; ASEAN Youth Interfaith Camp: Agenda Global Sarat Virus "Sipilis" - Muslimah News

ASEAN Youth Interfaith Camp: Agenda Global Sarat Virus “Sipilis”

Prof. Hamka dulu mengatakan bahwa orang-orang yang menganggap semua agama adalah sama, sesungguhnya mereka tidak beragama. Ide dan paham batil ini adalah output nyata dari bercokolnya ideologi batil sekularisme-liberalisme yang mengenyampingkan aturan Tuhan dalam hidup. Namun di saat yang bersamaan, berbagai ajaran yang datang dari Islam justru dimusuhi dan dimonsterisasi sedemikian rupa.


MuslimahNews, KOMPOL — Untuk menciptakan kehidupan yang damai dan mengurangi konflik karena perbedaan, kita perlu untuk saling menghormati. Rasa saling menghormati ini, kita terjemahkan sebagai sebuah narasi besar yaitu, toleransi.

Toleransi ialah elemen penting dalam kehidupan, termasuk di dalamnya salah satu yang terpenting ialah toleransi dalam beragama karena kebebasan beragama adalah hak setiap manusia. Hal tersebut disampaikan oleh Dr. H.M. Asrorun Ni’am Sholeh, MA. Deputi Bidang Pengembangan Pemuda Kemenpora RI dalam malam pembukaan ASEAN Youth Interfaith Camp (AYIC) 2019, pada Senin (8/7). “Sekali lagi, mari kita berjuang bersama untuk apa yang ASEAN Youth Interfaith Camp 2019 cita-citakan, yakni mendukung toleransi, moderasi dan rasa saling menghormati,” ujar Ni’am dalam sambutannya.(Republika.co.id)

Komentar:
Di tengah kehidupan sekularistik hari ini, ide-ide yang lekat dengan relativisme dan tidak berpijak pada standar yang benar semakin marak digaungkan. Wacana pengarusutamaan toleransi beragama di setiap kalangan kerap menjadi agenda utama, tak hanya dalam level nasional, namun juga regional hingga internasional. Kamp Antaragama adalah salah satu wadah sempurna untuk menyalurkan ide tersebut.

Padahal kontroversi wacana toleransi beragama seperti yang berlangsung akhir-akhir ini sudah sejak lama menjadi sorotan para ulama dan cendekiawan muslim kontemporer.

Toleransi beragama yang diharapkan dapat membentuk individu yang menghargai perbedaan antarumat beragama sejatinya sarat dengan relativisme dan pluralisme. Relativisme merupakan paham yang menekankan bahwa segala sesuatu bersifat nisbi serta relatif, sedangkan pluralisme adalah paham yang menganggap bahwa semua pendapat (termasuk agama) seluruhnya sama benarnya. Paham ini tentu merupakan racun berbalut madu, yang jika ditelan mentah-mentah oleh umat, dapat membahayakan akidah mereka.

Hal ini pulalah yang menyebabkan Prof. Hamka dulu mengatakan bahwa orang-orang yang menganggap semua agama adalah sama, sesungguhnya mereka tidak beragama.

Ide dan paham batil ini adalah output nyata dari bercokolnya ideologi batil sekularisme-liberalisme yang mengenyampingkan aturan Tuhan dalam hidup. Namun di saat yang bersamaan, berbagai ajaran yang datang dari Islam justru dimusuhi dan dimonsterisasi sedemikian rupa.

Jika Rasulullah shallallahu ‘alayhi wa sallam mengajarkan bertoleransi dengan narasi yang digulirkan saat ini, lalu untuk apa beliau mengirimkan surat ajakan untuk berislam kepada Raja Kisra saat beliau memimpin Daulah Islam di Madinah? Beliau juga tidak pernah mau berkompromi dengan berbagai akidah dan ide yang batil saat beliau berkuasa. Islam dengan aturannya yang sempurna sudah menggariskan bagaimana bertoleransi yang benar, tanpa harus mengakui bahwa semua agama dan kepercayaan adalah sama.

Cukuplah bagi kita untuk mengingat firman Allah dalam surah Ali ‘Imran ayat 85 yang mulia ini:
وَمَنْ يَبْتَغِ غَيْرَ الْإِسْلَامِ دِينًا فَلَنْ يُقْبَلَ مِنْهُ وَهُوَ فِي الْآخِرَةِ مِنَ الْخَاسِرِينَ

Barangsiapa mencari agama selain agama Islam, maka sekali-kali tidaklah akan diterima (agama itu)daripadanya, dan dia di akhirat termasuk orang-orang yang rugi.Wallahu a’lam bisshawwab.[]Redaksi Fareastern Muslimah

Bagaimana menurut Anda?