; Ironi Negeri Muslim Alergi Syariah - Muslimah News

Ironi Negeri Muslim Alergi Syariah

Bagi Muslim, penentangan syariat sesungguhnya merupakan penyimpangan fitrah keimanan dan tanda keluar dari cahaya iman. Ada tiga penyebabnya. Apa saja?


Oleh: Dedeh Wahidah Achmad

MuslimahNews.com, OPINI — Kemusliman seseorang semestinya ditunjukkan dengan sikap dan perilakunya yang sesuai dengan keimanannya, berupa ketaatan dan ketundukan penuh terhadap aturan syariat Islam.

Prinsip hidup seorang muslim adalah menyerahkan apapun yang dimilikinya semata untuk Allah. Salat, ibadah, bahkan hidup dan matinya pun dipersembahkan demi meraih keridaan Allah subhanahu wa ta’ala

قُلْ إِنَّ صَلَاتِي وَنُسُكِي وَمَحْيَايَ وَمَمَاتِي لِلَّهِ رَبِّ الْعَالَمِينَ

Katakanlah: Sesungguhnya salatku, ibadatku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. (TQS.Al An’am:162).

Karenanya, sudah menjadi konsekuensi keimanannya rida dan patuh pada hukum-hukum Allah. Sebagaimana disebutkan Allah dalam firman-Nya:

Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman sebelum mereka menjadikan engkau (Muhammad) sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, (sehingga) kemudian tidak ada rasa keberatan dalam hati mereka terhadap putusan yang engkau berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. (TQS. An Nisa:65).

Dalam ayat tersebut jelas sekali Allah subhanahu wa ta’ala menjadikan sikap rida dan tidak berat hati terhadap keputusan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam sebagai indikator keimanan seseorang.

Tunduk terhadap keputusan Rasul shallallahu’alaihi wa sallam berarti siap taat terhadap risalah yang dibawa baginda Nabi, baik akidah maupun syariah Islam.

Ironi di Negeri Mayoritas Penduduknya Muslim

Negeri ini dikenal sebagai salah satu wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam. Bahkan, boleh jadi jumlahnya paling banyak dibandingkan dengan belahan dunia lain.

Secara teori semestinya tuntutan untuk menegakkan syariah Islam secara kaffah dalam seluruh aspek kehidupan muncul dari negeri ini sebagai wujud keimanan yang sudah menjadi keyakinannya.

Seruan dakwah Islam kaffah pun harusnya mendapat sambutan luar biasa, karena hanya dengan dakwah Islam manusia akan tertunjuki kepada cahaya kebenaran dan diselamatkan dari gelap gulitanya kesesatan.

Namun sungguh ironis, banyak orang yang mengaku muslim dan beriman kepada Allah subhanahu wa ta’ala tetapi mengabaikan ketaatan dan ketundukan kepada aturan Penciptanya.

Bahkan, tidak sedikit di antara mereka yang melakukan perlawanan dan permusuhan terhadap aturan agamanya. Mereka tidak segan menuduh fanatik, ekstrem, bahkan radikal terhadap siapa saja yang memperjuangkan Islam kaffah.

Berbeda jauh dengan sikap yang ditunjukkan oleh para sahabat dan generasi salafu ash-sholeh, mereka memadukan keimanan dan ketaatan dalam sosok muslim yang berkepribadian Islam.

Tidak ada pemisahan antara keyakinan dengan perbuatan. Semua yang diimani akan dibuktikan dalam wujud ketaatan yang sempurna, tanpa pilih-pilih dan tanpa menundanya.

Salah satu contoh ketaatan penuh yang dicatat sejarah adalah tatkala Allah subhanahu wa ta’ala memerintahkan untuk mengubah arah kiblat dari Baitul Maqdis ke Ka’bah, misalnya, para sahabat langsung mengubah arah kiblat mereka, padahal mereka tengah rukuk.

Sikap bersegera dalam melaksanakan aturan juga ditunjukkan sahabat Umar bin Khaththab ra ketika Allah subhanahu wa ta’ala menurunkan ayat yang mengharamkan pernikahan dengan kaum musyrik, beliau langsung menceraikan dua istrinya yang masih tetap dalam kemusyrikan.

Sikap abai terhadap hukum dan ketentuan Allah jelas bisa merusak bahkan meniadakan keimanan yang sudah diakuinya manakala kelalaian ini berujung pada keengganan dan penentangan terhadap syariat-Nya.

Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam tentang kaum munafik yang mengklaim beriman, padahal mereka berpaling pada selain hukum-Nya atau kepada thâghût:

أَلَمْ تَرَ إِلَى الَّذِينَ يَزْعُمُونَ أَنَّهُمْ آمَنُوا بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْكَ وَمَا أُنْزِلَ مِنْ قَبْلِكَ يُرِيدُونَ أَنْ يَتَحَاكَمُوا إِلَى الطَّاغُوتِ وَقَدْ أُمِرُوا أَنْ يَكْفُرُوا بِهِ وَيُرِيدُ الشَّيْطَانُ أَنْ يُضِلَّهُمْ ضَلَالًا بَعِيدًا

Tidakkah kamu memperhatikan kaum yang mengklaim telah mengimani apa saja yang telah diturunkan kepadamu dan pada apa saja yang telah diturunkan kepada kaum sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thâghût, padahal mereka telah diperintah untuk mengingkari thâghût itu. Setan bermaksud menyesatkan mereka dengan penyesatan yang sejauh-jauhnya (TQS an-Nisa’ [4]: 60).

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa thâghût adalah segala sesuatu—selain Allah subhanahu wa ta’ala—yang disembah, diikuti atau ditaati manusia. Thâghût juga bermakna setiap kaum yang berhukum pada selain hukum Allah subhanahu wa ta’ala dan Rasul-Nya.

Iman dan Taat Satu Kesatuan

Antara iman dan ketaatan tidak bisa dipisahkan. Keduanya sama-sama diperintahkan Allah subhanahu wa ta’ala untuk dilaksanakan. Puluhan ayat Alquran yang menyandingkan antara keimanan dengan ketaatan berupa amal saleh, di antaranya dalam surat al-Ashr yang mengaitkan antara keimanan, amal saleh, dan kerugian seorang manusia. Semua dikatakan rugi kecuali orang yang beriman, beramal saleh dan berdakwah.

Dengan kajian yang sungguh-sungguh terhadap nas-nas syariat, dapat disimpulkan bahwa iman yang hakiki akan membuahkan kesungguhan untuk berislam secara sempurna (kâffah)  sesuai perintah Allah subhanahu wa ta’ala:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ادْخُلُوا فِي السِّلْمِ كَافَّةً وَلَا تَتَّبِعُوا خُطُوَاتِ الشَّيْطَانِ إِنَّهُ لَكُمْ عَدُوٌّ مُبِينٌ

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kalian ke dalam Islam secara total, dan janganlah kalian mengikuti langkah-langkah setan. Sungguh setan itu musuh yang nyata bagi kalian (TQS al-Baqarah [2]: 208).

Dengan dasar iman, seorang Mukmin tak membeda-bedakan hukum Allah subhanahu wa ta’ala yang satu dengan yang lain; antara kewajiban salat dan kewajiban memberlakukan hudûd; antara haramnya daging babi dan haramnya riba; antara kewajiban berbakti kepada orang tua dan kewajiban menjatuhkan hukuman cambuk atau rajam bagi pezina; dst. Semua ia terima dengan penuh ketundukan. Keimanannya kepada Allah subhanahu wa ta’ala membuat dirinya meyakini kewajiban pelaksanaan syariah Islam secara kâffah, bukan setengah-setengah.

Ia pun meyakini dan menerima keberadaan Khilafah sebagai kewajiban bagi umat karena tak mungkin menjalankan segenap syariah Islam tanpa adanya institusi Khilafah.

Selain itu institusi Khilafah sudah dicontohkan oleh sahabat Nabi shallallahu’alaihi wa sallam dengan diangkatnya Abu Bakar ash-Shiddiq sebagai Khalifah pertama menggantikan kepemimpinan Baginda Nabi shallallahu’alaihi wa sallam.

Penyebab Penentangan

Penentangan syariah sesungguhnya merupakan penyimpangan fitrah keimanan. Pertanyaannya, kenapa mereka keluar dari cahaya iman?

Paling tidak ada tiga penyebabnya:

Pertama, tidak faham terhadap ajaran Islam yang benar sebagaimana dicontohkan Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam. Mereka memahami Islam sebagai keyakinan yang turun temurun.

Kedua, dominasi ideologi kapitalis sekuler yang telah menjauhkan manusia dari panduan kebenaran Islam. Dalam sistem ini bukan rida Allah yang menjadi tujuan namun nilai materi dunia yang senantiasa dikejar. Hidup pun diatur oleh hukum yang muncul dari hawa nafsu manusia.

Allah subhanahu wa ta’ala mengingatkan kita dalam firman Nya:

الَّذِينَ يَسْتَحِبُّونَ الْحَيَاةَ الدُّنْيَا عَلَى الْآخِرَةِ وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَيَبْغُونَهَا عِوَجًا أُولَئِكَ فِي ضَلَالٍ بَعِيدٍ

(Itulah) orang-orang yang lebih menyukai kehidupan dunia daripada kehidupan akhirat dan menghalang-halangi (manusia) dari jalan Allah serta menginginkan agar jalan Allah itu bengkok. Mereka itu berada dalam kesesatan yang jauh (TQS Ibrahim [14]: 3).

Ketiga, adanya serangan dari musuh-musuh Islam yang terus menghalangi Islam tegak kembali. Mereka terus menyebarkan fitnah dan kriminalisasi terhadap ajaran Islam, ormas, aktivis pejuang Islam,  serta para ulama.

Umat Islam akan terus alergi dengan syariah dan ajarannya jika keadaan ini tetap dibiarkan berlangsung. Harus ada upaya yang dilakukan untuk menyembuhkan umat. Tidak ada pilihan, kita harus melakukan perlawanan berupa istikamah dalam dakwah Islam kaffah sesuai contoh Rasulullah shallallahu’alaihi wa sallam hingga tegak Khilafah Islam di atas manhaj beliau. (QS. Ali ‘Imran : 104).

Wallaahu A’lam []

Bagaimana menurut Anda?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *