; Fokus Buta pada Rutinitas Kehidupan adalah Jebakan Dunia ini! - Muslimah News

Fokus Buta pada Rutinitas Kehidupan adalah Jebakan Dunia ini!

Kualitas orang yang terasing yaitu jika perhatian utamanya adalah memfokuskan upayanya demi mencapai ‘kampung halaman’-nya, yakni Jannah. Seorang musafir selalu waspada dan prihatin agar ia tidak mengambil jalan yang salah atau tersesat, bahkan jika ia berada di jalan yang benar.


Oleh: Amanah Abed

MuslimahNews, ANALISIS — Salah satu rintangan yang berbahaya adalah rutinitas kehidupan yang menyibukkan seorang Muslim sedemikian rupa membuatnya tergoda sehingga kehilangan pandangan akan tujuan sejatinya. Rutinitas adalah masalah yang tidak dapat dihindari yang dihadapi setiap orang. Namun, jika seseorang tenggelam dalam rutinitas sehari-hari seperti rumah tangga, keluarga, pekerjaan, studi, karier, hobi, dll., ia tidak akan menemukan banyak waktu untuk berpaling pada makna kehidupan yang sebenarnya. Jadi, seni yang hebat adalah menemukan solusi, bagaimana merancang rutinitas kehidupan, sehingga rutinitas ini membantu seseorang menuju gerbangnya dan tidak menjadi kerikil yang berada di jalannya yang lurus, yang membuatnya terus menerus tersandung. Di dalam Alquran, Allah (SWT) befirman tentang kehidupan duniawi:

)اعلموا انما الحيوة الدنيا لعب ولهو وزينة وتفاخر بينكم وتكاثر فى الاموال والاولاد كمثل غيث اعجب الكفار نباته ثم يهيج فترٮه مصفرا ثم يكون حطما وفى الاخرة عذاب شديد ومغفرة من الله ورضوان وما الحيوة الدنيا الا متاع الغرور(

Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah-megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Dan di akhirat (nanti) ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridhaan-Nya. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu.” [QS. Al-Hadid: 20]

Arti mendalam dari ayat yang mulia ini adalah bahwa kehidupan dunia ini hanyalah sementara. Musim semi dan musim gugur dalam kehidupan inipun bersifat sementara. Ada banyak hal yang memikat manusia. Tetapi kenyataannya, kehidupan ini terdiri dari hal-hal yang rendah dan tidak penting yang malah dianggap sebagai hal-hal yang hebat dan indah oleh manusia karena kedangkalan pikirannya.

Manusia tertipu sehingga berpikir bahwa keberhasilan tertinggi itu terletak pada pencapaian hal-hal tersebut. Namun kebenarannya, manfaat terbesar serta sarana kesenangan dan kenikmatan yang mungkin dapat dicapai seseorang di dunia, sesungguhnya itu hina dan tidak penting, serta terbatas pada waktu beberapa tahun kehidupan yang sementara ini, bahkan dapat berubah hancur hanya dengan satu putaran nasib. Jadi, konsentrasi dan fokus buta pada rutinitas kehidupan adalah jebakan bagi seorang Muslim di dunia ini.

Bertentangan dengan ini, kehidupan di Akhirat adalah kehidupan yang indah dan abadi. Segala manfaat di sana itu besar dan permanen, begitu pula kerugiannya juga besar dan permanen. Orang yang mencapai pengampunan dan rahmat Allah (SWT) di sana, tentu saja akan mencapai kebahagiaan abadi di mana seluruh kekayaan dunia dan kerajaannya menjadi pudar dan tidak berarti. Dan orang yang disiksa oleh Allah (SWT) di sana, akan mengetahui bahwa dahulu dia telah melakukan tawar-menawar yang buruk walaupun dia telah mencapai semua yang dia anggap hebat dan luar biasa di dunia.

Jadi, kita tidak layak untuk terlalu larut dalam segala urusan dunia ini. Tentu saja, seorang Muslim harus memenuhi tugasnya kepada keluarganya, pekerjaannya, studinya, rumah tangganya, dll., Tetapi ia tidak boleh terlalu memusatkan perhatian pada masalah-masalah ini, seperti yang didiktekan oleh dunia kapitalis dan materialistis, sehingga ia lupa dengan mudahnya bahwa hidup ini hanyalah ujian; ia harus mendapatkan keridhaan dari Allah (SWT), serta meyakini bahwa takdir (qadha) dan rizkinya sudah ditetapkan oleh Allah (SWT).

Muslim juga harus mengingat sebuah hadits indah, Nabi (Saw) menggambarkan bagaimana umat manusia harus hidup di dunia ini: Dari Ibnu Umar Radhiyallahu anhuma, ia berkata, “Rasûlullâh Shallallahu ‘alaihi wa sallam memegang kedua pundakku, lalu bersabda,

«كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّك غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ»

“Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan sebagai orang asing atau seorang musafir’ [dan persiapkan dirimu termasuk orang yang akan menjadi penghuni kubur (pasti akan mati)].

Hidup ini adalah cobaan, dan hadits ini menguatkan dan membimbing seseorang bagaimana menghadapi cobaan hidup ini. Kualitas orang yang terasing yaitu jika perhatian utamanya adalah memfokuskan upayanya demi mencapai ‘kampung halaman’-nya, yakni Jannah. Seorang musafir selalu waspada dan prihatin agar ia tidak mengambil jalan yang salah atau tersesat, bahkan jika ia berada di jalan yang benar. Ini berarti bahwa seorang Muslim tidak harus benar-benar mengabaikan rutinitas kehidupannya, melainkan ia harus memenuhi tugas-tugas ini dengan skala Islam.

Alquran dan Sunnah juga memberi kita panduan dalam semua bidang kehidupan kita. Allah (SWT) berfirman dalam Alquran:

﴿لَّقَدْ كَانَ لَكُمْ فِي رَسُولِ اللَّهِ أُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَن كِّانَ يَرْجُو اللَّهَ وَالْيَذَوَذََذَََََّّّّْآْآْآ

Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan dia banyak menyebut Allah.” [Al-Ahzab: 21]

Nabi kita Muhammad (Saw) adalah contoh terbaik bagi umat manusia. Kehidupan beliau juga penuh dengan ‘rutinitas’. Hari-hari beliau berputar di sekitar ibadah, waktu yang berkualitas dan bercakap-cakap dengan keluarga, dan terhubung dengan masyarakat di sekitarnya. Beliau (Saw) terhubung dengan jantung keluarganya, jantung kota, dan Alquran adalah bagian yang tidak terpisahkan dari hati beliau, tetapi beliau menghubungkan semua perbuatannya dengan Islam dan Akhirat.

Dien Allah (SWT) sepenuhnya dan tanpa kompromi. Juga, menegakkan Islam tanpa harus merasa lemah oleh konsekuensi dari pelaksanaan hukum Syariah. Ia harus memperkenalkan Wahyu terakhir Allah (SWT) -Alquran- ini sebagai dasar bagi umat manusia dan menyatakannya sebagai satu-satunya tatanan kehidupan sejati yang mampu mengatur urusan kehidupan dan menyelesaikan seluruh problematika umat manusia. Dalam melakukan misi ini, seorangMuslim akan dihadapkan pada berbagai hambatan dan cobaan yang dapat melemahkannya atau mencegahnya menjalankan tanggung jawabnya ini secara hukum. Jadi ia harus berurusan dengan bagaimana ia mengatasi hambatan ini untuk tetap berada di jalurnya dan tidak kehilangan fokus hidupnya.

Kita harus mengetahui bahwa kita hidup hari ini di sebuah dunia yang mendorong kita untuk mencapai kesuksesan dan produktivitas dunia, tetapi seringkali kita malah menenggelamkan diri dengan berfokus pada hal-hal yang salah. Saking seringnya, sampai-sampai kita menetapkan standar yang salah untuk hidup kita. Seorang Muslim harus selalu menjaga nasfunya agar tidak jatuh ke dalam perangkap dunia ini. Rutinitas kehidupan yang membuat kita melupakan akhirat adalah perkara yang konyol bagi saudara-saudara kita, kaum Muslim dan Muslimah yang masih terus didera penderitaan di Suriah, Irak, Afghanistan, Palestina, Myanmar, Tiongkok, dll., Karena mereka berjuang dengan rutinitas kehidupan yang berbeda, misalnya Roket, Bom, Serangan, Kehilangan Anggota Keluarga, Kelaparan, Penindasan, dan Penyiksaan.

Ketika kita mempertimbangkan semua aspek ini, kita melihat bahwa yang paling sukses di akhirat kelak adalah orang yang selalu menggabungkan waktu pagi dan sore dengan fokus hidupnya yang sebenarnya. Muslim yang stabil/ajek bukanlah orang yang jatuh ke dalam rutinitas kehidupan sehingga ia malah melupakan akhirat-nya, tetapi juga bukan orang yang mengabaikan rutinitas kehidupan sehingga ia bahkan menjauh dari pahala menjalankan rutinitas tersebut. Muslim yang ajek adalah orang yang terus-menerus berpikir bahwa dunia ini bersifat sementara dan bahwa seseorang harus menghubungkan semua urusannya dengan jalan keluar menuju akhirat.

﴿يَا قَوْمِ إِنَّمَا هَذِهِ الْحَيَاةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ وَإِنَّ الْآخِرَةَ هِيَ دَارُ الْقَرَارِ﴾

Hai kaumku, sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal.” [QS. Ghafir: 39]

[]Fareastern Muslimah & Shariah

Bagaimana menurut Anda?