; Kompetensi Inti Seorang Ayah - Muslimah News

Kompetensi Inti Seorang Ayah

Menjadi ayah alamiah terlalu mudah. Tanpa effort apapun kita sudah bisa menjadi ayah saat anak-anak kita lahir. Namun sungguh rugi bila kemudian anak-anak kita tumbuh besar menjadi anak yang tak punya visi dan misi hidup.


Oleh: Ustadz Iwan Januar

MuslimahNews.com — Para ayah, pernahkah terpikir menjadi ayah itu butuh keahlian? Bahwa seorang ayah juga harus punya kompetensi inti (core competency) yang layak?

Banyak lelaki di kolong langit ini berpikir bahwa menjadi ayah adalah alamiah tanpa perlu rekayasa. Tanpa perlu keilmuan dan ketrampilan khusus. Bukankah saya otomatis menjadi ayah saat istri saya melahirkan anak kami? Bukankah anak saya pasti akan memanggil saya ‘ayah’, ‘bapak’, ‘abi’, dan sebagainya.

Ah, andai menjadi ayah itu semata alamiah maka tak mungkin Allah SWT. menurunkan sejumlah ayat yang menyatakan bahwa anak adalah ujian bagi para ayah mereka.

Dan ketahuilah, bahwa hartamu dan anak-anakmu itu hanyalah sebagai cobaan dan sesungguhnya di sisi Allah-lah pahala yang besar.”(QS. al-Anfal: 28)

Menjadi ayah alamiah terlalu mudah. Tanpa effort apapun kita sudah bisa menjadi ayah saat anak-anak kita lahir. Namun sungguh rugi bila kemudian anak-anak kita tumbuh besar menjadi anak yang tak punya visi dan misi hidup. Apalagi menjadi anak yang tak mengenal jati dirinya sebagai Muslim, dan tak bangga dengan agamanya, apalagi turut berjuang untuk agamanya.

Karenanya bila kita ingin menjadi ayah luar biasa, bukan ayah yang ‘biasa-biasa saja’, wajib memiliki core competency berikut ini:

1) Menjadikan keimanan bukan dunia sebagai dasar mendidik anak. Anak bukan untuk kesenangan dan ambisi orang tua di dunia, tapi investasi hingga di akhirat. Berapa banyak ayah yang begitu fokus membesarkan anaknya untuk obsesi duniawi, tapi begitu longgar untuk ketaatan pada Allah. Tidak heran bila banyak remaja muslim yang kemudian tumbuh dengan kepribadian terbelah; Muslim tapi sekuler. Ia shalat tapi berpacaran, berbakti pada orang tua tapi makan riba, dan sebagainya.

2) Saatnya para ayah menyadari memiliki anak dan mendidik anak adalah investasi dunia dan akhirat. Bila berhasil menjadikan mereka sebagai hamba Allah yang saleh, terikat dengan hukum syara, tahu apa tujuan hidup dan mati mereka, maka para ayah patut berbahagia. Memahami hukum Islam sebagai panduan mendidik anak. Dengan apalagi kita akan mengarahkan anak kita menuju kebaikan kalau bukan dengan ajaran Islam? Tak ada manual guide pendidikan anak sebaik ajaran Islam. Tuntunan Islam tak hanya membimbing anak kita sukses menaklukkan dunia, tapi juga berbahagia di akhirat.

3) Penuh dengan simpanan kasih sayang. Kasih sayang itu adalah sifat Allah SWT. Bahkan Allah menetapkan kasih sayang atas diriNya sendiri. “Tuhanmu telah menetapkan atas Diri-Nya kasih sayang”(QS. al-An’am: 54). Sudah sepantasnya kasih sayang selalu berada di sifat terdepan para ayah dalam mengasuh dan mendidik anak, dan simpan kemarahan di bagian terbelakang. Sebagaimana Allah SWT. juga menjadikan hal itu atas diriNya sendiri, “Sesungguhnya rahmat-Ku lebih mengalahkan kemurkaan-Ku.”(HR. Bukhari, Muslim)

Tentu saja masih ada kompetisi inti lain yang harus dimiliki para ayah, tapi semoga tiga hal mendasar ini jadi pedoman penting yang harus dimiliki oleh mereka.

Wallahu a’lam bishshawab.[]

Bagaimana menurut Anda?