; Hijrah, Awal Mula Islam - Muslimah News

Hijrah, Awal Mula Islam

Oleh: Jahir Kashem

MuslimahNews.com — 1 Muharam merupakan tanda tahun baru Islam. Muharam juga sebagai simbol peristiwa paling penting dalam sejarah Islam —hijrahnya kaum Muslimin dari Mekah ke Madinah.

Kalender Hijriah Islam diadopsi selama kepemimpinan Khilafah ‘Umar bin al-Khaththab (RA) setelah sebuah kasus terjadi di Khalif tentang perjanjian yang dimiliki satu orang dengan yang lainnya yang menyatakan bahwa jumlah yang terutang jatuh tempo pada bulan Sya’ban.

Khalifah Umar bertanya, “Sya’ban yang mana?  Sya’ban tahun ini kita di tahun lalu atau tahun depan?” Menyadari masalah yang disebabkan oleh masalah ini, Umar (RA) memanggil para sahabat dan berkonsultasi dengan mereka tentang mengadopsi kalender yang akan membantu mereka dengan kontrak semacam itu.

Seseorang menyarankan untuk mengadopsi kalender Persia, sementara orang lain menyarankan untuk mengadopsi kalender Bizantium, Umar menolak keduanya. Yang lain menyarankan penanggalan tahun baru dimulai dari kelahiran Rasulullah (saw), atau dari awal wahyu, atau dari Hijrah, atau dari kematiannya (saw).

Akhirnya, para sahabat mencapai keputusan bulat memulai kalender Islam dari masa Hijrah dan menetapkan bulan Muharam sebagai tahun Islam pertama.

Ini bukan kebetulan karena para sahabat memahami keagungan hijrah dalam Islam.  Banyak yang meremehkan Hijrah dengan mengklaim bahwa kaum Muslimin hanya bermigrasi untuk melarikan diri dari penganiayaan terhadap kaum Quraisy. Namun, Hijrah dilakukan untuk mendirikan Negara Islam di Madinah dengan Muhammad (saw) memasuki kota sebagai pemimpin umat Islam. Itu adalah migrasi dari Batil ke Haq, dari Kufur ke Islam.

Umar menyatakan,

“Hijrah memisahkan kebenaran dan kepalsuan, maka itu, biarkan (peristiwa) Hijrah menjadi Epoch of the Era [eposnya suatu era, ed.]” (Fath Al-Bari, Ibn Hajar al-Asqalani)

Hijrah tidak hanya membentuk kembali Semenanjung Arab, tetapi juga berdampak pada peradaban di seluruh dunia. Sepanjang sejarah Islam, migrasi adalah garis transisi antara dua era utama, berkaitan dengan pesan Islam; era Mekah dan era Madinah. Pada intinya, ini menandakan transisi dari satu fase ke fase lain, sebagai berikut:

1. Kelemahan ke Kekuatan

Transisi dari posisi kelemahan, di mana orang-orang kafir Mekah, khususnya orang-orang Quraisy —menghina, menyiksa, dan membunuh umat Islam— ke posisi kekuatan di mana umat Islam mampu mempertahankan diri dan mampu mengalahkan musuh-musuh mereka.

2. Dakwah Individu ke Dakwah Skala Negara

Transisi dari penyebaran Islam melalui dakwah individu, di mana fokusnya hanya pada kaum Quraisy dan suku-suku di sekitar Mekah, ke penyebaran Islam melalui dakwah yang diinisiasi yang diprakarsai oleh negara, di mana Negara Muslim mulai menjangkau Persia, Mesir, dan Kekaisaran Bizantium.

3. Dari tidak memiliki kekuatan menjadi kekuatan skala regional

Transisi dari posisi di mana umat Islam mewakili sekelompok kecil orang, dikelilingi oleh musuh dan diancam oleh kematian, ke posisi kekuatan regional dengan kepemimpinan pusat yang kuat. Setelah Hijrah, Rasulullah (saw) dikelilingi oleh sejumlah besar pengikut dan sekutu.

4. Sekelompok kecil kaum Muslimin ke persatuan umat Islam (negara)

Transisi dari menjadi sekelompok kecil umat Islam, menjadi umat Islam yang meliputi umat Islam dari berbagai bangsa dan latar belakang.

5. Islam diimplementasikan sebagai agama yang komprehensif.

Transisi ke fase di mana Islam tidak hanya aktivitas ibadah pribadi, tetapi merupakan cara hidup yang meliputi politik, ekonomi, interaksi sosial, dan setiap aspek kehidupan lainnya. Ini adalah pertama kalinya ketika Islam dipandang sebagai agama yang komprehensif.

Setelah kehancuran negara Islam pada tahun 1924, umat Islam kehilangan banyak hal. Kaum muslimin berubah dari posisi kekuatan ke kelemahan, posisi kekuasaan ke penaklukan, posisi dakwah internasional ke dakwah individu, dari menerapkan Islam sepenuhnya ke sekadar memenuhi pemujaan individu.

Umat ​​Islam pernah memperoleh posisi kuat dan dominasi setelah Rasul (saw) mendirikan Negara Islam di Madinah. Posisi ini dapat diperoleh sekali lagi, tetapi hanya melalui pembangunan kembali Negara Islam dan dimulainya kembali cara hidup Islam. [MN]

Bagaimana menurut Anda?