ وَالصَّالِحِينَ مِنْ عِبَادِكُمْ وَإِمَائِكُم ﴾ [النور: 32]، والآية الكريمة نص في مشروعية الزواج.

Dan kawinkanlah orang-orang yang sendirian di antara kamu, dan orang-orang yang layak (berkawin) dari hamba-hamba sahayamu yang lelaki dan hamba-hamba sahayamu yang perempuan.”

Ayat ini juga menegaskan tentang syariat pernikahan dalam Alquran.

b. Nash Hadits Nabi

يا معشر الشباب، من استطاع منكم الباءة فليتزوج، فإنه أغض للبصر، وأحصن للفرج، ومن لم يستطع فعليه بالصوم؛ فإنه له وجاء[1]، والحديث دليل واضح في مشروعية النكاح، والحث عليه.

Wahai para pemuda, jika kalian mampu menikah, maka menikahlah, sesungguhnya hal itu dapat menjaga pandangan dan menjaga kesucian kemaluan. Barangsiapa yang tidak sanggup, hendaklah dia berpuasa, karena dia akan menjadi pelindung (nafsu syahwat).”

Hadis ini menunjukkan dalil yang jelas tentang syariat pernikahan.

لا نكاح إلا بولي وشاهدي عدل. وهذا دليل على مشروعية النكاح بولي وشاهدي عدل.

Tidak sah pernikahan, melainkan beserta wali dan dua orang saksi yang adil.”

Hadis ini juga menunjukkan dalil yang jelas tentang syariat pernikahan.

c. Ijmak Ulama

أجمعت الأمة على جواز النكاح

“Para ulama dalam umat ini sepakat tentang kehalalan menikah”.

Secara mafhum mukhalafah, kesepakatan para ulama mereka mengharamkan hubungan intim di luar nikah.

d. Qiyas
رابعًا: المعقول:

الإنسان كائن اجتماعي، لا يستطيع أن يعيش منعزلاً عن أخيه الإنسان، والرجل يكمل المرأة، والمرأة تكمل الرجل، والعلاقة بينهما علاقة تعاون وتناسق وتكامل، والحاجة إليها أمر فطري، والإسلام جاء لتنظيم هذه العلاقة بعقد الزواج.

“Manusia merupakan makhluk sosial yang tidak akan mampu hidup menyendiri dari pasangannya. Pria akan sempurna dengan keberadaan wanita, dan sebaliknya. Dan hubungan keduanya adalah hubungan yang didasarkan pada hubungan saling membantu, harmonis, dan saling menyempurnakan kekurangan masing-masing. Keinginan untuk hidup secara berpasang-pasangan merupakan fitrah manusiawi. Islam datang membawa sistem tata nilai melalui hubungan akad pernikahan.”

Lanjut, mari lihat juga nas-nas keharaman Zina.

Ada begitu banyak ayat-ayat tentang keharamam perzinaan, di antaranya:

1. Firman Allah subhanahu wata’ala

– Surat al-Isra ayat 32:

وَلَا تَقْرَبُوا الزِّنَا إِنَّهُ كَانَ فَاحِشَةً وَسَاءَ سَبِيلًا

Dan janganlah kamu mendekati zina; sesungguhnya zina itu adalah suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.”

Secara analisis kaidah Ushul Fiqh, redaksi di atas merupakan bentuk Mafhum Muwafaqah, hukum pelarangan yang tidak tertulis, di balik teks yang tertulis.

Maknanya apa? Maknanya mendekati saja “TIDAK BOLEH, apalagi melakukan ZINA-nya!”

– Surat An-Nuur ayat 30:

قُلْ لِلْمُؤْمِنِينَ يَغُضُّوا مِنْ أَبْصَارِهِمْ وَيَحْفَظُوا فُرُوجَهُمْ ذَلِكَ أَزْكَى لَهُمْ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا يَصْنَعُونَ * وَقُلْ لِلْمُؤْمِنَاتِ يَغْضُضْنَ مِنْ أَبْصَارِهِنَّ وَيَحْفَظْنَ فُرُوجَهُنَّ.

Katakanlah kepada orang laki-laki yang beriman: “Hendaklah mereka menahan pandangannya, dan memelihara kemaluannya; yang demikian itu adalah lebih suci bagi mereka, sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat.”

– Surat An-Nuur ayat 4:

وَالَّذِينَ يَرْمُونَ الْمُحْصَنَاتِ ثُمَّ لَمْ يَأْتُوا بِأَرْبَعَةِ شُهَدَاءَ فَاجْلِدُوهُمْ ثَمَانِينَ جَلْدَةً وَلَا تَقْبَلُوا لَهُمْ شَهَادَةً أَبَدًا وَأُولَئِكَ هُمُ الْفَاسِقُونَ

“Dan orang-orang yang menuduh wanita-wanita yang baik-baik (berbuat zina) dan mereka tidak mendatangkan empat orang saksi, maka deralah mereka (yang menuduh itu) delapan puluh kali dera, dan janganlah kamu terima kesaksian mereka buat selama-lamanya. Dan mereka itulah orang-orang yang fasik.”

2. Ancaman Hadis Nabi

لم تَظْهَرِ الفاحشةُ في قومٍ قَطُّ؛ حتى يُعْلِنُوا بها؛ إلا فَشَا فيهِمُ الطاعونُ والأوجاعُ التي لم تَكُنْ مَضَتْ في أسلافِهِم الذين مَضَوْا

Tidaklah terjadi perzinaan dalam satu masyarakat, melainkan Allah tampakkan wabah penyakit, kelaparan yang tidak pernah terjadi pada para orang sebelum mereka.”

قال الرسول صلى الله عليه وسلم: البكْر بالبِكْر؛ جَلْدُ مائة ونَفْيُ سَنَة، والثّيّبُ بالثّيّبِ؛ جَلْدُ مائة والرّجْم

Gadis yang berzina, maka cambuklah mereka 100 kali dan asingkan dalam setahun. Mereka yang sudah pernah menikah cambuklah 100 kali dan rajamlah!

Dari dalil-dalil di atas merupakan nash-nash Qath’i yang bersifat Muhkamat yang tidak perlu membutuhkan penafsiran dan penakwilan lagi, disebabkan dalil yang sudah terang benderang.

Di akhir tulisannya, berdasarkan dalil-dalil di atas, Dr. Miftah menegaskan bahwa kesimpulan Abdul Aziz sangat menyimpang dan menyesatkan, –lebih dari itu– menunjukkan kecacatan logika berpikir yang sangat akut dan fatal.

“Pemahaman semacam itu, bukan saja sampah bagi agama Islam, juga pelecehan bagi semua agama di dunia. Agama mana yang melegalkan perzinaan? Apakah ini temasuk kategori penistaan agama?” Ujar Dr. Miftah.

Belakangan diketahui, setelah berbagai polemik pascaviralnya disertasi tersebut, Abdul Aziz telah meminta maaf dan disertasinya akan direvisi, meski banyak pihak yang meyakini hasil revisi tetap kental dengan pemikiran liberal. [MN]

Apa komentar Anda?