; Pelajaran tentang Popularitas dan Keikhlasan Pengemban Dakwah - Muslimah News

Pelajaran tentang Popularitas dan Keikhlasan Pengemban Dakwah

Aku hanyalah aku, yang tidak memiliki daya dan kekuatan, kecuali yang diberikan Allah kepadaku. Demi Allah, aku tetap menganggap diriku sebagai orang paling bodoh dan aku sangat mengetahui kebodohanku.


MuslimahNews.com — Pesan Syaikh Yusuf Ba’darani kepada Syaikh Thalib Awadhallah terkait pencantuman memoar sejarah perjuangan Syaikh Yusuf dan aktivis Muslim lain dalam memperjuangkan kembalinya kehidupan Islam.

***

Berkaitan dengan pujianmu kepadaku, maka aku memohon kepada Allah agar menetapkannya termasuk kebaikanku dengan doamu. Akan tetapi, demi Allah, aku tetap diam dan tidak ingin menceritakannya dalam kehidupanku. Sebab aku sangat takut menceritakannya, takut muncul rasa mengharap popularitas dan pujian.

Setiap kali seorang laki-laki mulai melemparkan anak panah pujiannya, maka aku pun mulai menjaga jarak darinya sampai ia menghentikan pujiannya itu, sehingga dosanya tidak akan menyeretku. Dan aku memohon kepada Allah agar menerima pujiaannya sebagai doa untukku jika memang aku layak untuk itu.

Atau, aku akan berusaha mengalihkan pembicaraannya ke topik yang lain. Aku tidak bisa membenarkan diri sendiri untuk mengaku sebagai orang yang berilmu, atau termasuk orang-orang berilmu. Aku hanyalah aku, yang tidak memiliki daya dan kekuatan, kecuali yang diberikan Allah kepadaku. Demi Allah, aku tetap menganggap diriku sebagai orang paling bodoh dan aku sangat mengetahui kebodohanku.

Tetapi engkau tetap saja menginginkan agar aku keluar dari jalanku ini dengan dorongan mengharap pahala dan tidak mengubur memoar itu di dunia. Engkau membicarakan dorongan itu, yang demi Allah, rasa maluku kepada Allah melarangku untuk tetap diam.

Apakah engkau ingin menghalangi pahala Allah di akhirat dariku? Siapa yang mengharapkan popularitas dengan ilmunya, maka pasti ia akan mendapatkannya. Apakah engkau memandang aku termasuk orang seperti itu?

Engkau tahu bahwa jiwa akan merasa bangga karena pujian, dan akal akan merasa rileks karenanya, maka doakan aku agar berhasil membebaskan diri dari hal-hal itu dari jiwa dan akalku.

Allah telah mengistimewakan kita dengan karunia melalui tangan seorang genius faqih yang luar biasa. Seorang yang huruf dan kata-kata tidak cukup untuk memujinya atau menggambarkan pribadinya. Oleh karena itu cukup aku tunjukkan orang itu, seseorang yang lebih suka aku panggil Abu Ibrahim, yaitu Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani rahimahullah, sehingga kita bisa mengenang dan mencontohnya.

Oleh karena itu, pujianmu kepadaku itu salah alamat. Karena orang yang layak mendapat pujian adalah laki-laki itu yang Allah telah memuliakannya dengan memilihnya untuk membatasi tsaqafah kebangkitan bagi kaum Muslim; menentukan kaidah-kaidah memahami berbagai perkara yang berkaitan dengan jalannya kebangkitan, di antaranya pemikiran politis, metode mengetahui hakikat sejarah, tolok ukur kebenaran dalam ide kehidupan, mengetahui bagaimana membedakan atau mengaitkan antara pemikiran tentang perang dan perdagangan, tata cara berpegang kepada hakikat-hakikat pembahasan, dan kedalaman dalam pertalian referensi, perhatian terhadap jenis khabar dalam masalahnya, dan yang semisalnya.

Sesuatu yang mustahil bagi umat ini untuk mencapainya baik melalui upaya kolektif atau individual, bagaimana pun keikhlasan dan tingkat pengetahuannya. Karena tidak mungkin mencapai kesempurnaan seperti yang ditinggalkan Rasulullah Saw kepada kita, kecuali seseorang yang telah ditetapkan oleh Allah untuk melakukan hal itu.

Yaitu seorang laki-laki yang diberi kekhususan pengetahuan untuk menentukan kembali tsaqafah Islam dan menyatukan kembali antara Islam dan metode penerapannya. Pengetahuan ini adalah induk dari pengetahuan-pengetahuan yang digunakan oleh orang genius dan intelektual diantara kita untuk kembali membangkitkan kita dan umat.

.***

[Disarikan dari buku Kekasih-kekasih Allah, Syaikh Thalib Awadhallah]

Komentar Saya:

Itulah mengapa, sampai saat ini banyak aktivis Hizbut Tahrir senior, generasi awal, tidak mau menulis memoar, termasuk biografi Syaikh Taqiyuddin an-Nabhani, maupun yang lain?

Karena khawatir, bisa merusak amalnya di mata Allah SWT.

Ya Rabb.. Ampunilah kami.. Terimalah amal kami yang tidak seberapa ini.

Kami mencintai mereka, maka kumpulkanlah kami di dalam jannah-Nya bersama mereka, dan kekasih-Mu, Nabi Muhammad Saw.[] KH Hafidz Abdurrahman

Bagaimana menurut Anda?