; Saat Kemajuan Meminggirkan Kebahagiaan, Potret Usang Peradaban tanpa Agama! - Muslimah News

Saat Kemajuan Meminggirkan Kebahagiaan, Potret Usang Peradaban tanpa Agama!

Rasanya, Rasulullah dan para Khulafaur rasyidin telah cukup membuktikan bagaimana negara diatur dengan agama. Jika dunia mulai menoleh Bhutan dengan konsep GNH yang digali dari ajaran Budhismenya, maka orang beriman tentulah cukup dengan menoleh ajaran RasulNya dan apa yang tertuang dalam Alquran.

MuslimahNews, KOMPOL World Health Organization (WHO) pernah menyampaikan bahwa pada 2030, depresi akan menjadi salah satu penyakit utama yang dapat membebani dunia. Lalu, haruskah kebahagiaan menjadi tujuan pengukuran standar hidup? Menurut WHO, jawaban dunia tentu saja “ya”, tentu dengan upaya meluaskan capaian-capaian tolok ukur setiap negara.

UNDP juga pernah menjadikan Bhutan sebagai salah satu contohnya. Bhutan, negara kecil berbentuk kerajaan, menjadikan Gross National Happiness (GNH) sebagai pengukur Human Development Success, bukan dengan Gross Development Product (GDP). Tahun 2008, negara tersebut menjadikan konsep GNH dalam konstitusinya, yang berakar dari prinsip Budisme dalam masyarakat Bhutan.

Bhutan mendefinisikan kebahagiaan dalam sembilan tolok ukur yaitu: psikologi, kesehatan, pendidikan, waktu, keragaman budaya, good governance, kehidupan masyarakat, ekologi, dan standar hidup (dengan 33 indikator didalamnya). Pada 2010 dan 2015, the Centre for Bhutan Studies, selanjutnya melakukan sensus nasional termasuk survey GNH untuk meraih data secara empiris kecenderungan sikap positif seperti ketenangan, belas kasih, pemaaf, kepuasan dan kedermawanan. Dampaknya menunjukkan tingkat kemiskinan menurun dari 12% pada tahun 2012 menjadi 8.2% pada tahun 2017. (weforum.org)

Komentar:

Fitrah manusia, semakin terenggut oleh pengaturan kehidupan tanpa agama. Pengaturan yang hanya mengedepankan materi, materi dan materi. Teknologi semakin maju, fitrah kemanusiaan semakin hilang. Zaman semakin modern, fitrah kebaikan semakin tergerus. Perekonomian semakin meningkat, rasa kebahagiaan dan ketenangan semakin langka.

Negara maju akhirnya dibuat bingung dengan segudang persoalan, yang tidak ada satupun yang bisa selesai hanya dengan materi berlimpah. Generasi muda yang semakin enggan berkeluarga, pasangan hidup yang semakin tidak paham peran dan tanggungjawab, hubungan penguasa rakyat yang penuh sandiwara dan saling curiga, para lansia yang kesepian dan hilang harapan, hingga anak-anak yang kehilangan banyak sosok panutan.

Bahkan, kepintaran seringkali tak mampu mendefinisikan bahwa manusia, alam, tumbuhan, hewan, lingkungan adalah bagian tak terpisahkan dari kehidupan.

Islam hadir, sebagai sebuah mabda, tuntunan hidup yang bersumber dari wahyu.

Kebenarannya mampu menenteramkan jiwa, memuaskan akal dan sesuai fitrah manusia. Bahwa dalam pandangan Islam, kemajuan tidak cukup dipandang dari GDP. Bahkan standar kebahagiaan, tidaklah diukur dari banyaknya materi. Kemajuan adalah ketika peradaban manusia terjaga dengan kemuliaan, dan kebahagiaan adalah ketika mendapatkan rida dari Sang Mahakuasa. Maka dalam konsep Islam, ada halal ada haram. Ada taat ada maksiat. Ada syukur dan ada sabar.

Rasanya, Rasulullah dan para Khulafaur rasyidin telah cukup membuktikan bagaimana negara diatur dengan agama. Jika dunia mulai menoleh Bhutan dengan konsep GNH yang digali dari ajaran Budhismenya, maka orang beriman tentulah cukup dengan menoleh ajaran RasulNya dan apa yang tertuang dalam Alquran,

Jikalau sekiranya penduduk negeri-negeri tersebut beriman dan bertaqwa, pastilah Kami akan melimpahkan kepada mereka berkah dari langit dan bumi, tetapi mereka mendustakan (ayat-ayat Kami) itu, maka Kami siksa mereka disebabkan perbuatannya.” (QS: Al-A’raf [7]: 96).

Semoga, kita menjadi bagian dari orang-orang yang terus menyeru pada kebaikan, menyeru agar agama yang benar, Islam, menjadi bagian yang tak terpisahkan dalam mengatur kehidupan. Karena kelak, ada masa dimana agama akan kembali diperhitungkan. Ketika bentuk kebahagiaan hakiki tak sekalipun dapat ditemukan dalam peradaban sekuler, kecuali kembali pada agama![]Far Eastern Muslimah & Shariah

Bagaimana menurut Anda?